"Gimana, bos? Lancar?" Serkan tersenyum pada Nino lalu menaikkan kedua alisnya. "Yoi." "Kalau abis ini ada bentrok gimana, Kan?" tanya seorang laki-laki yang sedang mengipasi wajahnya dengan sebuah topeng. "Lo takut?" tanya Serkan sinis. "Enggak," jawabnya. Didi terkekeh. "Mending lo obatin dulu muka lo, Kan. Berdarah lagi, tuh." Serkan mengangguk lalu menatap sepuluh orang yang sedang duduk disana. "Kerja bagus!" "Gue denger Aiden kritis. Lo semua siksa dia abis-abisan, ya?" Lanjut Serkan dengan nada geli. Nino terdiam, ia melirik Didi terlebih dahulu sebelum kembali menatap Serkan. "Serkan," panggil Nino ragu. Serkan berdehem. Ia berjalan ke arah tempat persediaan obat luka di markas itu. "Gue gak sengaja nusuk Aiden," ucap Nino pelan. "Gapapa. Bagus kalau gitu, kerja

