“Aku mendengar proyek ini tidak ada kemajuan.” Ungkap Hilda begitu sampai di ruang kerja setelah meeting. “Kalau sampai begini terus bisa-bisa kita dapat masalah, buruknya kalau sampai gagal kita bisa sampai di cut.”
Jenara meringis. “Jangan sampe Hil. Kalo aku di cut darimana aku dapet uang buat lunasin rumah? Buat biaya sehari-hari Gio?”
“Aku gak bilang kamu bakalan di cut Ra. Ini cuma andai.”
“Aku juga cuma berandai-andai.“ Jenara mendesah pelan. “Lagian kenapa sih perusahaan kayaknya optimis banget sama proyek ini? Sampe invest gede-gedean.”
“Ya karena income yang di dapet lebih gede Ra.” Jawab Hilda. “Kalau proyeknya sukses perusahaan kita untung besar.”
Jenara bukan tidak mengerti itu, yang tidak habis pikir menurutnya adalah resikonya pun terlalu besar. Perusahaan terlalu gegabah, terlalu impulsif.
“Eh iya hari ini gak jemput Gio Ra? Apa Gio belum masuk sekolah?”
“Dijemput Kak Gama. Tadi jam makan siang ngabarin katanya Kak Gama senggang dan pengen jemput Gio.”
“Udah akrab lagi Gama sama Gio? Seingetku beberapa hari lalu kamu bilang Gio kayak jaga jarak dari Gama.”
“Belum. Masih sama. Kak Gama kayaknya lagi usaha buat deketin Gio lagi.”
Jenara sadar betul kalau Gio terlihat menjaga jarak dengan Gama. Terlihat dari Gio yang tidak manja lagi pada Gama, tidak ingin digendong, dan sekarang Gio jarang sekali mencari Gama. Padahal dulu Gio paling senang kalau sudah ada Gama, Gio akan memekik girang dan bahkan mengabaikannya hanya karena bermain dengan Gama.
“Kayaknya Gio mulai paham kalo kamu gak siap buat sama Gama.” Hilda tersenyum tipis. “Anak jaman sekarang emang gampang banget peka, mereka gampang ngerti perasaan orang dewasa.”
Jenara hanya mengangguk sebagai tanggapan. Ia setuju. Gio memang mudah sekali memahaminya, Gio sangat pintar memahami keadaan.
“Aku pulang duluan ya? Kamu mau lembur lagi apa gimana?”
Hilda tersenyum lebar. “Kayaknya lembur sih.”
“Yasudah, hati-hati ya pulangnya. Aku pulang dulu. Sampe ketemu besok. Bye.”
“Bye bye. Salam buat Gio ya.”
“Salam doang? Bukan salam tempel?” Jenara tergelak. “Iya iya entar dibilangin, kangen dari tante Hilda yang cantik.”
Menghabiskan tiga puluh menit di perjalanan Jenara akhirnya sampai di rumah. Gio pun menyambut di ambang pintu dengan senyuman yang begitu lebar.
“Mama.”
“Anak Mama. Nunggu lama ya?” Jenara menggendong Gio, menciumi wajah Gio hingga anak itu terkikik geli.
“Mama udah Mama…”
“Wangi banget anak Mama. Udah mandi ya?”
Gio mengangguk. “Udah dong.”
“Eh. Rambut Gio dipotong? Kok kayaknya lebih pendek dari tadi pagi? Dipotong bareng Papi ya?”
Gio menggeleng kecil. “Tadi di sekolah ada perapihan rambut gitu Ma. Rambut semua siswa dipotong, katanya biar kelihatan rapih.”
Oh? Di sekolah elit itu rambut saja dipotong di sekolah ya? Ia baru tahu.
“Iya ya? Kalo rapih begini Gio kan jadinya tambah ganteng. Kelihatan sangat gagah.”
“Seperti Papa tidak Ma?”
Seketika Jenara bungkam. Ia memindai wajah Gio, menatapnya lamat. Jenara akui, 80% wajah Gio memang jiplakan ayah kandungnya. Ditambah dengan potongan rambut yang pendek begini, membuat tingkat kemiripan mereka meningkat dua kali lipat.
Sebelumnya Gio memiliki poni yang menutupi dahi. Sekarang tidak ada poni. Rambut anaknya benar-benar pendek, seperti abdi negara.
“Kenapa Gio tanya begitu?” Jenara tersenyum tipis. “Gio anak Mama dan Papa, tentu saja Gio mirip sama Papa.”
“Gio ingin melihat wajah Papa.”
Jenara berjalan memasuki rumah, menutup pintu kemudian berdiri di depan cermin. Berulang kali Jenara mengatur napas, rasanya masih tak rela jika ia harus menceritakan sosok ayah kandung anaknya itu. Ia tak ingin Gio mengetahui apapun tentang ayah kandungnya, sekecil apapun itu.
Sayang sepertinya rasa penasaran Gio kini mulai tinggi, baru kali ini Gio sering sekali membahas Papa. Bertanya banyak hal. Terutama setelah Gio sakit. Anak itu jadi begitu penasaran pada sosok ayah kandung yang tidak diketahuinya.
“Semakin Gio dewasa nanti, Gio pasti semakin mirip Papa. Kalau Gio mau tahu wajah Papa, Gio hanya perlu bercermin. Wajah Papa mirip sekali dengan wajah Gio.”
“Mirip sekali?”
Jenara mengangguk lagi. “Gio, boleh kita ngobrol sebentar?”
Gio mengangguk, Jenara pun membawa sang putra duduk di sofa, dengan Gio tepat di atas pangkuannya.
“Gio kenapa akhir-akhir ini tanya tentang Papa terus? Gio mau punya Papa atau bagaimana?”
Gio menggeleng. “Gio bukan mau punya Papa, Gio cuma pengen tahu bagaimana wajah Papa. Tadi di sekolah belajar cerita tentang keluarga, semua orang di sekolah banggain Papanya. Gio hanya iri. Gio tidak bisa cerita apapun tentang Papa. Bukan berarti Gio tidak bangga punya Mama, tapi Kai cuma iri orang lain bisa cerita tentang Papanya, tapi Gio bahkan gak tau apa-apa tentang Papa selain Papa sudah meninggal. Terus Kai bilang Papa Gio pasti mirip dengan Gio, soalnya Kai juga sangaaaaat mirip Papanya. Jadi Gio penasaran.”
Lagi, hati Jenara terenyuh, sekaligus merasa bersalah dan sakit. Mengingat ayah kandung Gio, itu berarti ia harus menggali luka lama.
“Gio. Dengar.” Jenara memulai dengan senyuman. “Papa Gio itu orang yang sangat hebat, Papa Gio orang yang sangat pekerja keras, Papa Gio juga sangat baik, sangat perhatian.” Napas Jenara tercekat sesaat.
“Papa Gio itu laki-laki paling tampan di dunia. Banyak yang suka Papa Gio, sampai banyak yang iri pada Mama saat Mama berhubungan sama Papa Gio. Papa Gio sangat keren. Gio tahu tidak? Papa Gio itu bahkan punya pesawat sendiri, punya helikopter sendiri, mobilnya banyak. Rumahnya sangat besar. Karena kerja kerasnya Papa jadi orang yang sangat hebat, sangat membanggakan orangtuanya.“
“Wah… Papa hebat sekali Ma. Sekarang pesawatnya dimana? Helikopternya mana Ma? Terus rumahnya? Kenapa kita di sini?”
Jenara tersenyum tipis. “Karena Papa sudah meninggal, makanya sekarang kita tinggal di sini dan hanya kita berdua saja yang ada di sini.”
“Oh begitu?”
Jenara mengangguk. “Sekarang Gio sudah mulai kenal sama Papa?”
Gio menatapnya. “Gio boleh lihat fotonya Ma? Mama pasti punyakan foto Papa?”
“Seperti yang Mama bilang, semuanya hilang. Waktu itu Mama dijanbret dan tidak ada sisa sama sekali tentang Papa kamu.”
Gio menghela napas panjang. Kecewa. “Begitu ya.”
“Tapi kan Mama sudah bilang, kalau Gio mau lihat Papa Gio cukup bercermin. Kalian beneran mirip kok.”
Gio mengalihkan kembali pandangannya pada cermin.
“Lalu… apa seseorang yang mirip Gio itu berarti Papa Gio?”
Deg!
“Tidak Gio.” Sergah Jenara cepat. “Sudah ya sekarang Gio duduk dulu Mama mau mandi setelah itu masak buat Gio.”
Percakapan dengan Gio benar-benar mengganggu pikiran Jenara. Apakah ini artinya Gio mulai sadar kalau Jeremy adalah ayah kandungnya? Tapi tunggu, bukankah ia sudah bilang pada Gio untuk tidak bertemu dengan lelaki itu lagi? Bagaimana mungkin Gio masih mengingat wajahnya hanya karena pertemuan singkat beberapa kali?
Tidak! Tidak bisa ia biarkan. Ia harus lebih protective pada Gio. Ia tak boleh membiarkan Jeremy mendekati Gio walau seujung kuku pun.
***
Jenara benar-benar tak membiarkan Gio bertemu dengan Jeremy. Berhari-hari ia mengangarkan Gio ke gerbang sekolah setelah Jeremy meninggalkan area sekolah dan menjemput anaknya itu dari sebelum jam pulang tiba. Tidak hanya itu, Jenara bahkan membawa Gio ke kantor, hingga beberapa kali mendapatkan teguran. Padahal Gio tidak mengacau, anak itu hanya diam, duduk dengan tenang di sudut kantor dengan cemilan di pangkuannya.
“Aku tidak bisa membiarkan Gio sendiri.”
“Tapi kamu tidak bisa selamanya bawa anakmu itu ke kantor!” Tegur managernya. “Kalau memang kamu tidak bisa ikuti aturan kantor. Silahkan mengundurkan diri.”
Akibat teguran itu mau tidak mau hari ini Jenara akan antarkan Gio ke rumah, membiarkan Gio tinggal sendiri seperti biasanya. Akibat teguran itu juga ia jadi terlambat menjemput Gio. Hingga yang selama ini ia takutkan benar-benar terjadi.
Di sana, Gio sedang dibawa masuk kedalam sebuah mobil mewah.
“Tidak! GIO!” Jenara berlari secepat yang ia bisa. “Buka! Buka pintunya!”
Jeremy keluar.
“Mama!” Gio berseru riang dari dalam mobil.
Sayang Jeremy buru-buru menurup pintu dan satu detik kemudian mobil itu melenggang pergi.
“Tidak! Gio!” Baru saja Jenara ingin mengejar, sebuah tangan memeganginya dengan erat.
“Lepas! Kemana kau membawa Gio? Kemana?! Kenapa kamu melakukan ini semua?! Kenapa kamu menculiknya?!”
“Tidak ada kata menculik bagi seorang ayah yang ingin membawa anaknya pergi.”
“Ayah? Ayah kau bilang? Gio BUKAN anakmu! Lepaskan Gio! Kembalikan Gio padaku!!!”
“Kalau bukan karena Gio anakku, kenapa kamu menghindar dan tidak membiarkan Gio bertemu denganku?”
“Karena aku membencimu! Aku sangat membencimu Jeremy.”
“Oh ya? Lalu apa ini?”
Jenara memandang sebuah surat yang baru saja Jeremy keluarkan dari dalam saku jasnya. Seketika jantungnya jatuh sampai ke dasar perut, matanya membulat sempurna saat melihat sebuah kalimat tercetak miring dan tebal 99,99% identik.
“Lancang. Siapa yang mengijinkanmu melakukan tes DNA?!”
Jeremy mengedikkan bahu, acuh. “Kamu tidak akan bisa mengelak lagi. Gio anakku, darah dagingku. Kalau kau tidak membiarkanku bertemu dengan Gio, aku akan menggugat hak asuh dan membawa Gio pergi dari hidupmu.”