Langkah Juda yang besar-besar terhenti saat seseorang menghadang tubuhnya. Di depannya, berdiri sosok Guntur yang saat ini menatapnya dengan mata jernihnya yang berkilat penuh rasa sesal dan bersalah. Tatapan yang mungkin akan membuat Juda luluh jika berada dalam kondisi yang berbeda.
Juda tidak tahu bagaimana Guntur bisa terpisah dari Grita dan tahu-tahu berdiri di hadapannya. Yang jelas,
“Juda, saya—”
“Kamu nggak perlu jelasin apa-apa ke saya. Tolong, minggir!” sergah Juda dengan nada rendah yang dingin dan membekukan. Rasanya sudah lama Juda tidak bersikap seangkuh itu kepada orang lain.
“Saya nggak bermaksud—”
“Walaupun saya dan Grita nggak akur, tapi saya menghargai dia,” Juda kembali menukas sebelum Guntur menyelesaikan ucapannya.
“Saya bisa jelasin.”
Juda muak sekali. Perutnya bergejolak. Campuran antara ingin muntah dan juga dorongan amarah yang tersuntik di dalam setiap sel yang membuat Juda tampak sangat garang.
“Nggak ada yang perlu kamu jelasin. Menyingkir dari hadapan saya sebelum kamu mempermalukan diri kamu sendiri di hadapan semua orang di sini. Kamu nggak akan suka dengan apa yang bisa saya lakukan.”
Guntur terlihat sangat terkejut. Mungkin karena sadar bahwa Juda begitu berbeda dengan sosok yang ia temui minggu lalu. Ia mundur selangkah, membuat jarak melebar. Namun, tidak langsung pergi. “Saya dan Grita—”
“Minggir sekarang atau saya akan teriak,” ancam Juda dengan serius.
Di mata Juda sekarang, tidak ada yang menarik di diri Guntur. Yang ada hanya perasaan jijik yang memuakkan yang membuat Juda berharap bahwa sosok seperti Guntur lenyap saja dari dunia.
Di detik ini, Juda benar-benar menjadi pribadi yang sangat berbeda saat menghadapi seseorang yang telah bermain-main dengannya. Apalagi, ini tidak hanya sekadar bermain-main dengannya, tetapi melibatkan wanita lain yang akan menjadi pihak yang paling terluka. Juda bahkan tidak ingin membayangkan bagaimana Grita akan sangat hancur jika mengetahui suaminya yang munafik dan peselingkuh yang mencari mangsanya di dating app.
Guntur menyingkir tanpa banyak protes. Membiarkan Juda kembali melanjutkan langkah demi langkah yang kini terada begitu berat.
Tidak sampai tiga menit berhadapan dengan Guntur, sejenak Juda sudah lupa dengan arah yang tadi ia tuju. Ia hampir membelokkan langkahnya untuk meninggalkan ballroom saat kemudian ia mendengar namanya disebut-sebut. Juda sekali lagi menghentikan dan menoleh ke arah sumber suara.
Oh, ternyata Danis dan teman-temannya. Mereka yang saat ini membicarakan Juda. Juda merutuk kesal. Teringat jika ia tadinya ingin menghampiri Danis dan menyelesaikan masalah yang ada pada dirinya—yang berhubungan dengan Danis, atau setidaknya itu yang selama ini ia pikirkan, meski Ema menentangnya dan berkata bahwa itu hanya akal-akalan sisi hati Juda yang tidak ingin melepaskan masa lalu.
Juda meringis saat salah satu teman Danis 'meminta izin' kepada laki-laki itu untuk mendekati dirinya. Lucu sekali. Jika dipikir-pikir, memang tidak ada satu pun teman Danis yang pernah mencoba mendekati dirinya setelah ia putus dari laki-laki itu. Beberapa orang yang pernah mendekatinya setelah putus dari Danis sama sekali tidak mengenal Danis secara dekat. Ternyata bukan karena Juda tidak terlihat menarik di mata mereka, tetapi karena mereka menghargai Danis sebagai teman.
Namun, mungkin karena ia sedang terpantik amarah, ada titik sensitif yang tersenggol hingga membuat Juda memikirkan satu hal gila. Salahkan saja teman-teman Danis membicarakan dirinya seperti hewan buruan. Salahkan Guntur yang membuatnya merasa menjadi wanita paling t***l sedunia karena berhasil dibodohi.
Ya, Juda memang sudah gila. Itu yang terlintas di kepala Juda saat bukannya menyelesaikan apa yang belum tuntas di antara dirinya dengan Danis, ia malah menambah masalah.
Terlalu mengedepankan perasaan yang sedang membakarnya dari dalam dan bukannya mempertahankan kewarasan dengan berpegang pada logika, membuat Juda mengacaukan segalanya.
Tidak hanya mempermalukan diri di depan Danis, ia mempermalukan dirinya di depan semua orang.
Ia merangsek ke arah Danis, menarik pergelangan tangan laki-laki itu dan membuat mereka berdua slaing berharapan dalam jarak yang cukup dekat. Kemudian Juda mengucapkan empat kata yang terlontar dengan nyaring dan keras. Membuat segala suara yang tadi berbaur seketika terbungkam dan hening. “Danis, ayo kita balikan!” begitu ucapnya.
Juda tak membiarkan Danis menerjemahkan kebingungan di wajah saat Juda kemudian membungkam Danis dengan ciuman di bibir. Di hadapan semua orang yang kini menyaksikan tingkah gilanya.
Tidak hanya sampai di situ saja. Setelah mencium Danis—hanya ciuman singkat tanpa benar-benar ia resapi rasa yang mendobrak setiap denyut nadi dalam tubuhnya—Juda membuat Danis terkejut bukan main dan tidak bisa berkata-kata.
“Nikah sama aku, Danis,” ujar Juda yang mulai hilang akal. Entah apa yang merasuki dirinya hingga seberani itu bertindak gila saat ada berpuluh-puluh pasang mata memandang. Menjadikan dirinya dan Danis bahan tontonan menarik yang bisa dengan mudah dicemooh dan ditertawakan. “Aku tahu, nggak ada orang yang ngajak mantannya balikan dan langsung ngajak nikah di waktu yang sama. Aku tahu, ini adalah lamaran tergila, yang mungkin akan dianggap murahan bagi banyak orang. Tapi aku nggak peduli.”
Danis masih terpatung di tempat. “Ju, kita....”
“Ayo, kita nikah, Danis.” Juda sekali lagi men Kita wujudin harapan kita dulu. Kamu masih ingat kan?”
Danis mengangguk spontan.
Anggukannya itu membuat berpasang-pasang mata penasaran. Menerka-nerka tentang apa yang menjadi harapan dua manusia itu ikrarkan saat masih bersama, saat keduanya masih sama-sama sangat belia.
Suasana semakin hening. Entah sejak kapan suara musik pun terhenti.
Untuk kedua kalinya, waktu seakan membeku. Yang ada hanya ia dan Danis, yang berdiri kaku di hadapannya. Dengan tatapan syok dan tak percaya.
“Do you still love me?” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Danis bisa mengucapkan satu kalimat dengan tidak terbata di hadapan Juda.
Pertanyaan itu menyentak Juda dan membuat setiap orang yang melihat mereka menahan napas. Juda tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Ema berkali-kali menegaskan jika hubungan Juda dan Danis di masa lalu hanya sekadar cinta monyet. Bukan benar-benar cinta dengan perasaan mendalam.
“Aku nggak tahu,” Juda berkata dengan jujur. Jawaban yang terlontar dengan sangat spontan. Namun, itu memang yang Juda rasakan saat ini. Atau mungkin, Juda memang tidak pernah benar-benar memiliki rasa cinta itu seperti yang Ema pernah katakan kepadanya. Atau ia berkata sedemikian rupa karena tidak ingin semakin mempermalukan dirinya sendiri dan Danis di hadapan semua orang. Juda melanjutkan, “Yang aku tahu, selama sepuluh tahun terakhir, aku nggak pernah ketemu dengan laki-laki yang tepat. Aku mendorong mereka menjauh karena bukan mereka yang aku inginkan. Aku nggak tahu siapa yang sesungguhnya aku inginkan. Aku terus mencari-cari, sosok seperti apa yang tepat dan aku inginkan untuk aku jadikan pasangan hidup. Tapi sampai aku lelah mencari, aku nggak menemukan sosok itu. Entah mereka yang mengecewakanku atau sebaliknya aku yang mengecewakan mereka. Pada akhirnya, mereka semua pergi dari hidupku.”
“Sampai aku melihat kamu lagi di sini hari ini dan seketika aku ingat waktu kita membuat janji konyol untuk menjadi pasangan hidup.”
Mata Danis membeliak tak percaya. Apa yang baru saja diucapkan Juda seperti ledakan yang membuatnya terguncang. “You wanna be with me?” lirihnya.
“I do.” Juda menatap Danis dengan kedua matanya yang berbinar penuh tekad dan keseriusan.
Danis memandang Juda seolah wanita itu sudah gila. “This is crazy. Kamu sama sekali nggak tahu apa yang kamu bicarakan,” tukas Danis.
Detik demi detik berlalu dengan sangat lambat. Setiap satu tarikan napas seperti lecutan kasar yang mengarah ke ketidakpastian. Ada kegusaran yang mengudara. Dan Juda yang perlahan menyadari—benar-benar menyadari—kegilaan apa yang baru saja ia lakukan, merasa sangat tak berdaya sekarang. Ia tak sanggup menoleh untuk melihat berapa banyak pasang mata yang telah ia buat penasaran karena tingkahnya.
“I know. Aku memang gila.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Juda dengan suara yang sangat lirih tak bertenaga. Kegilaannya sudah habis. Dan hanya sisa-sisa ketidakpercayaan diri yang kini meraup habis diri Juda.
Juda hampir menangis. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa dengan impulsif mendorong dirinya mencium Danis. Seakan belum cukup memalukan, ia melamar laki-laki itu yang sudah sepuluh tahun lebih tidak ia temui dan mencinptakan kehebohan di tengah-tengah acara besar yang sebagian besar dari mereka nantikan. Itu benar-benar sebuah tindakan paling gila yang pernah Juda lakukan. Di muka umum pula!
Sesungguhnya, tidak hanya satu atau dua kali Juda menciptakan kehebohan. Itu terjadi selama ia berada di bangku SMA, setelah ia pindah sekolah. Di sekolah yang barunya, sudah bukan merupakan hal asing lagi jika seorang Juda adalah seorang pribadi yang judes dan galak, namun banyak disukai kaum adam. Kalau bicara bisa ceplas-ceplos dan tak jarang membuat beberapa orang sakit hati karena ucapan tajamnya. Meskipun kesannya memang tidak ada ramah-ramahnya, Juda memiliki beberapa mantan pacar−kakak kelas maupun teman seangkatan−yang hampir semuanya cukup berpengaruh di sekolah.
Juda mulai dikenal saat ia memacari kakak kelas bernama Naka, salah satu anak terbandel yang terkenal di kalangan guru-guru hingga guru BK yang terkenal sebagai guru killer pun menyerah. Dan Juda membuat Naka bertekuk lutut karena kejudesannya. Hubungan yang menghebohkan seantero sekolah itu kandas dengan cepat. Setelah itu, banyak yang menaruh perhatian lebih kepada Juda. Mereka berlomba-lomba menaklukkan Juda si judes. Tidak banyak yang berhasil. Banyak hati yang patah karena tertolak.
Setelah putus dari Naka, tak sampai dua bulan Juda sudah kembali mendapatkan pacar. Ia memacari teman seangkatannya, yang merupakan seorang atlet taekwondo yang berkali-kali juara dan mengharumkan nama sekolah. Benar-benar sebuah kejutan baru, karena sebagian orang berpikir Juda hanya tertarik dengan ‘siswa nakal’ seperti layaknya Naka. Hubungan Juda dengan sang atlet hanya bertahan satu bulan, lebih singkat dibandingkan dengan Naka. Dan setelah itu pun, tidak butuh waktu lama bagi Juda untuk kembali dekat dengan gebetan baru.
Juda berhasil membuat Edgar, sang juara satu paralel dari jurusan IPS bertekuk lutut padanya. Hubungannya dengan Edgar sempat menimbulkan drama. Juda dilabrak mantan kekasih Edgar yang bersekolah di SMA yang berbeda. Benar-benar menggegerkan seantero sekolah karena mantan kekasih Edgar adalah seorang model majalah remaja yang cukup terkenal, yang tahu-tahu muncul di sekolah mereka, mendatangi Juda yang kala itu baru keluar dari kelas dan tiba-tiba disumpah serapahi karena merebut Edgar.
Itu semua hanya masa lalu yang selama ini menjadi bahan tertawaan Juda sendiri dan Ema saat mereka bernostalgia, mengenang masa-masa sekolah mereka dulu.
Namun, kali ini, kehebohoan yang Juda buat memiliki dampak yang lebih besar dan lebih serius. Ini tidak hanya sekadar pacar-pacaran dan naksir-naksiran seperti yang terjadi saat SMA dulu.
Dan Juda benar-benar ingin muntah sekarang. Ia panik luar biasa. Ia ingin segera kabur tapi kakinya tertahan dalam pijakannya saat ini. Juda memakukan tatapannya pada mata Danis, yang lama-lama memburam karena air mata mulai melapisi mata. Rasanya benar-benar memalukan.
Saat Juda yakin air matanya sudah hampir jatuh, Danis menariknya ke dalam pelukan. Sekali lagi memberikan tontonan gratis kepada setiap mata yang memandang. Dan beberapa saat kemudian tepukan tangan terdengar dan suitan terdengar membahana, seakan bisa meruntuhkan ballroom hotel itu. Juda juga sangat yakin jika hampir setiap tangan orang-orang yang memperhatikan mereka memegang kamera, mengabadikan kegilaan Juda yang sekali lagi menggegerkan seantero angkatan.
“Ayo, kita keluar dulu dari sini,” bisik Danis. Menyapa gendang telinga Juda dengan lembut.
Dan Juda pun membiarkan Danis menarik pergelangan tangannya, membawanya keluar dari ballroom hotel. Entah sejauh mana mereka melangkah, Juda tidak memperhatikan. Ia hanya sibuk dengan air mata yang semakin bercucuran dan bayangan tentang apa yang telah ia lakukan tadi yang kemungkinan besar akan menyebar dengan mudah. Video-video dan semua potret yang teman-temannya abadikan, akan mudah viral. Seperti yang sering terjadi di generasi ini. sedikit saja kehebohan, akan bisa tersebar di seluruh penjuru tanah air.
“Juju!”
Sentakan itu membuat Juda limbung. Ia hampir terjengkang karena kaki yang terbalut high heels. Refleks, ia menggapai lengan Danis dan menggunakannya sebagai tumpuan.
Kemudian, setelah yakin bisa berdiri tegak, Juda melepaskan lengan Danis dan mundur satu langkah. Saat satu langkah dirasa belum cukup membuatnya berjarak dengan Danis, Juda mundur lagi satu langkah. Kemudian ia menyeka wajahnya yang basah oleh air mata.
“Setelah kamu menciptakan kegilaan di depan teman seangkatan kita, sekarang kamu mau melarikan diri?” tukas Danis dengan mengejutkan.
Tenggorokan Juda tercekat. Melihat keterkejutan sudah tidak lagi membayangi wajah Danis, Juda mendadak bisu.
“Kenapa diam aja, Ju? Yang itu tadi apa? Apa yang sedang coba kamu mainkan?” cecar Danis dengan lebih keras.
“Aku nggak sedang memainkan apa-apa.”
“Oh, jadi kamu serius? Kamu mau menikahi laki-laki yang pernah kamu putuskan dengan kejam? Yang kamu tinggalkan begitu saja dan membiarkan hatinya berserakan. Yang harus sampai kabur ke luar negeri dan nggak mau pulang ke negaranya sendiri karena nggak ingin kembali mengingat rasa sakit yang mantan pacarnya torehkan.” Danis berdecih. “Nggak ada orang waras yang melakukan itu.”
Juda mendongak. Menantang Danis dengan tatap mata yang sama sengitnya. “Aku emang nggak waras. Jadi kamu bisa lupakan apa yang terjadi.”
“Aku nggak berniat melupakan apa yang terjadi. Kamu yang menciptakan kekacauan dan aku akan memastikan kalau kamu nggak akan membuat kekacauan yang lain.”
Juda langsung waspada. “Maksud kamu apa?”
“Memangnya apa lagi? Kalau kamu nggak mau diingat sebagai wanita gila yang terobsesi dengan skandal yang membuat kamu tenar di mana-mana, kamu tentu aja harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu mulai. Kamu mau kita menikah, kan? Aku akan wujudkan keinginan kamu.”
***