Kabar tentang Juda yang 'menikung' suami Grita dengan cepat menyebar dari telinga ke telinga, dari mulut ke mulut, hingga saat sampai kepada Juda, kabar itu sudah dibumbui dengan bermacam-macam tambahan yang membuat Juda terlihat amat sangat buruk di mata teman-teman satu angkatannya yang baru satu minggu yang lalu ia temui di acara reuni.
Mereka membicarakan dan menghujat Juda di grup alumni angkatan dengan sengit dan terang-terangan, seolah-olah Juda tidak tergabung di sana. Dan sesungguhnya, ini jauh lebih buruk dan memalukan daripada saat ia dituduh merebut Edgar dari Sonia hingga dilabrak ke sekolah dulu. Dulu, orang-orang dengan cepat lupa karena ada kabar panas yang menggegerkan satu sekolah—seorang siswa kelas dua di sekolah mereka ketahuan membuang bayi yang baru saja ia lahirkan di sebuah bangunan kosong yang berada di dekat sekolah.
Dan sekarang, tidak ada berita yang bisa mendistraksi mereka. Seolah perseteruan Grita dan Juda kali ini adalah puncak dari permusuhan mereka berdua yang telah terpupuk sejak SMA.
Meski begitu banyak rasa sakit yang menusuk hati karena ujaran-ujaran kebencian itu—Juda sudah menahan diri untuk tidak membuka grup dengan tidak membaca satu demi satu komentar jahat untuknya, namun rasa penasaran di hatinya minta dipuaskan sehingga wanita itu setia memantau—Juda masih mengganggap dirinya beruntung karena sampai hari ini, setidaknya sejauh yang ia tahu, teman-temannya tidak sampai koar-koar di media sosial dan membuat semuanya makin pelik.
Namun, tetap saja sulit untuk tidak khawatir. Bagaimana jika kabar itu sampai ke telinga orang tuanya, kedua kakak laki-lakinya, keluarga besarnya, dan juga sampai ke rekan-rekan kerjanya? Pandangan orang-orang terhadapnya pasti akan menjadi sangat buruk saat mereka akhirnya tahu tentang kabar ini. Meskipun dirinya tidak bersalah. Meskipun dirinya bukan orang yang seperti itu. Tidak ada yang bisa mengendalikan bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap informasi yang mereka dapat. Dan yang Juda takutkan, seringkali orang-orang hanya mempercayai apa yang mereka dengar, tanpa mau repot mencari kebenaran.
“Dengerin kata-kata gue, Ju. Lo nggak seperti yang mereka omongin. Lo nggak salah,” kata Ema berusaha membesarkan hati Juda. “Yang g****k emang si Guntur. Udah tahu punya bini, masih jelalatan ke sana kemari. Nggak ngerasa nyesel pula. Dih, otaknya di dengkul kali tuh orang!”
“Kenapa jadi lo yang emosi, sih?” Juda menyodorkan segelas air dingin untuk Ema.
“Emangnya lo nggak emosi?! Lo dibohongi si kampret mata keranjang itu, Ju!”
“Ya udah sih, mau gimana lagi? Gue juga salah karena nggak kroscek! Gue juga yang terlalu ngarep bisa nemu cowok nyaris mendekati sempurna kayak Guntur di Tinder.”
“Gue jadi ngerasa bersalah sama lo. Kan gue yang nyaranin lo main Tinder.”
“Santai aja kenapa, sih?”
Ema langsung menyambar dan meneguknya dengan cepat. “Serius deh, kalau aja kemarin ada gue. Udah gue pukulin tuh si Guntur kampret. Tampang doang oke. Tapi ternyata kelakuan kayak sampah!”
“Woy!” Juda memukul pundak Ema yang sejak tadi tidak bisa mengendalikan emosi. “Lo bisa kena darah tinggi kalau marah-marah mulu.”
“Lo yang aneh,” gerutu Ema. “Kenapa lo bisa sesantai ini, sih?”
“Ini aslinya gue juga kesel dan gedek banget. Bisa-bisanya cuma gue yang kena batunya gara-gara kelakuan si t***l itu,” balas Juda dengan geram.
Ema melirik Juda dengan prihatin.
Juda sudah berusaha menutup mata dan tidak memedulikan segala ujaran kebencian yang ditujukan kepadanya itu. Karena ia memang merasa tidak bersalah. Namun, ia tidak bisa menghindari rasa sakit yang mencekiknya karena kata-kata kejam yang tak habis-habis dilontarkan kepadanya.
“Gue cuma khawatir kalau kabar ini sampe ke nyokap bokap sama abang-abang gue. Bisa habis kena amuk gue,” desah Juda. Pikirannya kalut sejak tadi karena tidak bis berhenti memikirkan soal ini.
“Gue bakal pasang badan buat lo. Kan gue yang pertama nyuruh lo main Tinder.” Ema kembali mengingatkan Juda tentang kesalahannya. “Kalau bukan gara-gara gue instal Tinder di hape lo, lo nggak bakal kenal sama Guntur. Nggak akan ada drama di reuni. Dan lo nggak akan dihujat kayak gini.”
Juda tertawa miris. Bahkan, Monica, teman yang cukup dekat dengan Juda dulu, kali ini menjadi si jahat yang paling sok tahu. Monica seperti kompor rusak yang menyemburkan api. Membuat gosip itu kian membesar karena ketikan demi ketikan jahatnya. Benar-benar serigala berbulu domba. Munafik sekali.
“Sekarang haram hukumnya main dating app yang isinya orang-orang sange. Udah paling bener lo sama Danis aja. Gue ikhlas,” tutur Ema seraya memainkan ponsel.
“g****k banget si Monic,” umpat Ema sedetik kemudian.
“Kenapa lagi dia?” Juda berusaha mengintip ke layar ponsel Ema yang menyala. Namun, Ema langsung sigap menjauhkan ponsel dari jangkauan tangan Juda.
“Gue juga bisa baca dari hape gue sendiri kali,” gerutu juda kemudian.
Sebelum Juda sempat membuka ponselnya, Ema sudah lebih dulu merebut ponsel itu dari tangan Juda. Ema berdiri dari tempatnya duduk, menjauh dari Juda, sambil mengutak-atik ponsel itu selama beberapa saat.
“Udah gue hapus semua chat-nya,” kata Ema sesaat kemudian tanpa merasa berdosa.
Juda melotot kesal dan kembali merebut ponselnya. Benar saja. Hanya tersisa dua baris pesan yang baru saja masuk.
“Kampret!”
Ema nyengir lebar. Kemudian kembali mendudukkan bokongnya di sofa dengan nyaman.
“Ini beneran mau kita diemin aja mereka?” tanya Ema.
“Terus gue musti ngapain? Udah lah biarin aja mereka bacot sesuka hati.”
“Nggak bisa gitu, dong, Ju. Nama baik lo jadi pertaruhan.”
“Gue bukan artis, Em. Masa gue harus bikin konferensi pers buat nambahin bahan gosip mereka?”
Ema mencebik. Ia gemas sekali dengan sikap Juda. “Tapi ini tetep harus dilurusin, Ju. Gue sakit hati banget ngeliat lo diginiin.”
“Ntar dulu lah. Yang lebih urgent bukan itu.”
Mata Ema membola lebih besar. “Lo kenapa terlibat masalah mulu sih, ASTAGA!” Erangan Ema terdengar sangat dramatis. “Masalah apa yang lebih penting daripada ngurusin martabat lo sebagai seorang cewek? Sumpah deh, Ju. Ini lo dituduh jadi pelakor dan lo masih mikir ada yang lebih urgent dari itu?”
Juda memasang wajah datar.
“Kalau misal lo sama Danis udah sampai tidur bareng, gue nggak kaget.”
Bantal melayang tepat menegnai wajah Ema hingga wanita itu nyaris terjengkang.
“Gue bukan lo. Prinsip gue masih berlaku. Gue nggak akan tidur sama siapa pun, kecuali sama suami gue nanti.”
“Kalau misal ternyata lo nggak nikah, lo bakal jadi perawan tua dong?”
“Lo doain gue nggak bisa nikah? Temen macam apa sih lo?”
“Kan perumpamaan. Lagian lo sekarang udah balikan sama Danis. Ntar juga nikah, kan?”
“Nah, masalahnya itu!” Juda mengeluh. “Nyokap gue minta ketemu Danis besok.”
Ema langsung memekik heboh.
“DEMI APA? NGAPAIN? KOK BISA?”
“Lo abis makan bom apa gimana sih? Suara lo bikin gue budek!” Juda menutup telinga kirinya yang berdenging karena suara Ema.
“Ini seriusan?”
“Ngapain juga gue bohong?”
“Lo udah kasih tahu si Danis? Anaknya kabur karena nggak siap mau ketemu nyokap lo?”
Juda mendesah. “Gue lebih tenang kalau Danis kabur gitu aja. Danis malah kayak antusias gitu. Bingung gue.”
Ema memusatkan perhatian penuh kepada Juda. “Lo nggak mau si Danis ketemu nyokap lo? Kenapa?”
“Ya lo pikir sendiri aja, Em. Ini gue balikan sama dia aja rasanya kayak masih di awang-awang. Nggak lucu banget gue mendadak bawa laki-laki buat dikenalin ke bokap nyokap gue padahal gue sama Danis aja ketemu lagi baru minggu lalu.”
“Tapi kalian akur bukannya?”
Juda tidak mengangguk. Tidak pula menggeleng. Walaupun ia dan Danis memang sudah berbaikan. Rasanya masih ada yang mengganjal di hati Juda.
“Nggak bisa dibandingin sama lo sama Astu, sih. Kalian kan nggak pernah ribut-ribut. Pamer kemesraan mulu,” kata Juda sebelum ia kebablasan melamun.
Ema mengendikkan bahu. Terlihat bangga karena aksi pamernya selama ini.
“Itu karena gue sama Astu LDR. Waktu ketemu yang cuma sebentar harus dimanfaatin buat sayang-sayangan. Kalau pas doi nggak di sini juga malah ribut mulu kerjaannya. Kan nggak mungkin gue pamerin. Kalau kata nyokap gue, aib rumah tangga nggakboleh diumbar. Mending pamerin bagian manis-manisnya aja, kan?”
“Lo pamernya seringnya nggak tanggung-tanggung! Sering lupa waktu dan tempat.”
Ema tertawa terbahak-bahak. “Itu salah lo sendiri tiba-tiba nyelonong masuk kamar gue waktu gue sama Astu lagi enak-enak.”
Juda menimpuk kepala Ema dengan bantal. “Si kampret malah diperjelas!”
Ema tidak menghindar dan membiarkan bantal sofa itu dengan manis menghantam kepalanya, lagi. Ia masih berusaha menghentikan tawanya. “Udah ah, ngapain jadi ngomongin gue sama Astu sih. Kan gue jadi kangen.”
Juda merengut. “Menurut lo, kalau gue mendadak batalin dan bilang sama Danis kalau nyokap gue ada urusan lain, gitu gimana?”
Ema berpikir sejenak. “Terus lo mau jelasin apa ke nyokap lo? Gue kenal banget nyokap lo kalau udah mau A, ya harus diturutin.”
Juda semakin merengut. Ia menyenderkan tubuh di sandaran sofa dan mendongakkan kepala untuk menatap langit-langit ruang tamu apartemen milik Ema.
“Bener juga, sih. Danis juga nggak bakal kepo kalau gue mendadak batalin. Masalahnya emang di nyokap gue. Kalau gue nggak bawa Danis ke rumah besok, ngalamat gue dijodoh-jodohin lagi.”
“Boleh gue nanya serius?”
Juda menelengkan kepala untuk melirik Ema dari ujung mata. “Sejak kapan lo harus izin dulu kalau mau nanya serius?”
“Lo sama Danis cuma mau balikan buat lucu-lucuan aja atau serius?”
“Ini gue harus banget jawab?”
“Kalau lo nggak mau jawab harusnya lo tadi ngelarang gue nanya, Kampret!”
Tatapn juda tampak menerawang. “Gue baru bisa mutusin nanti kalau udah jalan sebulan.”
“Maksudnya?”
“Gue sama Danis sepakat kalau selama sebulan ke depan fokus buat saling kenal aja dulu. Baru setelah itu gue sama Danis mutusin mau lanjut atau enggak.”
Ema memutar bola mata jengah. “Kan kalian udah kenal sepuluh tahun, Beb.”
Juda langsung mengoreksi, “Lebih tepatnya gue kenal Danis cuma setengah tahunan. Sembilan setengahnya gue nggak tahu apa-apa soal kehidupan dia.”
Ema manggut-manggut. “Iya juga, sih. By the way, kenapa cuma sebulan? Emang cukup?”
“Ya dicukup-cukupin. Soalnya kalo misal hubungan gue sama Danis kali ini nggak work out, dia bakal langsung balik ke Belanda lagi.”
“Gue kirain dia officially balik ke Indonesia,” gumam Ema. “Lo nggak tanya alasan dia cuti?”
Juda mengendikkan bahu. “Buat temu kangen sama keluarga kali. Ya masa harus ada alasan buat cuti? Kek lo yang tiap bulan cuit dari kantor, emang lo selalu punya alasan? Kan enggak.”
“Tapi ini Danis, Ju. Yang udah bertahun-tahun nggak ada yang tahu gimana hidupnya. Tiba-tiba aja nongol kayak setan.” Ema pun mulai tampak penasaran.
“Kalau soal itu, kapan-kapan aja kita hang out sama Martin. Kalau ketemu langsung mungkin bisa lebih gampang interogasi soal Danis.”
“Jadi keinget masa lalu nggak sih? Kan dulu gue sama Martin yang selalu jadi penengah lo sama Danis waktu kalian lagi saling ngambek.”
Juda dan Ema bernostalgia masa-masa SMA mereka dulu, lalu diinterupsi getaran dari ponsel Juda. Ada pesan baru dari sosok yang sejak tadi jadi subjek obrolan mereka berdua.
Daniswara Jati Praba
Ju, ayo kita ngobrol
Jangan sengaja menghindar
Aku harus tahu soal hubungan kamu sama suaminya Grita
Jadi aku bisa tahu harus bersikap kayak gimana kalau kita nggak sengaja ketemu mereka lagi
Juda dan Ema saling pandang.
“Sana gih. Temuin Danis dulu. Sekalian tuh kalian bahas soal undangan nyokap lo.”
Juda tampak ogah-ogahan. “Ngapain sih dia nge-chat pagi-pagi.”
Gerutuan Juda itu dibarengi dengan pesan lain dari Danis yang mengatakan bahwa laki-laki itu sudah dalam perjalanan menuju indekos Juda.
Ema yang melihat pesan itu pun lantas berujar, “Kunci berhasilnya hubungan itu komunikasi, Ju. Kalau lo males-malesan komunikasi sama Danis, hubungan kalian nggak akan work out. Danis bakal balik ke Belanda. Balik ke hidup dia yang nggak ada lo. Gue tebak sih dia hidupnya juga makmur di sama. Sedangkan lo di sini bakal pusing lagi sama desakan nyokap lo buat kawin−”
“Iya, iya ini gue udah bales,” potong Juda.
Telinganya sakit mendengar Ema merepet menceramahinya. Di samping itu, Juda juga sadar betul bahwa apa yang dikatakan Ema benar. Jika hubungannya dengan Danis tidak berhasil, maka ia harus pasrah dijodoh-jodohkan lagi hingga bertemu dengan pasangan yang paling cocok. Dan membayangkan Danis akan kembali ke Belanda, di mana hanya Martin seorang yang tahu bagaimana kehidupan Danis selama ini, Juda seakan tak rela. Juda ingin tahu semuanya. Tentang hidup Danis selama mereka tidak lagi bersama. Dan Juda juga ingin tahu tentang hidup Danis besok-besok, kalau bisa selamanya.
Juda mendesah lirih. Sial sekali memang. Pertemuannya kembali dengan Danis membuat Juda menjadi serakah.
Dengan tidak semangat, Juda berdiri lalu bersiap-siap untuk bertemu dengan Danis.