BAB 29. Batasan

1414 Kata
Juda tidak ingat kapan pertama dam terakhir kalinya ia menautkan bibirnya dengan bibir seseorang dengan sedalam ini. Cukup sulit baginya untuk mengimbangi ciuman Danis yang menggebu-gebu. Yang jelas, perasaannya membuncah tumpah ruah. Ciuman pertamanya dengan Danis sekaligus ciuman terakhir mereka saat berpacaran dulu hanya berupa kecupan singkat. Juda tidak benar-benar mengingat bagaimana perasaannya kala itu. "We need to stop," ucao Juda dengan susah payah setelah ciuman panjang itu bertahan cukup lama. Dari jarak yang dekat sekali, Juda baru menyadari jika mata Danis yang selama ini terlihat hitam kelam, ternyata tidak begitu. Mata Danis berwarna cokelat, yang hanya bisa terlihat begitu jelas dari dekat. Dari jarak yang tidak lebih dari sepuluh senti meter. Danis membiarkan mereka berdua mengambil napas sejenak, namun setelah itu ia kembali meraih bibir Juda dengan bibirnya. Seolah-olah ia sedang begitu haus dan hanya bibir Juda yang bisa memuaskan dahaganya. Ciuman dalam itu kembali berlangsung cukup lama. Di sela-sela ciuman, Danis berbisik, "Aku selalu suka sama kamu, Ju. Sejak dulu. Kamu boleh percaya atau enggak." Bisikan itu menggeletarkan seluruh sendi-sendi dalam tubuh Juda. Ia mengeratkan rangkulan di leher Danis. Seolah dengan begitu dirinya tidak akan meluruh jatuh. Bagi Juda, pernyataan itu terasa begitu dalam hingga merasuk ke dalam sanubari. Rasanya lebih mendebarkan ketimbang pernyataan cinta para mantannya yang hanya bullshit semata. Ketika sesak mulai merambati dadanya, Juda memundurkan kepala dan mendorong d**a Danis sehingga ciuman panas itu akhirnya terhenti. Benar-benar terhenti. Keduanya terengah-engah seperti habis lari marathon berkilo-kilo. Senyum terukir di bibir Danis. Dalam jarak yang sedekat ini, Juda menahan diri agar tidak pingsan karena pengaruh senyum memikat itu lebih kuat berkali-kali lipat. Juda baru akan mengungkapkan satu kejujuran yang selama ini hanya ia simpan sendirian, namun urung. Ia cukup kaget dengan posisinya yang entah sejak kapan berada di pangkuan Danis. Satu tangan berada di d**a Danis, tepat di atas jantungnya yang berdebar sama kencangnya dengan miliknya. Sementara satu tangan lainnya berada di belakang kepala Danis, mencengkeram rambut laki-laki itu dengan kuat. Juda terkesiap saat ia menunduk. Astaga, seberapa liar mereka tadi hingga Juda bahkan tidak sadar dua kancing kemejanya yang teratas sudah terlepas—atau sengaja dilepas. Satu tangan Danis menangkup buah dadanya. Sementara satu tangannya yang lain menyusup di balik bajunya, menekan punggungnya hingga tubuh bagian depan mereka saling bergesekan. Mendadak, suasana terasa begitu panas. Juda tahu bahwa itu tidak ada hubungannya dengan suhu ruangan yang disetel cukup dingin sejak pertama ia masuk ke dalam. Meski jarang merasakan ini terhadap laki-laki yang ia kencani sebelum-sebelumnya, Juda tahu apa yang sedang melupa-luap di dalam dirinya. Yang membuatnya membeku selama beberapa saat adalah kenyataan bahwa dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa ia menyimpan hasrat sebesar itu untuk Danis. Di detik selanjutnya, Juda juga tahu bahwa bukan hanya dirinya yang merasakan hasrat itu. Juda bergegas turun karena mulai merasa tidak nyaman berada di posisinya, namun ditahan oleh Danis dengan kedua tangan yang kini melingkari pinggangnya. "Maaf, aku... aku nggak bisa, Danis." Danis tidak membiarkan Juda pergi, namun ia mengangguk. Bahwa ia mengerti. "Aku tahu, Ju. Aku cuma masih mau begini, sebentar aja." Juda menelan ludah. Suara serak Danis membangkitkan sesuatu yang berbahaya di dalam tubuhnya yang mendadak bangun. Mulutnya mungkin berkata bahwa ia tidak bisa. Namun, beberapa bagian tubuhnya berteriak bahwa mereka menginginkannya. Juda berusaha untuk mengabaikan pikiran-pikiran kotor yang berdesakan di kepalanya. Sayangnya, semakin ia menampik, semakin besar keinginan itu. Juda hanya bisa menyumpah serapah di dalam hati selama ia berada di pangkuan Danis, dengan kedua mata yang tak bisa lepas dari manik mata milik laki-laki itu. Juda rasanya semakin melebur hingga menjadi butiran debu saat Danis menyatukan kening mereka. Kedua memejamkan mata. Saling merasakan embusan napas mereka saling bertabrakan. Kehangatannya menyebar di wajah, membuat Juda nyaris gila. "Touch me," lirih Juda. Membiarkan perasaan mengambil alih logika. Kali ini giliran Danis yang mendorong tubuh mereka agar saling menjauh. Laki-laki itu menatap Juda dengan sedikit kaget. "Juju..." "Please," Juda memohon. Danis menelan ludah. Kemudian mulai melarikan tangannya di wajah Juda. Ia menyibak rambut Juda yang jatuh ke wajah, menyelanya ke belakang telinga dengan lembut. Kemudian menyentuh kening Juda, menyeka titik-titik keringat di sana. Tangannya turun ke alis Jida yang tebal dan beberapa detik selanjutnya turun ke mata. Juda memejam. Meresapi sentuhan Danis yang begitu lembut, namun berhasil mengoyak jiwa raganya. Belaian di pipi Juda rasakan, kemudian turun ke rahangnya. Jari-jemari Danis naik ke bibir, mengusap bekas ciuman yang masih terasa begitu kuat. Saat Juda sudah nyaris mendesah, ia merasakan tangan Danis menjauh. Juda merass kehilangan, sebelum sedetik kemudian merasakan kecupan yang sangat ringan di pucuk hidungnya. Saat Juda membuka mata, Danis tersenyum. Juda mengulum bibir. Perasaannya yang terombang-ambing karena senyum memikat itu membuatnya gila. "Ada satu kejujuran yang harus aku kasih tahu ke kamu," kata Juda. Danis yang penasaran akhirnya membiarkan Juda turun dari pangkuannya setelah sekali lagi memberikan ciuman singkat di bibir Juda. Tanpa berkata apa-apa, keduanya pindah ke sofa panjang dan duduk berhadapan. Yang beberapa saat kemudian membuat Juda gugup. "Jarang-jarang aku ngelihat seorang Juda gugup," cetus Danis karena Juda tak kunjung bersuara. "Kita perlu membuat batasan," kata Juda. "Ini kejujuran yang mau kamu sampaikan?" Danis mengerling geli. "Bukan. Tapi ada baiknya kita bahas ini dulu." Danis menyandarkan siku di kepala sofa dan menyangga kepalanya. Dengan santai menyahut, "Oke. Jadi, kita perlu membuat batasan mana yang boleh kita lakukan dan mana yang enggak." Juda mengangguk sebagai konfirmasi. "Kalau gitu, sejauh mana—" "Aku nggak bisa lebih dari sekadar ciuman," kata Juda. Yang ternyata cukup memalukan saat mengungkapkan itu. Mungkin karena Juda yang tanpa sadar mencengkeram baju—yang sudah ia kancingkan kembali—tepat di depan dadanya, Danis pun menandaskan dengan lebih tegas, "Kita nggak boleh melangkah lebih jauh dari sekadar ciuman." Danis meraih tangan Juda dan mengecup punggung tangannya. "Maaf ya, yang tadi aku agak hilang akal." Juda tahu, permintaan maaf itu untuk tangan Danis yang menggerayangi dadanya. "Aku juga nggak sadar," cicitnya. "Jadi, aku nggak akan marah." Danis seketika tertawa. "Ngelihat gimana kamu sekarang,aku nggak yakin kamu akan marah." Ia kembali mengecup punggung tangan Juda yang masih berada dalam genggamannya. "You look so beautiful, Ju." Juda menarik tangannya dari Danis dan dengan salah tingkah menyelipkan rambut di belakang telinga. Danis mengerang. "Jangan lakukan itu juga kalau kamu cuma mau kita berhenti di sebatas ciuman, Ju." "Jangan lakukan apa?" Juda mengernyit bingung. Danis menyentuh rambut Juda dan melakukan apa yang Juda barusan lakukan, menyela rambut wanita itu ke belakang telinga dan berbisik dengan suara rendah, "Melakukan ini sambil tersenyum salah tingkah. You turn me on." Langsung ia tepis tangan Danis dan ia pelototi laki-laki itu. Sambil menyunggingkan senyum, Danis mengangkat tangan. Tanda bahwa ia mengalah. "Tadi kamu mau cerita soal satu kejujuran, kan? What is that?" Ditodong dengan pertanyaan itu membuat Juda spontan menggelengkan kepala. "Nggak jadi," tukas Juda yang membuat Danis terlihat semakin penasaran. "Jangan bikin aku menebak-nebak sendiri, Ju. Aku nggak pintar soal teka-teki." "Nggak penting kok." "Kalau nggak penting, kamu bisa dengan mudah cerita. Apa, Ju?" desak Danis dengan tidak sabar. Juda kembali menggeleng. "Aku bakal kelihatan konyol di mata kamu. Nggak mau." "Aku janji, aku nggak akan ketawa. Apa pun itu yang mau kamu katakan. Oke?" Juda menggigit bibir bawahnya. "Ini beneran konyol, Danis." "Aku yang akan menilai, kejujuran kamu konyol atau enggak." Say it! Atau aku cium kamu lagi, lebih dari yang tadi." "Sinting!" Danis terkekeh. "Makanya, kasih tahu aku, Ju. Kamu terlanjur bikin aku penasaran." Juda kalah. Walaupun baginya memang terdengar konyol jika mengungkapkan ini, ia tidak bisa mengelak. Biar saja Danis menertawakan dirinya setelah ini. Juda berdeham sebelum berkata, "Kamu ingat nggak waktu pertama kita ketemu di UKS?" "Bagiamana aku bisa lupa, Ju?" "Waktu itu, kamu memergoki aku ngeliatin Pandu dan kamu langsung tahu kalau aku suka sama Pandu. Aku lupa aku bilang apa ke kamu saat itu, tapi aku ingat kalau aku ketus sama kamu." Danis manggut-manggut. "Itu pertama kalinya aku dijudesin sama cewek yang baru aku kenal lima menit." Juda meringis. "Setelah itu, entah kita abis ngobrol soal apa. Tapi untuk pertama kalinya, kamu tersenyum. Senyum yang membuat aku langsung jatuh hati sama kamu dan melupakan soal Pandu." "Wow." "Dan rasanya memalukan. Karena sampai hari ini, detik ini, aku masih dan akan selalu mendambakan senyum kamu, Danis. Kamu bikin aku gila. Kamu bikin aku ngerasa nggak pernah cukup." Senyum Danis sirna. Ia menatap Juda lekat-lekat. "Ju, kalau kamu mengatakan itu dengan ekspresi kamu yang sekarang. Aku nggak bisa nahan diri untuk sebatas ciuman." Juda mendelik. "Awas kalau kamu macam-macam," ancam Juda. Danis memajukan badan. "Let me kiss you." Juda tidak mengelak dan membiarkan Danis kembali menjatuhkan bibir di atas bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN