Di sinilah Jenara berada, duduk di meja makan sebuah restoran yang berada di puncak tertinggi gedung hotel bintang lima. Terpaksa. Ia terpaksa menerima ajakan Jeremy, ini semua karena Gio yang tak hentinya menangis sedih. Jujur saja, ia sempat berpikir jahat, tentang Jeremy yang mempengaruhi Gio, tentang bagaimana dengan liciknya Jeremy meminta Gio berakting. Akan tetapi sepertinya tidak, Gio bukan aktor yang bisa menangis senyata ini, apalagi dengan isakan dan napas tersengal yang baru saja reda beberapa detik lalu. “Om! Mobilnya kayak kecil ya! Lihat! Itu busnya kecil banget.” Kekehan kecil mengiringi suara menggemaskan itu. Jenara hanya bisa menghela napas, seraya menatap ke arah Gio yang menampakkan binar kebahagiaannya. “Apa ini setinggi rumah Om? Ah! Setinggi hotel yang waktu it

