Senyum Elina perlahan memudar. Ia baru saja bangun tidur, apa mungkin telinganya salah mendengar. Suara Ervin terdengar tegas membuat sekujur tubuh Elina menegang. “Mister,” gumam Elina “Kita harus berpisah, El. Kita tidak bisa bersama.” “Tapi… kenapa? Aku sudah bisa bersih-bersih rumah dan memasak. Meski aku belum bisa nyuci baju tapi aku akan belajar. Aku janji tidak akan menghamburkan uang lagi. Aku akan mulai menabung dan berhemat. Aku janji tidak akan shoping kalau gak diizinin,” ucap Elina dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sesak membuat suaranya tersendat. Hati Ervin teriris mendengar ucapan Elina. Ia tahu banyak hal yang sudah mereka lewati dan itu mengubah hidup keduanya. Elina mulai mandiri dan Ervin mulai bisa membuka diri. Ervin sadar ini adalah keputusan terberat yang pern

