TUJUH, NAUGHTY BOYFRIEND

931 Kata
Happy Reading . . "Simpan hatimu untuk orang yang memperdulikan mu." . . Raefal merasa tidak enak hati pada Alecia, setelah apa yang di katakannya tadi. Akhirnya Raefal bangkit dari duduknya dan berlari untuk mengejar Alecia yang sudah menghilang di tikungan kantin. "Gue kejar Alecia dulu ya." pamit Raefal pada Aksa lalu menepuk pundak Aksa pelan. Sedangkan Alecia tengah berjalan dengan cepat menuju kelasnya, tidak memperdulikan sekelilingnya yang membicarakannya dan juga memperhatikannya dengan kebingungan. "Abis di gandeng Raefal, eh malah baliknya sendiri. Kasian bener. Hahahaa." "Ditinggalin lah sama Raefal, mana mau sama anak baru yang sok kecakepan!" Kurang lebih begitulah ejekan para siswi-siswi yang melihat Alecia pergi meninggalkan kantin dengan penuh amarah. Alecia terus berjalan dan tidak memperdulikan mereka yang mulutnya sudah berkoar kemana-mana. Hingga ada sesuatu yang membuatnya terjatuh di lantai. "Aww..." rintih Alecia yang sudah duduk di lantai. Sedangkan di hadapannya sudah ada Cindy CS, yang tengah menatapnya dengan penuh kebencian. "Bangun lo!" teriak Cindy pada Alecia yang tak kunjung bangun dari lantai. Hingga tubuh Alecia di bangunkan oleh dua kacungnya Cindy. "Oh, jadi ini murid baru, yang udah deketin honey gue! Berani banget lo bangunin macan yang lagi tidur!" ucap Cindy dengan menahan rahang Alecia untuk menghadapnya. Sedangkan Alecia sudah meronta ingin dilepaskan, karena dua tangannya masih di pegang dengan erat oleh Bella, dan Aurel. "Gue gak pernah ganggu honey lo itu! Dan sekarang suruh dua kacung lo lepasin gue!" ucap Alecia membela diri, sedangkan cengkeraman tangan Cindy semakin erat di rahangnya. "Ngomong apa lo! Terus yang tadi pagi tangannya gandengan sama Raefal siapa?! Sama yang makan sepiring berdua itu siapa?! Arwah lo?! Iya?! Atau kembaran lo?!" nada bicara Cindy pun semakin meninggi. Alecia setengah takut menangani kakak kelasnya yang sudah kelewatan batas ini. Akibat teriakan Cindy semua yang berada di kelas pun keluar untuk melihat siapa yang sudah berteriak pagi-pagi. "Tapi Raefal yang terus deketin gue! Bukan gue!" Alecia berusaha terus membela dirinya sendiri, karena tidak ada yang membelanya. Sedangkan siswa dan siswi yang berada di situ hanya menyaksikan saja. Cindy menaikkan tangannya ke atas, seolah-olah ingin menampar Alecia. Saat Cindy ingin melayangkan tamparannya di pipi kiri Alecia, ternyata tangannya di tahan oleh seseorang. Sedangkan Alecia sudah menunduk ketakutan. Alecia kembali mendongakkan wajahnya saat tamparan Cindy tidak mendarat di pipinya sama sekali. Dan, ternyata Raefal tengah berdiri di sampingnya dan memegangi tangan kanan Cindy, supaya gagal menamparnya. Ternyata Raefal yang sudah menolongnya. "Jangan pernah lo nyakitin atau nyentuh Alecia sedikit pun!" peringat Raefal pada Cindy dengan penuh penekanan. "K--kok kamu gitu sih? Kita kan lagi dekat." ucap Cindy dengan memasang wajah sedihnya. Raefal tersenyum miring, dan mata tajamnya masih menatap Cindy dengan penuh amarah. "Gue, ngga pernah dekat sama cewek yang ngga punya hati kayak lo! Gue bilangin ya, jadi cewek jangan murahan!" ucap Raefal dengan tajam. Cindy sudah bercucuran keringat saat mendengar perkataan terakhir Raefal, yang membuatnya sakit hati. Tetapi Cindy tidak marah sama sekali dengan Raefal yang sudah mengatainya, melainkan benci dengan Alecia yang mencoba merebut Raefal darinya. "Gue benci sama lo! Dan gue gak akan tinggal diam! Inget itu!" ucap Cindy dengan menunjuk wajah Alecia dengan penekanan. Setelah itu pergi bersama dua kacungnya, Bella dan Aurel. Sedangkan Alecia masih terus melihat punggung Cindy yang sudah sedikit menjauh. Alecia  menghembuskan nafasnya lega, tetapi Alecia juga takut, bagaimana jika kakak kelasnya itu mengincarnya?. Alecia membungkukkan badannya, dengan tumpuan kedua tangannya memegang lututnya. Alecia masih berusaha menghilangkan rasa takutnya yang saat ini menyerangnya, tangan Alecia saat ini bergetar tanpa sebab, dan nafasnya sedikit sesak karena takut. Raefal yang melihat Alecia seperti itu, langsung mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Alecia supaya bisa lebih tenang. "Lo tenang aja, selama ada gue lo gak akan kenapa-napa." ucap Raefal sambil tersenyum kearah Alecia. Alecia mengibaskan tangan Raefal kasar, lalu Alecia berdiri dengan tegap menghadap Raefal. Menatap mata Raefal dengan tajam, emosinya saat ini sudah semakin meningkat. "Apa lo bilang? Gue harus tenang aja gitu? Iya? Gue harus tenang aja, saat ada kakak kelas ngelabrak gue dengan  seenaknya, tanpa gue tau alasannya?!" teriak Alecia, ia sudah tidak peduli dengan perkataan dan pandangan siswi lainnya. Semua murid tengah asik menonton drama di depannya ini. Raefal sadar kalau saat ini dirinya dan Alecia sedang menjadi pusat perhatian hampir semua murid. Raefal pun merasa risih karena sudah menjadi pusat perhatian. Dengan cepat Raefal menarik tangan Alecia untuk dibawah pergi ke suatu tempat. Tempat kesayangan Raefal. Ternyata Alecia pun dengan cepat melepaskan genggaman tangan Raefal. "Oh iya, dan lo bilang ke gue tadi, kalo ada lo semuanya akan baik-baik aja, iya kan? Mana yang baik-baik aja? Hah? Malah, di setiap ada lo gue ngerasa gak baik! Gue pindah ke sini, bukan untuk cari musuh! Gue kesini untuk cari temen, tapi apa? Lo gagalin semuanya!" ucap Alecia. Sedangkan Raefal menggelengkan kepalanya, ia tidak bermaksud seperti itu, entah kenapa Raefal juga merasakan sikapnya yang sedikit berubah kepada Alecia, ia sedikit possesiv. Raefal menatap wajah Alecia seperti memberi isyarat "gue lakuin itu karena gue suka sama lo! Gue pengen jagain lo!" Tetapi mana mungkin Alecia menyadarinya. Raefal masih dengan tatapannya, sampai akhirnya Raefal melihat ada air yang mengalir di pipi Alecia. Alecia menangis. Ingin sekali Raefal mengusap air mata Alecia yang jatuh ke bawah. Tetapi Raefal ragu, apa iya Alecia mengizinkannya untuk menghapus air matanya?. Tidak perlu pikir panjang, Raefal pun mulai menghapus air mata Alecia. Sedangkan Alecia lagi-lagi mengibaskan tangan Raefal dengan kasar. "Jangan ganggu gue lagi!" ucap Alecia penuh dengan penekanan. Lalu Alecia berjalan meninggalkan Raefal yang masih berdiri dan menatap kepergiannya. Raefal hanya menghembuskan nafasnya berat, lalu pergi menuju tempat yang biasa di tujunya saat merasa mempunyai beban. °°°°° Jangan lupa Vote dan Komentar ☺
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN