ENAM, NAUGHTY BOYFRIEND

1146 Kata
Happy Reading . . "Yang salah dari jatuh cinta adalah, ketika kamu berekspetasi terlalu tinggi. Karena itu yang membuat kita jatuh dan sakit." . . Alecia berjalan menyusuri koridor sekolahnya, karena ini masih terlalu pagi menurutnya. Ia berjalan dengan sempoyongan karena nyawanya yang belum terkumpul. "Mama sih bangunin Ara ke pagian." umpat Alecia kesal. Alecia merupakan anak ke-2 di keluarga Camron. Alecia mempunyai nama panggilannya sendiri dirumah, yaitu Ara yang diambil dari Adara. Alecia juga mempunyai satu kakak laki-laki yang sangat sayang padanya, yaitu Alvaro Arkasenio Camron. Saat Alecia ingin menaiki tangga, tiba-tiba ada yang memegang tangannya erat. Mata Alecia yang tadinya layu sekarang membuka lebar. "Ngapain lo!" ucap Alecia dengan berusah melepaskan tangannya dari genggaman Raefal. Raefal masih memegang tangan Alecia erat dengan senyuman di wajahnya, sedangkan Alecia meronta untuk melepaskan tangannya. "Gak baik naik tangga kalo masih ngantuk baby." "Nama gue Alecia! Awas aja panggil gue baby lagi!" ancam Alecia yang risih di panggil baby oleh Raefal, dengan menaikkan tangan kirinya ke atas seolah-olah ingin menampar Raefal. "Kalo lo galak sama gue, gue cium lagi nih." ancam Raefal balik dengan memajukan bibirnya mendekati bibir Alecia. Dengan cepat Alecia mendorong wajah Raefal kebelakang. "Enak banget lo asal cium-cium bibir anak orang! Gue laporin ke Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan baru tau rasa lo!" ancam Alecia pada Raefal. Memang saat ini mereka sedang mengancam satu sama lain. "Laporin aja, asal gue terus bisa cium bibir lo yang sexy itu." jawab Raefal pelan yang tepat di telinga kanan Alecia. Dengan cepat tangan Alecia terulur untuk mencubit pinggang Raefal, hingga Raefal mengadu kesakitan. "Astaghfirullah, lo cantik-cantik mirip macan, GANAS!" ucap Raefal dengan menekankan kata GANAS, lalu menggelengkan kepalanya. "Bodo!" jawab Alecia lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raefal, tetapi langsung ditarik kembali oleh Raefal. "Apaan sih, lepasin tangan gue, curut!" teriak Alecia dengan berusaha keras untuk melepaskan tangannya dari genggaman Raefal, tetapi nihil. Tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga Raefal. "Lo cewek apa cowok sih? Kuat bener, capek gue." tanya Raefal memastikan, karena tenaga Alecia begitu besar bahkan saat dirinya masih mengantuk. Alecia menatap Raefal dengan perasaan yang dicampur aduk menjadi satu, antara marah, gregetan, dll. Alecia berkacak pinggang dengan satu tangannya. "Eh curut saudi arabia! Lo bisa liat kan kalo rambut gue panjang, dan gue pake rok!" "Terus? Eh baby, sekarang aja banyak cowok yang pake rok sama rambutnya panjang loh." jawab Raefal tidak mau kalah. "Ya itu banci curut! Terus lo samain gue sama banci itu? Beda jauh lah, masih cantikan gue." jawab Alecia dengan PDnya. "Emang" Raefal hanya menjawabnya dengan satu kata, tetapi Alecia dibuat malu olehnya. Pipi Alecia seketika merah merona, dan dengan cepat Alecia mengalihkan pandangannya supaya Raefal tidak melihat pipinya yang memerah. "Mau lo apa sih?" tanya Alecia yang mulai penasaran dengan tujuan Raefal yang dari tadi menggandeng tangannya. Raefal diam dan tengah berpikir sejenak, tetapi ada suara yang tidak layak di dengar menurut Raefal. "Ke kantin dulu yuk, kasian cacing yang ada di perut lo." Alecia hanya memamerkan dereta gigi putihnya sambil memegangi perutnya yang mulai terasa panas. Raefal yang sudah tau jawabannya pun langsung menarik tangan Alecia menuju kantin. Selama berjalan menuju kantin tangan kanan Alecia masih di genggam dengan erat oleh Raefal. Beberapa pasang mata melihat mereka berdua dengan tatapan iri, kesal, marah, tidak terima, dll. Tetapi di hiraukan oleh Raefal, dan tidak dengan Alecia. "Eh, lepasin tangan gue dong." ucap Alecia dengan mencoba menarik tangannya supaya bisa terlepas dari genggaman Raefal. Raefal malah semakin mengeratkan genggamannya. Tidak memperdulikan Alecia yang sedang meronta untuk dilepaskan. Sesampainya di kantin Raefal dan Alecia duduk di kursi yang masih kosong. Kantin tidak begitu sepi, karena banyak juga siswa maupun siswi yang belum sempat sarapan dirumahnya, dan memutuskan untuk sarapan di sekolah. "Lo mau makan apa?" tanya Raefal lembut dengan menatap mata Alecia dalam. "Nasi goreng." "Oke, tunggu bentar ya." Raefal melangkahkan kakinya untuk pergi memesan nasi goreng untuk Alecia. Sedangkan Alecia masih duduk ditempatnya dan menunggu pesanannya datang. Alecia memainkan ponselnya karena merasa bosan menunggu, sampai akhirnya ponselnya berbunyi, dan ada chat masuk dari salah satu aplikasi chatting di ponsel Alecia, ternyata dari Aileen. Aileen Hanindyah: Lo dimana? Alecia Camron: Gue dikantin. Aileen Hanindyah: Sama siapa?          Tumben banget. Alecia Camron: Sahabat pacar lo! Curut saudi Arabia. Aileen Hanindyah: Awas jangan keseringan ngatain, kalo suka baru tau rasa lo! Hahaa. Alecia Camron: Gak mungkin  gue suka sama orang yang modelnya kayak gitu, ewh! Aileen Hanindyah: Serah lo, gue nyusul ya sama Aksa. Alecia Camron: Oke. Setelah asik membalas chat dari Aileen tiba-tiba Raefal datang dengan membawa sepiring nasi goreng yang tadi di pesannya. "Kok cuma satu? Lo gak makan?" tanya Alecia bingung, karena Raefal hanya membawa satu piring saja. "Gue gak biasa kalo sarapan, malah bikin perut gue sakit." "Aneh lo, gue aja kalo gak sarapan malah sakit perut, hahaa." ucap Alecia dengan tawa kecilnya. Raefal memperhatikan Alecia yang sedang makan dengan sangat lahap. Membuatnya ingin sekali mencubit pipi Alecia saat sedang mengunyah. Alecia yang sedang makan pun merasa kalau Raefal dari tadi memperhatikannya. "Eh, lo mau makan juga gak?" tanya Alecia dengan mengambil satu sendok bersih lagi. "Enggak, lo aja." "Kata mama gue, gak baik kalo pagi-pagi belum sarapan." "Tapi buktinya lo tadi belum sarapan." ucap Raefal yang membuat Alecia menghentikan aktivitas mengunyah makanannya. Alecia hanya membalas dengan cengirannya. "Soalnya mama gue tadi ada rapat dadakan, jadi gue belum sempet sarapan." Raefal hanya mengangguk percaya dan kembali fokus melihat wajah Alecia dengan sangat dekat. "Tapi beneran, lo coba deh nasi gorengnya. Enak kok." ucap Alecia dengan menyerahkan sendok bersih ke Raefal. "Gue gak bias--" "Gue gak nerima penolakan!" Dengan berat hati Raefal memakan nasi goreng yang berada di piring Alecia. Sebenarnya Raefal sangat senang momen ini, karena Raefal bisa menggandeng tangan Alecia, dan bisa makan sepiring berdua dengan Alecia. "Ekhem, yang lagi makan sepiring berdua. Anget bener." ejek Aksa yang baru saja datang, membuat Raefal dan Alecia terkejut. "Apaan sih lo, gue batalin traktir bakso pak samin baru tau rasa lo." ancam Raefal, tetapi di hiraukan oleh Aksa. "Gue bocorin lah." ancam Aksa balik. "Apanya?" tanya Aileen penasaran. Sedangkan Raefal sudah memberi isyarat kepada Aksa supaya tidak bilang kepada Aileen. "Enggak kok Ai, cuma bercanda." elak Aksa yang membuat Raefal menghembuskan nafasnya lega. "Lagian, lo tumben bener sarapan? Dapet hidayah dari mana lo?" tanya Aksa penasaran yang melihat kebiasaan baru Raefal. Dengan cepat Raefal menunjuk Alecia yang duduk di depannya. "Gue dipaksa, sama dia." "Salah lo sendiri, gak sarapan! Kalo gue gak sarapan aja uang jajan gue gak akan di kasih" ucap Alecia membela diri. "Ya, itu kan derita lo" jawab Raefal sedikit ragu-ragu. Alecia bangkit dari duduknya, lalu menatap Raefal dengan penuh amarah, entah sejak Alecia mengenal Raefal ia selalu marah-marah. Beda dengan Alecia sebelumnya, yang jarang sekali marah. "Lo itu di bilangin, gak tau terima kasih ya!" Alecia pergi meninggalkan Raefal yang masih duduk di tempatnya, dan Aksa maupun Aileen yang masih berdiri. °°°° Jangan lupa Vote dan Komentar☺
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN