“Ara maaf, Mas Iel tidak bisa membantu.” Begitu datang Hilda berbicara dengan wajah merengut. “Mas Iel bilang, mendadak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Hari ini dia baru sampai di Jakarta dan malam nanti dia dengan bosnya akan keluar negeri untuk urusan bisnis.”
“Hil, apa tidak bisa meminta tolong pada anak buahnya? Kalau kekasihmu tidak bisa, aku tidak apa-apa kalau hanya dengan orang kepercayaannya saja.” Jenara memelas, harapan yang selama ini seperti setitik cahaya baginya mendadak hilang.
Hilda menatap Jenara, merasa bersalah, “Maaf, dua orang kepercayaan Mas Iel menjaga anak bosnya, satu lagi menjaga anak keponakanya. Sisa pengawal lain tidak diijinkan bekerja keluar. Mereka bertugas untuk mendampingi Mas Iel dan bosnya, sisanya bertugas di rumah utama. Tidak ada yang bisa dimintai tolong. Maafkan aku.”
“Bagaimana ini?” Kalut, bingung, ingin rasanya Jenara menangis sekeras yang ia bisa, namun ia hanya bisa mengatupkan rahang, menahan derai air mata agar tak jatuh.
“Bagaimana caranya aku bertemu Gio lagi kalau seperti ini?”
“Ara.” Hilda menggenggam tangannya. “Maaf aku lancang tapi apa tidak sebaiknya kamu yang mengalah saja? Yang terpenting kamu bisa bersama Gio.”
“Tidak mungkin. Aku tidak mau Hilda. Sampai kapanpun aku tidak akan mengalah, aku tidak akan menyerahkan Gio.”
“Tidak maksudku bukan menyerahkan Gio, tapi ikuti kemauan Papanya Gio.” Hilda mengeratkan genggaman tangannya. “Kamu bilang Papa Gio mengajukan kesepakatan kan? Kenapa kamu tidak coba mengambil kesempatan itu? Kamu bahkan belum tahukan isi kesepakatannya?”
“Kamu tidak mengerti Hilda. Dia licik! Dia sangat egois! Dia tidak akan berbaik hati pada orang lain.”
“Lalu kenapa di masa lalu kamu bisa jatuh cinta padanya kalau dia tidak baik hati?”
Jenara diam.
“Aku tidak bermaksud menyudutkanmu Ra. Tapi aku cuma ingin agar kamu memikirkan ulang tawarannya. Selain itu kamu juga bisa mengajukan kesepakatan darimu. Toh dia yang mau Gio, seharusnya kamu yang lebih berkuasa.”
Jenara mengangkat kepala, menatap sahabatnya itu.
“Dengan Gio yang berpihak padamu dan jika dia yang sangat menginginkan Gio, seharusnya dari pihakmu yang paling banyak berkuasa. Kamu bisa mengatur kesepakatan itu.”
“Tapi Hilda aku tidak mau Gio berhubungan dengan Papanya lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau membiarkan Gio ada ditangan Papanya. Dia yang sudah membuang Gio, dia membuang kami. Dia tidak lagi berhak atas hidup Gio.”
“Aku mengerti Ra, tapi kondisinya… aku rasa Papa Gio memiliki kekuasaan bukan? Akan sulit bagi orang seperti kita untuk menang jika bukan mengalah.”
Itu. Itu yang masalah. Jeremy memiliki kekuasaan, dia memiliki kekuatan. Jenara sadar betul akan hal itu. Namun ia tak ingin menyerah, ia masih ingin memperjuangkan Gio. Ia tak ingin membagi Gio dengn orang lain, sekalipun itu Papa kandungnya sendiri.
“Selain itu… kamu bilang Gio selalu membahas Papanya kan? Gio mungkin mulai merasa butuh sosok Papa. Gio membutuhkan figur lain selain Mamanya.”
Tidak salah. Gio memang sekarang mulai sadar kalau anak itu menginginkan sosok Papa dalam hidupnya. Ia menyadari itu. Ia mengerti. Tapi menerima kesepakatan dengan Jeremy, itu berarti ia menerima Jeremy masuk kembali dalam hidupnya.
Tidak. Ia tidak mau.
Genggaman tangan Hilda menyadarkan Jenara. “Maaf Ara kalau aku kelewatan ya, aku hanya memberimu saran. Demi kamu, demi Gio juga. Kalau kamu tidak mau mengikuti saranku juga tidak apa-apa. Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu.”
Jenara menghembuskan napas, mengangguk kecil. “Terima kasih Hilda.”
Saat Jenara berbalik menuju meja kerja ponsel di dalam genggaman tangannya bergetar. Pertanda sebuah pesan masuk, matanya terbelalak lebar.
+6281111111111: Hari ini Gio sekolah. Jemput Gio. Selama aku dinas dia bersamamu.
Jenara mendesis kecil, “Tanpa disuruh pun aku akan menjemput Gio, membawanya pulang.” Setelahnya rona wajah Jenara kembali, senyumannya pun mulai terbentuk.
Hatinya menghangat, bahagia. Akhirnya aku bisa bertemu Gio lagi.
Akan tetapi semua yang Jenara dambakan ternyata tidak semudah yang diharapkan. Senyuman yang sebelumnya terbentang lebar perlahan menghilang. Begitu datang ke sekolah, Jeremy ternyata juga datang. Bahkan saat ini Gio ada dalam gendongan lelaki itu.
“Mama!”
Jenara tersenyum pada sang putra. “Gio.” Jenara mengulurkan tangan bersiap mengambil Gio, tapi Jeremy melenggang melewatinya.
“Ayo.”
“Tidak. Aku hanya akan membawa Gio pulang.”
Detik itu Jenara melihat rahang Jeremy mengatup, lelaki itu pun menoleh, menatapnya tajam. “Jangan keras kepala.”
Jenara abai. “Gio, ayo turun. Biasanya juga jalan sendiri. Kita pulang.”
Mendadak wajah Gio merengut. “Om Je bilang kita akan makan siang bersama di gedung tinggi?”
Delikan tajam Jenara berikan. “Aku akan masuk kerja tiga puluh menit lagi.”
“Perusahaan mana yang jadwal istirahatnya cuma 30 menit?”
Rahang Jenara mengatup. “Kau.” Ia menatap tajam Jeremy, setelahnya mengalihkan pandangan pada Gio, memberi sang putra senyuman.
“Besok ya sayang? Sekarang kita pulang dulu. Atau Gio mau ikut ke kantor Mama?”
Gio merengut, tangannya meremat bahu Jeremy. “Mama… tapi Gio sudah cerita pada teman-teman kalau hari ini Gio mau makan di gedung tinggi. Bagaimana kalau besok teman-teman bertanya?”
Hembusan napas pelan keluar dari hidung Jenara. Hatinya meringis, andai ia bisa membawa Gio sendiri ke gedung tinggi, ia pasti akan melakukannya. Tapi makan di gedung tinggi begitu akan menghabiskan setengah dari gajinya, bahkan lebih.
“Mama! Ayo.”
Jenara terperanjat, ia menoleh pada Gio yang kini duduk manis di dalam mobil itu. Perang batin pun terjadi. Satu sisi ia ingin mengambil Gio, satu sisi yang lain ia tak ingin pergi bersama lelaki itu.
“Mama…. Mama tidak mau ya?” Gio merengut, anak itu menoleh pada Jeremy kemudian keluar lagi dari dalam mobil tersebut. “Yasudah kalau Mama tidak mau Gio pulang saja.”
“Om Je. Maafkan Gio. Gio sebaiknya pulang saja. Makasih Om Je sudah mengajak Gio jalan-jalan. Sampai nanti Om.”
Jeremy berpandangan dengan Jenara, saling melempar tatapan tajam satu sama lain.
“Gio. Lalu bagaimana makan siangnya? Om sudah pesan loh.”
Gio semakin merengut, ia menoleh ke arahnya lalu ke arah Jeremy lagi. “Mama tidak mau Om. Maaf.”
Buru-buru Jeremy keluar dari dalam kendaraannya lagi. Meraih Gio, memeluk anak itu.
“Hiks. Maafin Gio.”
Jenara terkesiap. Tidak pernah Gio menangis seperti ini, kecuali Gio sedang sangat sedih. Tapi kenapa? Hanya karena tidak jadi makan siang dengan Jeremy Gio menangis sampai sesenggukan? Sampai punggungnya bahkan bergetar dalam pelukan Jeremy.
“Sshhh… tidak apa-apa. Jangan menangis.” Jeremy meliriknya sesaat, lalu menatap Gio. “Gio sangat ingin makan di gedung tinggi?”
Gio mengangguk polos.
“Yasudah berdua dengan Om saja mau?”
Gelengan kecil tampak jelas. “Mau sama Mama juga.”
Jeremy menatap tajam pada Jenara. “Kau masih ingin keras kepala melihat anakmu menangis begini?” Desis Jeremy.
“Tingkahmu, membuatku ingin membawa Gio selamanya.” Lanjut Jeremy seraya memberikan tatapan penuh permusuhan.