LIMA BELAS, NAUGHTY BOYFRIEND

730 Kata
"Terkadang, orang yang terlihat kuat justru menyimpan ribuan air mata," °°°° "Raefal, kenapa kamu baru pulang?" tanya seorang lelaki paruh baya yang sedang berdiri diatas tangga. "Habis nganterin temen," ucap Raefal dengan nada yang dingin dan berjalan melalui laki-laki itu begitu saja. "Mana sopan santun kamu! Orang tua pulang langsung jalan seenaknya, tanpa salaman atau ucap salam," teriak lelaki itu dengan suara yang keras sampai menghentikan langkah kaki Raefal. "Assalamualaikum pa, selamat sore!" ucap Raefal tanpa berbalik sedikit pun. "Diajarin apa aja kamu selama disekolah? Ucap salam aja nggak sopan!" teriak lelaki itu dengan suara yang keras. Membuat Raefal semakin geram dibuatnya. Raefal berbalik dan menghadap kearah lelaki itu. Menatapnya dengan tatapan benci. "Papa nggak usah nyalahin orang! Raefal kayak gini karena papa! Papa mana ada waktu buat ajarin aku tentang SOPAN SANTUN?!" ucap Raefal yang penuh dengan penekanan. "Papa sibuk karena cari uang buat kamu, tapi sekarang apa? Sia-sia papa kerja keras buat bahagiain kamu!" ucap lelaki itu yang diketahui adalah papa dari Raefal. Lelaki itu bernama Naresh Early. Lelaki paruh baya yang saat ini sedang bertengkar dengan anak satu-satunya. "Pa, kalo Raefal bisa minta ya. Mending Raefal hidup susah pa, tapi masih bisa kumpul sama keluarga! Daripada kaya tapi nggak bisa kumpul sama sekali! Apa papa pikir Raefal udah bahagia dengan fasilitas yang papa kasih? Mobil sport, motor sport, uang jajan seminggu 1 juta. Raefal malah sedih pa! Karena ngga bisa ngerasain kasih sayang orang tua, kayak Aksa!" ucap Raefal dengan suara yang begitu marah diawal, tetapi terdengar bergetar diakhir. Raefal menangis, Naresh pun hanya diam melihat anaknya menangis. Naresh bingung, harus maju untuk menghapus air mata anaknya atau tidak. Hatinya mengatakan untuk maju dan menghapus air mata anaknya, tapi egonya mengatakan untuk tetap diam tidak melakukan apapun. Naresh pum hanya bisa diam sambil melihat anaknya yang sedang menangis. Egonya terlalu tinggi untuk dikalahkan. "Setiap kali Raefal main kerumahnya Aksa, yang Raefal lihat keluarganya damai pa! Tiap kali Aksa pulang selalu disambut tante Dania, tiap kali Aksa kesusahan belajar selalu dibantuin om Aksen. Beda jauh sama Raefal!" teriak Raefal dengan suara yang masih bergetar. Raefal pergi meninggalkan Naresh yang masih berdiri tanpa berucap sekata patah pun. °°°° 'Alecia pov' "Gue tadi liat, dia cium dua jari terus di tempelin di dahi lo," "Sama aja dia cium lo secara ga langsung," Ah, kenapa aku terus memikirkan ucapan kak Varo sore tadi. Apa yang harus di permasalahin coba? Tempelin jari ke dahi doang. "Argh! Dasar curut sialan! Kenapa sekarang dia bikin gue jadi kayak orang ogeb gini sih." ---------- 'Author Pov' Saat ini Alecia sedang duduk dikursi meja belajarnya. Niatan awalnya adalah mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak Adi, tetap tiba-tiba saja Alecia memikirkan sesuatu, yaitu ucapan kakaknya, Alvaro. Drrttt..... Ponsel Alecia pun berdering, yang berhasil membuyarkan pikiran-pikiran tidak jelas Alecia. Alecia melihat ponselnya, ternyata ada telephone masuk. Saat Alecia mengetahui siapa yang menelphone pun, seketika bibir Alecia tertarik untuk membentuk senyuman. Walau samar. "Hallo?" Terdengar suara dari sebrang. Suara orang yang seharian ini ada di pikiran Alecia. Raefal. "Ha?" "Singkat banget jawabnya," "Serah gue lah," "Oke, sekarang gue lega." Ucapan Raefal barusan berhasil membuat Alecia bertanya-tanya. Dan kenapa suara Raefal terdengar sangat menyedihkan. "Maksudnya?" "Ha?" "Kenapa lo lega?" "Oh, lega aja denger suara lo. Hehee" "Alay lo!" "Biarin," "Oh iya, bye the way. Lo abis nangis?" "Ha? Kata siapa?" "Gue cuma nanya aja sih, soalnya suara lo kedengeran serak," "Lo khawatir?" "Gue cuma nanya CURUT!" "Hahahaa. Tenggorokan gue serak aja gara-gara minum kopi tadi," "Ada-ada aja lo," Alasan yang diberikan Raefal pada Alecia tentang suaranya yang serak, masih saja membuat Alecia gelisah. Alecia berpikir bahwa Raefal saat ini mempunyai masalah. "Kenapa lo telphone gue? Ganggu tau, gue lagi kerjain tugas pak Adi nih," "Hahahaa, sorry deh. Lagian gue tiba-tiba ke inget sama lo, waktu gue dengerin lagu 'bukti'" "Lagunya Virgoun kan?" "Iyelah, masa lagunya Selena Gemez," "Emang lo bisa nyanyi?" "Bisa lah, main semua alat musik aja gue bisa. Gitar, drum, piano, biola, tapi asal jangan rebana. Kalo itu gue ga bisa. Hehee" "Ketawa mulu lo," "Itu tandanya gue bahagia sama lo," "Ah, serah! Tapi..," "Tapi kenapa? Mau gue nyanyiin?" "Gak lah, udah gue mau ngerjain tugas pak Adi nih," "Ya udah, jangan begadang ya. Love you." Alecia segera menutup telphonenya. "Ah. Sial! Dasar Raefal curut, bisa-bisanya dia bikin gue seharian ini mikirin dia. Mana pake bilang love you segala, dasar mulut lemes!" ---------- Di tunggu Vote dan Komentarnya:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN