Mendengar penuturan Jeremy, Jenara tertawa sengau dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian Jenara memandang tajam Jeremy, menatap tak gentar pada lelaki itu.
"Menggugat katamu? Kau ini bercanda? Setelah enam tahun dan sekarang kau bilang kau akan menggugat dan mengambil Gio dariku? Kau menelantarkan Gio, kau mengabaikan anak itu, kau membuangnya! Kenapa sekarang kau ribut dan mengatakan akan mengambil Gio?" Jenara kembali terkekeh. "Sangat lucu."
"Kau memintaku pergi, kau memintaku menghilangkan Gio. Sekarang ketika Gio lahir kau menginginkannya? Puncak komedi macam apa ini?"
"Dengar Tuan Jeremy yang terhormat, selama ini Gio hanya hidup denganku, Gio sangat menyayangiku dan tidak pernah bisa lepas dariku. Sekalipun kau berusaha membawa Gio pergi, anakku akan kembali padaku dan hanya akan mencariku."
"Sejauh apapun kau membawanya, sekeras apapun kau memisahkan kami. Gio hanya akan kembali padaku."
Jenara dan Jeremy saling melemparkan tatapan tajam, jika saja tatapan bisa sampai membunuh, kini keduanya mungkin sedang saling serang untuk memusnahkan satu sama lain.
"Kau sepertinya yakin sekali. Kita lihat saja nanti, apakah benar Gio akan mencarimu? Atau justru dengan mudah melupakanmu?" Jeremy menyeringai. "Aku memiliki segalanya, aku memiliki banyak hal yang akan Gio sukai, yang tidak mampu kau berikan."
Rahang Jenara mengatup tajam, kedua tangannya pun terkepal erat, begitu ketat.
"Silahkan saja. Aku tidak akan takut.”
Meskipun pada kenyataannya Jenara takut, jantungnya berdebar, hatinya bergetar, jiwanya gentar, ia takut dengan semua yang Jeremy katakan. Ia sangat takut Gio memilih hidup dengan Jeremy, terlebih memang benar Jeremy mampu memenuhi seluruh kebutuhan dan mengabulkan semua keinginan Gio dengan mudah. Ia takut, Gio lebih memilih kehidupan yang nyaman bersama Jeremy.
Jenara duduk, meringkuk, memeluk kakinya sendiri di atas sofa, memandang kosong ke arah televisi dengan air mata yang mulai mengalir. Rasanya kosong, kesepian ini serasa mencekik Jenara.
Ini bahkan belum genap satu malam, belum genap satu hari ia berpisah dari Gio, tapi rasanya sesak sekali. Rasanya sangat menyakitkan.
"Gio, Gio sedang apa? Mama rindu Gio."
Tidak pernah satu hari pun sejak kelahiran Gio Jenara kesepian seperti ini. Tidak pernah satu hari pun Jenara merasa sesedih ini, tidak. Sekalipun hidupnya penuh masalah, tapi selama ini Gio selalu menjadi obatnya, selalu menjadi pelipur laranya.
Sayang, sekarang pelipur kesedihannya hilang, dia pergi.
“Gio, apa yang harus Mama lakukan sayang?”
“Sudah, aku tak ingin berdebat. Kau tidak punya pilihan lain jika ingin tetap hidup bersama Gio. Ikut denganku, maka kau tak akan pernah terpisahkan dari Gio.”
Ingin rasanya Jenara berlari, mengambil Gio kembali dan menjauhkan anaknya dari lelaki b******n itu. Pilihan termudahnya ia ikuti kemauan Jeremy dengan ikut bersama lelaki itu. Tapi tidak. Ia tak ingin kembali masuk perangkap Jeremy, ia tidak mau lagi terkena tipu muslihatnya, ia enggan jika harus berhadapan dengan lelaki itu.
“Gio.” Jenara memandang potret Gio yang terletak di dinding tepat di depannya. “Gio akan kembali pada Mama kan sayang? Gio akan tetap pulang ke sinikan? Gio tidak akan melupakan Mama kan sayang?”
Tepat setelah pertanyaan itu selesai terucap ponsel yang tergeletak di atas meja berdering. Sebuah panggilan vidio masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
Buru-buru Jenara duduk, menyeka air matanya sesaat sebelum menjawab panggilan vidio itu.
“Mama.”
Baru saja akan memaki, suara lembut dan wajah sang putra muncul di sana.
“Mama, Mama sedang apa? Apa Mama masih sibuk?”
Ingin rasanya Jenara menangis sekeras yang ia bisa, dadanya sesak, hatinya sungguh sakit melihat Gio yang ada di sana, melihat bagaimana Gio berada di pelukan orang lain. Tak rela, ia benar-benar tidak rela.
“Mama kenapa Mama menangis? Mama apa Gio berbuat salah? Ma.”
Buru-buru Jenara menggelengkan kepala, menyeka air matanya dan memandang ke arah putranya kembali. “Mama tidak apa-apa. Mama hanya rindu Gio.”
“Gio juga. Gio rindu Mama.” Bibir Gio melengkung ke bawah. “Gio ingin dipeluk Mama.”
“Sayang. Mama tanya. Kenapa Gio pergi tidak ijin Mama?”
“Om Je bilang, Mama udah ijinin Gio ikut Om Je, dan katanya Mama juga mau ke sini susul Gio. Kenapa Mama malah sedih begini? Kenapa tidak buru-buru datang Ma?”
Jenara mengepalkan tangan kirinya. Sial! Ia lupa Jeremy itu licik! Lelaki itu manipulatif, dia pasti sengaja membohongi Gio. b******k!
“Gio—.”
“Kapan Mama datang? Mama Gio menunggu Mama.”
“Gio. Mama tidak akan ke sana.”
Gio menatapnya dengan kening mengerut. “Om Je bilang katanya Om Je temannya Mama, Om Je juga bilang katanya kenal Papanya Gio. Om Je tadi berjanji akan mempertemukan Gio dengan Papanya Gio.”
Rahang Jenara mengatup lagi. Sebenarnya apa yang sedang lelaki itu rencanakan? Apa yang ada dalam pikiran lelaki itu?
“Gio sudah malam. Ini waktunya Gio tidur. Besok Gio sekolah.”
Itu suara Jeremy.
“Tapi Gio masih mau ngobrol sama Mama Om.”
“Besok lagi. Bilang sama Mama Gio. Kalau Gio mau menginap di sini sampai Papa Gio pulang. Kalau Gio pulang sekarang atau besok Gio tidak akan pernah bertemu dengan Papa Gio.”
Jenara mengepalkan tangannya semakin erat. Licik! Dia memanfaatkan kelemahan Gio. Dia pasti sengaja.
“Gio, tapi Mama sudah bilang apa kemarin? Papa Gio sudah tidak ada.”
“Om Je bilang, Papa Gio masih ada Mama. Katanya Papa Gio hanya bersembunyi. Papa Gio belum meninggal Ma.”
“Jadi Gio lebih percaya Om Je daripada Mama?”
Gio merengut. “Bukan begitu Mama. Maafkan Gio. Tapi Gio cuma ingin melihat Papa. Gio ingin ketemu dengan Papa.”
“Gio sudah tidak sayang Mama lagi ya?”
“Mama bukan begitu.”
Diwaktu yang sama ponsel itu direbut dari tangan Gio. “Gio sebentar ya Om pinjam dulu. Gio sekarang tidur, Om mau bicara dengan Mama.”
“Tapi Om.”
“Tidur jagoan.”
Gio hanya mengangguk kecil kemudian meraih guling, meneluknya erat.
Tidak lama setelah itu wajah Jeremy yang muncul di layar.
“Jangan menbuat Gio memilih. Kamu pikir baik membuat Gio memilih begini? Kamu mendesaknya dan membuat Gio bingung!”
Jenara terkekeh kecil. “Kau berkata begitu padaku? Tahu apa kau tentang Gio? Tahu apa kau tentang psikis anak-anak?”
“Lalu kau pikir kau yang paling pintar? Kau yang tahu segalanya? Dengan berbohong pada anakmu begitu kau pikir kau sudah jadi orangtua yang baik?”
Jenara memalingkan wajah. Malas melihat wajah lelaki itu. “Dengar Tuan Jeremy yang terhormat. Gio hanya milikku dan selamanya hanya milikku. Apapun yang kulakukan pada Gio terserahku! Silahkan hari ini kau bersama Gio, besok jangan harap kau bisa mengambilnya lagi.”
Bukannya takut, Jeremy justru terkekeh kecil. “Bukankah seharusnya aku yang berkata begitu? Dengan Gio yang ditanganku sekarang, aku bisa membawa Gio kemanapun, ketempat yang tidak akan pernah bisa kamu jangkau.”
“Mengalahlah. Ikuti kata-kataku, jika memang kau masih ingin bersama Gio.”