BAB 16. Cinta Lama Belum Kelar [2]

1296 Kata
Telinga Juda berdenging sesaat setelah berhasil mencerna kata demi kata yang dilontarkan Danis dengan ekspresi serius dan keras yang tergambar di wajahnya. Mendadak Juda panik karena sadar bahwa kegilaannya benar-benar bisa menciptakan bencana. “Kamu udah gila!” hardik Juda dengan keras. Ia mundur lagi satu langkah untuk memperlebar jarak. “Kita nggak akan menikah.” Danis mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Juda, dan menggenggamnya cukup erat untuk memastikan Juda tidak akan kabur ke mana-mana sebelum pembicaraan mereka selesai. “Kamu yang gila! Kamu nggak bisa seenaknya menciptakan keributan, lalu menarik kata-kata kamu begitu aja, Ju. Orang dewasa nggak akan melakukan itu.” Juda menyentak lengannya, namun genggaman Danis tidak bisa lepas. Rasanya malah semakin erat. Juda melirik sengit. “Nggak usah sok menggurui aku soal kedewasaan. Orang dewasa harusnya bisa memilah mana yang harus ditanggapi dengan serius dan mana yang enggak.” Juda menekankan suara pada kata ‘dewasa’ seolah mengejek Danis. Danis tertawa sinis. Tawa yang tidak pernah Juda lihat. Selama mengenal Danis, laki-laki itu tidak pernah sinis. Bahkan saat mereka putus, Danis masih bersikap begitu bijaksana. Kenapa sekarang Danis berubah menjadi laki-laki sinis yang mudah tersinggung? Kenyataan itu seolah mencabik hati Juda. Danis yang dulu sudah tidak ada. Danis-nya yang dulu sudah hilang ditelan oleh waktu. Bukankah seharusnya hal seperti itu tidak akan mengusiknya jika memang sudah tidak ada apa-apa lagi di antara mereka? Namun, mengapa rasanya Juda tidak rela saat melihat sosok Danis yang begitu berbeda? “Lepasin tangan aku, Danis,” pinta Juda dalam geraman kesal. Ia terus menyentak lengannya tetapi tidak berhasil membuat tautan itu terlepas. “Aku nggak akan lepasin sebelum kita selesai membahas apa yang terjadi di dalam tadi, Ju.” “Nggak ada yang perlu dibahas lagi karena kita nggak akan pernah menikah. Nggak ada orang yang segila itu buat menikahi orang yang nggak dia kenal.” Danis kelihatan sakit hati dan marah sekali sekarang. “Kamu yang tiba-tiba nyamperin aku, orang yang nggak kamu kenal.” Suaranya seolah tercekat karena terlalu terluka saat dianggap sebagai seseorang yang tidak dikenal oleh Juda. “Kamu yang tanpa basa-basi ngajak balikan, lalu kamu juga mencium aku seolah-olah itu wajar dilakukan dan kamu dengan sangat serius mencetuskan mau menikahi aku, di depan teman-teman seangkatan kita pula. Dan sekarang kamu ngatain aku yang gila?” Juda diserang rasa frustrasi. “Danis, please. Kamu pasti juga sadar kalau kita nggak bisa melakukan ini.” “Kata siapa kita nggak bisa? Kita bisa, Ju. Karena aku menganggap serius kata demi kata yang kamu ucapkan ke aku. You said you wanna be with me, dan aku akan membuat itu menjadi kenyataan.” Juda mendelik. “Dan kamu percaya?” Juda menggeleng, nyaris putus asa. “Kamu nggak akan mau menikahi orang yang nggak kamu kenal dengan baik, Danis. Dan kamu nggak akan menikahi mantan gila kamu.” Danis lagi-lagi menampilkan kesinisan di wajahnya. “Aku bilang kalau aku akan mewujudkan apa yang sudah kamu mulai.” Ini benar-benar di luar kendali Juda. Jika Danis masih waras, tidak seharusnya laki-laki itu melanjutkan skenario yang tercetus di kepala Juda hanya karena pergolakan batinnya yang menyesakkan ketika melihat Guntur dan Danis berada di satu tempat yang sama di waktu yang bersamaan. “Kamu punya pacar dan aku juga dekat dengan laki-laki lain. Itu udah cukup menjadi satu alasan kenapa kita nggak bisa begitu aja mewujudkan skenario gila tadi.” Selain plinplan, Juda juga pandai sekali berbohong hari ini. Dekat dengan laki-laki lain katanya? Bukankah ia baru saja kehilangan sosok yang ternyata seorang penipu hati? “Ini cara kamu supaya bisa kabur setelah bikin masalah?” sergah Danis. Suaranya keras sekali. “Seperti kamu yang dulu mutusin aku dengan mudahnya, pura-pura bikin taruhan sialan cuma gara-gara kamu terlalu angkuh untuk tanya soal Laras? Kamu selalu mengelak dan selalu menggunakan topeng kejudesan kamu sebagai tameng biar nggak disakiti. Yang sekarang aku lihat, itu cuma alasan. Kamu emang dari dulu jahat, Ju. Sejak dulu kamu pecundang.” Juda seolah ditampar dengan tangan yang tak kasat mata. Ia tidak siap saat Danis menyebut-nyebut soal Laras dan bagaimana mereka berakhir putus. Rasanya ternyata lebih menyakitkan saat orang yang terlibat di dalamnya menyinggung langsung perkara itu. “Ini nggak ada hubungannya sama yang terjadi dulu.” “Oh, tentu aja ada hubungannya. Kamu bahkan nggak pernah merasa menyesal udah menyakiti aku.” “Jangan asal bicara. Kamu sama sekali nggak punya hak menuduh aku begitu.” Mungkin karena sudah sangat muak, Danis melepaskan tangan Juda. “Jadi, kamu menyesal? Kamu pernah sedikit saja menyesal karena pernah membuang aku dan dengan mudahnya berpaling dari aku saat itu? Dan kamu pernah berpikir untuk setidaknya berusaha memberitahu aku kalau kamu menyesal? Kalau kamu nggak seharusnya mendepak aku dari hidup kamu dengan semudah itu? Kalau kita mungkin bisa bertahan lebih lama atau bahkan mungkin masih bisa bersama-sama sampai hari ini?” Juda meraup wajahnya seraya menggeram frustrasi. Kemudian ia mendongak, menatap mata Danis lekat. “Nggak ada gunanya kita membahas apa yang udah lewat, Danis. Kita udah putus bertahun-tahun yang lalu. Dan sekarang kita berdua udah punya kehidupan masing-masing. Kita punya jalan hidup kita masing-masing yang nggak melibatkan satu sama lain di dalamnya. Jadi, sama sekali nggak ada gunanya juga kita ngomongin soal pernikahan yang nggak akan pernah ada. Itu cuma omong kosong orang gila yang nggak akan benar-benar terwujud.” Danis menukas, “Kita punya hidup kita masing-masing kemarin. Tapi hari ini kamu yang membelokkan jalan itu sendiri. Kamu yang memaksa kita berjalan di jalan yang sama.” Juda memekik kesal karena kekeraskepalaan Danis. Juda sama sekali tidak ingat kalau Danis dulu adalah sosok yang keras kepala. Atau itu adalah sesuatu yang benar-benar baru? Bahwa hidup telah mengubah Danis menjadi sosok ini? “Aku capek. Aku mau pulang,” ujar Juda dengan sisa tenaga. Energinya benar-benar seperti disedot hingga habis. “Nomor hape kamu,” todong Danis. Ia menghalangi Juda dengan tubuhnya, menahan agar wanita itu tidak langsung kabur. “Buat apa?” Juda defensif. “Kita akan menikah, kan? Setidaknya aku harus punya akses buat ngehubungin kamu.” “Kita nggak akan menikah. Mau berapa kali lagi harus aku bilang kalau aku nggak serius soal yang aku ucapkan tadi.” “Oh really? Kamu benar-benar mau kabur gitu aja? Kamu lebih suka menjadi pecundang?” Danis dikuasai amarah yang meluap-luap. “Atau sebelum itu, kamu mau kita masuk ke dalam lagi, minta salah satu teman kita buat nunjukin video yang dia rekam, dan kamu akan lihat sendiri kalau kamu yang paling berharap kita bisa ngewujudin apa yang dulu kita harapkan?” Kesinisan dalam suara Danis sekali lagi menyentak Juda. “Apa yang dulu kita harapkan? Memangnya apa yang kita harapkan?” Danis memaku tatapan Juda. “Bukannya kamu yang seharusnya paling ingat? Kamu yang pertama menyinggung soal itu.” Juda dibuat tidak berkutik. Ia memang yang pertama yang menyinggung soal itu. Juda memang ingat. Benar-benar membekas di ingatannya hingga ia spontan mengucapkannya di hadapan Danis dan di hadapan teman-temannya yang penasaran. “Saya atas nama Daniswara Jati Praba, bercita-cita menjadi pasangan hidup Juju.” “Saya atas nama Nafihas Juda Wimarkho, bercita-cita menjadi pasangan hidup Danis.” Itu adalah harapan kecil Danis dan Juda saat masih sangat belia dulu. Sesuatu yang mereka berdua cita-citakan saat merasa bahwa dunia dan seisinya mendukung mereka berdua untuk bersama. Namun, harapan itu sudah tidak ada lagi saat merekqa berpisah. Harapan itu sudah terkubur di antara puing-puing hati yang hancur. Dan dalam satu malam, pada pertemuan pertama setelah sepuluh tahun, semuanya tumpah ruah menyesaki kepala Juda dan Danis. Tentang kegagalan mereka di masa lalu, tentang kesalahpahaman yang melatari kegagalan mereka dulu, dan rasa sakit yang mereka tanggung setelah berpisah, semuanya ditumpahkan dalam kebisuan. Hanya satu hal yang tidak terucap malam itu. Bahkan seolah terlupakan oleh Danis sendiri. Yaitu tentang status laki-laki itu yang sudah menjadi suami orang.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN