“Sebaiknya aku pulang,” kata Juda setelah ciuman mereka, yang entah ke berapa, berakhir. Ya, entah bagaimana mereka berdua masih bisa menahan diri untuk berhenti di sebatas ciuman saja meski hasrat bergulung-gulung di antara mereka.
Danis menahan Juda. Menarik pergelangan tangan wanita itu hingga terduduk kembali di sebelahnya.
“Ini apartemen Martin. Aku nggak mau waktu dia pulang langsung ngelihat kita lagi make out di sofanya, terus dia ngambek,” ujar Juda kemudian.
Danis tertawa. “Martin nggak akan ngambek. Dia cuma akan langsung buang sofa ini dan beli yang baru.” Kemudian ia mengernyit, berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “Atau aku bisa beli sofa baru khusus buat kita make out, gimana?”
Juda memutar bola mata dengan malas. “Nggak lucu, Danis.”
“Aku juga nggak sedang berusaha melucu. Tapi, ngomong-ngomong, hubungan kita berubah jadi terlalu dewasa hanya dalam beberapa hari.”
Juda langsung mengerti maksud Danis. Selama kurang dari setengah tahun kenal di masa terakhir mereka di SMA, jika mengabaikan ciuman pertama dan terakhir mereka, skinship terjauh adalah berpelukan ringan. Paling sering berpegangan tangan. Gaya berpacaran mereka juga sama seperti remaja seumuran mereka. Beberapa kali merasa tersipu-sipu malu kala mengungkapkan perasaannya kepada satu sama lain. Mencerminkan betapa lugunya merek kala itu.
Lalu mereka berpisah. Memenggal hati yang dulunya sempat bersatu menjadi dua bagian yang tidak lagi utuh, membawanya ke masa depan mereka masing-masing tanpa ingat untuk menambalnya agar sembuh. Dan bertahun-tahun lamanya mereka membiarkan hati itu diisi orang lain. Juda memberikannya dengan setengah hati setiap berhubungan dengan lelaki lain, membuat dirinya berkali-kali mencecap kegagalan. Sedangkan, Danis memberikan hatinya lebih banyak, jauh lebih banyak, kepada Renata yang membuatnya jatuh cinta dan merasa aman setelah lama membiarkan hatinya kosong. Namun, pada akhirnya, ia dihempaskan dengan kejam.
Dan hari ini, Juda dan Danis meninggalkan masa-masa lugu itu, dan melangkah ke arah yang lebih dewasa, secara kiasan maupun secara harfiah.
“Temani aku makan sebelum kamu pulang,” kata Danis lagi. Ia menunjuk makanan yang dibawa Juda, yang tergeletak di atas meja. “Atau kita bisa makan berdua aja.”
“Kamu nggak ngerasa aneh?”
“Aneh kenapa, Ju?”
Juda menunjuk dirinya sendiri, kemudian menunjuk Danis. “Kita. Duduk di sini berdua.”
Danis mengalihkan pandangan dan kembali fokus berkutat dengan makanannya. “Nggak ada yang aneh. Kamu yang nyamperin aku ke sini.”
“Bukan itu maksud aku, Danis.” Juda tampak gemas.
Danis menelengkan kepala. Tersenyum singkat sambil menepuk pundak kepala Juda dengan sama gemasnya. “Kalau kamu mau nyinggung soal kita yang udah pisha bertahun-tahun, ketemu lagi, dan masih asing satu sama lain, mending kamu diam aja sekarang. Oke? Karena aku mau makan dan aku nggak butuh dengar kamu berputar-putar di masalah yang itu-itu aja.”
“Kenapa aku nggak boleh bahas soal itu?”
“Karena kamu jadi kelihatan plin plan. Nggak punya pendirian teguh.”
“Ucapan kamu barusan menyinggung aku.” Juda benar-benar tampak tidak senang.
Danis pun urung membuka kotak makanan di depannya. Ia memutar tubuh dan kembali menatap Juda. Ia meraih tangan Juda dan menggenggamnya.
“Coba kamu ingat-ingat lagi, semalam kamu bilang apa ke aku,” kata Danis pelan. “Kamu mengungkapkan isi hati kamu jauh melampaui dari apa yang pernah aku bayangkan tentang kamu. Kita emang nggak pernah ketemu lagi selama sekian tahun. Mungkin bisa dihitung jari, seberapa banyak kita pernah saling memikirkan satu sama lain. Tapi itu nggak penting lagi, Ju. Kamu tahu kenapa? Karena yang paling penting adalah sekarang kita ada di sini. Saling tahu perasaan buat satu sama lain yang ternyata sedalam ini, bahkan setelah terpisah dengan jarak belasan ribu kilometer jauhnya selama bertahun-tahun. Kalau kamu merasa apa yang aku katakan salah, coba kasih tahu aku alasannya.”
Tidak. Juda juga merasa bahwa ini semua terasa benar. Bahkan amat sangat tepat. Atau mungkin terlalu tepat hingga hal itu mengusiknya.
“Kalu dipikir-pikir lagi, ini terasa menakutkan,” tutur Juda. Tidak berusaha menutupi kegusarannya. Karena lebih baik membiarkan Danis tahu sekarang, ketimbang menyimpannya sendirian dan pada akhirnya akan meledak di saat-saat genting.
“Kenapa menurut kamu begitu?” Danis bertanya dengan sabar.
Juda mengulum bibir. Ia menarik tangan dari genggaman Danis. “Bagaimana kita bisa memendam perasaan selama itu tanpa pernah berkurang sama sekali?”
Seketika Danis menyunggingkan senyum. Ia banyak sekali tersenyum hari ini.
“Karena kita sendiri yang tanpa sadar nggak mau membiarkan perasaan itu hilang dengan sendirinya, Ju,” kata Danis dengan mata yang melekat tepat di manik mata milik Juda yang menatapnya dengan banyak keraguan. “Kita menyimpan perasaan itu, jauh di lubuk hati kita karena lagi-lagi tanpa sadar kita menginginkan ini. Kita mengharapkan momen ini ada bahkan setelah hati kita tertutup luka karena perpisahan itu.”
Juda merasakan sebuah keterikatan yang begitu kuat dengan Danis. Seolah ujung-ujung magnet yang berlawanan sedang saling tarik menarik. Padahal, siang tadi, ia nyaris tidak yakin bahwa hubungan rapuhnya dengan Danis masih bisa dipertahankan mengingat ia selalu emosional menghadapi sesuatu hingga menempatkan Danis pada posisi yang tidak begitu menyenangkan.
“Boleh aku mengungkapkan satu kejujuran lagi?”
Danis menyipitkan mata. “Sebenarnya, ada berapa banyak rahasia yang kamu simpan sendiri?”
“Jujur, ada banyak,” jawab Juda yang sudah mulai bisa kembali santai. “Tapi untuk sekarang aku akan menyimpan fantasi-fantasi itu untuk diriku sendiri.”
“Wow, jadi kamu sering berfantasi tentang aku?” Danis terlihat cukup bersemangat akan gagasan ini.
Juda berdecak. Meski ia cukup malu karena membicarakan ini, ia tetap berkata dengan mengangkat dagu. “Setelah aku sadar kalau kamu udah tumbuh dewasa dan menjadi kamu yang sekarang.”
Danis menaikkan alis. “Jelaskan lebih detail tentang 'aku yang sekarang'. Apa bedanya dengan aku yang dulu? Aku mau dengar pendapat kamu soal itu.”
Bagaimana Juda harus menjelaskan bahwa ia sudah nyaris gila hanya dengan menatap mata Danis yang tampak sangat hidup dan juga kelam di saat yang sama? Bagaimana Juda akan menjelaskan tentang garis wajah 'dewasa' laki-laki itu yang membuat Juda betah untuk terus-terusan memandanginya? Garis wajah Danis yang tegas, menunjukkan seberapa serius Danis menjalani hidupnya selama bertahun-tahun terakhir. Rahangnya yang kuat membuat Juda ingin meletakkan tangan di sana selamanya. Hidungnya yang mancung—Juda tidak terlalu ingat apakah dulu Danis memiliki hidung yang semancung sekarang. Juda menyukai saat hidung itu bergesekan dengan wajahnya. Dan bibir Danis. Bibirnya yang penuh, yang tidak semerah dulu, mungkin karena terlalu banyak bersentuhan dengan rokok, membuat Juda harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak kecanduan rasa yang ditimbulkan saat bibir itu dengan kuat mengecap rasa di bibirnya sendiri.
Juda menurunkan pandangan. Menatap jakun Danis yang bergerak-gerak. Bagaimana bisa hanya dengan menatap jakun laki-laki itu membuat Juda kehilangan pijakan dan membuatnya ingin menjatuhkan kepala di ceruk leher laki-laki itu? Sungguh gila. Kenapa perasaan ini baru menggila sekarang?
Mata Juda bergerak-gerak gelisah saat berlanjut turun menatap pundak Danis, dadanya, lengannya, pwrutnya yang tertutup kaus—Juda yakin, amat sangat yakin bahwa pada ciuman mereka yang terakhir, ia sempat merasakan perut keras itu dengan tangannya. Juda ingat ia menyentuh Danis dengan lapar. Dan itu menyentak dirinya hingga ia mundur, menjauh dari Danis sejauh yang ia bisa.
Danis hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Juda tanpa berkomentar. Seolah sengaja membiarkan Juda berkutat dengan kegelisahannya sendiri, yang menyangkut perasaan yang bercampur hasrat itu.
“Ternyata kita memang naik level terlalu jauh,” kata Juda yang sudah mulai bisa menguasai diri.
Senyum tipis yang begitu singkat sempat mewarnai wajah Danis karena pernyataan itu. “Jadi, udah selesai kamu dengan fantasi kamu tentang 'aku yang sekarang'? Aku bahkan nggak perlu nanya lagi apa yang kamu pikirkan.”
Juda meringis. Ia ketahuan dengan begitu jelas bahkan tanpa harus menjelaskan satu kata pun tentang itu. Ia sangat mudah terbaca.
“Sorry,” ujar Juda yang tidak terlihat cukup menyesal atas apa yang telah ia lakukan. “Walaupun kata Ema aku masih terlalu polos dan naif untuk ukuran perempuan dewasa yang hampir tiga puluh tahun—”
“Tahun ini kita baru dua sembilan. Aku masih ingat tanggal ulang tahun kamu.”
“—aku sejujurnya nggak sepolos itu. Kepalaku diisi banyak pikiran-pikiran kotor yang aku simpan buat diriku sendiri.”
Danis tertawa karena kejujuran yang diungkapkan dengan Juda dengan terlalu terang-terangan. “Semua orang memiliki pikiran-pikiran kotor yang mereka simpan untuk diri mereka sendiri, Ju.”
“Ada sebagian orang yang menunjukkannya dengan jelas.”
Danis mengendikkan bahu. “Jadi, apa kamu masih berniat mengungkapkan kejujuran yang kedua kalinya hari ini, atau kamu mau membuat aku mati penasaran karena kamu berubah pikiran?”
Juda menanggapi pertanyaan itu dengan merapikan rambutnya yang tergerai—tanpa berkaca, Juda tahu bahwa saat ini rambutnya tidak cukup bagus karena diacak-acak oleh tangan Danis—lalu mengikatnya menjadi satu untaian kuncir kuda.
“I love your neck,” gumam Danis yang tidak pernah lepas memperhatikan Juda.
Juda mengabaikannya. “Kamu jadi mau dengar atau enggak, sih? Aku cuma akan mengatakan ini satu kali dan aku harap kamu nggak pernah melupakannya.”
Danis duduk tegak. Tidak lagi menunjukkan sorot jenaka yang sempat mewarnai matanya selama beberapa saat yang lalu.
“Apa menurut kamu aku sanggup mendengar kejujuran kamu yang ini?” sela Danis sebelum Juda lanjut bicara.
“Tergantung kamu memiliki keinginan yang sama atau enggak.”
“Jadi, ini tentang keinginan di masa depan? Bukan sesuatu yang terjadi di masa lampau dan aku terlambat untuk tahu?” cecar Danis.
“Ini pernah terjadi di masa lalu. Makanya, aku mau jujur soal ini,” jawab Juda abu-abu. Tidak menjelaskan secara rinci.
“Apa kita akan kembali membahas soal Laras dan aku?”
Juda mulai kesal karena Danis terus menginterupsi. “Kamu mau dengar sekarang atau kamu mau terus menebak-nebak sendiri? Kamu bilang tadi kamu nggak terlalu pintar soal teka-teki.”
“Kamu bikin aku deg-degan, Ju.”
“Ini nggak seperti aku yang tiba-tiba ngajak kamu balikan, cium kamu, dan mendadak ngelamar kamu di satu waktu,” cibir Juda.
Danis meringis. “Aku dengarkan sekarang.”
Juda menunjukkan keseriusan yang terbaca dari ekspresi yang ditampilkan wajahnya sebelum ia berkata, “Aku semalam cerita soal kepercayaan yang pernah aku letakkan di tangan kamu. Yang aku ingkari sendiri dan membuat kita putus, yang bisa dibilang cukup menyakitkan sebenarnya. Aku nggak akan tanya seberapa lama kamu patah hati, karena aku juga nggak akan cerita seberapa lama aku nangisin kamu dulu.”
Danis pun menunjukkan keseriusan yang sama saat menyimak kata demi kata yang Juda ucapkan. Seolah jika ia berpaling sepersekian detik saja ia akan buyar dan mengacaukan segalanya.
“Walaupun aku berusaha untuk bersikap santai menghadapi apa yang kita miliki sekarang, aku tetap nggak bisa berhenti waspada pada apa yang kemungkinan akan terjadi di hubungan kita di kemudian hari. Karena walaupun hidup aku mendadak jungkir balik sstelah ketemu kamu lagi dan aku malah merasa kalau yang kita miliki ini memang tepat, tetap aja ada satu hal yang membuat aku terlalu takut untuk berharap. Aku takut gagal lagi, Danis. Kalau dengan orang lain, aku mungkin nggak masalah kembali gagal menjalin hubungan. Tapi dengan kamu, aku nggak bisa. Aku nggak mau kehilangan lagi. Aku nggak mau gagal lagi.”