Sebuah Rencana

1654 Kata

“El kamu bisa dengar aku, kan?” “Pasword-nya?” tanya Elina lemah. Ervin merasa senang sekaligus jengkel karena di saat genting seperti ini Elina masih bisa bercanda. “Elina cantik, imut, ngeselin.” Cubitan di perut Ervin membuat pria itu merintih. Elina membuka matanya menatap Ervin tidak suka. “Salah! Ulang lagi.” Ervin tersenyum lebar lalu mendekap Elina lebih erat lagi. Elina membalas pelukan Ervin, menenggelamkan kepalanya di d**a bidang pria itu. Rasa hangat menjalari hati masing-masing dan memenuhi ruang kosong di sudut hati terdalam. *** Ervin dan Elina kompak mengheningkan cipta di depan Tristan, Kaila dan Bagus. Tidak ada yang berani mengangkat kepala sampai ketika Elina menggenggam tangan Ervin untuk memberikan keberanian. Ervin tersenyum menatap Elina, ia pun mengangk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN