“Sialan! Biadab! b******k! b******n! Laki-laki pengecut!” Sumpah serapah tak hentinya keluar dari bibir Jenara, ia benci, sangat amat membenci lelaki dengan nama Jeremy itu.
Beberapa detik setelahnya cairan bening meluncur dari pelupuk mata, ia tak bisa lagi membendung tangisannya. Jeremy kejam, dia benar-benar tak punya hati! Dia membuktikan ucapannya dengan membawa Gio pergi entah kemana.
Jenara tanya pada satpam, satpam itu bilang tidak melihat Gio, ia tanyakan pada wali kelasnya pun beliau mengatakan Gio hari ini tidak ada masuk kelas dengan alasan izin.
Kemana Gio pergi? Kemana Jeremy membawa anaknya?
Rahang Jenara mengatup tajam. Sebenarnya ada tiga tempat yang bisa ia sambangi saat ini untuk menemukan lelaki b******n itu. Kantor, apartemen dan rumah utamanya.
Tidak! Jangan Jenara! Jangan pernah mau menyusulnya! Dia hanya akan menjebakmu! Dia hanya ingin mempermainkanmu lagi! Tahan Jenara! Tahan! Kau harus percaya Gio pasti tidak akan betah. Gio pasti akan merengek dan meminta pulang. Gio pasti secepatnya akan kembali ke dalam pelukannya. Pasti.
Memasuki gedung kantor kembali, Jenara menyeka air matanya kasar. Ia berjalan menuju ruangannya tanpa mengindahkan siapapun yang lewat, ia hanya menunduk hingga sampai di meja kerja.
“Ra, Ara. Hei.” Itu Hilda, tapi lagi-lagi Jenara abai, ia hanya membenamkan kepalanya di atas meja, meluapkan resah dan sesak dalam hatinya.
“Ada apa Ra? Mana Gio? Kamu bilang akan menjemput Gio dan membawanya ke sini.”
Jenara menggeleng tanpa suara, ia tak sanggup. Saat ia membuka mulut hanya air mata yang meluncur, hanya tangis yang tercipta.
Pelukan hangat Jenara dapatkan, elusan di punggung dan belakang kepala ia rasakan. Namun bukannya reda, tapi tangis pilu itu terdengar semakin hebat. Hingga isakan sesak yang tersisa.
“Hilda, Gio hilang. Gio dibawa pergi.” Adunya. “Gio benar-benar dibawa jauh.”
“Maksudmu Gio diculik? Ara yang benar saja? Gio benar-benar diculik? Kenapa kamu tidak lapor polisi? Harusnya kamu segera lapor polisi, bukan malah diam menangis begini.”
Jenara menggeleng cepat. “Tidak bisa Hilda.”
“Tidak bisa bagaimana?! Biar aku yang lapor.”
“Gio dibawa Papa kandungnya.”
“Hah?” Hilda mematung.
Jenara mengangguk ribut, ia kembali menyeka kasar air mata di wajahnya. “Kemarin Gio dibawa pergi. Dia bilang aku tidak akan bisa bertemu dengan Gio kembali kalau aku tidak ikut dengannya. Dia bilang, aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginannya itu.”
“Dia bahkan mengatakan akan menggugatku dan akan merebut hak asuh Gio.” Tambah Jenara dengan napas tercekat.
Hilda pun mematung, terkejut. “Dia tahu Gio anaknya darimana?”
“Tes DNA.”
“Bagaimana bisa? Tunggu. Jadi maksudmu selama ini Gio sudah sering bertemu dengannya?”
Jenara mengangguk lagi. “Gio berteman dengan anak dari keponakannya. Aku baru tahu kalau ‘kakek temannya’ yang dimaksud Gio adalah ayah kandungnya sendiri saat aku tanpa sengaja bertemu dengannya. Setelah itu aku berusaha menjauhkan mereka, sekuat tenaga aku berusaha agar mereka tidak bertemu lagi. Tapi aku rasa dia memanfaatkan cucunya itu untuk bertemu Gio, sementara aku tidak tahu apapun.”
“Aku rasa awalnya dia tidak curiga apapun, tapi setelah kami bertemu dia mungkin menduga-duga sesuatu sampai terjadilah hal yang paling aku takutkan. Dia… membawa hasil tes DNA lalu membawa Gio pergi.”
“Hilda… bagaimana ini? Aku harus melakukan apa? Bagaimana aku bisa hidup kalau separuh jiwaku diambil begini?”
Hilda pun terdiam beberapa saat. “Kenapa kamu tidak mengalah? Menurunkan ego dan mengikuti kemauannya? Demi Gio jugakan?”
“Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu Hilda. Aku membencinya. Aku tidak mau kembali berhubungan dengan b******n itu!”
“Kalau begitu bagaimana kalau kamu datang saja untuk menjemput Gio? Hanya datang lalu pergi?”
“Tidak akan semudah itu Hilda. Dia licik! Lelaki itu rubah dan srigala yang berotak busuk! Dia akan melakukan segala cara agar aku tinggal. Aku tidak mungkin datang ketempatnya, aku tidak mau terjebak lagi! Aku tidak mau dipermainkan lagi seperti dulu. Meskipun aku tidak memiliki pilihan lain aku tidak mau Hilda, aku tidak ingin datang! Aku membencinya dampai sumsum tulang terdalamku!”
Hilda kembali terdiam. Ia sadar ia tak tahu apapun, ia tak tahu sedalam apa luka yang Jenara rasakan dan seberapa hancur hatinya itu. Namun ia sadar. Jika sampai Jenara seperti ini, sampai enggan mendekat walau untuk anak tercintanya. Itu berarti luka yang didapatkan Jenata sangat dalam, lebih dalam dari yang ia bayangkan.
“Aku bisa bantu apa Ra? Katakan padaku kalau kamu membutuhkan bantuan. Aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga yang aku punya.”
Jenara menarik napas panjang, seulas senyum terpaksa terbentuk. “Terima kasih Hilda, kamu memang sahabat terbaikku.”
Hilda kembali tersenyum. “Aku sebenarnya penasaran siapa Papa kandung Gio, tapi aku tidak akan memaksa kalau memang kamu belum mau cerita.”
“Sebaiknya kamu cuci muka. Sebentar lagi jam kerja dimulai. Jangan sampe manager kita ngomel lagi.”
Jenara pun beranjak meninggalkan kursinya, disaat bersamaan getaran kencang ponsel Hilda terdengar.
“Hallo.”
“Chatku kenapa belum dibalas? Jangan bilang kamu sedang selingkuh.”
Hilda menghela napas panjang. “Bagaimana aku bisa selingkuh kalau kamu saja bisa mengakses ponselku dari jauh Gabriel sayang?”
Kekehan kecil terdengar. “Jadi kenapa kamu tidak membaca dan membalas chatku? Aku tahu kamu sedang istirahat.”
“Aku baru saja menghibur temanku yang sedih.”
“Ara?”
“Heem. Oh ya kamu udah sampe Malang?”
“Sudah. Aku sedang istirahat di hotel. Sambil menunggu Tuan Muda bangun.”
“Tuan Muda?”
“Anak Bosku.”
“Aku tidak ingat Bosmu punya anak?”
“Bosku saja baru tahu. Sudah dulu sayang. Pastikan jangan telat membalas pesanku lagi.”
“Iya iya. Bye.” Hilda menoleh pada Jenara yang sudah duduk kembali di sampingnya.
“Pacarmu?” Tanya Jenara.
“Iya. Dia ngambek chatnya telat aku baca.”
“Posesif.”
“Memang.” Hilda menegakkan posisi duduknya. “Ra, kamu mau minta bantuan pacarku buat cari dimana Gio berada sekarang? Kita bisa sadap dari nomor hp papanya Gio.”
“Sadap?”
Hilda mengangguk kecil. “Dia punya team yang hebat. Aku yakin dia bisa dengan mudah menemukan dimana Gio. Aku juga bisa minta bantuan dia buat jemput Gio. Pacarku punya anak buah yang cukup banyak, dia dan anak buahnya juga pintar beladiri. Aku jamin kamu pasti bisa membawa Gio tanpa harus berurusan dengan Papanya lagi.”
Jenara memandang Hilda. “Kamu yakin Hil?”
Hilda mengangguk penuh keyakinan. “Gimana? Mau?”