Juda marah sekali. Tuduhan yang dilayangkan oleh Grita memang menyakitkan. Namun, tidak ada apa-apanya ketimbang tatapan penuh menghakimi yang Danis tujukan terhadap dirinya. Sudah dituduh dan dipermalukan di depan muka umum oleh rivalnya saat masa sekolah dulu, sekarang ditambah dengan sikap menegsalkan Danis yang membuat dirinya seakan terpojok. Tidak memiliki sosok pendukung yang berdiri untuknya.
“Lo mending enyah dari hadapan gue sebelum gue meledak,” hardik Juda. Kembali mengempaskan tangan Danis dengan kuat saat laki-laki itu berusaha meraih tangannya.
Danis mengeraskan rahang. Ia terlihat susah payah menahan segala ucapan yang ingin tumpah karena perkataan sinis Juda yang mulai menggunakan ‘lo-gue’ seperti yang selalu wanita itu gunakan saat sedang benar-benar marah kepada orang yang bersangkutan.
“Gue nyesel udah nyamperin lo dan bikin heboh di reuni. Gue nyesel ngeiyain ajakan balikan lo.”
Danis menggeleng. “Kamu cuma lagi emosi.”
“Gue benci sama lo, Danis. Dari dulu gue benci banget sama lo karena lo selalu bisa bikin gue jadi nggak berdaya. Gue udah suka sama Pandu sejak gue pindah ke sekolah kalian, bahkan saat gue udah punya pacar, gue masih suka sama dia. Tapi lo mendadak muncul, bikin gue sepenuhnya lupa kalau gue pernah sesuka itu sama Pandu. Gue menaruh kepercayaan gue di tangan lo. Lo, Danis. Cuma lo satu-satunya laki-laki dalam hidup gue selain bokap dan kedua kakak gue yang pernah gue kasih kepercayaan sampai segitu besar.
“Lo nggak tahu seberapa besar rasa suka gue, atau mungkin malah cinta gue, ke lo dulu. Tapi pada akhirnya malah gue rusak sendiri karena gue gelap mata ngelihat lo sama Laras. Gue hancur banget waktu itu walaupun gue tetap nggak sudi nunjukin itu di depan lo karena harga diri gue terlalu tinggi. Dan lo tahu apa yang bikin gue makin jadi perempuan menyedihkan? Gue sengaja ngedepak lo dari hidup gue karena gue takut makin nggak bisa mengendalikan diri. Gue terlalu suka sama lo sampai gue takut kehilangan diri gue sendiri.”
Juda berhenti sejenak. Ia mengatupkan mata yang terasa panas, yang menghimpun air mata yang menyeruak keluar karena emosi. Namun, masih bisa ia tahan agar tidak meluncur jatuh dengan mudah.
“Gue kira, gue udah benar-benar bisa move on dan ngelepasin lo dan bayang-bayang lo dari hidup gue. Gue nyaris berhasil sampai lo muncul di acara reuni. Tiba-tiba munculin harapan yang selama ini gue kubur jauh-jauh di lubuk hati gue yang paling dalam. Gue mungkin berkali-kali bilang sama lo dan Ema, kalau gue sama sekali nggak yakin soal perasan gue.” Juda menggeleng. “Gue tahu apa yang gue rasain. Gue cuma denial karena takut kecewa lagi. Tapi, Danis. Lo yang memupuk harapan gue. Lo bikin gue berharap lagi. Lo bikin gue belajar buat mencoba percaya. Tapi secepat itu lo patahkan.”
Kemudian Juda memukul dadanya. “Di sini, sakit banget, Danis. Lo ngebela Grita bahkan tanpa mempertimbangkan apa yang gue rasain.”
Entah Juda pernah menyinggung ini sebelumnya atau tidak. Danis yang sekarang sangat pandai mengendalikan diri. Lebih mengutamakan logikla ketimbang perasaan. Setelah Juda bicara panjang lebar tentang isi hatinya yang sesungguhnya, Danis masih bisa berdiri tegak di hadapannya, tidak langsung membalas kata demi kata meski terlihat dari matanya bahwa laki-laki itu juga tidak baik-baik saja.
“Ju, aku nggak membela Grita. Aku cuma nggak mau kamu nambah runyam masalah. Kalau kamu cukup sadar dengna nggak membiarkan emosi mengendalikan kamu, kamu bisa lihat gimana tatapan Grita yang penuh kebencian. Kamu ladeni dia itu sama artinya dengan semakin memperburuk keadaan. Dan kamu akan tetap menjadi bulan-bulanan, yang akan disalah-salahkan, dipandang jadi pihak paling jahat di sini.” Danis berusaha untuk tidak menaikkan suaranya. Tidak ingin membuat Juda semakin marah dan merasa dihakimi. “Udah cukup yang kemarin aja, kamu dihujat-hujat, Ju. Kamu nggak ngelakuin kesalahan apa-apa, nggak ada yang kamu rugikan, tapi banyak yang mencemooh kamu, ngata-ngatain kamu cari perhatian, tukang bikin drama, dan banyak lagi yang bikin aku sakit hati−”
“Kenapa kamu harus sakit hati? aku yang dikatain, bukan kamu,” tukas Juda dengan sengit.
“Terlepas dari pandangan kamu tentang kita yang menurut kamu kita cuma orang asing, bagiku kamu lebih dari sekadar itu. Walaupun cuma sebentar banget aku jadi pacar kamu. Walaupun dulu aku belum benar-benar dewasa dan ngerti betapa berharganya hubungan kita dulu. Bahkan orang-orang bilang hubungan kita cuma cinta monyet yang nggak layak diingat-ingat. Bagiku nggak gitu, Ju. Fakta kalau kamu pernah ada di hidupku, itu nggak akan pernah berubah.” Danis melangkah mendekat ke arah Juda yang bergeming di tempat. “Perasaan kamu nggak pernah nggak terbalas, Ju. Aku juga terlalu suka sama kamu dulu. Aku percaya sama kamu, bahkan setelah kamu pura-pura bikin taruhan cuma biar bisa putus dari aku, aku masih percaya sama kamu. Aku nggak bisa marah sama kamu. Karena rasa sukaku ke kamu terlalu besar, mengalahkan semua rasa yang aku rasakan waktu itu.”
Jarak yang memisahkan emreka berdua hanya selebar satu lengan. Cukup dekat untuk bisa melihat dengan jelas apa yang tergambar di manik mata masing-masing.
“Jangan kamu pikir kalau cuma kamu aja yang terluka dan hancur,” ujar Danis dengan sangat pelan dan lembut. “Dan soal masalah kemarin dan juga hari ini. Kalau aku nggak sepeduli itu sama kamu, aku udah bakal ninggalin kamu saat itu juga waktu kamu tiba-tiba bikin kehebohan di acara reuni karena nggak mau terlibat masalah sama kamu lagi. Tapi nggak aku lakukan. Kenapa? Karena, bahkan setelah sepuluh tahun kita berpisah. Setelah kita menjalani hidup kita masing-masing dengan berpura-pura bahwa kita bahagia, bisa hidup normal, dan bisa merancang masa depan kita masing-masing tanpa berusaha menengok masa lalu. Begitu kamu berdiri di depanku, semuanya buyar. Bukan aku yang membuat kamu kembali memupuk harapan yang kita punya dulu, Ju. Tapi kamu yang membuat kita bisa sampai di titik ini lagi.”
Juda tersaruk mundur dua langkah. Tatapannya kini sepenuhnya tertuju pada manik mata hitam kelam milik Danis yang memandangnya nanar.
Sungguh, ia sama sekali tidak mengerti. Kenapa sekarang malah terlihat jelas bahwa Danis yang paling tersakiti di sini? Kenapa bukan tatapan menghakimi lagi yang ia lihat? Atau tadi ia hanya salah menafsirkan karena terlalu marah dan kecewa karena Danis menyergahnya di depan Grita dan banyak orang?
Juda pikir, setelah ia mengungkapkan perasaannya yang paling jujur kepada Danis, dan yang terpenting kepada dirinya sendiri, Danis juga menghantamnya dengan kejujuran yang sama. Yang kini mengobrak-abrik dadanya. Beradu riuh dengan campuran perasaan yang tumpeng tindih.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lamanya mereka menyimpan bom di lubuk hati dan memuntahkannya
“Kamu berharap aku cuma bakal diam dan jadi penonton, ngelihat kamu diperlakukan begitu?” Danis kembali bersuara. Nadanya penuh emosi yang berbaur riuh.
Juda belum menjawab apa-apa saat tahu-tahu Danis menarik pergelangan tangannya dan menghampiri taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan restoran.
“Aku antar pulang,” kata Danis sebelum Juda memprotes.
Kalau beberapa menit yang lalu Juda mungkin akan langsung membentak Danis dengan mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri sehingga laki-laki itu tidak perlu repot-repot peduli terhadapnya. Namun, sekarang Juda hanya diam dan menurut saja. Ia langsung bergegas masuk saat Danis membuka pintu penumpang.
Perjalanan menuju indekos Juda dipenuhi kebisuan. Danis duduk di ujung kanan, sementara Juda berada di ujung kiri, seolah-olah jarak yang tidak sampai satu meter itu cukup berguna. Padahal, sesungguhnya Juda menjadi cemas sekali. Perlawanannya terhadap Danis dengan mudah berbalik menjadi bumerang yang terus-menerus menghantamnya. Juda tidak tahu harus bagaimana agar bisa membuat perasaan Danis menjadi lebih baik. Benar. Persetan dengan perasaannya. Karena saat ini perasaan Danis jauh lebih penting untuk ia pikirkan.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di depan indekos Juda yang bangunan tingkat tiga itu terlihat dari luar meski sudah dipasang pagar cukup tinggi.
Danis ikut turun dan membiarkan taksi yang mereka tumpangi beranjak pergi.
“Kita belum jadi makan,” kata Danis dengan tanpa ekspresi. Seolah-olah momen emosional tiga puluh menit yang lalu tidak pernah ada.
“Mau makan nasi goreng?” Juda mengendikkan dagu ke arah tenda yang disinari lampu remang-remang yang berdiri tak jauh dari kos Juda.
Danis mengangguk. Mereka pun berjalan bersisian tanpa suara.
Hanya ada dua orang pembeli yang duduk di kursi panjang, sibuk menyantap nasi goreng yang terlihat masih mengepul, saat Danis dan Juda tiba di sana. Danis langsung memesan dua nasi goreng, yang satu pedas, yang satu lagi tidak pedas sama sekali, dan dua gelas es teh. Kemudian ia dan Juda duduk di kursi kosong yang berseberangan dari dua orang itu.
Pesanan mereka disajikan tak sampai sepuluh menit kemudian. Keduanya makan tanpa suara. Sementara itu, dua orang pembeli tadi sudah selesai makan. Mereka tidak langsung pergi dan memilih untuk merokok sambil mengobrol bersama si penjual nasi tentang pertandingan bola Liga Inggris, Manchester United vs Liverpool, yang akan tayang jam dua pagi nanti−sementara saat ini baru pukul sembilan lebih sedikit. Obrolan mereka itu menjadi satu-satunya background suara selain deru mesin dan klakson dari sekian banyaknya kendaraan di jalanan kota Jakarta yang terdengar samar-samar di malam itu.
Selesai makan, keduanya tidak mengulur-ulur waktu untuk segera pergi dari sana. Berharap bahwa semakin cepat mereka pergi, bisa menyelamatkan mereka dari kecanggungan yang menyesakkan.
“Aku langsung pulang ya,” kata Danis melirik ke belakang Juda saat mereka sampai di depan gerbang kos Juda.
Juda menelengkan kepala dan melihat sebuah mobil mendekat. Sorot lampunya yang cukup terang menyilaukan mata. Entah kapan laki-laki itu memesan taksi.
“Danis−”
“Kita lanjutin besok aja ya. Kamu capek dan aku juga udah terlalu emosional. Nggak akan kelar kalau dibahas malam ini,” potong Danis.
Taksi sudah berhenti. Berjarak dua meter dari tempat mereka berdiri berhadapan.
Danis mengulurkan lengan untuk memeluk Juda. Singkat sekali. Juda bahkan belum sempat bereaksi.
Kemudian laki-laki itu masuk ke dalam taksi tanpa menoleh lagi.
***
Berpacaran dengan Danis versi dewasa−kalau memang masih bisa disebut berpacaran setelah drama yang Juda ciptakan beberapa jam yang lalu−rasanya sangat berbeda. Juda seperti menemukan sosok yang lain yang tidak pernah Juda tahu ada pada diri Danis. Laki-laki itu masih memiliki sisi humor, tetapi yang mendominasi adalah kedewasaan dan keseriusan. Saat Juda membuat kekacauan, Danis berdiri di sampingnya, menjadi tempat bersandar dan menopangnya agar tidak jatuh dan tertinggal di belakang.
Meski awalnya Juda tidak langsung mengerti, bahwa Danis tidak pernah bermaksud mendahulukan orang lain ketimbang dirinya seperti yang Juda tuduhkan. Juda pada akhirnya selalu menyadari bahwa Danis hanya ingin melindungi dirinya dari masalah. Dan apa yang Danis lakukan di restoran tadi adalah upayanya untuk mencegah Juda agar tidak bertingkah terlalu jauh menanggapi Grita yang sengaja memancing emosinya. Juda terlambat menyadarinya dan itu membuat perasaannya semakin buruk.
Juda memukul-mukul bantal dengan kesal. Mau sampai kapan ia bertingkah, menjadi biang masalah, dan melibatkan Danis sebagai tameng?
Juda tidak bisa memejamkan mata. Sejak tadi ia hanya berguling-guling dari posisi tengkurap menjadi berbaring miring, kemudian telentang. Begitu seterusnya hingga waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Juda gelisah sepanjang waktu. Bahkan belum genap seminggu sejak mereka kembali bertemu dan memutuskan kembali bersama. Namun, masalahnya dengan Danis sudah berada di level yang mengkhawatirkan. Merenggangkan hubungan mereka yang baru mulai bisa kembali dekat.
Mungkin ini yang membuat dirinya tidak kunjung mendapatkan jodoh hingga umurnya menjelang 29 tahun, yaitu karena dirinya masih belum cukup dewasa. Selalu lebih mengutamakan perasaan ketimbang logika. Juda cukup yakin kalau tidak ada laki-laki yang mau repot-repot mengikat diri dengan wanita seperti dirinya yang masih kekanak-kanakan, susah mengatur emosi, blak-blakan, galak, judes. Ah, tidak ada habisnya jika mengeja satu per satu kekurangannya. Hanya membuat Juda makin kesal kepada dirinya sendiri.
Di tengah keremangan−lampu utama sudah dimatikan sejak berjam-jam yang lalu saat Juda bersiap untuk tidur, menyisakan lampu tidur di atas nakas yang berada di sisi kanan tempat tidur−Juda tiba-tiba tertawa saat sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.
“Setelah ini, Danis juga bakal lari dari lo, Ju,” lontarnya untuk dirinya sendiri. Meski ia hanya bicara pelan, suaranya terdengar lantang, menggema di tembok yang menjadi satu-satunya pendengar setianya saat ia bermonolog. “Lo nggak pantes bersanding sama Danis. Dia terlalu baik buat cewek bar-bar kayak lo.”
Juda telentang menatap langit-langit kamarnya. “Gue nggak kaget kalau gue bakal nyandang status jomlo lagi besok karena Danis mulai sadar kalau gue cuma menyia-nyiakan waktu dia doang.”
Benar-benar miris jika ia dan Danis gagal lagi bahkan hanya dalam empat hari setelah kembali berpacaran.
Sesaat kemudian, Juda kembali menyadari sesuatu. Bahwa ucapan Danis sepenuhnya benar tentang dirinya yang memupuk harapan di antara mereka itu hingga menjadi tumbuh subur. Juda yang menarik Danis ke dalam hidupnya. Bukan laki-laki itu yang mendesaknya. Juda mengubah posisi menjadi berbaring miring. Matanya langsung menangkap dreamcatcher yang tergantung di jendela kamarnya. Seketika ekspresi di wajahnya berubah. Meski mulutnya dengan mudah berkata tentang kegagalan, hatinya mengharapkan sesuatu yang lain. Juda tidak ingin gagal lagi.