Meski sudah berusaha mengulur-ulur waktu, Juda tidak bisa mengelak dari Danis yang sudah sejak kemarin gatal ingin segera menginterogasi dirinya tentang hubungan wanita itu dengan Guntur.
“Wow,” kata Danis melihat tampilan Juda pagi itu.
“Nggak usah komentar. Kamu ke sininya kepagian. Jadi, selamat menikmati penampilan cantik aku di pagi hari,” kata Juda dengan jemawa. Meski nadanya bercanda, Juda mengatakannya dengan ekspresi datar.
Juda keluar dari kamar kos tanpa memedulikan tampilannya yang seperti gembel. Rambutnya mengembang dan mencuat sana sini seperti singa. Kausnya yang sudah lusuh berkat dimakan oleh waktu tampak kusut karena ia tidak bisa tidur hingga subuh dan hanya guling-guling tidak jelas di atas kasur. Baru saja Juda akan memejamkan mata, Ema tiba-tiba muncul di depan gerbang indekosnya dalam keadaan setengah mabuk dan mereka pun malah mengobrol tentang banyak hal hingga Juda melupakan niatnya untuk tidur.
Ini memang sangat bukan Juda. Selain saat bersama Ema dan keluarganya, haram hukumnya menunjukkan penampilan rumahannya yang sama sekali tidak anggun dan tidak enak dilihat.
“Ini udah jam setengah delapan, Ju. Udah siang. Kamu belum mandi?”
Danis menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu kembali menatap wajah Juda dan mengernyit. Benar-benar tidak sesuai dengan novel fiksi yang sering mendeskripsikan kecantikan tokoh ketika bangun tidur sehingga si tokoh laki-laki ingin menikmati pemandangan indah itu setiap hari. Apakah Danis merasa demikian?
Jika boleh jujur, jawaban Danis adalah tidak. Tidak terlalu. Tidak ada yang indah melihat Juda mendekat ke arahnya dengan muka bantalnya dan ekspresi datar di wajah, ditambah lagi Juda tampak enggan melihat keberadaan dirinya. Meskipun begitu, jika diperhatikan lebih lama, Juda memang tampak cukup manis dengan muka bantalnya yang sekarang sok judes dengan melemparkan tatapan malas kepadanya. Danis jadi bingung sendiri. Sebenarnya ia suka melihat Juda di pagi hari atau tidak?
“Ini Sabtu, Danis. Siang itu kalau udah di atas jam dua belas. Dan haram hukumnya mandi pagi,” Juda menimpali sembari memutar bola mata.
Penampilan Juda sangat berbanding terbalik dengan penampilan Danis yang sudah sangat rapi dan tampak segar dengan celana khaki pendek berwarna cokelat s**u dan kaus putih yang membungkus tubuh tegapnya. Badan Danis juga sangat wangi. Membuat Juda nyaris tak bisa menahan diri untuk tidak mengendus aroma itu dan menebak-nebak parfum apa yang dipakai Danis. Rambut pendeknya tertutup topi hitam yang membuat Danis tampak ganteng abis!
Juda mengerang dalam hati. Kenapa semakin dewasa Danis menjadi tampak semakin menarik?
“Kalau weekend kamu bangun jam segitu?”
Tidak ada jawaban karena Juda sibuk memperhatikan wajah Danis.
“Ju, jangan bengong!” tegur Danis gemas. “Sana kamu cuci muka dulu biar nggak ngantuk.”
“Aku ngantuk karena belum tidur aja.”
“Dari semalam?”
Juda mengangguk ringan.
“Kenapa nggak tidur?”
“Lagi nggak bisa tidur aja.”
“Kenapa nggak dipaksa tidur, sih? Kasihan badan kamu tuh udah capek buat kerja. Harus istirahat yang banyak biar nggak tepar. Kalau kamu sakit gimana?” omel Danis tiba-tiba.
Juda jadi bingung sendiri. Kenapa Danis jadi ngatur-ngatur? Juda juga tidak setiap hari melek sampai subuj, tapi dari cara Danis mengomelinya seolah-olah ia tidak pernah menyisihkan waktu untuk istirahat.
“Ya namanya orang lagi nggak bisa tidur. Bukan berarti aku nggak berusaha buat bisa tidur kan?” Juda pun membalas dengan jutek.
Wanita itu benar-benar kesal. Ia merasa kalau Danis tidak seharusnya berkata demikian kepadanya. Danis tidak berhak. Apalagi Danis menjadi salah satu alasan Juda tidak bisa tidur. Kemunculan Danis dalam hidupnya secara mendadak membuat keadaan menjadi chaos. Berantakan. Ditambah lagi masalah antara dirinya dengan Grita dan Guntur yang sedang menjadi topik perbincangan panas. Intinya adalah… Juda stress!
“Terus kamu ngapain aja dari malam sampai pagi? Cuma bengong aja di kamar?” Danis kembali menarik atensi Juda yang malah bengong.
“Nonton drama Korea.”
Danis tertawa kecil. Tawa pertamanya yang didengar Juda pagi ini. Mendengar tawa Danis seperti ada malaikat meniupkan angin segar ke wajah Juda. Mendadak saja Juda tidak jadi jutek. Twa Danis ampuh sekali dalam membangkitkan mood baik Juda.
“Kamu masih suka nonton drama Korea?”
“Nggak sesering dulu sih,” Juda bersedekap dan menatap Danis dengan malas. Merasa sudah cukup berbasa-basi tidak penting. “Ini kamu ke sini bukan buat bahas drama Korea aja kan?”
“Kamu mandi dulu, gih. Aku mau ngobrol.” Ekspresi Danis sontak berubah serius−yang membuat Juda seketika merutuk dalam hati karena wajah laki-laki itu kehilangan kecerahan.
Juda berdecak. “Aku tahu kamu mau ngajak ngobrol, makanya aku mau ketemu kamu sekarang. Tapi emang harus mandi dulu? Nanti aja, deh.”
“Kenapa nggak sekarang aja? Biar kamu lebih segeran aja maksudku.”
Juda menggeleng. “Aku mandi nanti aja. Abis kita ngobrol aku mau tidur lagi−”
“Kamu kenapa lagi sih, Ju?” sela Danis yang mulai tampak terganggu dengan sikap Juda terhadapnya.
“Kenapa gimana maksudnya?” Juda balik bertanya.
“Kita udah baikan kemarin, kan? Kenapa kamu kayak nggak seneng lihat aku di sini? Ngak suka kalau aku nyamperin kamu ke sini? Atau kamu nggak mau cerita soal hubungan kamu sama suaminya Grita ke aku?” cecar Danis.
Juda hanya menghela napas. Mereka memang sudah berbaikan. Bahkan saking akurnya mereka, Juda membiarkan dirinya terbuai oleh ciuman memabukkan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Juda hanya malas harus membahas masalah yang cukup serius saat hari masih pagi. Tetapi Danis sudah keburu datang saat Juda baru saja membalas pesan dari laki-laki itu untuk menemui dirinya sore nanti.
“Kenapa sih, Ju?” desak Danis yang mulai tak sabaran.
Tanpa memberikan jawaban yang jelas, Juda menarik lengan Danis yang sejak tadi berdiri menjulan di depannya. “Kamu duduk dulu di sini. Aku ambilin minum.”
“Nggak usah,” tolak Danis.
Namun, Juda mengabaikan itu. “Just sit, Danis. Aku juga butuh minum buat mendinginkan otakku yang ngebul.”
Dani tidak protes lagi dan membiarkan Juda menghilang selama tidak lebih dari dua menit. Juda kembali membawa teko berisi jus jeruk instan dan dua gelas. Juda pun sudah mengikat rambutnya dengan lebih rapi.
Di indekos yang Juda sewa, ada teras yang cukup lebar. Pemilik indekos menempatkan meja dan kursi di sana, yang memang khusus disediakan untuk para tamu yang datang berkunjung−sementara itu hanya keluarga yang boleh masuk sampai ke kamar. Dari teras, Juda tinggal berjalan ke sayap kiri untuk menuju dapur bersama yang sesungguhnya jarang Juda singgahi.
Saat jarak di antara mereka berdua tinggal tiga meter, dari arah berlawanan mendadak muncul seorang laki-laki muda menyapa Juda dengan akrab. Juda mengobrol selama beberapa saat dengan laki-laki itu, yang kemudian pamit untuk pergi.
“Jadi ini kos-kosan campur?” tanya Danis saat Juda meletakkan teko dan gelas di atas meja lalu duduk di kursi yang bersebarangan laki-laki itu.
Juda menuangkan minuman ke masing-maisng gelas seraya mengangguk.
“Kenapa nggak ngekos di kos-kosan yang khusus cewek aja?” Dari cara Danis bertanya tidak terdengar nada menghakimi. Sebab, Danis tahu, ia tidak berhak. Tidak ada yang salah juga tinggal di indekos campur. Laki-laki itu hanya murni penasaran.
“Nggak papa, pengen aja.”
Danis manggut-manggut. “Abang-abangmu ngebolehin kamu ngekos di sini? That’s unexpected.”
Juda tersenyum tipis.
Rupanya, Danis masih belum lupa tentang bagaimana lebay-nya Ghani dan Haikal jika menyangkut tentang Juda. Danis sudah pernah bertemu dengan kedua kakak laki-laki Juda dulu saat ia beberapa kali main ke rumah Juda saat masih PDKT dan setelah mulai berpacaran. Tidak dulu, tidak sekarang, Ghani dan Haikal pun masih sangat protektif terhadap adik perempuan mereka satu-satunya.
“Awalnya sih enggak kasih izin.”
“Tapi kamu nekat, ya?” Danis terkekeh.
Juda mengendikkan bahu. Danis tidak salah. Juda memang nekat pindah ke kos yang lebih dekat dengan tempat kerjanya meski Ghani dan Haikal melarang. Juda sempat bertengkar dengan kedua kakaknya itu hingga Juda menangis, merengek kepada Mami agar diizinkan. Ghani dan Haikal baru mau mengalah begitu Juda berjanji akan membiarkan mereka sering berkunjung.
“Bang Haikal rempong banget cariin aku apartemen biar aku lebih nyaman katanya, tapi aku nggak mau. Soalnya tempatnya terlalu jauh dari tempat kerjaku. Aku bilang sama dia kalau maksa aku tinggal di tempat yang dia pilih, aku mau langsung kabur dari rumah dan nggak kasih tahu di mana aku tinggal.”
Danis tertawa lagi. Menularkan tawa itu kepada Juda.
“Langsung panik deh abang posesif satu itu. Akhirnya dia nyerah tapi ya tetep ngomel panjang lebar dulu,” sambung Juda. “Sebulan pertama aku ngekos di sini, hampir setiap hari Bang Haikal antar jemput aku. Bang Ghani juga kadang-kadang nengokin ke sini. Mereka berdua udah akrab banget sama Bapak Ibu kosnya. Mereka juga udah hapal sama penghuni kamar yang deket sama kamarku.”
Cerita Juda terhenti karena lagi-lagi ada penghuni kos−kali ini seorang wanita−yang menyapa Juda dan mereka pun mengobrol singkat.
Danis takjub.
Waktu yang telah berlalau benar-benar mampu mengubah banyak hal. Dulu, Juda tidak begini. Boro-boro mengobrol, Juda biasanya langsung melemparkan tatapan judes serupa laser yang bisa menembus kepala orang yang ditatapnya. Belum lagi saat ada yang berinisiatif mengajaknya mengobrol, Juda sama sekali tidak ada ramah-ramahnya. Jadi orang-orang cenderung menghindar dari Juda ketimbang sakit hati melulu akibat omongan Juda yang nyelekit di hati.
Ke mana sebenarnya sosok Juda yang dulu? Ke mana hilangnya Juda yang dulu Danis kenal?
Danis seharusnya senang bukan? Juda tidak lagi segalak dan sejudes dulu. Namun, mengapa Danis seolah kehilangan sosok yang pernah ia kenal?
Jauh di lubuk hati, Danis rindu. Rindu kepada sosok yang dulu membuatnya segan hingga kemudian naksir dan jatuh cinta.
Lamunan Danis terputus saat Juda menggoyangkan lengannya dan memanggil namanya.
“Ya, Ju?”
“Kamu kalau mau bengong doang mending balik deh,” usir Juda yang detik selanjutnya dengan cepat menutup mulut dengan telapak tangan kanan dan menguap lebar.
Sebelum benar-benar diusir, Danis tak menyia-nyiakan waktu. Tak perlu basa-basi lebih panjang lagi untuk segera membahas hal yang lebih mendesak. Danis berdeham. Sekali lagi meneguk minuman yang disuguhkan Juda.
“Gimana ceritanya kamu bisa kenal suaminya Grita?” tanya Danis mengawali sesi interogasi pagi itu.
“Namanya Guntur,” Juda menyela.
“Whatever, Ju. Aku mau tahu gimana kamu bisa berhubungan sama laki-laki yang sudah menikah−”
“Aku main Tinder,” sela Juda.
Danis mengernyit mendengar jawaban enteng itu. “Kamu... apa?”
Juda melirik Danis dengan malas. “Tinder, Danis. Aplikasi yang dipakai orang-orang buat cari pacar, FWB, ONS, selingkuhan—”
Wanita itu sesungguhnya sangat tidak suka diingatkan tentang status Guntur yang menjadi penyebab perselisihan antara dirinya dengan Grita di SMA dulu kembali naik ke permukaan. Tak hanya itu saja, citra Juda di mata teman-teman seangkatannya menjadi tercoreng. Benar-benar menyusahkan saja. Belum lagi jika nanti perkara bodoh itu didengar kedua orang tuanya. Masih mending jika Juda disemprot dan dimarahi habis-habisan. Juda masih tahan. Juda hanya khawatir jika Mami atau Papi terlalu syok hingga jatuh sakit. Seperti dulu, kala Ghani mengumumkan ingin berhenti kuliah padahal sudah masuk semester akhir. Mami sampai masuk rumah sakit dan Ghani pun akhirnya mengurungkan niat.
“Aku tahu apa itu Tinder. Aku cuma nggak ngerti kenapa kamu main Tinder,” komentar Danis.
“Kalau kamu mau nyalahin, salahin Ema. Dia yang nyuruh aku main Tinder,” jawab Juda.
Danis menyugar rambutnya. “Aku nggak nyalahin. Jadi, kenapa kamu sampai bisa main Tinder?”
“Ema yang instal di hape aku. Aku cuma iseng.”
Mata Danis menyipit. “Cuma iseng? Kamu main Tinder cuma karena iseng?!”
Mendengar suara Danis yang mulai tidak santai, Juda mencibir, “Emangnya apa lagi?”
“Apa lagi katamu? Astaga, Juju! Kamu berhubungan sama suami orang gara-gara Tinder sialan itu!”
“Aku nggak tahu kalau dia udah nikah!”
Danis geleng-geleng kepala. Untungnya Juda berinisiatif menyuguhkan minuman dingin. Otak Danis juga mendadak panas dan ngebul.
“Lihat buah dari keisengan kamu ini,” keluh Danis. “Kamu dihujat sama teman-teman satu angkatan kita! Sekarang kamu gimana coba?”
"“Nggak semua, Danis. Cuma beberapa orang yang suka gosipin orang aja.”
“Aku serius, Juda. Mereka semua gila. Mereka ngomongin kamu seolah-olah mereka orang paling suci yang nggak pernah bikin dosa. Mereka ngecap kamu orang jahat, tapi mereka nggak sadar kalau justru mereka yang lebih jahat.”
Danis sedikit membanting gelas yang digenggamnya. Membuat Juda terperanjat.