BAB 26. No Drama, No Life

2083 Kata
Hari keempat setelah Juda dan Danis memutuskan untuk kembali bersama, mereka janjian untuk nonton bareng di bioskop setelah Juda pulang kerja. Juda sedang ingin melepas penat karena pekerjaan menggunung yang tak habis-habis. Karena Juda baru keluar dari kantor saat matahari sudah hampir terbenam di ufuk narat, sementara jadwal tayang film yang dipesan jam enam lebih sedikit, mereka tidak sempat makan terlebih dahulu. “Abis ini makan dulu ya, kasihan cacing-cacing di perutku kalau nggak dikasih asupan gizi,” bisik Juda di tengah-tengah menonton. Meski tidak terlihat jelas karena ruangan bioskop yang gelap, Danis tersenyum sambil menatap Juda. Ini sudah yang ke sekian kalinya Juda mengatakannya. Danis geli sekali melihat Juda yang sama sekali tidak bisa berkonsentrasi penuh pada layar bioskop yang sedang menayangkan film yang berkisah tentang para hero itu karena rasa lapar yang lebih mendominasi. Saat film akhirnya selesai, Juda cepat-cepat mrnarik Danis ke luar gedung bioskop. “Aku udah reservasi di restoran dekat-dekat sini,” kata Danis saat tahu Juda menyeretnya ke food court yang berada di lantai yang sama dengan gedung bioskop. Juda berhenti, setengah memutar tubuhnya untuk menatap Danis. “Wait, kamu nggak lagi pengen ngajak aku makan ala ala candle light dinner gitu kan? Kamu lihat penampilan aku sekarang deh, aku kayak gembel,” cerocos Juda. “Kamu cranky banget kalau lagi laper,” komentar Danis geli. “Tapi kamu tenang aja. Aku bahkan nggak kepikiran sama sekali mau ngajak kamu makan malam romantis dalam waktu dekat. Aku cuma cari solusi terbaik buat kamu yang udah terlalu kelaparan. Jam segini bakal susah cari tempat duduk di food court.” Danis menunjuk ke sisi gedung yang berseberangan dari tempat mereka berdiri. Terlalu banyak manusia yang tumpah di sana. Juda manggut-manggut. Saat mereka menuruni eskalator, di belakang sepasang kekasih yang kelihatannya masih remaja sedang saling bergelendot mesra, Juda menoleh ke arah Danis yang tampaknya juga sedang memperhatikan hal yang sama. “Kenapa kamu nggak kepikiran ngajak aku dinner romantis?” Danis menelengkan kepala. Sekilas, kernyitan muncul di kening laki-laki itu. “Dulu kamu bilang kalau kamu nggak suka hal-hal romantis yang klise kayak kasih bunga dan coklat ke pacar waktu hari valentine, candle light dinner di restoran, kasih surprise ulang tahun di tengah malam, dan banyak lagi. Sebagian aku agak lupa.” Juda mendengkus. Ternyata Danis masih ingat tentang apa yang pernah Juda katakan dulu. “Kalau hal-hal yang aku suka, kamu ingat?” tanya Juda saat mereka sampai di lantai satu dan berbelok ke arah pintu keluar mall. “Kamu suka BIGBANG.” “Selain itu?” “Kamu suka baca komik dan yang paling favorit seri One Piece, kamu suka warna ungu, kamu suka makanan pedas, kamu suka bersepeda keliling komplek setiap Minggu pagi, kamu suka nyanyi walaupun suara kamu sumbang,” Danis menggantung perkataannya selama dua detik sebelum melanjutkan, “Dan kamu suka sama aku.” Juda langsung memukul pundak Danis dengan keras. Danis mengerang karena pukulan yang tidak main-main. “Sakit, Ju!” “Makanya jangan bercanda,” jawab Juda sewot. “Aku cuma sebutin apa yang pernah kamu bilang,” gerutu Danis. “Jalan dikit nggak papa ya, cuma deket situ kok,” sambung Danis. Juda tidak terlalu memperhatikan tepatnya bangunan mana yang Danis tunjuk. Ia hanya menurut saja karena sudah terlalu lapar sehingga tidak bisa fokus. “Kalau kamu masih ingat atau enggak, Ju?” “Ingat apa?” “Tentang apa yang aku suka dan nggak suka.” Juda tercenung sejenak. Ia tak sadar telah melambatkan langkah kaki. Namun, segera sadar kembali saat merasakan tangannya digenggam oleh Danis dan mereka kembali berjalan dengan langkah mantap. “Pertanyaanku terlalu susah buat dijawab, ya?” “Nggak gitu,” Juda tergeragap. “So?” “Aku cuma nggak nyangka aja kalau aku masih ingat semuanya,” ujar Juda yang semakin tidak bisa fokus karena rasanya aneh bisa bersentuhan dengan Danis lagi, yang entah mengapa genggaman tangan mereka terasa pas seperti menyatukan dua puzzle menjadi kepingan utuh. “Kamu suka main gitar ddngan lagu yang itu-itu aja. Kamu suka pelajaran Sejarah, terutama tentang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan juga tentang zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Kamu suka bakso yang dijual di kantin sekolah. Kamu suka main basket.” “Yang akhirnya mempertemukan kita gara-gara aku sama Pandu kecelakaan di lapangan waktu lagi main,” sambung Danis. Juda tersenyum tipis sebelum melanjutkan, “Kamu nggak suka makanan pedas, kamu nggak suka naik sepeda karena pernah nyungsep di got, kamu nggak suka BIGBANG—” “Aku bukannya nggak suka BIGBANG, aku cuma nggak terlalu suka sama genre musik mereka. Bukan seleraku,” koreksi Danis. “Intinya sih hampir semua yang aku suka, kamu nggak suka,” balas Juda mementahkan argumen Danis. Msmbuat laki-laki itu mendengus malas. Tak sampai lima menit berjalan, mereka sampai di restoran yang Danis maksud. Obrolan mereka terjeda saat memasuki restoran didampingi pelayan yang mengantarkan mereka ke meja yang sudah direservasi. Dilihat dari jumlah pengunjung, seperti restoran itu cukup populer. Hampir semua meja sudah terisi. Entah bagaimana Danis bisa mendapatkan meja di situ. Setelah mereka memesan, yang kata pelayannya pesanan mereka akan segera dihidangkan tanpa perlu menunggu lama, Juda izin ke toilet. Belum sempat mencapai pintu yang menghubungkannya ke toilet, Juda dihadang seseorang. Bukan tidak disengaja, karena seseorang itu ikut bergeser mengikuti Juda. Memblokir jalannya. Juda mendongak untuk mendapati Guntur berdiri tegap di hadapannya. Lagi, perasaan jijik dan muak itu langsung menyengat setiap sel di dalam tubuhnya. Namun, Juda bisa bersikap tenang. Ia kembali bergeser dan melangkah maju dengan cepat. Sayangnya, Guntur tidak membiarkannya begitu saja. Laki-laki itu menahan Juda dengan menarik pergelangan tangannya. Juda langsung mengempaskan tangan dengan kuat-kuat hingga tautan itu terlepas. Ia melotot garang dan mendesis lirih, “Kurang ajar.” “Akun kamu hilang. Semua sosial media kamu gembok. Saya sampai frustrasi karena kehilangan akses komunikasi sama kamu. Kamu kenapa nggak kasih saya kesempatan, Ju?” Yang ingin Juda katakan kepada laki-laki itu adalah serentetan umpatan karena masih melanjutkan tindakan menjijikkannya. Bagaimana bisa orang ini dengan tidak tahu malunya muncul di hadapan Juda setelah ketahuan melakukan perbuatan kurang ajar—menyelingkuhi istrinya dengan mencari mangsa di dating app? Juda menatap Gntur lurus-lurus. “Maaf, Guntur. Bisa tolong jangan ganggu saya lagi? Jangan cari-cari saya lagi. Kamu dan saya cuma pernah ketemu sekali, itu nggak berarti apa-apa. Seharusnya kamu tahu itu. Bukannya kamu sudah cukup berpengalaman di bidang itu?” “Kamu menciptakan keributan besar setelah melihat saya sama Grita. Jadi, saya boleh menganggap kalau itu berarti apa-apa. Kamu melakukan itu hanya untuk membuat saya cemburu.” Guntur menyiratkan kejadian di acara reuni yang sampai hari ini masih cukup ramai dibicarakan, setidaknya di kalangan orang-orang terdekat Juda. “Sinting,” cetus Juda geram. “Saya nggak bermaksud membohongi kamu soal status saya, Juda. Saya...” Juda mengangkat tangan. “Nggak usah dilanjutkan. Kamu adalah seorang pria dewasa yang seharusnya mengerti kalau apa yang kamu lakukan itu nggak membuat kamu keren. Kamu justru membuat saya jijik. Jadi, tolong, menyingkir dari hadapan saya sebelum saya memanggil petugas keamanan dan membuat kamu diseret paksa ke luar restoran ini karena mengganggu kenyamanan,” tukas Juda dengan sengit. Ia berhasil membuat Guntur pias. Saat sudah yakin ia tidak akan dihadang lagi, Juda bergegas untuk melangkah kembali. Namun, nasib baik sepertinya sedang tidak menyertainya hari ini. Seseorang yang lain mendadak muncul dan membuat segalanya menjadi semakin tak terkendali. Kejadian terlalu cepat. Sedetik yang lalu Juda sudah akan beranjak pergi, di detik selanjutnya seseorang menyentak pergelangan tangannya, membuat tubuh Juda berputar 180 derajat, lalu pipinya dihantam oleh sebuah tangan. Panas menjalar di pipi kirinya karena tamparan keras itu. “Dasar perempuan murahan! Berani-beraninya lo godain suami gue!” sergah Grita dengan suara melengking. Mengundang perhatian dari setiap mata yang ada di sana. Juda mengepalkan tangan. Menahan gejolak kemarahan yang timbul karena dituduh dengan kata-kata yang sama sekali tidak benar. “Gue nggak godain suami lo,” geram Juda tertahan. Grita tampak tak peduli. Dalam keremangan cahaya di restoran itu, terlihat jelas api kemarahan berkobar di kedua matanya yang bulat. “Jadi, ternyata elo yang selama ini diam-diam jadi selingkuhan suami gue? Lo yang bikin suami gue meleng? Dasar sampah masyarakat nggak berguna!” “Suami lo yang suruh ngaca!” “Lo benar-benar menjijikkan, Juda,” sergah Grita lagi. Juda melirik Guntur yang hanya berdiri kaku di antara mereka. Benar-benar pengecut. Juda semakin muak dengan semua hal yang mengantarkan dirinya di posisi ini. Grita tersenyum sinis. Kemudian kembali melontarkan tuduhan menyakitkan. “Lo emang nggak pernah berubah, Ju. Sekali pelakor akan selamanya jadi pelakor.” “Apa maksud lo?” “Nggak usah pura-pura lupa sama kelakuan najis lo. Lo kan dulu pernah jadi selingkuhannya Edgar,” cetus Grita dengan sinis. Meski tuduhan itu terdengar sangat lucu bagi Juda, wanita itu tetap meradang. “Ngomong sekali lagi gue gampar lo.” “Juju, stop! Banyak orang ngeliatin. Kita pergi dari sini aja. Ayo!” Entah sejak kapan, Danis sudah berdiri di dekatnya. Berusaha menenangkan Juda dengan mengelus lengan wanita itu dengan satu tangan, dan tangan lainnya menggenggam tangan Juda. Juda menyentak tangannya hingga lepas dari genggaman tangan Danis. “Kamu aja yang pergi dari sini. Ini bukan urusan kamu.” Kemudian ia kembali berhadapan dengan Grita yang berdiri dengan d**a membusung, menunjukkan ekspresi congkak dan jijik, seolah-olah sudah memenangkan argumen. Juda mengeraskan rahang. Ia membalas tatapan Grita dengan bengis. “Lo mau ngomongin soal ini rupanya. Tapi, kayaknya lo yang harusnya gali ingatan dangkal lo. Siapa yang pernah berusaha nikung Edgar waktu masih pacaran sama Sonia? Lo, Grit. Bukan gue!” Wajah Grita memucat. Namun, Juda masih belum selesai. “Lo gagal bikin mereka putus. Dan lo ngerasa jadi pecundang karena Edgar si pengecut sialan itu ternyata suka sama gue dan akhirnya jadian sama gue nggak lama setelah putus dari Sonia. Terus karena lo nggak terima, lo koar-koar sampe ke SMA sebelah, bikin Sonia cemburu karena dia masih belum move on dari Edgar, dan ngedorong dia buat ngelabrak gue.” Juda mendecih. “Jangan lo pikir karena gue diem aja waktu itu, artinya gue ngakuin kalau gue selingkuhan Edgar. Sorry, tapi gue nggak serendah itu. Gue diem karena gue masih punya hati buat nggak mempermalukan lo dan menodai citra lo sebagai cewek paling dipuja dan disegani di sekolah kita. Tapi kalau lo masih mau tutup mata dan nganggap gue rendahan, silakan aja. Gue nggak peduli. Tapi kayaknya lo harus mulai introspeksi dan ngaca. Siapa yang paling rendahan di sini.” “Juda, cukup! Kamu keterlaluan.” Juda tersentak karena seruan Danis yang langsung membungkam mulutnya. Juda melihat ke sekelilingnya. Terlihat beberapa orang dengan segera menurunkan tangan yang memegang ponsel untuk mengabadikan percekcokan antara dua wanita dewasa ‘gila’ di tengah-tengah resto yang malam itu cukup ramai. Dengan menahan kemarahan yang sudah tumpah ruah, Juda beranjak ke mejanya dan meraih tas yang tergeletak di kursi, lalu melenggang pergi begitu saja membawa kekecewaan terhadap Danis yang meluap-luap. Meninggalkan Grita yang masih terpaku di tempatnya berdiri bersama suaminya yang tidak berkutik sejak Juda mulai meledak. Sementara itu, sebelum menyusul Juda, Danis membungkuk dalam sambil mengucapkan permintaan maaf kepada para pengunjung restoran karena menciptakan ketidaknyamanan, kemudian beralih menatap Grita. “Sorry, Grit,” kata Danis singkat. Tanpa menunggu jawaban, Danis beranjak menuju kasir untuk membayar makan malamnya dengan Juda yang sama sekali belum tersentuh. Danis juga menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada pihak restoran sebelum menyusul Juda yang mondar-mandir tak sabar di depan restoran, sepertinya tengah menunggu taksi. “Kamu nggak seharusnya ngomong begitu, Ju,” ujar Danis dengan nada yang terdengar menghakimi. Juda semakin emosi. “Leave me alone, asshole!” Danis membelakak karena disebut b******n oleh Juda. “Ju, please.” “Aku nggak butuh mendengar pembelaan kamu buat Grita. Akan lebih baik kalau seandainya kamu diam aja, nggak usah ikut campur urusanku.” “Gimana aku bisa diam aja? Kamu sama Grita ribut di depan banyak orang, Ju. Yang masalah kemarin aja masih jadi bahan obrolan orang-orang. Kamu emangnya mau muka kamu muncul lagi di mana-mana dan dicap jadi perebut suami orang?” Juda memberikan tatapan penuh kekecewaan dan luka yang mendominasi. “Aku nggak pernah selingkuh! Bisa-bisanya kamu nuduh aku begitu.” “Orang-orang nggak peduli kamu selingkuh atau enggak, Ju. Orang-orang cuma senang menjadikan hidup orang lain sebagai tontonan dan bahan gunjingan.” “Oh, terus kamu mau aku diam aja dituduh jadi pelakor?! Kalau aku diam, itu sama aja dengan mengakui kalau aku memang serendah itu. Dan kamu aku menerima itu gitu aja? Sialan!” Juda memekik marah. Matanya berkilat merah. Api seakan menberangus segala hal yang ia tatap. Api itu begitu besar dan terlihat sulit untuk dipadamkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN