Prolog
"Jika aku tidak ada, apa kau akan baik-baik saja, Sara? Apa kau tidak akan mencariku?" tanya Ruu lirih pada gadis berambut pirang di depannya.
"Apa maksudmu?" Sara balas bertanya dengan mata menyipit. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Udara dingin yang berembus terasa menusuk kulitnya, menembus sweater rajut usang yang dia kenakan.
"Aku akan pergi, Sara," kata Ruu dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap mata cokelat Sara. Gadis yang tinggal tepat di seberang rumahnya, sahabatnya sejak kecil.
Bukan, bukan tidak berani. Ruu hanya tidak ingin menatapnya, ia takut hatinya akan goyah jika mata mereka bertemu pandang.
"Kau tidak akan melakukannya!" Sara menggeram. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.
Ruu terlihat aneh beberapa hari ini. Jadi, ini alasannya, pemuda itu akan meninggalkannya? Pergi ke tempat yang jauh?
Ruu tersenyum kecut. Ia sudah dapat menduga Sara akan berkata seperti itu. Ditatapnya gadis mungil itu dengan pandangan bertanya.
"Sebab, aku pasti akan membencimu bila kau pergi. Selamanya akan membencimu!" desis Sara dengan suara yang mulai serak. Dia dapat membaca dengan jelas tatapan Ruu yang bertanya.
Mereka sangat dekat, saling mengenal satu sama lain dengan baik. Dia bahkan tahu jam tidur Ruu setiap malam, juga kebiasaan lainnya.
Ruu mengangkat kepala, perlahan menatap Sara.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi!" Sara menggeleng, dia mulai terisak. "Jangan tinggalkan aku!" pintanya dengan wajah dipenuhi air mata.
Ruu menghapus bulir-bulir bening yang menuruni pipi gadis itu dengan lembut. "Tidak akan," sahutnya lirih sambil mengusap pipi mulus itu dengan ibu jarinya. "Kau adalah pengantinku, Sara. Aku tidak akan meninggalkanmu!"
Sara memeluk Ruu erat. "Makanya jangan pergi," bisiknya. "Ruu?"
"Ya?" Ruu menundukkan kepala, menatap Sara dengan tatapan tak terbaca.
"Kau tidak akan pergi, 'kan?" tanya Sara menengadah menatap Ruu.
Kepingan salju yang jatuh di atas kepala Ruu terlihat sangat kontras. Hitam dan putih, seperti dua sisi kehidupan yang berlawanan.
Pemuda berambut gelap dengan mata birunya yang menawan itu tersenyum.
Senyum terakhir Ruu yang dilihat Sara karena setelah itu Ruu tidak ada lagi. Pemuda itu benar-benar pergi meninggalkannya tanpa alasan, tanpa pamit, tanpa dia tahu kapan. Tiba-tiba Ruu sudah tidak ada saja.
Ruu yang biasa menjemputnya setiap pagi untuk ke sekolah bersama, tak kunjung datang. Bahkan, setelah satu jam Sara menunggu, pintu rumah Ruu yang dapat terlihat dari rumahnya tidak juga terbuka.
Saat itulah Sara teringat pembicaraan mereka tadi malam di depan rumah Ruu, tentang pemuda itu yang ingin pergi jauh. Apa mungkin Ruu benar-benar pergi?
Akan tetapi, bukankah Ruu sudah berjanji untuk tidak akan pergi? Jika benar di rumah di seberang sana tidak ada siapa-siapa lagi, berarti Ruu mengingkari janjinya.
Panik dan khawatir menjadi satu, Sara berlari ke seberang rumah, menggedor pintu berwarna hitam yang terbuat dari kayu ek dengan membabi buta. Sayangnya, pintu itu tidak pernah terbuka, bahkan setelah hari-hari berikutnya.
Semuanya tak lagi sama. Hari-hari Sara terasa lebih berat sejak saat itu, sampai dia bertemu si kembar Marissa dan Martin Smith.
Tidak ada lagi yang berani mengejek, apalagi sampai mem-bully-nya. Teman-teman sekolah mau berteman dengannya lagi. Mereka semua bahkan memujanya sejak dia dan Martin resmi menjadi pasangan.
Martin membuat kehidupan sekolah Sara menjadi sangat indah. Mereka terus bersama sampai lulus, bahkan setelah kuliah.
"Apa kau mau menikah denganku, Sara?"
Sara mengedipkan mata beberapa kali mendengar pertanyaan itu. Astaga, apakah Martin serius? Sebab, dia sangat yakin indra pendengarannya tidak bermasalah. Benarkah Martin melamarnya?
"Aku tahu, aku belum bekerja. Akan tetapi, Papa berjanji akan memberikan salah satu perusahaannya untuk kukelola setelah aku lulus kuliah nanti." Martin mengeluarkan kotak berwarna merah dari dalam saku jaketnya. "Dan, itu beberapa bulan lagi. Jadi, Sara Jones, apa kau mau menikah denganku?" tanyanya sekali lagi.
Sara menutup mulutnya yang terbuka menggunakan kedua tangan. Sungguh, Martin sangat tidak romantis sekali, melamarnya saat mereka terjebak macet di dalam mobil seperti sekarang ini.
"Jawab aku, Sara!" pinta Martin memelas. Ia mengusap rambut pirangnya untuk mengurangi kegugupan.
"Kau ingin aku bagaimana?" Sara balas bertanya, suaranya serak karena haru yang memenuhi dadanya. Tak hanya haru, tetapi juga bahagia. "Aku sangat gugup sampai-sampai untuk mengangguk saja rasanya tidak bisa."
Bulir-bulir air mata Sara jatuh sudah. Terisak, dia memeluk Martin tanpa mampu mengusap air matanya. Akhirnya, dia akan memiliki keluarga lagi setelah beberapa tahun tinggal seorang diri.
Beberapa tahun setelah kepergian Ruu, Sara juga kehilangan pamannya. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya meninggal karena sakit dan usia tua. Sara tinggal sendiri di apartemen kecilnya. Dia menafkahi kuliah dan hidupnya dengan bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji yang berlokasi di dekat kampus.
"Jadi, kau setuju menikah denganku?" tanya Martin takut-takut, memastikan indra pendengarannya masih berfungsi dengan selayaknya.
Sara hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia tak bisa berkata-kata lagi, masih menganggap semuanya mimpi.
Sampai di hari pernikahannya, Sara masih menganggap dirinya sedang bermimpi. Air matanya berjatuhan saat dia dan Martin mengucapakan sumpah pernikahan mereka di depan altar.
Setiap pengantin perempuan selalu gugup pada malam pertama mereka, begitu juga dengan Sara. Untuk mengurangi kegugupannya, Sara nekat meminum beberapa gelas anggur merah yang disajikan keluarga Martin di pesta pernikahannya.
Alkohol bukan teman yang baik bagi perempuan yang belum pernah menyentuhnya seumur hidup seperti Sara. Kepalanya berdenyut, pandangan berkunang-kunang. Dia mabuk, tetapi belum cukup mabuk untuk pingsan.
Sara masih bisa mencapai kamar pengantinnya seorang diri. Tertatih menuju kamar mandi dan memuntahkan makan malamnya yang belum dicerna seutuhnya. Potongan-potongan daging steak masih terlihat beserta sayuran pelengkapnya.
Sara memijit pelipis. Melangkah terhuyung ke arah tempat tidur yang bertabur kelopak bunga mawar merah. Sara tersenyum, tak menyangka jika Martin ternyata seromantis ini.
"Kau tidak apa-apa, Sara?"
Sara mengernyit mendengar pertanyaan itu. Dia menggeleng kuat satu kali, berusaha mengingat suara yang sangat tidak asing. Itu seperti bukan suara Martin, tetapi dia yakin sangat mengenal suara itu.
Sara menyipitkan mata, berusaha mengenali Martin yang tampak sangat tampan di matanya malam ini. Mata birunya sangat indah, seperti mata seseorang yang dulu sangat dikaguminya.
Sekali lagi Sara menggeleng. Dia benci alkohol yang membuatnya berhalusinasi tentang pemuda yang dulu meninggalkannya. Sara memejamkan mata sedetik, di detik berikut dia membuka mata, lampu di kamarnya sudah redup.
"Martin, kenapa lampunya dimatikan?" tanya Sara. Jujur saja, dia senang Martin mematikan lampu utama, dia terlalu malu jika mereka melakukannya dengan kamar yang masih terang benderang. Ini adalah yang pertama untuknya.
"Kau tidak suka?"
Suara itu terdengar sangat dekat. Sara menahan napas sedetik menyadari Martin sudah berdiri di depannya. Pandangannya yang buram semakin bertambah buruk setelah lampu utama kamar dipadamkan.
"A—aku tidak masalah dengan itu," jawab Sara terbata.
Ah, sial! Dia kehilangan kewarasannya karena posisi mereka yang intim baginya. Martin memeluknya erat, d**a mereka saling berimpitan. Hanya kain dari gaun pengantinnya dan tuxedo Martin yang menjadi pembatas.
Seharusnya dia tidak apa-apa. Ini bukan pertama kali Martin memeluknya. Untuk pelukan, mereka sudah sangat sering melakukannya. Begitu juga dengan ciuman, dia menyukai ciuman Martin yang manis.
Namun, kali ini Sara gugup. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat, napasnya memberat. Memikirkan mereka sudah sah sebagai suami istri menimbulkan pikiran lain yang liar.
Oh, ayolah! Dia bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa mengenai hubungan intim. Meskipun masih perawan di usianya yang sudah memasuki dua puluh satu tahun, setidaknya dia sudah sering mendengar teman-temannya bercerita.
Marissa juga sering menceritakan malam-malam panasnya, kepadanya. Kata Marissa, untuk berbagi pengalaman jika dia menikah dengan saudara kembarnya nanti, agar dia tidak terlalu terlihat seperti perempuan yang tidak berpengalaman pada malam pertama mereka.
Dan, malam pertama itu adalah sekarang. Bayangkan bagaimana gugupnya dirinya karena mengingat semua hal dewasa itu. Bayangan-bayangan liar dan erotis mulai berlarian di kepalanya membuat tubuhnya terasa panas.
"Martin, aku...."
Perkataan Sara terputus karena Martin membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman panas. Sara mengerang, Martin menyesap bibirnya kuat, melumatnya rakus seperti seseorang yang sangat haus. Indra pengecapnya yang panas dan kasar mengobrak-abrik mulutnya, menggoda lidahnya dengan gerakan sensual.
Satu erangan tertahan kembali lolos dari mulut Sara. Indra pengecap Martin menelusuri lehernya, meninggalkan jejak basah dan dingin di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Sara menggigil, beberapa detik kemudian baru disadarinya dia sudah tidak mengenakan apa pun. Mulut Martin terlalu membuai sampai-sampai dia tidak sadar seluruh kain yang melekat di tubuhnya entah berada di mana.
"Martin!"
Sara menjambak rambut Martin yang terasa lembap dan lembut bersentuhan dengan telapak tangannya. Matanya terpejam, kepala mendongak, mulut terbuka merasakan sapuan benda lunak itu di ujung dadanya.
Seluruh tubuhnya bergetar, kemudian terasa luluh lantak beberapa detik kemudian. Sara mendapatkan pelepasan pertamanya.
Pandangan Sara semakin mengabur. Semuanya terlihat seperti bayangan saat dia membuka mata.
Oleh sebab itu, dia kembali memejamkannya, dan memekik tertahan merasakan benda lunak yang sama menyapu bagian bawahnya.
"Martin, astaga!"
Hanya beberapa saat, Sara kembali merasa lemas seakan tak bertenaga ketika ombak pelepasan kembali menerjangnya.
"Martin!"
Sara menjerit, tubuhnya seperti terbelah saat Martin menyatukan mereka. Bagian bawahnya terasa sesak dan penuh, seakan ada yang mengganjal. Tak sadar dia menggerakkan pinggulnya untuk mengurangi rasa kurang nyaman itu.
Sara memekik tertahan, Martin bergerak liar membuat tubuhnya tersentak-sentak. Seandainya Martin tidak memeluknya, Sara yakin kepalanya pasti akan membentur kepala ranjang.
Ombak pelepasan kembali menerjang Sara untuk yang kesekian kali, kali ini lebih dahsyat menggulungnya dari sebelumnya. Dia terempas untuk kemudian kembali digulung ombak yang sama berkali-kali.
Sara membuka mata saat merasakan silau. Samar dilihatnya seseorang yang sangat dirindukannya. Seseorang yang selalu hadir dalam mimpi di setiap tidurnya.
Tangan Sara terangkat untuk menyentuh wajah tampan yang dirindukannya itu. Namun, tak berhasil. Dia terlalu mengantuk sehingga tangannya terjatuh begitu saja.
"Ruu ...."
Sara tertidur pulas setelah menyebut nama itu. Nama pria yang tak pernah dilupakannya.