Meski sudah berpisah sejak beberapa jam yang lalu, Danis masih merasa bersalah karena menanyakan sesuatu yang terlalu dini untuk ia tanyakan kepada Juda. Bisa dibilang malah terdengar seperti pertanyaan yang tidak sopan. Mereka baru saja bertemu kembali setelah bertahun-tahun, meski sudah resmi kembali bersama, sama sekali tidak menempatkan mereka berdua di posisi yang cukup ideal untuk bisa saling bicara tentang siap atau tidak siap menikah.
Danis juga semakin disadarkan bahwa mengikat Juda menjadi kekasihnya, sementara berkas perceraiannya dengan Renata saja baru dimasukkan oleh pengacaranya ke pengadilan agama tadi pagi, adalah sesuatu yang sangat salah. Ia membohongi Juda. Membohongi Renata. Dan terutama ia membohongi dirinya sendiri. Tidak akan ada akhir yang baik untuk sesuatu hal yang dimulai dari sebuah kebohongan dan kenekatan. Hal itulah yang membuat pernikahannya dengan Renata berantakan. Bukan tidak mungkin jika hubungannya dengan Juda juga akan gagal suatu hari nanti, untuk yang kedua kalinya.
Namun, meski sudah menyadari akan hal itu, Danis tidak bisa melepaskan Juda begitu saja, atau berkata dengan jujur tentang situasinya. Danis tidak siap dengan konsekuensi yang akan ia terima.
“Kalau makin lo tunda-tunda, bakal makin lebih buruk ending-nya,” begitu kata Martin beberapa waktu lalu, yang sudah mulai bosan memperingatkan dirinya tentang apa yang seharusnya Danis lakukan sejak awal, sebelum memutuskan untuk kembali bersama Juda.
Laki-laki itu tahu betul. Konsekuensinya akan lebih parah jika ia tetap merahasiakan statusnya sebagai suami orang—calon mantan suami. Hanya saja, bagaimana cara memberitahu Juda agar wanita itu mengerti posisinya?
Oh, tentu saja Juda tidak akan mengerti. Tidak akan ada orang yang mengerti. Karena tindakannya sudah jelas salah. Berpacaran dengan orang lain saat masih berhubungan dengan istri atau kekasih adalah sesuatu yang sangat tidak bisa ditoleransi. Terlebih lagi ditambah dengan berbohong. Kesalahannya tidak hanya satu, tapi dua. Dan Danis bisa menerka kemarahan dan kekecewaan Juda jika digandakan.
Danis tidak ingin melihat gurat kekecewaan itu lagi di wajah Juda. Cukup satu kali saja, saat Juda memutuskan dirinya secara sepihak dulu. Meski kala itu Danis belum tahu kebenaran yang sesungguhnya akan alasan Juda memutuskan dirinya, Danis masih cukup ingat bahwa Juda menunjukkan perasaannya dengan jelas. Juda kecewa terhadap dirinya. Ingatan itu cukup membekas karena raut kecewa itu sama seperti yang Danis tunjukkan di hadapan Ibu saat tiba-tiba bercerai, juga saat Ibu rujuk dengan ayahnya yang pernah selingkuh. Sungguh, Danis tidak ingin menambah satu lagi kegagalan yang akan mengecewakan Juda dan dirinya sendiri. Tetapi, bagaimana memperbaiki kesalahannya jika ia tidak mau mengaku kepada Juda?
“Sejak kapan lo temenan sama rokok sih?”
Danis dikagetkan dengan kedatangan Martin. Sahabatnya itu nampaknya baru pulang kerja, menilik dari penampilannya yang terlihat berantakan.
Martin mengibas-ngibaskan tangan untuk menghalau asap rokok yang mengepul di sekitar Danis. Lalu ikut duduk di kursi dan menarik satu batang rokok untuk kemudian ia sulut dengan korek yang tergeletak di meja, di samping bungkus rokok yang isinya tinggal dua.
“Gue nemu rokok lo di deket tv tadi,” jawab Danis tidak nyambung.
“Tadi jadi ketemu pengacara?”
Danis mengangguk samar. Tanpa menatap Martin, ia menjawab, “Berkasnya udah gue masukin ke pengadilan agama.”
“Kok cepet? Nggak disaranin mediasi emangnya? Setahu gue kalau pasangan suami-istri mau cerai gitu lewat proses mediasi dulu. Dari sini biasanya ada yang bisa berubah pikiran setelah ngobrol perkara masalah rumah tangga ditemani pihak ketiga yang netral. Ibaratnya buat ngebantu pasangan suami-istri melihat dari sisi yang berbeda. Atau paling enggak bisa meluruskan masalah siapa tahu bisa diselesaikan tanpa berlarut-larut, tapi ada juga yang nggak berhasil sih,” jelas Martin yang mulai sadar bahwa ia terlalu banyak bicara seolah-olah ahli dalam hal perceraian. “Gue pernah beberapa kali nemenin sepupu gue yang waktu itu mau cerai juga,” sambungnya kemudian.
“Gue menolak mediasi. Menurut gue udah cukup. Nggak ada yang perlu gue pertimbangkan lagi. Dan gue juga yakin kalau gue nggak akan berubah pikiran.”
“Renata gimana? Dia nggak balik ke sini?”
Danis mengerling. “Gue nggak tahu. Renata udah terlalu sering cuti. Gue rasa bakal susah buat ambil libur panjang.”
Martin mendesah. “Gue udah nggak ngerti lagi siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi menurut gue lo juga salah. Gue nggak belain Renata atau gimana, tapi lo seenggaknya bisalah kasih kelonggaran buat dia. Lo jangan jadi pihak yang jahat dan bikin Renata nggak bisa apa-apa karena lo gugat cerai. Lo beneran kelihatan kayak nggak pernah punya kenangan baik sama Renata.”
“Lo tahu sama siapa Renata selingkuh? Sama Samuel. Temen yang gue percaya selain lo. Samuel tahu gimana rusaknya hubungan gue sama orang tua gue. Dia tahu kalau gue sama Renata nikah tanpa restu orang tua. Dan yang paling parah lagi, Renata tahu kalau Samuel suka sama dia. Renata manfaatin itu buat bikin gue marah. Dan Samuel juga nggak nyesel waktu akhirnya gue tahu kalau dia nikung gue.” Danis menjadi sangat emosional. Rokok yang biasanya cukup menenangkan dirinya itu tidak berpengaruh. “Lo berharap gue kasih kelonggaran yang kayak apa? Mengulur-ulur waktu buat pisah? Bedanya apa? Nggak ada, Tin. Cepat atau lambat, pada akhirnya gue sama Renata tetap akan pisah. Karena gue sama Renata udah nggak punya apa-apa lagi buat diperjuangkan.”
Martin mengangkat tangan yang sedang bebas, yang tidak memegang rokok. Tampak tak enak hati karena membuat Danis tersinggung. “Oke, sorry. Gue harusnya nggak nyinggung soal keputusan lo buat pisah sama Renata dan apa pun alasan di baliknya, karena itu urusan kalian berdua yang nggak berhak gue campuri. Tapi soal Juju. Gue harus ikut bersuara. Lo nggak bisa perlakukan Juju kayak gini. Walaupun Juju kelihatannya orangnya ngeselin, tapi dia juga nggak pantas lo perlakukan kayak bukan seseorang yang penting buat lo.” Kemudian ia merengut menatap temannya yang keras kepala dan lanjut berkata, “Gue beneran nggak punya muka kalau harus ngadepin Juju sama Ema nanti.”
Kening Danis mengernyit dalam. Merasa ada hal yang aneh dengan kalimat terakhir yang Martin lontarkan. “Emangnya sejak kapan lo sering hang out sama mereka?”
Martin mengendikkan bahu lalu mengisap dalam rokoknya dan mengembuskannya perlahan sebelum menjawab, “Sejak Juju bikin heboh di acara reuni kita dan kalian mutusin buat balikan. Gue yakin sih, kalian bakal sering ngelibatin gue sama Ema. Kayak dulu.”
Danis ingat. Saat masih PDKT dengan Juda dulu, Martin dan Ema selalu menjadi perantara yang pada akhirnya mendorong mereka berdua untuk segera meresmikan hubungan. Martin dan Ema juga yang selalu menjadi mediator saat ia dan Juda berselisih paham tentang sesuatu—hal-hal sepele yang jika diingat-ingat lagi terlalu klise dan kekanakan.
“Sejujurnya, gue masih meraba-raba perasaan gue ke Juju kayak gimana,” gumam Danis pelan, namun cukup jelas terdengar. “Tapi gue yakin kalau gue nggak boleh ngelepasin Juda lagi. Cukup sekali gue ngebiarin Juda memutus ikatan kami berdua dulu. Gue nggak mau itu terjadi lagi.”
“Tapi lo salah langkah,” tukas Martin tajam.
Danis menyulut rokok yang ketiga. Matanya memandang jauh ke luar jendela, yang manampakkan kerlip lampu pemukiman di Jakarta di malam hari.
“Coba lo tilik hidup lo lagi,” sambung Martin. Masih dengan nada tajam dalam suaranya. Jarang-jarang ia menunjukkan keseriusannya seperti ini. “Inget-inget lagi gimana bencinya lo ke bokap waktu akhirnya lo tahu kalau dia selingkuh dari nyokap lo. Bayangin rasa sakit lo karena bokap lo bikin keluarga kalian hancur lebur gara-gara dia nggak setia. Hubungan kayak gini nggak sehat. Harusnya lo yang paling tahu.”
Danis masih membisu. Hanya membiarkan embusan napas dan kepulan asap rokok mengudara di pantri apartemen Martin yang remang-remang.
Setelah menghabiskan satu batang rokok, Martin memundurkan kursi dan berdiri seraya menyampaikan nasihat terakhir yang terbersit di kepalanya. “Gue nggak suka sampai harus begini ke lo, Danis, tapi gue berharap kalau lo nggak akan jadi kayak bokap lo.”
Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Danis yang masih terus bungkam, Martin beranjak pergi ke kamar, meninggalkan Danis yang terpaku di tempatnya duduk.
Danis benar-benar tertampar oleh ucapan tajam Martin yang tepat menghantam dadanya. Danis mendadak begitu benci kepada dirinya sendiri sesaat setelah disadarkan oleh Martin betapa mirip dirinya dengan sosok ayahnya yang ia anggap seorang b******n karena berperan besar dalam menghancurkan keluarga mereka yang dulunya penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan.