BAB 31. Buah Ketidakjujuran

1740 Kata
Keseriusan itu tercetak jelas di wajah Danis. Mendengar Juda membahas tentang kegagalan mereka di masa lalu dan betapa wanita itu menginginkan tidak adanya kegagalan yang sama di masa depan, membuat jantung Danis seakan terhempas ke lantai dan terinjak-injak. Danis berani bersumpah dirinya juga tidak ingin merasakan kegagalan itu lagi. Sudah terlalu banyak kegagalan dalam hidupnya. Sejak memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri dan kepada Juda, sudah berkali-kali Danis mengatakan ini pada dirinya sendiri. Bahwa ia akan berusaha sekeras yang ia bisa untuk membuktikan kepada Juda bahwa kegagalan itu tidak akan menghampiri mereka. Bahwa mereka akan bisa melalui ini bersama-sama hingga akhir. Akhir yang bahagia. Dan melepaskan Juda, seperti yang diminta oleh Martin berkali-kali sebelum semua menjadi semakin tak terkendali, tidak akan pernah Danis lakukan. Lebih tepatnya, Danis tidak bisa melakukannya. Karena... lihatlah mereka sekarang. Hanya dalam beberapa kali pertemuan, yang tidak semuanya selalu berjalan dengan baik, pada akhirnya mengantarkan mereka pada hari ini. Mendekatkan dan melekatkan mereka secara fisik maupun batin lebih dari apa yang pernah mereka miliki di masa lalu. Danis tidak ingin kehilangan momen ini. Danis ingin memiliki momen-momen bersama Juda yang sama seperti hari ini atau kalau boleh serakah, ia ingin momen-momen yang lebih baik dari hari ini di masa depan. Karena ini tidak hanya sekadar ketertaikan fisik yang membuat mereka berdua sama-sama nyaris gila. Namun, Danis merasa bahwa mereka juga memiliki keterikatan batin. Mereka tepat untuk satu sama lain. Bahwa itulah yang dibutuhkan pasangan untuk menguatkan hubungan. Tentu saja, Danis tidak suka menempatkan Juda di posisi ini, di saat masalahnya dengan Renata belum selesai. Karena Juda pantas mendapatkan yang lebih baik dari apa yang wanita itu dapatkan saat ini. Dan sekarang, Danis ditekan perasaan bersalah. Namun, keserakahan yang melahap dirinya sama sekali tidak membantu. Ia baru saja diserang sebuah kesadaran. Bahwa dirinya menginginkan Juda seperti ia membutuhkan udara untuk bernapas. Danis tidak ingin kehilangan. Danis tidak ingin mengacaukan apa yang mereka miliki sekarang. Sebab, jika ia kehilangan Juda sekali lagi, setelah apa yang mereka berdua lewati, Danis tidak yakin bisa menjalin dengan wanita lain. Ia tidak sanggup harus patah hati lagi. Danis tercenung karena pemikiran itu. Mereka baru bertemu kembali, tetapi kenapa rasanya mereka telah bersama sejak lama sekali, seolah tak pernah terpisah? “Kita udah sampai di tahap hubungan level dewasa, kayak yang kamu bilang tadi. Seharusnya kita bisa lebih dewasa juga, kan?” Pertanyaan Juda menyentak Danis kembali menginjak realita. Rahang Danis menegang. Sulit untuk menjawab pertanyaan itu di tengah kekalutan yang meremas-remas jantungnya. Bibirnya tetap terkunci meski Danis ingin sekali meyakinkan Juda bahwa ia pun menginginkan hal yang sama. Tidak ada yang mengharapkan kegagalan. Terutama bagi mereka yang sudah berulang kali mencecap pahitnya kegagalan itu. Namun, Juda seperti salah mengartikan ekspresi kaku di wajah Danis dan kembali bersuara, “Aku tahu, Danis. Kemarin-kemarin aku nggak bersikap dewasa, tapi kalau kamu mau kita sungguh-sungguh ngejalanin ini, aku bisa mengusahakannya juga. Aku bisa belajar. Bukannya itu artinya menjalani hubungan dewasa? Dengan terus belajar menjadi lebih baik unjtuk diri sendiri dan juga buat pasangan? Atau kamu nggak bisa percaya sama aku kalau aku juga bisa bersikap dewasa seperti orang-orang di umurku yang sekarang? Juda mencecar Danis tanpa menyadari bahwa bukan itu yang membuat Danis kaku di tempat. Tetapi karena Danis tidak bisa langsung menjanjikan itu sekarang. Setidaknya sampai hubungannya dengan Renata telah benar-benar selesai. Dan bagaimana Danis bisa yakin mereka tidak akan gagal di tengah jalan, jika dirinya masih menjadi seorang pengecut yang tidak mau mengakui kebohongan yang telah ia ciptakan? Sampai kapan Danis akan membiarkan hubungannya dengan Juda mengambang dan berlayar lebih jauh tanpa membiarkan Juda tahu apa-apa tentang hidupnya yang pelik? Bagaimana jika Danis meneruskan ini semua dan di tengah jalan mereka menghadapi masalah besar yang membuat Juda terluka? Yang Danis tahu, Juda akan membenci dirinya. Rasa benci itu akan berkali-kali lipat lebih besar ketimbang dulu saat mereka putus karena kesalahpahaman Juda tentang hubungan Danis dan Laras. Tidak akan ada kata maaf karejna Danis dengan sadar lewatkan banyak kesempatan untuk jujur. Juda berdeham. Kembali menarik Danis ke realita. Wanita itu menunjukkan ketidaknyamanannya karena Danis terus bungkam. “Kejujuran yang ini terlalu berat buat kamu, ya?” Juda bertanya hati-hati. “Apa aku salah kalau aku nggak mau kita berdua gagal lagi?” Danis menggeleng. Dirinya benar-benar ditempatkan di posisi yang serba salah. Ia menempatkan dirinya sendiri di posisi yang serba salah. Juda mungkin memang menciptakan kekacauan di tengah-tengah reuni. Tetapi, Danis yang membuatnya berkembang menjadi sejauh ini. Ini salahnya. Ini benar-benar salah. Bagaimana ia harus memperbaiki tanpa membuat Juda pergi? Danis merangkum kedua tangan Juda dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. “Kita nggak pernah tahu apa yang menanti kita di masa depan, Ju. Aku cuma bisa menjanjikan satu hal. Kalau aku akan berusaha sebaik mungkin menjalani hubungan baru kita ini. Kita udah sepakat kan kalau kita punya waktu sebulan untuk melakukan ini? Kita pasti bisa.” Sekilas, Juda tampak lega. “Kalau dihitung dari waktu kamu bilang itu, berarti sekarang tinggal 25 hari,” kata Juda. Ia menghitung nyaris tanpa berpikir. Danis mengangguk-angguk. Laki-laki itu sudah tidak terlalu tegang. Danis bahkan cukup yakin bahwa Juda sama sekali tidak menyadari ketegangan yang sempat dirinya rasakan dalam beberapa menit terakhir. “Tapi jangan minta ketemu tiap hari. Atau aku bakal kabur,” cetus Juda sesaat kemudian. Tawa lolos dari bibir Danis. Meluruhkan seluruh rasa tegang yang menggelayuti pikirannya. Setelah momen yang cukup intens itu, keduanya tidak lagi duduk berhadap-hadapan. Mereka sama-sama menghadap ke depan. Merebahkan punggung di sandaran sofa dengan posisi yang nyaman. Tidak saling bicara kepada satu sama lain, tetapi tidak terasa canggung di tengah-tengah kesunyian itu. Kesunyian itu bertahan sekitar tiga menit sebelum kemudian Juda merenggangkan tubuh dan berkata, “Aku harus pulang sekarang. Please, jangan kamu interupsi lagi dengan hal-hal dewasa. Kasihan sofanya. Kasihan badan dan otakku juga udah capek pengen istirahat.” Danis memutar setengah badan, masih dalam posisi duduknya saat Juda beranjak meraih tas yang tergeletak di sofa yang lain. “Aku antar pulang,” kata laki-laki itu sambil mempelajari punggung Juda. Seketika ada perasaan tidak nyaman yang meremas-remas jantungnya. Apakah suatu hari nanti, punggung itu yang akan kembali Danis lihat saat Juda akhirnya melangkah pergi dari hidupnya selamanya? Sial! Danis kembali tersentak karena pemikiran negatif yang terlintas di pikirannya itu. Tidak, Danis tidak akan membiarkan itu terjadi. “Nggak usah.” “Kamu katanya capek,” tukas Danis. Tidak terlalu senang karena Juda menolaknya. “Aku nggak bisa biarin kamu ketiduran di punggung tukang ojek atau ketiduran di dalam taksi.” Juda berbalik menatap Danis. Wajahnya menampilkan ekspresi datar. “Aku udah biasa kayak gitu.” Dan Danis seketika melotot karena terlalu syok. “Kamu membiarkan diri kamu ketiduran di punggung tukang ojek?! Gila ya kamu?!” “Ketiduran di dalam taksi,” koreksi Juda sambil merapikan kemejanya yang tampak kusut. Kemudian mengikat rambutnya dengan karet yang sejak tadi melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Aku juga bisa mikir kali,” Juda melanjutkan. “Aku nggak mungkin naik ojek kalau capek banget. Bisa-bisa bukannya ketiduran di punggung abang ojeknya, aku malah jatuh.” Danis sama sekali tidak terhibur dengan jawaban Juda. “Ketiduran di dalam taksi juga sama-sama nggak aman. Astaga, Juju. Gimana kalau waktu kamu nggak sadar kamu diculik sama driver-nya?” Juda mencebik. Tampak tidak senang dengan kekhawatiran Danis yang berlebihan. “Nggak usah ngaco. Buktinya sampai hari ini aku masih aman. Masih bisa ngobrol sama kamu juga, kan.” “Aku serius, Ju,” geram Danis. Juda memutar bola mata dengan malas. “Aku juga serius. Kamu santai dikit bisa nggak, sih? Lagian aku kadang nebeng Ema atau minta jemput abangku kalau udah capek banget.” Baru setelah mendengar jawaban itu Danis menghela napas lega. Jika bisa dan diizinkan, Danis ingin sekali mengantar jemput Juda sesering mungkin, entah wanita itu sedang lelah atau tidak. Mungkin reaksinya terlihat berlebihan. Namun, mengingat banyaknya kejahatan terhadap perempuan yang sering terjadi, terutama pada malam hari, mau tak mau membuat Danis cemas. Ia tidak suka membayangkan Juda tidak baik-baik saja. “Udah, kan? Aku boleh pulang sekarang?” Juda mulai kesal karena tertahan lebih lama lagi di sana. Danis sontak menggeleng. “Kamu boleh anggap ini menggelikan. Tapi aku aslinya cuma masih pengen ngabisin waktu sama kamu lebih lama,” kata laki-laki itu dengan jujur. Juda memandang Danis seolah laki-laki itu sudah gila. Ia mundur selangkah. Berjarak satu lengan lebih jauh dari Danis. “Satu kejujuran lagi,” kata Juda dengan buru-buru, “aku nggak akan menampik kalau kamu jadi super hot setelah dewasa dan aku udah banyak berfantasi soal kamu karena itu, tapi bagian kamu gombal-gombal sama sekali nggak masuk hitungan. Itu sama sekali nggak keren, Danis.” Danis mendengus sambil menahan senyum. “Aku baru sekali ini dengar kalau menghabiskan waktu sama pasangan—” “Yah, secara resmi kita bukan pasangan. Karena kita masih di tahap probation. Uji coba,” sela Juda cepat-cepat. Kemudian wanita itu mengibaskan tangan dan menunjuk meja. “Kamu belum jadi makan. Jadi, mending kamu makan aja biar aku bisa pulang. Oke?” “Masih di tahap probation tapi tangan sama lidah udah main ke mana-mana. Gimana kalau udah lulus jadi pasangan, apa itu artinya boleh lebih−” Niat Danis hanya bercanda, namun Juda tidak menganggapnya begitu. Danis langsung gesit menghindar dan melindungi kepalanya saat Juda mengayunkan tas ke arahnya, yang kelihatannya berisi banyak benda-benda yang bisa membuat benjol jika dihantamkan di kepala. Atau parahnya lagi membuat dirinya pingsan. “Astaga. Aku bercanda, Ju,” kata Danis dengan ringisan yang tidak benar-benar menunjukkan penyesalan. Juda berkacak pinggang. “Kamu harusnya nggak boleh jadi lebih nyebelin dari aku.” “Aku nggak ngapa-ngapain, tapi kamu udah sebel?” Danis menganga dengan cara yang terlalu berlebihan. “Kalau kamu ingat seberapa sering kamu bikin aku sebel, kamu pasti sadar kalau ini nggak seberapa.” Juda menggeleng-gelengkan kepala karena kalah argumen. “Terserah. Aku beneran balik sekarang. Dan aku nggak mau diantar,” kata wanita itu tak bisa dibantah. Danis mau tak mau harus mengalah. Karena jika perdebatan mereka ini diteruskan, akan memakan waktu lebih lama. Dan suasana hati Juda akan semakin buruk. “Kalau gitu aku anter sampe bawah. Please.” Untungnya, untuk satu ini, Juda tidak menolak. Danis seketika menyunggingkan senyum lebar. “Isi kepala kamu kebaca banget, Danis,” gerutu Juda dengan malas. “Nggak usah senyum-senyum genit.” “Emangnya apa isi kepalaku sekarang? Dan kenapa aku nggak boleh senyum-senyum genit sama kamu?” Juda geleng-geleng kepala. Memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan tidak penting yang dilontarkan Danis kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN