Jengkel—Jenara yang Keras Kepala

1322 Kata
“Apa Papa masih lama?” Gio berdiri tepat di depan kaca, menghadap jalanan yang masih tampak begitu padat. “Gio bosan, Gio mau pulang saja.” “Gio rindu Mama, Gio mau ketemu Mama saja.” Seolah mengerti kesedihan anak kecil itu, air perlahan turun dari langit, membuat semua orang yang ada di bawah sana berlari untuk berteduh. “Hujan. Apa di rumah juga hujan?” Gumam Gio lagi. “Apa Mama sudah sampai rumah? Mama tidak hujan-hujanankan?” Dalam hitungan menit hujan berubah menjadi deras. Mata Gio mengerjap cepat. “Om….” Gio berbalik berjalan ke arah Jeremy yang sedang duduk di ruang tengah hotel. Ya, benar. Anak itu menolak memanggil Jeremy Papa. Gio bilang…. “Maaf Om, Gio tidak bisa. Gio harus ijin Mama dulu. Kalau Mama mengijinkan Gio akan melakukannya. Gio akan memanggil Om Papa. Gio takut Mama tidak suka, Gio tidak mau membuat Mama sedih.” Jawaban yang membuat Jeremy sadar bahwa dirinya kalah telak dari Jenara. Perempuan itu benar-benar berhasil membuat Gio takluk dan hanya ada perempuan itu dalam pikirannya. Hanya ada Mama, selalu Mama. Meskipun anak itu terlihat sangat ingin bertemu ayahnya, tapi tetap Mama pemilik tahta tertinggi yang setiap menit akan Gio tanyakan kabarnya. “Om… ini jam pulang kerja Mama. Harusnya Mama sudah pulang. Sekarang Gio boleh tidak menelpon Mama Om? Gio harus tahu Mama sudah pulang atau belum. Gio harus memastikan Mama sudah ada di rumah.” “Gio… sebentar ya? Lihat Om masih bekerja.” Wajah Gio merengut, wajahnya menekuk. Sedih. Kaki kecilnya kembali menjauh, dengan bergumam tak jelas. “Tuan Muda kenapa?” Gabriel yang baru saja datang mendekat. “Ih! Sudah Gio bilang nama Gio bukan Tuan Muda. Tapi Gio. Gio saja Om.” Rutuk Gio seraya menghentakkan kaki kesal. “Iya iya. Maaf.” Gabriel jongkok menyejajarkan tingginya. “Jadi Gio kenapa?” Gio menggeleng. Gabriel melirik ke arah Jeremy yang sedang berkutat dengan beberapa dokumen, memang ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi. Termasuk beberapa dokumen dalam genggamannya. “Gio rindu Mama. Gio mau mendengarkan suara Mama. Hiks….” Seketika Jeremy dan Gabriel menoleh secara bersamaan. “Gio tidak pernah diabaikan begini sama Mama. Gio tidak pernah sendirian. Mama tidak pernah mengabaikan Gio karena pekerjaan. Mama tidak pernah membuat Gio kesepian. Hiks…. Gio mau pulang saja! Gio mau ketemu Mama! Gio mau Mama!” Duar! Kilat menyambar. Mata Gio membulat, napasnya memburu, dadanya bahkan terlibat naik turun dengan sangat jelas. “Gio.” Jeremy segera meraih Gio, menggendong anak itu menjauh dari jendela, membawanya duduk di atas paha. “Mama… hiks.” Seketika Jeremy memeluk erat Gio. “Gio terkejut ada petir? Gio takut?” Pertama Gio mengangguk, kedua Gio menggeleng. “Mama… Mama yang takut petir. Mama… hiks. Om telpon Mama cepat Om. Mama pasti ketakutan. Mama pasti takut. Tidak ada Gio yang menemani Mama, tidak ada Gio yang memeluk Mama.” Gabriel segera memberikan ponsel Jeremy yang tergeletak di atas meja. Menurunkan ego, Jeremy segera menghubungi perempuan itu. “Halo Gio?” “Mama! Mama di sana hujan? Mama di sana apa ada petir? Mama sudah sampai rumah kan Ma? Mama sudah ada di kamar?” “Di sini tidak hujan Gio, di sini cukup cerah dan Mama sudah sampai rumah kok. Tadi tante Hilda yang antar Mama pulang.” “Syukurlah.” Gio menyeka air matanya cepat, “Mama, Mama sekarang sedang apa? Gio rindu. Gio mau ketemu Mama saja, Papa lama, Papa tidak datang juga Ma. Mama jemput Gio. Gio mau pulang saja Ma. Gio mau tinggal sama Mama saja. Gio tidak mau bertemu Papa.” “Baik Mama jemput. Sekarang Gio ada dimana sayang? Beritahu Mama. Nanti Mama ke sana jemput Gio.” Jeremy terkesiap, ia memandang Gio yang sedang bertukar kabar dengan Jenara. Tidak. Ia tidak akan membuat Gio kembali ke tempat asalnya. Pilihannya tetap hanya satu. Perempuan itu harus yang pindah dan tinggal di tempatnya. Bukan Gio yang kembali ke tempat itu. Gio menoleh pada Jeremy yang ternyata menatapnya tajam. “Om ini dimana?” “Malang.” “Gio di Malang Ma. Gio ke sini naik pesawat. Apa jauh dari rumah?” “Jauh sayang. Maafkan Mama. Mama tidak bisa menjemput Gio sekarang. Sekarang tanya pada Om. Kapan Gio kembali? Mama akan jemput Gio sepulang sekolah.” Gio mendongak menatapnya lagi. “Om kapan kita pulang kata Mama?” “Boleh Om yang bicara pada Mama Gio? Sebentar, nanti Om berikan lagi pada Gio.” Jelas Jeremy sebelum Gio memotong ucapannya. Ponsel itu pun diulurkan. “Gio tunggu di sini sama Om El ya?” “Apa?” Tanya Jenara begitu Jeremy mendekatkan ponsel ke telinga. “Aku tidak ada kepentingan denganmu. Aku tidak mau berbicara denganmu.” “Lalu sekarang kau sedang apa kalau bukan bicara? Berkicau?” “Kau pikir aku burung?!” Jeremy abai. Ia menghembuskan napas panjang. “Dengar baik-baik. Aku tidak akan mengembalikan Gio. Pilihanmu hanya satu, kau yang harus datang. Bukan Gio yang pulang. Kalau kau tak datang, jangan harap akan bertemu Gio lagi.” “Aku? Aku yang datang? Kau bercanda ya? Yang benar saja. Gio anakku, sudah seharusnya Gio bersamaku. Kenapa jadi kau yang mengatur?” “Gio juga anakku! Aku berhak atas Gio.” “Tidak! Kau tak berhak Jeremy. Kau bahkan ingin aku memusnahkannya kenapa sekarang kamu bersikukuh ingin Gio? Apa kau tidak malu?! Ah—aku lupa, kamu memang tak tahu malu! Bermuka tebal!” “Dengar Tuan Jeremy yang terhormat. Kamu pikir Gio akan tahan jauh dariku?! Kamu pikir dia akan dengan mudah bisa hidup tanpaku? Tidak akan pernah! Sekalipun kau bersikukuh, Gio pasti akan menemukan jalannya untuk pulang! Gio akan kembali padaku!” “Kau—kepalamu benar-benar sekeras batu. Aku hanya ingin membuat kesepakatan, tapi kau sekeras ini.” “Aku tidak membutuhkan kesepakatan bersamamu. Gio anakku! Aku berhak mengambilnya kembali.” “Gio juga anakku! Aku berhak mengambilnya juga.” Jeremy mengatupkan rahang. “Dengar Jena. Sampai detik ini aku sudah berbaik hati memberimu kesempatan untuk datang dan membuat kesepakatan agar kita tidak perlu memperebutkan Gio seperti ini. Tapi kau masih saja keras kepala.” “Jangan salahkan aku kalau aku akan benar-benar menggugat hak asuh Gio, dan membuatmu tak akan pernah bertemu dengan Gio selamanya!” “Silahkan saja kau lakukan itu, kau yang akan terima akibatnya. Kau yang tak akan pernah memiliki kesempatan bertemu dengan Gio lagi seumur hidupmu!” Tantang Jenara. “Aku masih menyimpan semua bukti kalau kau membuang Gio, dengan semua bukti yang kumiliki pengadilan pun tidak akan pernah bisa membuatmu merebut Gio dariku.” “Gertakanmu tak membuatku takut.” “Aku tidak sedang menggertak.” Ting! Sebuah pesan masuk dari Jenara. Jeremy segera membaca pesan itu, pesan yang membuat bola matanya seketik membesar. “Dengan ini kau yakin masih bisa menang? Tidak akan pernah Jeremy. Aku menyimpan semua bukti dengan sangat baik.” Rahang Jeremy mengatup keras begitu membaca pesan tersebut. “Sekarang kembalikan ponselnya pada Gio. Aku ingin bicara lagi dengan anakku.” Jeremy mengatur napas sesaat, melemaskan rahangnya yang kaku, sebelum ia kembali ke arah Gio, memberikan ponselnya pada anak itu. “Ke kamar ya Gio?” Anak itu pun patuh. Kaki kecilnya melangkah cepat menuju kamar, meninggalkan Jeremy dengan Gabriel saja. “Gabriel. Dokumen yang kuminta sudah siap?” Gabriel mengangguk. “Good.” Gabriel berdiri di samping Jeremy yang duduk di atas sofa. Termenung seraya menggoyangkan gelas di tangannya. “Anda serius menginginkan Gio?” Jeremy menarik ujung bibirnya. “Tentu saja. Lagipula sudah jelaskan dia anak kandungku?” “Lalu apakah anda akan menikahi Jena?” Senyuman Jeremy musnah, tersisa wajah datar dengan tatapan dingin. “Aku tidak membutuhkan istri.” “Aku hanya membutuhkan anak.” “Tidak bisa. Jika anda membutuhkan Gio, anda juga harus menerima ibunya. Anda tidak bisa egois, apalagi sampai memisahkan ibu dan anak itu.” Jeremy menatap malas Gabriel. “Aku tidak bilang akan memisahkan mereka. Aku hanya bilang aku tidak butuh istri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN