Coming Home

1904 Kata
New York City, US Argeswara's Private Airport 04.00 AM Sebuah mobil limousine berwarna hitam glossy bertuliskan Argeswara dibadannya berhenti tepat disebuah bandara mewah milik pribadi yang tentunya tidak bisa dimasuki sembarang orang. Orang-orang bersetelan hitam seragam keluar dari mobil yang berbeda dan bergegas membuka bagasi. Total ada dua mobil Jeep yang mengawal dan masing-masing mobil tersebut berisi tiga orang bodyguard terlatih. Mereka semua secara bersamaan mengambil koper-koper besar milik tiga majikannya dan membawanya secara hati-hati untuk dimasukkan kedalam pesawat. Pergerakan mereka semua sangat tertib dan rapi, seakan sudah terlatih untuk melakukan hal seperti ini. Meskipun terlihat sepele dan menggelikan, para bodyguard asuhan Argeswara digaji dengan sangat besar masing-masing nya. Loyalitas penjaga-penjaga tersebut sudah tidak bisa diragukan lagi. Terlihat di depan mereka ada sebuah pesawat mewah pribadi dengan ukiran cantik bertuliskan ARGESWARA bertengger dibadannya. Pesawat itu terparkir apik dilandasannya dan terlihat gagah. Siapapun yang melihatnya akan langsung terpana dengan design bagian badan pesawat yang luar biasa apik. Terlihat sekali mahal nya. Semua orang pasti akan meringis ngilu mendengar apa saja kelebihan pesawat berukuran cukup besar ini. "Apa ini? Kejutan untuk satu tahun koma ku?" Tiga orang bermantel tebal keluar dari dalam limousine. Masing-masing dari mereka tersenyum sembari menatap pesawat yang terlihat masih baru tersebut. Pesawat dengan badan yang panjang nan luas. Dari luar saja sudah terlihat mewah, apalagi bagian dalamnya. Sangat Argeswara sekali. "Reno yang membelikannya untukmu, Garka. Satu tahun kemarin bandara ini dibuat. Khusus milik keluargamu." Garka merapatkan mantelnya lalu menggeleng pelan sembari terkekeh. "Dasar orang kaya." "Enak sekali menjadi dirimu. Apapun bisa dibeli dengan uang," ucap seorang wanita berambut pirang yang kini tengah memakai sarung tangan. Bibir seksinya bergetar karena kedinginan. Rambut yang terurai itu bergerak tertiup angin, cukup kencang hingga mereka yang berada diluar hampir menggigil kedinginan. Suasana pagi ini terlihat masih gelap. Udaranya cukup dingin, bahkan uap udara keluar dari mulut mereka masing-masing saat bicara. Cuaca di New York memang sedang dalam musim dingin. Tak ayal jika mereka berpergian keluar harus memakai mantel tebal dan pakaian hangat. Ditambah lagi tempat terbuka yang banyak angin dan cahaya matahari masih malu-malu utuk keluar. Hanya orang-orang terlatih seperti para bodyguard itu yang terlihat tidak terusik dengan dingin ini. "Tidak semua dapat dibeli dengan uang, Angel. Kepercayaan seseorang tidak dapat dibeli. Berapapun nilai uang itu, sebuah kepercayaan tidak akan bisa ditaksir dengan harga." Garka menyanggah ucapan Angel dengan kata-kata bijaknya. "Ya-ya, whatever." "Jangan menyamaratakan semua hal dan kau anggap semuanya bisa dibeli dengan uang. Enyahkan pikiran bodoh itu," ucap Garka sambil menatap Angel menantang. "Hey, aku hanya becanda. Kau selalu menganggap semua ucapanku serius. Dasar Tuan sok serius." Angel menjulurkan lidah pada Garka. "Aku serius karena ucapan mu itu menyebalkan dan irasional. Lagipula berdebat dengan mu tidak menghasilkan keuntungan bagiku," ujar Garka sambil berdecih pelan. "Hanya emosi saja yang kudapat." "Garka!! Kau—" "Hey-hey, sudahlah jangan bertengkar seperti anak kecil, ayo lebih baik kita segera masuk ke pesawat. Udara sangat dingin diluar sini," ajak Dylan memotong ucapan Angel yang terlihat sangat marah. Garka mengangguk menyetujui sedangkan Angel menghela nafas pasrah. Mereka semua kini berjalan menuju pesawat dengan diikuti beberapa bodyguard yang bertugas menjaga keberangkatan mereka bertiga. Rencananya sekarang Dylan dan Angel akan ikut Garka ke Indonesia. Selain menjenguk Reno, mereka juga ingin mengunjungi makam Hera dan Gevan. Dylan juga tahu pasti jika Garka ingin ada yang menemani saat pulang ke benua Asia meskipun dia tidak bilang secara langsung. Dylan sebagai orang dewasa yang peka akhirnya memilih ikut bersama Garka. Angel berada disini sekarang karena ikut dengan Dylan. Masalah perusahaan masih ada tangan kanan Dylan yang dapat mengurusnya. Dylan juga tidak mungkin membiarkan Garka berpergian sendiri dengan kondisinya yang rentan. Lagipula kondisi perusahaan sedang stabil dan Dylan sudah menyelesaikan semua berkas-berkas penting sebelum keberangkatan ini. "Selamat datang di Argeswara Airplane. Silakan menempati tempat duduk yang telah dipersiapkan hingga pesawat lepas landas." Saat memasuki pesawat, Garka, Angel, dan Dylan langsung disambut dengan hangat oleh Pramugari, Pilot, dan Co-pilot yang bertugas dalam keberangkatan kali ini. Keadaan didalam pesawat itu benar-benar mewah dan klasik. Udara dingin diluar tadi langsung tergantikan dengan terpaan hangat dari penghangat didalam sini. Design interior nya berdominasikan warna putih dan coklat yang tidak terlalu mencolok. Pesawat pribadi ini juga dilengkapi berbagai fasilitas penting. Dimulai dari kamar tidur, toilet, ruang makan, ruang olahraga, ruang rapat, dan ruangan lainnya yang fantastis dan minimalis. Reno rela merogoh kocek yang tidak sedikit demi membeli pesawat luar biasa ini. Bahkan menurut Dylan, Reno menulis kepemilikkan pesawat ini atas nama Garka. Dia memberikan Garka pesawat ini atas dasar permintaan maaf sekaligus rasa senangnya karena Garka selamat dari kecelakaan. Kenapa Reno memberikan Garka pesawat padahal anaknya itu baru saja selamat dari kecelakaan pesawat? Jawaban Reno sangat simple. Dia ingin anaknya itu menghadapi ketakutannya dan menjadi sosok yang lebih berani. Dia tidak ingin Garka sampai trauma dan takut untuk naik pesawat atau apapun tranportasi udara. Karena sebagai businessman yang pusat perusahaan nya di luar negeri, berpergian menggunakan jalur udara adalah jalan pintas yang cepat dan efisien. "Reno benar-benar tidak pernah main-main dengan semua uangnya." Dylan berdecak kagum. Dia sendiri yang tahu bagaimana ambisi Reno saat muda dulu. Kegilaannya pada bisnis dan bekerja keras membuat dia sukses hingga sekarang. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Bagi mereka yang berjuang mati-matian akan memetik hasilnya juga di akhir. "Mr. Argeswara. Perkenalkan nama saya Jacob, saya adalah Pilot senior yang disewa pribadi khusus untuk pesawat ini. Sebuah kebanggaan bagi saya dapat memandu anda berpergian. Saya siap mengantar anda kemana pun tujuannya." seorang laki-laki dewasa berperawakan gagah lengkap dengan seragam pilot dan almamater pelengkapnya menunduk hormat kepada Garka. Dia adalah orang hebat yang ditunjuk langsung oleh Reno karena melihat pengalaman dan juga rekor terbangnya yang tidak pernah ada kecelakaan selama dalam setirannya. Alasan lain Reno membeli pesawat ini juga karena dia sangat khawatir peristiwa pahit seperti dulu yang dialami Garka terjadi lagi. Reno tidak ingin mengambil resiko besar, meskipun menyewa jasa pilot berpengalaman masih tetap bisa beresiko kecelakaan jika takdir berkata demikian. Tapi setidaknya Reno berhasil mengurangi presentase kemungkinannya. Semua mesin pesawat ini dipastikan lulus uji keamanan dan semuanya dalam keadaan baik. Tidak mungkin Reno memberikan sesuatu untuk anaknya barang rusak dan beresiko. "Perkenalkan nama saya Andrew, dan saya adalah Co-pilot yang disewa khusus untuk pesawat ini. Suatu kebanggaan juga bagi saya dapat menjadi pemandu anda, Mr. Argeswara." Garka mengerjapkan matanya takjub. Baru kali ini ia benar-benar merasa seperti pangeran Inggris. Sebenarnya ia tidak suka jika terlalu dihormati seperti ini. Bagaimanapun juga mereka lebih tua daripada Garka. Tapi, Garka dapat memaklumi karena itu sudah tugas mereka. Garka tidak pernah gila hormat, dia juga sebenernya tidak terlalu suka dengan cara para bodyguard menghormatinya, karena bagi Garka, semua itu terlalu berlebihan. Tapi kembali lagi, menghormati Garka dan Reno termasuk kedalam tugas mereka. "Terimakasih, suatu kebanggaan bagi saya mempunyai Pilot dan Co-pilot handal seperti kalian." Garka menunduk sopan lalu tersenyum tipis. "Mohon kerjasamanya." Setelah itu, Jacob dan Andrew langsung menempatkan diri di tempat mereka seharusnya berada. Tak lama, terdengar pengumuman yang di suarakan oleh seorang Pramugari agar seluruh penumpang untuk segera duduk dikursi karena pesawat akan lepas landas. Para Pramugari membantu ketiga penumpang itu untuk memakai sabuk pengaman. "Perjalanan New York City menuju Indonesia. Menempuh waktu 11 jam dimulai saat lepas landas. Pesawat akan berangkat tepat pada pukul 05.00 AM bersiap untuk lepas landas." Suara khas pilot menggema dipesawat tersebut. Dengan aksen Amerika yang kental, Jacob memberitahu tujuan dan juga beberapa keperluan sebelum lepas landas. Panduan keselamatan utama di peragakan oleh pramugari yang bertugas saat itu. Dylan dan Garka duduk terpisah. Dylan bersama Angel duduk berdampingan sedangkan Garka sendirian. Dylan dapat melihat wajah Garka yang sangat gugup. Lebih terlihat seperti ketakutan. Wajah remaja ini tegang dan tidak rileks. Garka juga beberapa kali meremas jari-jemarinya. Suara mesin pesawat tiba-tiba membuatnya sedikit tidak nyaman. Bagaimanapun juga, peristiwa naas dulu masih terbayang-bayang oleh Garka. Berada di pesawat lagi benar-benar sebuah cobaan berat. "Hey, Boy. everything's gonna be okay." Garka melirik Dylan lalu menghembuskan nafas berat. Badannya tiba-tiba panas dingin saat pesawat mulai bergerak perlahan. Sebenarnya Garka bohong jika ia bilang tidak takut lagi naik pesawat saat ditanya Dylan kemarin. Nyatanya, sekarang Garka langsung teringat akan peristiwa satu tahun lalu yang merenggut nyawa Ergon dan hampir merenggut nyawanya juga. "Here we go," bisik Dylan sambil menatap Garka. Pesawat mulai lepas landas. Guncangan sedikit terasa saat roda itu bergesekan dengan landasan, hal itu sukses membuat Garka mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dan wajahnya pun berubah sedikit pias. Beberapa menit berlalu hingga pesawat stabil berada diketinggian yang seharusnya. Akhirnya pesawat telah mengudara. Pilot memberitahukan jika mereka sudah boleh melepaskan sabuk pengaman. Beberapa menit itu terasa seperti satu jam bagi Garka. Dia seperti menahan nafasnya saat pesawat sedang naik. "Istirahatlah, Garka. Perjalanan kita cukup panjang," ucap Dylan. "Kau juga, masih ada cukup tempat disini." Garka melirik Angel yang sedang menatapnya. "Jangan mengacau," ucapnya dengan nada becanda. Angel mendengus. "Aku sedari tadi diam tidak menganggu atau meledekmu karena aku tidak tega melihat wajah pucat mu itu, Garka. Tapi kau sekarang malah mengejekku dengan mudahnya." Garka terkekeh. "Istirahat, Angel. Jangan terus-terusan meminum alkohol." "Sekarang kau mencoba untuk menjilatku dengan kalimat baik mu itu." Angel tersenyum miring. "Terserah. Setiap ucapanku akan selalu terus salah dimatamu." Angel tertawa. Dylan menegur anaknya itu untuk tidak menjahili Garka terus. Garka menggelengkan kepalanya lalu melepaskan sabuk pengamannya. Ia berjalan menuju kamar karena rasanya sangat lelah dan ia ingin cepat-cepat beristirahat. Disana ada dua kamar yang tersedia. Garka memasuki salah satu kamar disana. Ia menatap sekeliling lalu berdecak beberapa kali. Selera Papanya benar-benar tak bisa diremehkan. Semuanya harus mewah dan sempurna. Kadang Garka meringis jika membayangkan biaya yang dikeluarkan untuk membeli semua ini. Tapi tak apa, semuanya sepadan. Garka juga senang dengan kemewahan ini. Garka kini berjalan menuju ke arah kaca besar disana. Ia membuka mantel yang sedari tadi masih melekat di badannya dan melemparkannya ke atas sofa kecil di sudut ruangan. Suhu di pesawat ini hangat dan nyaman. Cocok untuk orang yang tidak suka kedinginan. Garka menatap pantulan dirinya sendiri dicermin. Keyra benar, dirinya mirip sekali dengan Reno versi remaja. Mau seberapa keras Garka menepis kenyataan itu, tetapi memang kenyataan itulah yang terjadi. Garis wajah nya perpaduan antara Hera dan Reno. Perpaduan yang sempurna, seakan tidak ada celah. Akhir-akhir ini Garka lebih suka tidur tanpa memakai baju. Karena menurut Dokter Emma, luka-luka ditubuhnya akan cepat kering jika tidak terus menerus tertutup. Untuk itu, sebelum tidur Garka membuka kemeja putih yang melekat dibadan atletisnya. Saat kancing kemeja dibuka, terpampanglah d**a bidang dan perut kotak-kotak milik Garka. Di dadanya terdapat bekas luka jahitan yang melintang cukup panjang. Diperutnya pun banyak terdapat bekas luka dan luka yang masih basah. Tak lupa, punggung Garka juga banyak terdapat luka jahitan. Luka itu ia dapat sebelumnya saat sedang bentrok antar geng dan ditambah saat kecelakaan pesawat. Satu tahun belakangan ini Garka kehilangan cukup banyak berat badan. Karena itu, Dylan dan Dokter Emma memaksa Garka agar banyak makan dan juga menyuntiknya dengan berbagai nutrisi. Dylan sangat rewel mengenai pola makan Garka sekarang. Semuanya harus bergizi dan bernutrisi. Garka juga mulai olahraga kembali walau dalam fase ringan. Garka menaruh kemejanya di tiang gantungan. Ia tak lupa melepas sepatu beserta kaus kakinya lalu melonggarkan sabuk yang melilit pinggangnya. Setelah itu, Garka merebahkan tubuhnya ke kasur empuk berukuran sedang. Ia mengerang pelan saat merasakan kenyamanan. "I'm coming home!" ucap Garka pelan sembari tertawa senang. Dia tidak sabar untuk segera mendarat di Indonesia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN