Suara alarm membuat Ervin membuka matanya. Sinar matahari mulai menerobos jendela membuat matanya silau. Lampu kamar masih menyala terang. Mata Ervin sedikit bengkak akibat menangis semalam. Belum lagi tubuhnya terasa remuk karena tidur di lantai. Perasaan Ervin belum juga membaik. Selama ini rasa bersalah terus menghantui, tidak jarang Ervin menyalahkan dirinya karena kematian sang ayah. Ervin menyesal sampai saat ini. Pintu kamarnya diketuk, terdengar suara Elina yang memintanya sarapan. Ervin hanya diam menatap pintu kamarnya. Ia tidak ingin melihat Elina untuk saat ini. “Mister tolong buka pintunya. Mister belum bangun ya? Padahal aku sudah buat sarapan.” Ervin mengepal erat kedua tangannya. Ia bangkit membuka pintu. Tatapannya bertemu dengan Elina. Gadis itu tersenyum, tapi Ervi

