Papa

1216 Kata
“Om kok Mama belum dateng?” “Kok Mama belum nyusul Gio Om?” “Mama kemana ya, Gio bosan. Gio pengen ketemu Mama.” “Om, Mama udah di chat? Kapan Mama datang?” “Om Mama masih kerja ya?” “Apa Mama sibuk sampai Mama belum menyusul Gio?” “Om, Om tidak lupakan? Om udah kasih tahu Mama Gio kalo Gio ikut Om bekerja jauh?” “Om. Gio kangen Mama.” “Gio pengen pulang.” “Gio mau ketemu sama Mama.” "Om. Kok Mama belum sampai juga ya sampe sekarang?" Jeremy menghela napas panjang, belum satu hari anak itu berpisah dari ibunya akan tetapi entah sudah berapa puluh kali Gio bertanya. Anak itu mulai rewel, terus merajuk dan merengek, hingga Jeremy terpaksa membatalkan pertemuannya karena Gio enggan ditinggal. "Kalau di rumah Gio, Gio berani sendirian Om. Tapi ini tempat asing, Gio takut. Gio tidak mau sendiri." "Tidak apa-apa Gio, Gio di sini aman kok. Nanti Gio dijaga Om Juna sama Om Ken. Om juga rapatnya tidak lama. Cuma dua jam. Tunggu ya?" Mulanya Jeremy berusaha meminta pengertian Gio, ia berharap Gio mau mengerti dan mengikuti permintaannya. Sayang Gio berkata yang membuatnya tak bisa berbuat apapun. "Kalau Om memang sibuk dan harus bekerja, Gio mau pulang saja. Gio nanti ke sini lagi kalau Papa Gio sudah datang." Tidak, Jeremy tidak akan membiarkan Gio pulang pada Jenara. Gio adalah anaknya, Gio adalah pewaris yang selama ini orang-orang inginkan. Ia tak mungkin melepaskannya dengan Jenara di tempat yang tidak dijamin keamanannya. Jadilah ia yang mengalah, hanya duduk di kamar hotel mewah, menatap anak itu belajar. Jeremy meraih Gio ke atas pangkuannya, menatap sang putra yang tumbuh dengan begitu baik. "Nanti saat jam kerja Mama Gio habis kita telpon lagi ya? Sekarang Gio mau bermain tidak? Om beliin mainan ya?" Gio menggeleng, "Gio tidak suka bermain. Mama bilang kalau Gio terlalu banyak bermain, Gio akan kehilangan waktu Gio yang berharga. Gio harus pintar, Gio harus bisa membanggakan Mama. Gio harus cepat tumbuh dan bisa bekerja, supaya Mama tidak harus bekerja lagi." Lagi, Jeremy dibuat takjub oleh pemikiran anak itu. Bukti nyata kalau Gio terpaksa dewasa melebihi usianya. "Gio dengar, sesekali bermain itu tidak apa-apa, yang terpenting Gio bukan bermain seharian. Kalau bermain seharian tanpa belajar baru tidak boleh." Gio memiringkan kepala, menatapnya lamat dengan mata bulatnya itu. "Memang Gio tidak pernah bermain sama Mamanya Gio? Jalan-jalan misalnya?" “Kadang-kadang, kalau Mama sudah dapat gaji baru Gio dan Mama jalan-jalan. Itu juga di hari Minggu. Ah! Gio juga kadang-kadang main sama Papi. Papi suka ajak Gio jalan-jalan. Papi juga sering ajak Gio makan di luar, terus main ke playground. Papi juga pernah ajak Gio dan Mama ke taman bermain. Naik itu! Aduh apa ya namanya Gio lupa, yang bulat berputar itu Om seperti roda.” “Kincir?” “Iya! Kincir raksasa! Besar sekali! Waktu itu Gio, Mama dan Papi naiknya sore, soalnya kata Papi kalo sore pemandangannya indah sekali! Dan benar Om pemandangannya sangat indah. Gio suka!” Jeremy diam, entah mengapa hatinya mulai memanas. Ada rasa tak suka, ia benci saat mendengar Gio memanggil Papi untuk orang lain. Ia tidak terima! “Om? Om gak dengerin Gio?” Jeremy tersenyum tipis. “Dengerin kok. Jadi Gio suka sunset?” “SUKA!” “Nanti Papa ajak Gio naik kincir yang lebih besar lagi di luar negeri.” Gio memandangnya lamat. “Papa? Papa Gio mau ajak Gio naik kincir?” Jeremy terhenyak. Ia salah bicara. Buru-buru ia menarik senyumannya. “Iya Gio. Papa Gio akan ajak Gio kemanapun yang Gio mau.” “Yeyy!!! Gio mau ketemu Papa Om! Gio mau cepat-cepat ketemu Papa!” “Sabar ya? Gio diajarkan sabarkan sama Mama?” Gio mengangguk. “Gio sabar kok Om.” Jeremy tersenyum tipis kemudian mengusak puncak kepala Gio, hingga wajah anak itu memerah dan mulutnya mengeluarkan tawa. “Gio. Mama Gio suka cerita tentang Papa?” “Tidak. Tapi kemarin-kemarin Mama baru cerita.” Sebelah alis Jeremy naik, ia penasaran dengan cerita yang Jenara karang pada anaknya ini. “Mama bilang Papa Gio ganteng banget. Katanya Papa pekerja keras, Papa pintar dan cerdas. Oh ya, kata Mama Papa Gio itu punya pesawat, punya helikopter, punya rumah yang saaaaaangat besar.” Wow. Jeremy tersenyum miring, ia tak menduga perempuan itu akan menceritakannya dengan cukup baik. Harus ia akui perempuan itu memang cukup baik dalam mendidik Gio. “Om punya pesawat, pesawat yang semalam Gio naiki itu pewasat punya Om.” “Oh ya?” Mata Gio berbinar. Jeremy mengangguk. “Makanya kalau sama Om, Gio bisa kemanapun yang Gio mau.” “Termasuk ketemu Papa?” Jeremy diam sesaat disusul senyuman tipis. “Gio sangat ingin bertemu Papa?” Gio mengangguk semangat. “Gio ingin Mama bahagia lagi bersama Papa. Gio tidak mau Papa lain, kalau Papa baru Gio tidak bisa membuat Mama bahagia.” “Papa baru?” Gio mengangguk lagi. “Papi, Papi bilang mau jadi Papanya Gio. Nanti Papi tinggal sama Gio, jadi pengganti Papa.” Pengganti? Yang benar saja. Lelaki itu bahkan tidak sebanding dengannya. “Bukannya Papi Gio baik?” “Baik kok, Gio awalnya senaaang sekali Gio akan punya Papa, tapi Gio tidak bisa jujur, Mama tidak kelihatan bahagia. Kalau Gio jujur nanti Mama menerima Papi.” “Kenapa?” “Soalnya Mama bilang, Mama akan mengikuti semua keinginan Gio. Apapun itu yang terpenting Gio bahagia.” Sebelah alis Jeremy naik, ia pun mengeluarkan smirk-nya. “Mengikuti apapun kemauan Gio ya?” “Iya.” Good news. Itu berarti lambat laun ia bisa mengambil Gio kan? “Bagaimana kalau Om adalah Papanya Gio?” “Hah?” “Maksudnya yang jadi Papanya Gio.” “Asal Om janji saja tidak membuat Mama nangis, Gio setuju. Gio suka Om Je!” Jackpot. Jeremy tersenyum lebat. Gio menyukainya. Itu berarti akan mudah membawa perempuan itu dengan bujukan Gio. “Kalau begitu, boleh tidak Om minta Gio memanggil Om Papa?” “P—pa—papa?” “Iya, Papa. Mau gak?” “Boleh Gio panggil Papa? Tapi bagaimana kalau Papa Gio nanti datang? Papa pasti sedih.” “Tidak akan. Percaya pada Om.” “Betul Papa tidak akan sedih?” “Tidak. Papa tidak akan sedih. Jadi mulai sekarang Gio manggil Om Papa ya?” Sementara itu di sudut ruangan lain, Gabriel diam mematung memandang pesan yang baru saja diterima dari sang kekasihnya. Hilda: Begini, anaknya Ara dibawa kabur ayah kandungnya. Sekarang dia tidak tahu dimana keberadaan anaknya. Kondisi temanku juga sedang sangat sulit, dia tidak bisa datang ke sana karena tidak mau lagi bertemu dengan ayah kandung anaknya itu. Dia bilang dia tidak mau terjebak ditempat yang sama. Aku tidak tahu cerita lengkapnya tapi aku rasa Ara trauma Mas, dia sampai nangis-nangis. Hilda: Tolong ya Mas, bantu temanku jemput anaknya. Kamu bilang kamu bisa ajak teman-teman kamu kan? Cuma ini caranya supaya dia bisa bertemu anaknya lagi. Gabriel: Kirim nomor ponsel ayah kandungnya. Aku lacak dulu. Hilda: +6281111111111 Jelas Gabriel hafal betul nomor yang tertera itu. Pemilik nomor tersebut, ada tepat di depan matanya. Gabriel: sebutkan nama lengkap ibu dan anaknya. Hilda: Jenara Ratna Ayu, anaknya Giovanni Agung Adiwangsa Hilda: Hi. Ini Jenara. Tolong ya, tolong bantu aku. Gio anakku yang paling berharga. Dia separuh jiwaku. Bantu aku membawanya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN