Sena menghela napas panjang, memandangi rumah yang sepi itu makin terasa sepi saat tidak ada sosok kakaknya. Beberapa jam yang lalu ia dan beberapa sahabat sang kakak pergi mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Ia juga melihat ada beberapa temannya yang menemani termasuk Bintang. Gadis yang hanya memakai hoodie abu-abunya itu masih belum paham dengan sikap Arseno yang sama sekali tidak pergi ke makam sang istri. Benar-benar memutuskan untuk tidak pergi dan hanya mengurung diri di kamar. Bahkan, beberapa teman dekat sampai kembarannya yang berusaha masuk ke kamarnya sama sekali tidak ditanggapi. Kamarnya dikunci rapat, tidak mau bertemu siapa pun. Sena sekilas memejamkan matanya, ia tersentak kecil baru sadar akan sesuatu. Sedari tadi ia belum melihat keberadaan ponaannya.

