DUA, NAUGHTY BOYFRIEND

843 Kata
                                                                                        Happy Reading                                                                                                        .                                                                                                        .                                                         "Sikap adalah cerminan isi hati." Alecia Adara Camron.                                                                                                        .                                                                                                        . Terlihat seorang laki-laki dengan penampilan yang sangat berantakan sedang berjalan menyusur koridor sekolah. Terlihat dari name tagnya, ternyata bernama Raefal Cetta Early. Badan tinggi nan proporsional menjadi nilai plus untuknya. Tapi tidak dengan penampilannya yang sangat berantakan. Rambut gondrong, baju di keluarkan, tidak memakai atribute sekolah lengkap, serta warna sepatu yang melanggar aturan sekolah. Namun, dengan demikian tidak mengurangi ketenarannya di seantero sekolah. Dengan penampilannya yang sedikit berantakan itu, yang membuat Raefal menjadi lebih cool dimata para siswi disekolah. Di sepanjang perjalannya menuju tempat yang biasa ia gunakan untuk melampiaskan keluh kesahnya, seluruh tatapan para siswi tidak ada hentinya memperhatikan, wajah hingga lekuk tubuh milik Raefal. "Raefal." sapa salah satu siswi dengan kagum. "Kak Raefal." "Ganteng-ganteng cuek." Raefal terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, sambil memasang earphone di telinga kanan dan kirinya, mengacuhkan beberapa siswi yang memanggil namanya. Karena suasana ini sudah menjadi makanan pagi untuk Raefal. "Raefal!" teriak gadis yang tingginya kurang lebih sepundak Raefal dengan rambut terurai. Gadis itu terus berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Raefal. Namun, Raefal sama sekali tidak menggubrisnya. Yang Raefal lakukan hanya berjalan ke tempat yang saat ini ingin ditujunya. "Raefal, gue ngomong sama lo!" teriak Cindy sambil berlari sedikit jauh dari Raefal dan berdiri di hadapan Raefal untuk menghentikan langkah kaki Raefal. Raefal mendengus kesal dan menghentikan langkah kakinya. Sedangkan Cindy tersenyum manis karena aksinya berhasil. "Ganggu lo!" "Gue mau ngomong sebentar sama lo," ucap Cindy dengan menatap wajah Raefal kagum. Raefal memutar bola matanya malas. Menurutnya ini sama sekali tidak penting, dan telah menghabiskan waktunya. "Cuma 5 detik." Cindy tersenyum lega karena bisa mendapatkan waktu Raefal untuk bicara dengannya sebentar. "Oke." Raefal menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskan nya secara kasar, dan menaikkan jarinya sesuai hitungan. "1," "2," "3," "4," "5," "Udah kan?" ucap Raefal sambil menatap mata Cindy sebentar, lalu pergi dari hadapan Cindy untuk menuju tempat yang dari tadi ingin ditujunya. Cindy diam membeku karena sempat bertatapan dengan Raefal walaupun hanya 2 detik. "Tap--tapi gue belum ngomong Fal!" teriak Cindy yang masih berdiri di tempatnya.                                                                                             °°°° 'Raefal Pov' Saat ini aku sedang membaringkan tubuh ku di atas rooftop sekolah. Menikmati udara segar pagi hari, sambil perlahan-lahan ku tutup mata ku. Melupakan semua masalah yang selalu ku hadapi. SENDIRI! Semilir angin pagi yang sejuk membuatku nyaman dan sedikit melupakan semua masalah hidupku. Disaat seperti ini, seringkali aku merindukan sosok Mama yang selalu ada untuk merangkul ku. Aku juga sering berandai, jika ada perempuan seperti Mama, aku akan merasa bahagia. Ada yang membelaku. Memberikanku semangat untuk melanjutkan hidup. Terik matahari mulai terasa panas, perlahan aku membuka kedua mataku sembari melihat jam yang sudah bertengger ditangan kiri ku. 07:10 "Masih pagi." Saat aku ingin kembali menutup mata, tiba-tiba terdengar suara kaki melangkah menuju ke arah ku. "Siapa yang berani dateng ke tempat gue!" batin ku "Fal," panggil salah seorang siswa yang berjalan menuju tempat ku berbaring. "Ha?" Aku sudah tahu dari suaranya, ternyata Aksa Aldiano, Sahabat ku. Aksa berjalan mendekati ku dan duduk di samping ku, sedangkan aku masih berbaring dan kembali  menutup mata ku. "Gue denger kalo sekarang ada murid baru kelas 11 loh." ucap Aksa yang terdengar sangat antusias. "Dasar, udah punya cewek juga!" batinku. "Katanya sih cantik Fal. Melebihi cantiknya Ariana Grande, melebihi imutnya Selena Gomez, dan melebihi sexynya Kendal Jenner." "Dasar, alay lo! Lagian, gue paling anti yang namanya nge-gebet cewek satu sekolah Sa." jawab ku dengan malas. Saat ini aku hanya ingin terbebas dari semua masalah. "Karena lo takut ketahuan kan? Kalo lo deket sama cewek itu cuma mainin perasaannya doang, dan lo deket sama cewek itu cuma lo jadiin tempat pelarian." ceplos Aksa yang membuat ku membuka mata. Aku bangun dan duduk tepat disamping Aksa, sekilas ku lihat wajah Aksa dari samping. "Gue begitu karena lagi menyeleksi aja. Apa ada cewek yang tulus sayang ke gue." Jawabku membela. "Lo berubah dong Fal. Lo gak takut sama yang namanya karma? Seleksi kata lo? Seleksi lo itu keterusan b**o. Dan inget Fal, di setiap masalah pasti ada solusinya." ucap Aksa dengan suara yang lebih serius. "Udah. Gue gak mau bahas semua masalah itu sekarang." ucap ku dengan malas. Entah, aku sudah tidak suka kalau membahas masalah perempuan saat ini. Ucapan Aksa semalam membuat ku berpikir, untuk kembali ke sikap awal ku. Yang selalu menjunjung tinggi kehormatan wanita. "Why?" tanya Aksa dengan menatapku dari samping. "Gue udah gak mau berurusan sama cewek Sa. Bikin ribet! Masalah gue juga udah numpuk." ucapku dengan menatap lurus kedepan. "Kenapa lo jadi berubah? Bukannya lo sekarang suka ganti-ganti cewek Fal?" "Bener ucapan lo kemarin malem. Seorang Raefal Cetta Early harus menjunjung tinggi kehormatan wanita." ucap ku dengan sedikit terkekeh. Aksa menepuk pundakku pelan. "Gitu dong. Kalo itu, baru Raefal sahabatnya Aksa" ucap Aksa dengan tersenyum kearahku. "Tapi Sa, gue belum bisa lepas dari semua cewek yang udah gue deketin sewaktu di tempat clubbing." ucapku dengan raut wajah sedih. Aksa yang melihat hanya tertawa renyah. "Tenang, bukan Aksa Aldiano kalo gak bisa cari jalan keluar!"                                                                                                     °°°°                                                                         Jangan lupa Vote dan Komentar☺
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN