BAB 15. Cinta Lama Belum Kelar

1688 Kata
10 tahun yang lalu…   Saat masih duduk di bangku SMA, Danis dan Juda cukup dikenal, setidaknya di kalangan para siswa satu angkatan mereka dan satu tingkat di atas mereka dulu. Yang menjadikan mereka menjadi legenda, yang cukup membekas di memori teman seangkatan mereka adalah karena Juda secara tidak sengaja menyatakan rasa sukanya untuk Danis dengan lantang di hadapan tiga ratus siswa satu angkatan mereka saat mereka sedang melakukan foto bersama untuk buku kenangan. Momen itu berlangsung pada malam hari di pertengahan bulan Februari. Mereka sedang diarahkan kru fotografer untuk membuat sebuah formasi di tengah lapangan, setiap siswa memegang lilin yang sudah dinyalakan. Saat itu, Danis dan Juda memang sudah cukup dekat atau istilah gaulnya mereka sedang PDKT sudah lebih dari satu bulan. Sehingga sejak sore mereka sudah bersama, seperti tak terpisahkan. Saat diberitahu bahwa fotografer yang mereka sewa akan segera melakukan pengambilan foto, Danis dan Juda pun tetap bersama dan bersenda gurau. “Kadang aku nggak percaya gitu kalau ada cewek populer yang masih mau dekat sama cowok biasa-biasa aja kayak aku,” kata Danis saat itu. Berbeda dengan Juda yang ‘terkenal’ di seantero sekolah yang dikenal karena memacari cowok-cowok populer, Danis hanya siswa biasa. Ia tidak bodoh, tetapi ia juga bukan siswa paling pintar. Ia bukan siswa berbudi pekerti yang baik, tetapi ia juga bukan siswa paling bandel. Ia tidak jelek, tetapi juga bukan siswa paling tampan seantero sekolah. Ia hanya salah satu dari banyak siswa yang cukup pintar dan aktif di kegiatan OSIS dan Pramuka. Namun, ia tidak cukup menonjol hingga dikenal oleh banyak orang. “Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?” tanya Juda dengan nada agak jutek. “Ju, aku bukan kayak mantan-mantan kamu. Aku nggak sepopuler mereka.” “Maksud kamu gimana? Aku nggak ngerti,” tukas Juda dengan malas. Di antara keremangan malam, Danis memaksa Juda memberikan seluruh perhatian kepadanya. “Sebenernya aku lagi bingung, Ju. Kita udah jalan bareng cukup lama, tapi nggak ada status yang jelas. Kita cuma temenan aja atau apa?” Menurut Juda, itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh. Tidak pernah ada laki-laki yang dekat atau berusaha dekat dengan dirinya yang menanyakan hal semacam itu. Mantan-mantan kekasih Juda selalu terang-terangan mengajak Juda pacaran, begitu pula dengan beberapa laki-laki dari mulai teman seangkatan, kakak kelas, bahkan adik kelasnya yang dengan percaya dirinya mengungkapkan rasa sukanya dengan gamblang. “Kalau menurut kamu, kita ini apa? Menurut kamu, kedekatan kita mengarah ke mana?” Juda membalikkan pertanyaan Danis. Menantang laki-laki itu. “Aku nggak tahu.” Juda melotot. Tak menyangka akan mendapat jawaban itu. “Kamu nggak tahu?” Ada sedikit jejak kekesalan dalam suaranya. “Terus kenapa kamu mau jalan sama aku? Kenapa kamu mau repot-repot nganterin aku pulang? Kenapa kamu mau repot-repot ngajarin aku matematika? Kenapa kamu−” Danis menyela, “Karena aku nggak bisa menolak kamu, Ju. Karena aku suka sama kamu.” “Menurut kamu, apa aku kelihatan seperti cewek yang cuma sekadar mau temenan sama kamu? Dekat sama kamu tanpa status yang jelas?” Dan kemudian, Danis dibuat bingung dengan pertanyaan itu. “Aku nggak bisa baca perasaan kamu.” “Kamu bodoh, tahu nggak sih?” Danis terkejut. “Ju...” “Kalau aku nggak suka sama kamu, apa menurut kamu aku mau temenan sama kamu?” “Kamu juga suka sama aku?” Danis melongo. Sepertinya pengakuan Juda itu adalah sesuatu yang mengejutkan. Di sini, Danis terlihat bodoh dan menyebalkan sekali. Juda pikir Danis cukup pintar untuk tidak melontarkan pertanyaan yang sudah cukup jelas jawabannya. “Tiba-tiba aku nyesel udah bilang kalau aku juga suka sama kamu,” cetus Juda dengan sangat ketus. “Ju, aku−” Juda menepis tangan Danis yang berusaha menggenggam tangannya. “Aku nggak punya waktu buat berurusan sama cowok yang nggak tegas kayak kamu, Dan.” “Aku cuma nggak yakin−” “Aku nggak ngerti kenapa aku suka kamu. Aku nggak ngerti kenapa kamu yang dulu selalu tampil percaya diri sama apa pun yang kamu hadapi, sekarang jadi kayak gini di depan aku.” Danis tahu bahwa ia baru saja membuat Juda tersinggung. “Maaf, Ju.” “Astaga, Danis. Aku nggak minta kamu buat minta maaf. Sekarang kamu mau kita gimana?” “Kamu masih nanya?” Juda terperangah. “Kamu yang pertama bahas. Kamu mempertanyakan kedekatan kita mengarah ke mana, kita berdua sama-sama saling suka. Dan kamu masih nggak paham?” Dari suara Juda, jelas terdengar bahwa ia sudah sangat geram. “Mau berapa kali aku bilang kalau aku suka sama kamu?! Kenapa sih susah banget buat kamu percaya? Mau berapa kali kita bahas ‘kita ini apa’ tapi nggak ada kejelasan?” sergah Juda dengan cukup keras bersamaan dengan suara-suara di sekitar mereka yang menghilang digantikan keheningan. Hening malam itu tidak terasa mencekam. Tetapi membuat Juda terbungkam dan malu luar biasa. Meski pencahayaan hanya dari lilin yang menyala di tangan mereka dan juga dari lampu-lampu sekitar lapangan yang sama sekali tidak membuat tempat itu menjadi cukup terang untuk menyorot wajah-wajah mereka, tetapi Juda dapat merasakan setiap pasang mata yang memandang ke arah dirinya dan Danis. Keheningan itu bertahan selama beberapa saat, sebelum kemudian sebuah suara disusul suara-suara lain dengan kompak meneriakkan agar Danis dan Juda berhenti saling lempar kode keras dan tarik ulur. Beberapa saat kemudian kembali hening. Seolah sengaja memberi waktu bagi Danis dan Juda. Atau mereka hanya tidak ingin tertinggal momen seru yang begitu mendevarkan untuk ditonton. “Kita pacaran mulai hari ini,” kata Danis. Tidak ada pertanyaan. Laki-laki itu langsung mendeklarasikan apa yang sudah ia nanti-nantikan. Juda yang awalnya sudah berniat kabur karena membuat hampir semua mata memperhatikan diirnya dan Danis, mengurungkan niatnya. Danis menegaskan hubungan mereka dengan tanpa basa-basi setelah ia desak dan ia pojokkan. “Cium dong, Dan!” Ada satu suara familier yang membuat suasana malam itu semakin panas. “Kalau kamu cium aku di depan teman-teman kita, kita putus saat ini juga,” ancam Juda dengan mata melotot. Danis tersenyum. Menghilangkan ekspresi bodoh yang sejak tadi terpasang di wajahnya. “Kenapa senyum-senyum?” gertak Juda dengan gemas. Sementara itu, semakin banyak suara yang memanas-manasi agar Danis bertindak. “Kalau aku cium kamu di tempat yang lebih privat, kamu nggak masalah?” “Jangan ngelunjak!” Danis pun menyemburkan tawa. “Astaga, aku nggak nyangka bisa pacaran sama cewek paling judes seantero sekolah.” “Belum ada lima menit, tapi aku udah mulai nyesel jadian sama kamu.” “Oh ya, yakin mau putus langsung di sini sekarang?” Juda ingin menampar wajah Danis karena gemas dengan laki-laki itu. “Tadi aja kamu gagu. Sekarang kamu udah bisa sok-sokan godain aku?” “Sekarang aku nanya serius, Ju. Aku beneran pengen cium kamu. Boleh?” Juda menelan ludah. Langsung merasa sangat gugup. Danis sudah tidak menampilkan wajah bodohnya. Laki-laki itu menatapnya dengan lekat dan sebuah tekad bulat terpampang jelas di sana. Juda setengah sadar saat menganggukkan kepala. Kemudian, ciuman itu terjadi. Ciuman pertama mereka. Ciuman singkat yang membuat geger satu angkatan. Terdengar pekikan melengking, tepuk tangan riuh, dan ucapan selamat yang membahana. Menggetarkan lapangan sekolah pada malam berbintang itu. Hari itu, Danis dan Juda menciptakan satu kenangan yang membekas hingga sulit dilupakan oleh siapa saja yang hadir di sana malam itu.   ***   Para panitia acara reuni malam itu untung saja langsung cepat tanggap untuk menenangkan massa yang geger karena kehebohan yang lagi-lagi diciptakan oleh Danis dan Juda di momen-momen penting mereka. Terutama Fikri, snag penanggung jawab acara yang susah payah menenangkan massa yang makin heboh setelah Danis membawa Juda keluar. Laki-laki itu naik ke panggung dan meraih mikrofon, lalu dengan suara lantangnya ia mulai bicara. Meminta seluruh massa yang kacau itu untuk mengalihkan perhatiannya kepada dirinya. “Selamat malam, teman-taman. Gue minta waktu sebentar,” ucap Fikri. Menanggalkan bahasa formal yang biasa ia gunakan setiap kali bicara di depan publik. “Gue minta maaf ke kalian semua atas ketidaknyamanan yang terjadi barusan. Atas nama Danis dan Juda, gue mewakili mereka meminta maaf karena menciptakan tontonan di tengah-tengah acara temu kangen kita hari ini. Gue berharap, kalian semua menyikapi kejadian hari ini dengan dewasa. Jadi, gue asumsikan kalau gue dan kalian semua yang mengabadikan kejadian tadi, nggak akan nyebarin foto maupun video mereka berdua ke sosial media. Kita sama-sama udah dewasa dan ngerti yang namanya menghargai privasi orang lain, jadi gue mohon dengan sangat, atas nama Danis dan Juda, jangan jadikan momen tadi sebagai bahan gossip.” Sebagian besar cukup mengerti, bahkan tidak terlalu ambil pusing dengan kehebohan yang diciptakan Juda. Namun, tentu saja ada orang-orang yang tidak bisa diam saja dengan hanya membiarkan kehebohan malam itu teredam begitu saja. “Gue yakin si Juda justru berharap kalau ini bakal viral. Juda kan dari dulu emang terobsesi jadi pusat perhatian. Inget kan dia baru beberapa bulan pindah ke sekolah kita, tapi tiba-tiba macarin kakak kelas yang kayak preman? Kalau bukan karena mau tenar, mau apa lagi coba?” “Sok kecakepan emang. Kirain semakin bertambah umur bakal jadi lebih tahu diri. Tapi malah makin nggak tahu malu.” “Kayaknya sih dia dengki gara-gara ngelihat Grita dateng sama suaminya. Mereka dulu kan saingan banget buat jadi yang paling tenar di angkatan. Lihat kan tadi waktu Grita dateng dan langsung jadi pusat perhatian? Juda nggak mau kalah, makanya sengaja bikin drama.” “Eh, ngomong-ngomong, tadi gue sempet lihat Juda sama suaminya Grita ngobrol gitu. Mereka nggak mungkin kenal, kan?” “Lo jangan nambah-nambahin cuma gara-gara Juda bikin heboh.” “Gue nggak mungkin salah lihat. Mereka berdiri hadap-hadapan gitu.” “Jangan-jangan Juda sengaja bikin kehebohan setelah gagal bikin suaminya Grita tertarik sama dia?” “Gila lo! Masa baru sekali ketemu langsung segaresif itu si Juda?” “Kita nggak pernah tahu.” Dan masih banyak lagi perkataan-perkataan penuh kenyinyiran yang terlontar hingga acara reuni itu berakhir. Dan sampai akhir, Danis dan Juda tidak kembali.  Keesokan harinya, meski sudah diperingatkan oleh Fikri agar teman-temannya bertindak dewasa dengan tidak menyebarkan apa pun yang mereka rekam yang menyangkut Danis dan Juda, semuanya menjadi tidak terkendali. Foto-foto dan potongan-potongan video tersebar, awalnya hanya dari satu orang yang dikirim ke temannya yang lain. Kemudain mulai tersebar dari grup ke grup hingga ada yang menyebarkannya di sosial media dan membuatnya menjadi viral. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN