BAB 24. Kemelut Hati [1]

1534 Kata
  Pertanyaan Danis awalnya hanya menggema di telinga Juda, lalu perlahan berangsur-angsur masuk memenuhi pikirannya. Juda bisa saja menjawab dengan lantang bahwa dirinya tidak siap. Itu sudah jelas. Dan Juda pun cukup yakin bahwa Danis sesungguhnya tahu akan hal itu. Mereka bicara tentang pernikahan. Sesuatu yang jelas-jelas berhubungan dengan masa depan hidup mereka berdua. Juda tidak perlu ditanya dua kali. Memangnya siapa yang akan langsung siap dan mau menikahi orang asing dengan tiba-tiba? Tidak ada. Kecuali orang itu sudah gila. Ya, meski sudah saling mengenal sejak bertahun-tahun lamanya, tetap saja mereka hanya dua orang asing yang sudah lama tidak berjumpa. Mereka menghabiskan sisa remaja dan melangkah menuju hidup yang lebih dewasa tanpa melibatkan satu sama lain. Hidup mereka, lingkungan mereka, sepenuhnya berbeda. Butuh waktu untuk menyatukan dua orang asing yang memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda, bukan? “Danis, kamu tuh sadar nggak sih? Kita baru ketemu lagi hari Sabtu kemarin, lho. Itu aja bukan pertemuan yang menyenangkan, kan? Kamu mungkin udah menyangka bakal ketemu aku, tapi aku sama sekali enggak ngebayangin bakal ngelihat kamu di acara reuni. Lalu kita ketemu lagi kemarin dan setelah debat panjang lebar, kita mutusin buat balikan, walaupun kalau boleh jujur sekarang aku belum benar-benar yakin dengan perasaan kita untuk satu sama lain itu kayak apa. Aku bahkan masih bertanya-tanya dari semalam, kenapa kita balikan? Kenapa nggak mikirin solusi lain dan malah nambah satu perkara? Dan sekarang kamu nanya aku siap atau enggak? Menurut kamu, apa aku kelihatan siap dengan semua ini?” Danis tampak cukup terkesiap dengan jawaban Juda yang cukup panjang. Setelah beberapa saat terdiam, ia menegakkan punggung dan menatap Juda lurus-lurus lalu melipat kedua lengan tangannya yang berkelindan di depan dadanya. “Maaf, aku nggak bermaksud menyinggung kamu. Kalau gitu aku ubah pertanyaannya. Kalau seandainya mami kamu tanya soal keseriusan kita menjalani hubungan kita ini, kamu mau aku jawab apa? Karena aku sendiri nggak tahu gimana pandangan kamu soal kita.” Juda sudah menduga kalau pertanyaan ini akan keluar juga. Namun, tidak ia sangka akan secepat itu terlontar hanya berselang satu hari setelah ia dan Danis kembali bersama. “Aku nggak pernah berniat main-main waktu berhubungan sama seseorang, tapi aku juga nggak mau tergesa-gesa mengambil keputusan. Kayak yang kamu bilang, kita harus adaptasi dulu. Setelah itu aku baru bisa memutuskan mau lanjut ke arah yang lebih serius atau kembali jalan sendiri-sendiri.” “Jujur aja, Ju. Aku berharap kita nggak akan sampai di pilihan kedua.” “Terlalu cepat buat memutuskan,” kata Juda yang kemudian mengempaskan punggung ke sandaran kursi. Tepat saat pramusaji mengantarkan pesanan mereka ke meja. Danis manggut-manggut. Di matanya, laki-laki itu tampak gusar. Namun, ia memilih untuk menunda sejenak obrolan mereka yang terlalu berat untuk dibicarakan di siang bolong yang terik. “Kita makan dulu aja, ya.” Juda mengangguk seraya menyeruput air putih dingin yang ia pesan. Kemudian meraih sendok dan garpu, menyekanya menggunakan tisu sebelum digunakan. Selama menyantap makan siang, dalam kurun waktu sekitar dua puluh menit mereka berdua sambil bicara tentang topik yang ringan seputar dunia kuliner. Sejak dulu, keduanya suka makan dan kalau ada waktu di sela-sela kesibukan menjelang ujian, mereka mengeksplor satu tempat makan ke tempat makan lainnya. Ada satu tempat yang menjadi favorit mereka berdua. Lokasinya berada di daerah Kota Tua. Di sebuah kedai yang menyediakan menu nasi bakar yang sangat nikmat. Baik Danis maupun Juda, sudah tidak pernah ke sana lagi sejak putus. Entah tempatnya masih buka atau tidak hingga hari ini. “Jadi, gimana?” tanya Juda setelah menghabiskan makan siangnya. Piring-piring yang masih berada di atas meja tidak menyisakan makanan sedikit pun, hanya terlihat bekas minyak dan saus di sana. Selain itu, untuk minumannya hanya menyisakan embun di dinding gelas dan balok-balok es di dalam gelas yang mulai mencair. “Menurutku kita hadapi aja. Kita berdua sama-sama nggak main-main di sini kan?” Juda mengangguk meski belum sepenuhnya yakin. Berhadapan dengan Mami bukanlah hal yang mudah. Membuat Mami senang dan puas juga bukan perkara yang bisa dilakukan siapa saja. “Ironis banget,” gumam Juda. “Apanya?” “Selama ini, setiap aku deket sama seseorang, entah mereka yang kabur duluan karena aku yang terlalu galak dan judes atau seringnya aku yang ilfeel duluan sama mereka. Boro-boro ketemu Mami, baru mau ngobrolin masa depan aja udah gagal duluan. Dan sekarang... kita yang baru ketemu lagi dua hari yang lalu, udah dipaksa ketemu Mami aja.” “Kamu bilang, kamu sering dijodohin?” “Kalau soal itu, sebagian besar pilihan Mami nggak cocok. Yang menurut Mami baik buat aku, tapi kalau akunya nggak suka kan sama aja. Sebenernya sih, ada satu yang sempet bikin aku cukup tertarik. Tapi ujung-ujungnya kalau misal aku mau nikah sama dia, aku disuruh berhenti kerja. Katanya cuma perlu di rumah, jadi istri yang nurut dan ngurus anak-anak dan biar suami yang kerja aja.” Juda menerawang jauh sambil mengingat-ingat sosok Hamish, laki-laki terakhir yang dijodohkan Mami, yang juga mendesaknya agar mau ikut ke Kanada. “Cuma katanya. Dikira gue pabrik anak apa. Gampang banget kalau ngomong. Udah gitu, waktu aku nolak dia, dianya maksa, dan malah pamerin duit dia yang segambreng. Kan kampret! Emangnya gue barang yang bisa dibeli pake duit? Hah, bikin makin illfeel aja,” gerutu Juda yang tampak kesal. Danis mengulas senyum. Ia ingin bilang bahwa dirinya tidak begitu, tetapi pada akhirnya ia memilih untuk bungkam. Tidak ingin menambah-nambahi beban pikiran Juda.   ***   “Kemaren aja lo sok-sokan nggak ngebales chat gue. Sekarang lo udah mulai sadar kalau lo masih butuh gue?” cibir Ema saat melihat Juda berdiri lesu di depan pintu apartemennya. Juda masih mengenakan pakaian kerjanya. Riasan tipis di wajahnya sudah luntur. Menampilkan muka kuyu yang membuatnya tampak sangat menyedihkan. “Lo baca deh,” ujar Juda mengabaikan cibiran Ema seraya mengulurkan ponselnya. Kemudian ia masuk ke dalam apartemen Ema bahkan sebelum ditawari untuk masuk. “Kirain lo nyuruh gue baca chat dewasa lo sama Danis,” gumam Ema sambil mengekor di belakang Juda setelah menutup pintu. Matanya terfokus pada layar ponsel Juda yang menyala terang. “Chat dewasa pala lo!” “Gila sih, ternyata tampangnya nggak berbanding lurus sama kelakuan. Ganteng, tapi suka jajan.” Ema bergidik dan menunjukkan raut jijik. “Mana masih ngejar-ngejar lo walaupun udah ketahuan punya bini. Red flag banget.” Juda menjatuhkan tubuh di atas sofa dan berbaring telungkup di atasnya. “Enaknya diapain tuh orang?” Ema duduk di single sofa. Ia menatap Juda dan layar ponsel di genggamannya secara bergantian. Dan langsung tercetus satu solusi. Ia meminta Juda untuk menghapus akunnya secara permanen dan juga mengunci semua akun sosmed-nya agar tidak terlacak oleh Guntur yang mulai menunjukkan sikap obsesif yang membuat Juda ilfeel. Untungnya, Juda juga tidak berteman dengan Grita di social media mana pun, sehingga Guntur juga tidak akan bisa mencarinya. “Emang bener kata orang-orang. Cowok ganteng nggak mungkin nggak laku. Sebangsat apa pun kelakuannya, pasti masih aja ada yang mau.” “Salah gue juga sih, kenapa nggak nanya-nanya alasan dia main Tinder. Orang se-humble Guntur pasti kenalannya banyak. Nggak mungkin nggak ada yang nyaut. Bisa-bisanya gue ketipu,” erang Juda. “Lo sendiri yang bilang kalau orang nggak akan pernah sadar dia ketipu kalau belum jadi korban dari orang yang bersangkutan. Kampret emang. Gara-gara gue emosi sama si Guntur, gue jadi hilang akal dan malah ngelampiasin ke orang lain. Terus sekarang gue nggak cuma balikan sama Danis, tapi nyokap gue maksa buat bawa tuh anak ketemu orang tua gue. Mana si Danis nggak mau repot-repot nolak.” Ema menjentikkan jari dan berkata dengan heboh, “Menurut gue, Danis masih ada rasa sama lo.” “Ngaco.” “Coba lo pikir-pikir, deh. Kalau misal yang lo cium si Edgar, gue yakin dia nggak akan ngelindungin lo. Dia cuma bakal ngebiarin lo nanggung malu sendirian, kayak dulu waktu lo dilabrak sama mantannya. Sementara Danis, dia langsung ngajak lo pergi dan nenangin lo biar nggak semakin jadi bahan tontonan. Cocok buat lo yang hobi bikin masalah.” “Kenapa bawa-bawa si Edgar sih? Dia bukannya nggak dateng ke reuni?” gerutu Juda. “Lagian, lo terlalu melebih-lebihkan soal Danis.” Ema mengernyit. Meletakkan ponsel Juda di atas meja untuk memberikan atensi penuh kepada sahabatnya. “Ada yang bikin lo nggak yakin sama Danis?” Juda mendesah panjang. “Gue rasa Danis sekarang agak tertutup. Kayak ada sesuatu yang dia sembunyiin dari gue gitu, bikin gue ngerasa nggak tenang.” Ema pun mendengkus. Sempat mengira bahwa ada hal yang lebih serius dari itu. “Wajar kali, Ju. Lo nggak mungkin tiba-tiba cerita semua hal yang lo alami selama bertahun-tahun kalian nggak ketemu, kan? Makanya si Danis nawarin buat adaptasi dulu, saling kenal pelan-pelan ke satu sama lain. Itu buat mastiin kalau kalian berdua udah sama-sama saling percaya buat cerita hal-hal yang lebih privat.” “Tapi kalau ternyata emang ada yang dia sembunyiin dari gue gimana?” “Ya lo korek aja sampe dia cerita.” “Kalau Danis masih nggak mau kasih tahu?” “Kalau kalian beneran serius balikan, gue yakin sih Danis bakal mulai membuka diri lagi.” Kemudian Ema berdecak. “Kenapa lo jadi nggak sabaran gini deh?” Lagi-lagi, Juda mendesah. “Gue juga nggak tahu Em. Gue cuma nggak mau kejadian kayak Guntur keulang lagi. Trauma gue.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN