Sena menggigit bibirnya kasar, menatap Bintang di depannya yang mengalihkan pandangan sedari tadi. Enggan melihat ke arahnya. Keduanya masih berdiri di depan teras, setelah memutuskan untuk berbicara berdua dan meninggalkan Arseno dan Metta di ruang tamu yang kebingungan karena perdebatan mereka. "Sekarang gak mau lihat gue? Udah bikin gue malu depan di depan Kak Arsen sama kakak gue sendiri. Elo malah diam begini tanpa jelasin kenapa sampai bersikap keterlaluan kayak tadi?" Cerocos Sena belum berhenti. Bintang berulang kali menghela napas kasar, berusaha tidak terpancing. "Elo sampai kapan diam terus kayak gini. Lo kalau dari lama gak ada niatan tulua buat nikahin gue ngapain sok-sokan begitu?" Sambung Sena pedas membuat Bintang menggerakan kepala menatapnya tepat. "Na, lo pernah mikir

