Arseno memejamkan matanya merasa kepalanya makin berdenyut nyeri. Keringatnya pun bercucuran pada pelipis. Kini ia berada di rumah sakit, duduk di ruang tunggu dengan Metta yang barusan pamit untuk membeli minum. "Ck," decak Arseno merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya. Ingin rebahan saja tapi banyak orang di sana, jadi ia berusaha menahan diri. "Kepalanya masih pusing?" Suara lembut sang istri membuat Arseno bernapas lega. Sesaat membuka mata lalu kembali memejamkannya erat. Rasanya ia akan pingsan kalau membuka mata kini. Ia perlahan merasa nyaman saat Metta mengusap kepala dan mendekat. Memeluk tubuhnya dengan tangan yang masih berusaha mengusap-ngusap kepala belakang Arseno. Kedua tangannya bergerak ke atas, memeluk tubuh Metta yang masih berdiri. "Ah, aku mau pulang aja." Gum

