Pagi ini semua menjadi lebih baik. Setelah pulang dari kebun binatang Elina pun menjadi jinak. Keputusan Ervin benar-benar tepat. Dan itu membuat telinganya selamat dari ocehan gadis itu. Setelah membuat sarapan, Ervin segera ke kampus. Elina baru mulai kelas di siang hari sementara Ervin di pagi hari. “Elina aku berangkat, ya,” ujar Ervin di depan kamar Elina. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Ervin ingin pergi, tapi perasaannya jadi tidak enak sebelum melihat Elina. Setidaknya ia memastikan Elina baik-baik saja sebelum pergi. Ervin membuka pintu Elina yang ternyata tidak dikunci. Ervin berlari saat melihat Elina meringkuk di atas lantai. Elina meringis kesakitan memegangi perutnya. Pikiran Ervin kacau, apa mungkin Elina sakit perut karena makanan kemarin? “El, kamu kenapa?” Erv

