Setelah Juda kembali memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal, ia dan Danis pun beranjak menuju pintu keluar.
Danis membuka pintu dengan menarik kenopnya, bersamaan dengan dorongan yang berasal dari luar.
Martin muncul dengan tampilan sehari-harinya untuk bekerja. Celana jeans dan kaus oblong. Sangat kasual. Sama seperti saat ia nongkrong. Terlihat kelebatan tidak senang di wajah Martin sekilas saat melihat Juda mengintip dari balik bahu Danis. Namun, sepertinya Juda tidak terlalu memperhatikan. Karena di detik selanjutnya, wanita itu menyeruak maju untuk menyapa Martin.
“Hai, Martin,” sapa Juda dengan nada ceria yang terdengar akrab.
Setidaknya itu yang tertangkap telinga Danis meski wajah Juda menampilkan ekspresi datar.
“Hai, Ju. Udah mau balik?” Martin membalas dengan senyum tipis sembari memberikan lirikan tidak suka ke arah Danis.
Juda mengangguk. Kemudian mereka menukar posisi. Juda melangkah keluar diikuti Danis, sementara Martin melangkah masuk ke dalam apartemen.
Butuh beberapa detik bagi Danis untuk mengernyit mendengar pertanyaan itu.
“Lo nanya gitu seolah-olah tahu Juju ke sini,” kata Danis kepada Martin yang sekarang bersandar di kusen pintu, menghadap ke arah Danis dan Juda.
“Emangnya siapa yang kasih alamat apartemen gue ke Juju, kalau bukan gue sendiri?” Dan jawaban dari Martin itu bernada ketus.
Juda tampak kebingungan karena seperti ada ketegangan yang mengudara antara Danis dan Martin. Entah apa pemicunya. Juda langsung menyela sebelum suasana menjadi canggung.
“Gue bawa makanan buat lo sama Danis tadi. Ada di meja. Kali aja lo belum makan malam, Tin.”
Martin mengalihkan tatapan dari Danis ke Juda. Kemudian ia membalas dengan canda, “Baik banget temen gue. Ke mana sifat judes lo yang dulu, Ju?”
Juda mengendikkan dagu ke arah Danis. “Dicuri sama dia.”
Martin tertawa walaupun Danis bisa dengan jelas melihat bahwa Martin sama sekali tidak benar-benar tulus. Danis tahu betul apa yang membuat Martin bersikap seperti ini. Bukan karena Juda, tetapi karena dirinya yang masih bertahan dengan wanita itu tanpa membeberkan kejujuran yang masih ditutup-tutupi. Ya, Martin langsung tahu jika Danis belum memberitahu Juda tentang status laki-laki itu saat ini. sebab, jika Danis sudah memberitahu Juda, wanita itu tidak akan berada di hadapannya sekarang dalam mood yang cukup baik.
Menengok ke belakang, saat dulu Danis memberitahu Martin bahwa laki-laki itu dan Juda sudah putus−tanpa alasan yang jelas yang baru-baru ini terpecahkan masalah yang sesungguhnya telah terjadi−membuktikan bahwa Juda adalah sosok yang tidak mudah dihadapi. Juda tidak akan tinggal diam. Wanita itu dulu mungkin hanya terpikir untuk memutuskan Danis tanpa memberitahu alasan yang jelas. Tetapi kali ini, Juda bisa lebih kejam dari itu. Martin benar-benar yakin jika Juda akan membuat Danis berkali-kali lipat lebih sakit. Jika dulu mungkin hanya karena kesalahpahaman kali ini karena kesalahan Danis sendiri. Juda tidak akan memaafkan Danis. Dan tentu saja Martin tidak akan menyalahkan Juda jika wanita itu nantinya akan bersikap demikian. Sebab, dibohongi dan dikhianati oleh seseorang yang kita percayai bukanlah sesuatu hal yang remeh. Hal itu bisa mengikis rasa percaya kita kepada orang-orang, bahkan untuk hal-hal kecil.
“Oke kalau gitu. Hati-hati pulangnya, Ju,” kata Martin. “Jangan kapok main ke apartemen gue. Lain kali gue traktir.”
“Well, I’d love that.” Juda tersenyum tipis sekali. Kemudian pamit kepada Martin sebelum benar-benar beranjak pergi.
Langkah demi langkah Danis dan Juda menuju ke arah lift diiringi tatapan setajam laser dari mata Martin. Danis dapat merasakan tatapan itu menembus kepalanya meski tidak menoleh ke belakang sama sekali. Danis mendesah lirih. Bukan salah Martin yang bersikap sedemikian rupa. Danis-lah yang patut dipersalahkan.
Di dalam lift hanya ada Danis dan Juda, tetapi keduanya sama sekali tidak bicara. Membiarkan keheningan sekali lagi menguasai. Danis memanfaatkan ini untuk memandangi wajah Juda yang tengah menyandarkan tubuh dengan mata terpejam.
Danis teringat perkataan Martin tadi saat melihat wajah Juda yang tenang. Benar kata Martin. Kejudesan Juda yang selama ini menjadi title yang mengikuti namanya, seolah tersapu bersih oleh waktu. Danis nyaris tidak mengingat bagaimana dulu Juda selalu menunjukkan raut galak dan judes di wajahnya. Setelah bertemu kembali, Juda memang sesekali bersikap sinis, tetapi tidak sesering dulu saat mereka masih sekolah.
“Aku tahu aku cantik. Tapi nggak usah sampai ngiler gitu ngelihatin mukaku,” gumam Juda yang masih memejamkan mata.
“Can I kiss you?” cetus Danis. Mengabaikan ejekan Juda terhadapnya barusan.
Juda langsung membuka mata. Angka di layar yang berada di atas pintu lift menunjukkan angka tiga, yang itu artinya mereka baru turun empat lantai.
Dengan malas, Juda memutar setengah badan untuk menghadap Danis yang menatapnya dengan penuh tekad.
“Kamu masih mabuk, ya? Kenapa dari tadi isi kepala kamu nggak jauh-jauh dari itu?”
Danis meringis.
“Kayaknya ini bukan karena mabuk alkohol, tapi mabuk karena ngelihat kamu. You're so beautiful, Ju. Aku nggak tahan pengen cium kamu terus. Aku juga pengen nyentuh kamu terus.”
“Dasar stress!”
Mulut Juda ternganga. Terlalu syok karena seorang Danis yang dulunya begitu sopan, sekarang menjadi blak-blakan.
Padahal, belum lebih dari dua jam sejak mereka menerapkan batasan, sampai sejauh mana mereka boleh melakukan skin ship. Tetapi seolah Danis sudah melupakan obrolan mereka. Laki-laki itu malah semakin mendekat ke arah Juda. Matanya berkabut penuh hasrat yang membuat Juda waspada. Sepertinya, Danis benar-benar masih dipengaruhi oleh alkohol. Tingkahnya benar-benar di luar batas.
Juda refleks menggeser badan hingga berjarak dari Danis.
“Jangan macam-macam, Danis. Kalau isi otak kamu cuma berisi hal-hal nggak senonoh, sebaiknya kamu simpan sendiri. Atau kamu bisa melampiaskannya dengan orang lain. Jangan aku!” ancam Juda dengan mata melotot tajam.
Untung saja, dari lantai tiga ke lantai satu, lift sama sekali tidak berhenti. Itu artinya tidak sampai tiga puluh detik kemudian pintu lift terbuka. Dan Juda langsung cepat-cepat keluar lift sebelum bibir Danis kembali menempel di bibirnya.
Danis yang sadar akan kelakuannya itu langsung cepat-cepat menyusul Juda.
“Ju, jangan marah,” serunya.
Juda menolehkan kepala dan memberikan tatapan menusuk, membuat Danis meringis.
Saat sudah menyamai langkah Juda, Danis merangkul pundak wanita itu.
Juda menyikut Danis. Membuat laki-laki itu mengerang dan refleks melepaskan rangkulan.
“Udah sana kamu langsung naik aja,” kata Juda sambil mengutak-atik ponsel. Ia dan Danis sudah berada di bagian depan gedung apartemen.
“Aku tungguin sampe taksinya dateng.”
“Nggak usah, Dan. Masuk aja.”
Danis menggeleng. Ia bersikeras untuk tinggal hingga taksi yang sudah Juda pesan via online datang.
“Ngomong-ngomong, kita belum bahas soal kejadian kemarin,” gumam Danis.
Juda mengernyit bingung. “Emangnya tadi kita ngapain kalau bukan bahas soal yang kemarin?”
“Kamu belum cerita gimana kamu bisa terlibat masalah sama suaminya Grita,” Danis membalas dengan serius.
Bibir Juda langsung membentuk garis lurus. Ia terlihat tidak ingin membahas masalah itu.
“Taksi aku udah datang,” kata Juda menunjuk ke belakang Danis.
“Kita harus bahas itu besok,” ujar Danis dalam upaya membuat Juda mau mendengarkannya.
Juda hanya tersenyum singkat kepada laki-laki itu lalu masuk ke dalam taksi yang baru beberapa saat berhenti di depannya.
Juda menurunkan jendela sebelum taksi meninggalkan gedung apartemen itu dan berkata, “Besok aku mau jalan sama Ema. Kita bahas sebelum kita ke rumah orang tuaku aja. Bye, Danis.”
Danis baru akan menjawab, tetapi Juda sudah menaikkan kaca jendela dan meminta supir untuk melajukan mobil.
***
Danis langsung kembali naik ke unit apartemennya—lebih tepatnya apartemen Martin yang ia tumpangi—begitu taksi yang membawa Juda pergi sudah berbelok meninggalkan area gedung apartemen.
Danis sebenarnya agak malas berhadapan dengan Martin yang pasti akan langsung menceramahi dirinya. Namun, Danis tidak punya pilihan lain.
Saat masuk ke dalam, mata Danis langsung berserobok dengan manik mata Martin yang saat ini tengah duduk di sofa yang langsung tepat menghadap pintu apartemen. Tatapan itu membuat Danis semakin merasakan pahit. Sebesar itu kesalahannya, hingga Marti memandangnya dengan penuh kekecewaan.
“Ngelihat kalian berdua tadi, gue bahkan nggak perlu jadi orang cerdas buat tahu udah seberapa jauh hubungan kalian berkembang dalam waktu sesingkat ini.” Martin mendecih. “Lo sama sekali nggak tahu dampak yang bakal lo timbulkan karena ketololan lo ini?”
Sahabat Danis itu beranjak dari tempatnya duduk menuju ke dapur. Ia menuang vodka ke dalam gelas dan meminumnya seperti meneguk air mineral. Danis yang melihatnya langsung meringis. Bahkan tanpa ikut meminumnya, Danis bisa merasakan cairan itu membakar tenggorokan jika diminum dengan cara demikian.
“Ya Tuhan, gue pikir gue ini cowok paling berengsek karena selalu lari kalau diajak lanjut ke hubungan serius,” geram Martin, “tapi lo... lo itu b******n. Lo lebih jahat dari gue.” Kemudian, laki-laki itu kembali menuang cairan bening itu ke dalam gelasnya.
Danis menyambar botol kaca dari tangan Martin dan langsung menenggak vodka itu dari botolnya. Dan kali ini Danis bisa langsung merasakan tenggorokannya seolah terbakar karena kadar alkohol yang kuat dalam cairan bening itu.
“b******n,” umpat Danis kepada dirinya sendiri. Danis meletakkan kembali botol kaca di tangannya itu ke meja dengan sentakan yang terlalu kuat hingga terasa getaran yang disebabkan benturan kaca dengan meja marmer. “Gue nggak bisa ngelepasin Juju. Gue nggak mau.”
“Lo b******n paling egois yang gue kenal.”
“Gue tahu.” Danis mendesah.
“Lo sadar kalau lo b******n, tapi lo nggak mau berhenti?”
“Kalau gue lepasin Juju sekarang, gue bakal kehilangan dia selamanya.”
“So what?”
“So what lo bilang? I can’t lose her, Tin.”
Martin gantian menyambar botol vodka dari meja dan menenggaknya lagi dengan kesetanan. Ia sudah melupakan gelasnya. Martin agak terhuyung saat kembali menghadap Danis dan menatapnya dengan tajam.
“Lo paham nggak sih kalau pada akhirnya lo akan kehilangan dia juga dengan bersikap kayak gini? Juda mungkin kadang suka galak, bikin orang jiper karena kejutekan dia, tapi lo pasti juga tahu… Juda itu cewek baik-baik. Bahkan kalau misal dia jahat pun, lo nggak berhak nyakitin Juda.”
“Demi Tuhan, Tin! Gue ngerti.” Danis mendongak. Padangannya menerawang. “Gue bisa kasih tahu Juju pelan-pelan.”
“Semakin lama lo mengulur waktu, lo cuma semakin memperkeruh masalah.”
“Gue sama Juju nggak ada masalah.”
Martin tampak sangat gemas. Laki-laki itu mendudukkan diri di kursi dan mendesah keras. “Well, itu kan menurut Juju. Sedangkan lo dan gue sama-sama tahu kalau lo bawa bom waktu yang bisa kapan aja meledak. Dan kalau itu sampai meledak, nggak cuma Juda yang akan hancur, tapi lo juga.”
Danis menelengkan kepala. “Lo seenggak suka itu kalau gue sama Juda?”
Nada tak suka dalam suara Danis membuat Martin semakin gemas dibuatnya. “Really?! Lo cuma bisa mikir ke situ? Gue udah dari kapan hari ngomong panjang lebar kelo, tapi lo nggak nangkep maksud gue? Sumpah, otak lo di mana sih?”
Danis hanya diam.
“Bahkan misal orangnya bukan Juju, yang literally udah kita kenal dari SMA, gue tetap akan ngomong gini ke lo. Lo b******n egois yang nggak berhak bersanding dengan Juda.”
Rahang Danis mengeras, namun tetap bungkam. Ucapan Martin menohok dadanya hingga tak sanggup ia bantah. Martin benar. Semua yang Martin katakan padanya tentang hubungannya dengan Juda benar adanya. Danis hanya tidak mau mengakui itu, karena ia adalah pecundang pengecut.
“Gue begini karena gue peduli sama lo, astaga!” geram Martin yang sudah sangat lelah menghadapi Danis. “Gue juga peduli sama Juda walaupun gue nggak deket-deket amat sama dia. Dan gue nggak ikhlas kalau lo bikin dia ada di posisi ini.”
Martin beranjak dari tempatnya duduk, menepuk pundak Danis, dan berkata, “Lo bebas mau ngapain aja kalau lo udah kelarin masalah lo sama Renata. Gue nggak akan komentar apa-apa lagi.”
Lalu, Martin bersiap meninggalkan area dapur. “Lo tahu nggak kalau sekarang Juju lagi jadi bahan gosip satu angkatan kita karena dia dikira ada apa-apa sama suaminya Grita?”
Punggung Danis menegak.
“Juju bisa makin dibenci sama temen-temen kita kalau sampai mereka nanti tahu soal lo sama Renata. Arus informasi zaman sekarang jangan lo anggap remeh.” Martin menatap Danis yang belum juga bersuara. “Dan lo juga tahu kan, Juju nggak akan memaafkan lo kalau sampai itu terjadi?”