Langkah Garka dengan cepat berjalan ke satu tujuan. Ia mengabaikan tatapan bingung orang-orang yang berpapasan dengannya. Secara kasar Garka menarik sebuah pintu bertuliskan atap. Satu demi satu langkah Garka pijakan di tangga itu untuk sampai ke atap. Mungkin sedikit angin malam akan membuat amarah Garka hilang. Garka berhenti saat ia menemukan pintu atap. Ia sejenak mengatur nafas. Dengan pelan, Garka membuka pintu itu. Angin malam langsung saja berhembus membelai wajah nya. Garka memejamkan mata menikmati dinginnya angin yang mengenai kulitnya. Kaki jenjang nya kembali menapak. Ia menutup pintu lalu menatap sekeliling. Disana tidak terdapat apa-apa, hanya ada beberapa barang tak terpakai dan tak berguna. Garka berdiri di tengah-tengah atap rumah sakit. Kepalanya menengadah ke ar

