BAB 35. Interogasi (2)

1531 Kata
“Aku nggak suka kamu manggil aku begitu,” tukas Juda melenceng dari pembahasan. Tampak kekesalan membayangi wajahnya. “Aku nggak salah di sini, tapi kamu juga seolah mau mojokin aku. Tadi katanya kamu cuma mau tahu kan? Bukan mau marah-marah gini.” “Aku nggak marah, Ju. Kenapa kamu pikir aku marah sama kamu?” “Kamu marah kalau kamu udah mulai manggil aku Juda,” koreksi Juda. Danis menghela napas keras-keras. Seolah sedang berusaha menghilangkan ganjalan yang menyesaki jalan napasnya. “Aku beneran nggak marah. Aku cuma lagi mikirin dampak dari perbuatan kamu, Ju,” geram Danis dengan gemas. “I didn’t do anything wrong. Aku tuh cuma iseng, Danis. ” balas Juda bersikukuh. Sebab ia memang tidak melakukan sesuatu yang curang. Ia hanya sedang apes saja karena bertemu dengan lelaki beristri yang hobi berselingkuh. “Kalau kamu cuma iseng, kenapa kamu bisa sampai terlibat masalah ini?” Juda mendengkus. “Ya aku emang iseng, tapi kan tetep serius waktu swipe kanan swipe kiri.” Danis geleng-geleng kepala. Seolah perbuatan Juda sangat tidak masuk nalar. “Aku masih nggak paham. Main Tinder tuh nggak kamu banget, Ju.” Juda “Aku kan pernah cerita kalau Mami desak aku buat cepet-cepet nikah. Mami udah berusaha jodohin aku belasan kali sampai aku muak karena nggak ada yang cocok.” “Dan kamu pikir cari jodoh lewat Tinder lebih mendingan daripada dicariin jodoh sama mami kamu?” Juda memotong, “Danis, aku rasa kamu nggak punya hak buat protes soal ini.” Danis langsung bungkam. Ia memang tidak punya hak untuk protes dan memojokkan Juda. Memangnya siapa dirinya? Melihat ekspresi Danis yang mendadak berubuah keruh, Juda menambahkan, “Aku main Tinder sebelum ketemu kamu lagi. Dan ya, menurutku nggak ada salahnya kenalan orang lewat dating app atau lewat mana pun. Aku pun nggak masalah kenalan sama semua lalki-laki yang disodorin Mami ke aku. Kamu pikir aku nggak pernah berusaha? Of course I do. Aku menghargai apa yang Mami lakukan. Dan kalau seandainya satu dari belasan laki-laki itu ada yang cocok, aku juga nggak akan ada di posisi ini. Aku nggak akan ada di sini sekarang buat jelasin semuanya ke kamu.” Danis memandangi wajah Juda yang masih tampak kuyu. Juda benar. Wanita itu tidak salah. “Kamu benar-benar nggak tahu kalau laki-laki itu udah nikah?” “Nggak.” Menghela napas, Danis kembali melontarkan. “But, it doesn’t make sense. Gimana ceritanya kamu nggak tahu kalau laki-laki itu suaminya Grita?” “Aku nggak pernah kepo sama istri ataupun suami orang kecuali mereka teman dekatku. Aku juga jarang main sosmed. All I know is… she is married. That’s all.” Tatapan Juda menerawang. Seketika ia menyesal karena level keingintahuannya sangat rendah. Jika saja Juda sama seperti teman-temannya yang langsung stalking akun media sosial Grita karena tidak diundang ke pernikahan Grita dan penasaran akan sosok yang berhasil memikat hati wanita itu, Juda tidak akan mendapatkan predikat ‘pelakor’ yang sekarang disematkan padanya. Sebab, ia pasti sudah akan kabur di detik pertama melihat Guntur menghampiri mejanya di kafe beberapa minggu yang lalu. Ah, tidak. Ema yang hobi stalking saja tidak mengenali Guntur. “Coba kamu cek i********:-nya Grita,” pinta Juda yang ingin mengonfirmasi sesuatu. Danis mengernyit. “Buat apa?” “Just do it!” Dengan malas Danis membuka ponsel. “Apa username-nya?” “Nggak tahu.” Danis menahan diri untuk tidak menggeram. “Aku juga nggak tahu, Juju. Terus gimana carinya? Lagian buat apa, sih?” Juda langsung mengambil alih ponsel Danis dengan merebutnya begitu saja. Juda mengetikkan username milik salah satu teman yang dekat dengan Grita lalu mencari nama Grita di antara akun-akun yang diikuti temannya itu. Untungnya hanya ada satu nama Grita yang muncul dan itu adalah Grita yang juga Juda tahu. Surprisingly, tidak ada satu pun unggahan yang menunjukkan wajah Grita dan Guntur dalam satu frame. Ada beberapa foto pernikahan mereka, tetapi Grita hanya mengunggah foto-foto yang tidak menampilkan wajah. Grita juga tidak menandai Guntur dalam unggahan-unggahan itu. Atau mngkin saja Guntur tidak mempunyai i********:. Entahlah. “Ju, kamu lagi ngapain, sih?” tegur Danis yang mulai bosan melihat Juda malah asyik sendiri dengan ponsel miliknya. Juda mendongak dan menyodorkan layar ponsel yang menyala terang itu ke depan wajah Danis. “Look! Grita aja nggak pernah posting apa-apa soal Guntur. So, once again, it’s not my fault. Yang salah si Guntur karena dia b******n,” sembur Juda seraya menyerahkan ponsel ke pemiliknya. Sesungguhnya, Juda tidak ingin berasumsi macam-macam, tetapi menurutnya ini sangat aneh. Dulu, Grita adalah satu di antara banyak orang yang suka pamer status dan tidak akan segan-segan mengumumkan kepada dunia tentang siapa yang sedang menghuni hatinya. Grita akan dengan sangat jelas ‘menandai’ teritorinya. Kenapa sekarang Grita seolah menyembunyikan identitas suaminya? Juda menggeleng-gelengkan kepala. Grita tidak salah. Tidak semua hal perlu diumbar, terutama perihal kehidupan pribadi. “Emangnya kamu nggak diundang ke nikahannya Grita?” Danis menarik Juda dari lamunannya. “Ya enggak lah!” tukas Juda. Pertanyaan Danis benar-benar aneh. Siapa yang mau repot-repot mengundang musuh bebuyutan ke acara bahagianya? “Kok bisa? Aku aja diundang.” Juda memutar bola mata. Bisa-bisanya Danis terdengar bangga hanya karena diundang ke resepsi pernikahan Grita. “Kamu diundang tapi nggak datang,” cibir Juda. “Tahu dari mana kalau aku nggak datang?” “Satu angkatan kita juga tahu kalau kamu sok-sokan jadi misterius setelah kabur ke Belanda dan nggak pernah balik. Kamu udah kayak menghilang ditelan bumi. Nggak ada yang tahu kabar dan keberadaan kamu kecuali Martin. Bahkan sebagian dari teman seangkatan kita sampai ngira kamu udah mati karena kamu kebanyakan konsumsi ganja. Salahkan Martin yang kasih informasi setengah-setengah.” Danis tidak kaget jika teman-temannya sampai berpikir demikian. Di Belanda, banyak tersebar kafe yang alih-alih menjual kopi, tapi malah menjual ganja. Dijual secara legal. Danis dulu sempat terkena culture shock saat pertama kali menginjakkan kaki di sana bersama Samuel. Mengabaikan tentang itu, Danis kembali bersuara, “Well, aku pikir Grita undang satu angkatan. Ternyata enggak, ya?” “Seingatku, selain teman-teman dekatnya, Grita cuma undang yang pernah satu kelas sama dia aja. Kamu sama Grita pernah sekelas, kan? Teknisnya kalian udah bisa dianggap teman. Sedangkan aku? Grita tahu aku eksis di dunia ini karena aku dianggap merebut ketenaran dia di sekolah. Mana mungkin dia mau undang aku. Iya, kan? I am her biggest enemy. Dia nggak mungkin mau undang aku karena nggak mau mengulang apa yang terjadi di SMA. Bisa-bisa Grita malah nangis di nikahannya kalau ada aku yang selalu jadi pusat perhatian.” Seketika Danis terperangah. “Astaga, Juju. Kepercayaan diri kamu masih setinggi langit, ya?” Juda mengendikkan bahu. “Itu yang membuat aku masih bertahan hidup sampai hari ini.” Soal Juda yang selalu jadi pusat perhatian, itu tidak sepenuhnya benar. Juda memang berkali-kali menjadi pusat perhatian, tetapi tidak selalu. Ada momen-momen di mana Juda menyukai segala bentuk perhatian yang tertuju padanya. Namun, Juda juga tahu bagaimana menempatkan diri−lupakan sejenak perihal kejadian di reuni, itu sudah di luar kontrol−agar tidak menarik perhatian. Terutama untuk menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan dan bisa merugikan. Sayangnya, saat ini Juda sedang terperangkap. Ia menjadi pusat perhatian karena hal yang sangat buruk dan memalukan. “Sudah sejauh mana hubungan kamu dengan laki-laki itu?” tanya Danis kembali ke sesi interogasi yang belum tampak akan selesai dalam waktu dekat. “Namanya Guntur, Danis.” “Aku nggak peduli namanya siapa. Just answer the damn question. Sudah sejauh mana hubungan kalian?” Danis mengulangi pertanyaannya dengan lebih serius. Sebenarnya Juda sudah malas ditanya-tanya seolah ia adalah tersangka yang harus ditanya dengan sangat mendetail agar hakim bisa memutuskan mau memberikan hukuman semacam apa. Pada kasus ini, Danis bertindak seolah-olah punya hak untuk memegang peran itu. Namun, sebelum pertanyaan itu berkembang menjadi tuduhan dan ia kembali dipojokkan, Juda menjawab, “Aku cuma sekadar kenal aja. Seminggu sebelum acara reuni aku ketemuaan sama dia. Itu pertama dan terakhir. Aku serius. Aku sama dia cuma ngobrol-ngobrol biasa nggak sampai dua jam. Ada Ema juga yang nemenin di sana kok. Makanya aku kaget waktu ketemu Guntur di reuni dan dia gandeng Grita.” “Berarti kalian nggak nge-date berdua aja kan waktu itu?” “Ema nemenin tapi duduk di kursi lain.” Danis manggut-manggut, lalu kembali melontarkan pertanyaan, “Selama kalian ngobrol, laki-laki itu nggak menyinggung soal statusnya?” Lagi-lagi, Juda tak bisa menahan diri untuk memutar bola matanya. Sebab, menurut Juda itu adalah sesuatu hal yang terlalu bodoh untuk ditanyakan. “Namanya juga orang niat selingkuh, mana mau ngaku, Danis? Dia juga nggak pake cincin kawin, kalau itu mau kamu tanyakan juga.” Danis memandang wajah Juda intens. “Next time, kalau kamu kenalan sama laki-laki yang entah itu berniat serius atau cuma mau ajak kamu pacaran, whatever you name it, kamu harus tanya dulu status dia. Harus, Ju. Biar kejadian kayak gini nggak terulang.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Danis seketika tercenung. Sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Jika saja ada Martin di sana, Danis pasti sudah akan dicemooh. Atau kemungkinan lainnya Martin akan langsung memberitahu Juda soal status Danis yang sudah tidak single. “Berarti kamu udah yakin kita nggak akan berhasil ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN