BAB 17. Buah dari Kegilaan

1878 Kata
Semuanya benar-benar menjadi di luar kendali. Saat Juda bangun tidur di keesokan harinya−setelah dini hari tadi bary bisa tidur dengan keadaan gelisah dan tak nyenyak−dan mengecek ponsel, ia mendapati banyak pesan masuk. Tak perlu menjadi orang jenius untuk tahu bahwa kejadian semalam, kehebohan yang telah ia lakukan, kini tersebar di mana-mana dalam bentuk foto dan potongan video yang disertai dengan deskripsi yang terlalu dilebih-lebihkan. Kekuatan teknologi canggih dan cepatnya tangan-tangan manusia adalah kombinasi yang luar biasa untuk menyampaikan informasi-informasi terkini. Akan terlihat menakjubkan jika yang terjadi adalah hal baik. Dan menjadi sangat mengerikan karena yang terjadi saat ini adalah peristiwa memalukan yang menampar-nampar wajah Juda dengan kejam. Penyesalan menggantung dan bergelayut di dadanya. Kalau saja Juda tidak datang ke reuni semalam, Juda tidak akan bertemu lagi dengan Danis. Dan ia tidak harus melihat Grita menggandeng Guntur dengan mesra. Sehingga Juda tidak akan menciptakan kegilaan yang semakin memberati hati dalam sejumput penyesalan. Jika memang begitu, hari ini Juda sudah pasti akan dengan semangat mengawali hari dan dengan tanpa beban sama sekali, seperti orang bodoh, ia akan berkencan untuk kali kedua dengan Guntur dan melepas penat bersama laki-laki yang ia kira sempurna itu. “Lo t***l banget, Juju,” erang Juda sambil berguling-guling di atas tempat tidur. “Lagian kenapa bisa-bisanya Danis mendadak muncul setelah sepuluh tahun ngilang? Kenapa dia nggak selamanya aja di Belanda? Kenapa dia balik ke sini? Kenapa lo dateng ke reuni, Danis, kenapa?” Juda tidak bisa tahan untuk tidak bermonolog. Menyalahkan Danis yang membuat Juda dengan mudahnya terpancing dan menjadi ‘gila’ meski laki-laki itu bahkan tidak melakukan apa-apa. Semalam, Danis hanya melihatnya sepintas sebelum berpaling dan pergi bersama Fikri untuk menemui teman-teman lamanya. Jika dipikir-pikir kembali, tampak jelas bahwa Danis tidak berniat untuk menghampiri dirinya. Danis datang ke reuni bukan karena ingin bertemu dengannya. Karena mereka sudah tidak terikat apa-apa selain berstatus sebagai mantan kekasih. Tidak ada gunanya menemui mantan kekasih yang sudah hidup di jalan yang berbeda, di dunia yang berbeda. Juda kembali merutuki kebodohan yang ia ciptakan. Ia hanya bisa pasrah dan mau tidak mau harus siap menanggung malu di hadapan rekan-rekan di kantornya sata ia berangkat kerja besok. Juda tidak tahu apakah ia akan siap berhadapan dengan mereka dan diberi tatapan prihatin maupun mencemooh. Karena sebagian besar mereka tahu bahwa Juda sedang diambang keputusasaan mencari pasangan hidup. Astaga, membayangkannya saja sudah membuat Juda mengerang frustrasi. Ia benar-benar tampak sangat menyedihkan. “Ini semua gara-gara Mami,” erang Juda lagi. Suaranya menggema menyedihkan di sepetak kamar kosnya yang sangat berantakan. “Kalau Mami nggak mendesak gue buat kawin, gue nggak perlu sampai harus main Tinder, dan gue nggak akan ketemu Guntur. Gue juga akan ngerasa biasa-biasa aja waktu ngelihat Danis,” sambung Juda, kali ini berbaring miring, bicara kepada tembok kamarnya. Yang setidaknya masih membuat Juda agak lega adalah kenyataan bahwa kedua orang tuanya dan juga dua kakak laki-lakinya masih belum tahu apa-apa untuk saat ini. Juda amat sangat berharap bahwa foto maupun video dirinya melamar Danis itu tidak akan pernah sampai ke mereka. Namun, tentu saja itu mustahil. Mereka akan tahu cepat atau lambat−mereka bisa mendapat kiriman foto dan video itu dari siapa saja, entah itu dari grup keluarga besar, teman arisan, maupun tetangga dekat rumah. Dan Juda harus bersiap mendapat omelan dan ceramah yang panjangnya bisa menyamai tembok besar China. Setelah mengecek satu per satu pesan yang sekiranya cukup penting untuk dibalas, ada satu pesan dari nomor baru yang menyita perhatiannya.   +6281-0000-0000 Ju, ini Danis. Kita perlu ngobrol soal semalam Semalam, kita berdua sama-sama terbawa suasana Kita ketemu siang ini   Juda hanya memandangi tiga baris pesan itu lama. Ia sedang sangat bingung. Tidak tahu harus melakukan apa. Bertemu dengan Danis tidak terasa benar. Juda ingin menghindar, memblokir seluruh jalan yang bisa diakses Danis untuk bisa terhubung dengan dirinya. Namun, itu artinya ia pengecut. Benar kata Danis semalam bahwa lari dari masalah adalah tindakan seorang pecundang. Dan Juda tidak ingin menjadi seorang pecundang. “Berdoa aja semoga Danis akhirnya sadar kalau semalam gue cuma kesurupan setan gila. Danis pasti udah berubah pikiran. Danis ngajak ketemu cuma buat ngelurusin maslaha semalam kalau dia nggak akan nikahin gue gitu aja,” gumam Juda. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, ia tidak benar-benar yakin jika mengingat kekeraskepalaan dan keseriusan Danis semalam. Laki-laki itu, entah apa yang ada di pikirannya, terlihat tidak ingin melepaskan Juda begitu saja.   ***   Martin sudah mengomeli Danis hingga mulutnya berbusa sejak ia melihat sahabatnya menyeduh kopi dengan tenang di dapur apartemennya. Itu karena Danis bercerita tentang apa yang telah ia putuskan untuk ia lakukan terkait kehebohan semalam yang tak terkendali. “Lo udah gila,” tukas Martin dengan mata membelalak begitu lebar. “Lo mau ngikutin sandiwara gila Juju?” Danis merenung sejenak sebelum menjawab, “Gue nggak bisa diam aja. Foto sama video gue sama Juda semalam udah nyebar ke mana-mana. Buat gue, ini mungkin nggak terlalu jadi masalah. Karena gue bisa tinggal balik ke Belanda. Tapi gimana sama Juju? Ngebiarin dia nanggung ini sendirian?” “Juju yang bertindak gila. Tentu aja dia yang harus nanggung akibatnya!” geram Martin. “Gue nggak bisa ngebiarin Juju sendirian nanggung masalah ini,” ujar Danis yang kemudian menyeruput kopi hitamnya yang pekat dengan santai. Martin kesal sekali. Tampak tergambar di wajah kuyunya−ia belum sempat cuci muka setelah bangun tidur. “Gue tahu, ini mungkin jadi kesempatan lo buat balik sama Juju. Tapi nggak gini caranya. Kalau lo masih waras, lo urus dulu masalah lo sama Renata. Lo bilang lo balik ke sini buat ngurus perceraian kalian, kan? Jadi, lo lupain soal Juju, selesaikan apa yang perlu lo urus di sini dan balik ke Belanda.” “Gimana gue bisa balik ke Belanda dengan keadaan kayak gini?” “Keadaan kayak gini gimana maksud lo? Lo cuma masih kebawa suasana karena lama nggak ketemu Juju. Gue cuma mau peringatin lo, apa pun yang lo rasain sekarang itu cuma ilusi yang bakal lo sesali kalau lo tetap berniat nerusin kegilaan Juju.” “Gue udah nggak peduli soal perasaan,” pungkas Danis yang cukup mengejutkan. Ekspresi serius dan keras tergambar di wajah Martin. “Lo nggak akan cuma nyakitin Renata, tapi lo juga nyakitin Juju. Lo nggak mikir gimana kalau Juju tahu kalau ternyata dia berhubungan sama laki-laki yang udah beristri? Lo nggak mikir kalau Juju bakal suka lagi sama lo dan berakhir kecewa karena lo?” Danis tampak menimbang-nimbang. “Gue bisa sambil urus perceraian gue sama Renata. Semua bakal baik-baik aja selama lo diam dan nggak perlu ikut campur urusan gue.” “Nggak. Itu sama aja lo selingkuh. Persis dengan apa yang Renata khawatirkan. Lo membuat apa yang dikhawatirkan Renata kejadian. Lo berkhianat saat kalian masih berstatus sebagai suami istri.” Martin berang karena temannya tertular kegilaan Juda. “Gue nggak ada niat selingkuh,” elak Danis dengan tidak yakin. Karena apa yang diucapkan Martin seluruhnya benar. Ia belum resmi bercerai. Ia masih berstatus sebagai suami Renata di atas kertas. Jika ia melanjutkan kegilaan Juda, itu sama saja dengan melemparkan diri di tengah-tengah prahara. Itu akan membuat perceraiannya dengan Renata menjadi sulit. “Lo belum resmi pisah dari Renata, tapi lo udah main gila sama Juju. Itu apa namanya kalau bukan selingkuh? Lo tega nempatin posisi jadi orang ketiga di antara lo sama Renata? Lo mau Juju dituduh jadi pelakor?” Danis termangu. Ia tidak berpikir sampai sejauh itu. “Juju nggak tahu apa-apa. Juju bukan orang kayak gitu.” “Makanya lo harus kasih tahu. Lo mau ketemu Juju siang ini, kan? Kaish tahu dia soal lo sama Renata.” Danis mendesah. Ia tidak bisa terus memasang topeng dan bersikap santai saat ia rasanya sudah hampir gila memikirkan Juda sejak semalam. “Juju nggak perlu tahu soal gue sama Renata.” “Juju harus tahu kalau lo berniat ngelanjutin apa pun itu yang kalian berdua rencanain,” ucap Martin. “Dan bikin dia ngejauh?” Martin tampak sangat ingin membenturkan kepala Danis agar kembali ke akal sehatnya. “Terlepas dari apa pun niat Juju bikin kehebohan malam itu, lo nggak bisa manfaatin kesempatan itu buat ngejebak Juda.” Ekspresi di wajah Danis berubah. “Gue nggak pernah berusaha ngejebak Juda.” Maryin berdecih. “Tapi lo nipu Juda dan mau nikahin dia, nurutin kegilaan Juju tanpa kasih tahu soal status lo sebagai suami orang.” Danis bergeming. Membuat Martin semakin kesal. Dan melihat Danis yang benar-benar terlihat kukuh dengan keputusannya, Martin pun menghubungi seseorang. Seseorang yang ia harapkan masih cukup waras untuk menghentikan kegilaan temannya. “Halo, Em. Ini gue, Martin. Tolong kasih tahu ke Juju kalau Danis nggak beneran serius mau nikahin Juju. Sadarin temen lo biar dia nggak makin gila kayak temen gue ini,” cerocos Martin tanpa basa-basi beberapa saat setelah teleponnya tersambung. “Gue belum sempet ngobrol sama Juju. Gue baru banget bangun gara-gara telepon masuk dari lo. Mereka beneran mau lanjutin sandiwara t***l kemarin? Astaga, UDAH GILA YA?” Danis bisa mendengar suara serak Ema yang cukup keras terdengar, sepertinya Martin sengaja menyetel speaker dengan keras agar ia juga langsung mendengar jawaban Ema−sahabat terdekat Juda. “Mereka berdua emang gila. Danis lebih gila lagi karena nanggepin serius kegilaan temen lo,” ujar Martin yang mulai jengah. “Si Danis punya pacar atau enggak, sih? Kalau enggak, kita biarin aja dulu gimana? Maksud gue biar mereka PDKT lagi. Juju lagi nggak deket sama siapa-siapa, jadi gue rasa nggak ada salahnya kalau mereka deket kayak dulu. Menurut lo gimana?” Mata Martin menyipit. Ia melirik ke arah Danis yang masih ikut serius mendengarkan. “Danis nggak punya pacar, tapi dia−” Danis langsung merebut ponsel Martin sebelum sahabatnya itu mengatakan hal yang tidak-tidak. Danis mengambil alih bicara dengan Ema, “Gue yang bakal urus masalah ini sama Juju. Gue bisa pastikan kalau Juju nggak akan nanggung ini sendirian.” Dan tanpa menunggu jawaban dari Ema, Danis langsung memutus sambungan begitu saja. Ia menyerahkan kembali ponsel itu kepada Martin yang tampaknya sudah mulai malas menghadapi dirinya. “Gue tahu lo peduli soal gue sama Juju, tapi kalaupun Juju harus tahu, itu dari gue. Bukan dari orang lain,” tegas Danis. Ia sudah meletakkan cangkir berisi kopinya yang masih mengepul karena uap panasnya ke atas meja. Martin menghela napas panjang. “Juju emang harus tahu soal status lo. Kebohongan nggak bakal bisa lo pertahankan. Lo cuma akan bikin semua jadi rumit dan berantakan.” Danis baru akan menimpali saat ponselnya yang berada di atas meja bergetar dan berkedip. Ada panggilan masuk dari Renata. Laki-laki itu menatap lama ponselnya tanpa berniat mengangkat panggilan itu. Setelah sambungan terputus karena tidak ada jawaban darinya, Danis baru meraih ponselnya. Ternyata sebelumnya Renata sudah lebih dulu mengirimkan pesan.   Renata Aku minta maaf, Danis Jangan ceraikan aku Kamu boleh tinggal di Indonesia selama yang kamu mau, tapi jangan ceraikan aku, jangan tinggalin aku Jangan kasih tahu orang tua kita tentang kita   Danis menatap baris-baris pesan itu dengan ekspresi datar. Ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang. Beberapa minggu yang lalu, ia masih dengan jelas tahu bahwa ia menyayangi Renata. Rasa sayangnya teramat besar kepada istrinya itu. Namun, hari ini, ia seperti dipaksa untuk sadar bahwa perasaan itu seperti tidak pernah ada. Seperti sudah lama menghilang dari hatinya. Saat sedang menimbang-nimbang balasan yang tepat untuk Renata, ada pesan masuk yang lain. Kali ini dari Juda yang mengirimkan lokasi pertemuan mereka siang nanti.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN