Sebuah Jawaban

1676 Kata
“Maaf aku terkesan memburu-buru. Kalau kamu belum siap gapapa. Pertimbangkan aja dulu ya.” Seandainya Gio menjawab boleh pada pertanyaan Gama hari itu, mungkin akan lain ceritanya. Mau tidak mau Jenara harus mempertimbangkan untuk menerima Gama. Tapi Gio bahkan tidak menjawab apapun, di depan Gama anak itu hanya diam seribu bahasa. “Keputusanku tergantung Gio Kak. Bagaimanapun aku tidak hidup sendiri, aku harus memikirkan pendapat Gio juga.” Final. Itu jawaban yang Jenara berikan pada Gama. Sayangnya meskipun Jenara berkata demikian, Gama kali ini benar-benar gigih dan memintanya mempertimbangkan lagi, bahkan di setiap akhir percakapan mereka. Kak Gama: Jangan lupa habiskan makanannya ya. Jenara: Sudah habis kak, makasih ya. Kak Gama: Sama-sama. Oh ya Ra. Jangan lupa pertimbangkan ya? Jenara: Jawabanku tetap sama kak. Semuanya tergantung Gio. Kak Gama: Kalau begitu ijinkan aku mendekati Gio dan meyakinkan Gio ya. Jenara: Tolong jangan memaksa, Gio masih kecil. Kak Gama: Intinya kamu memang belum siap kan Ra? Makanya kamu kayak gini. Jenara terdiam beberapa saat. Kenapa Gama terlihat sangat frustasi? Padahal biasanya lelaki itu tidak pernah memaksa. Tapi sekarang kenapa dia jadi memaksa begini? Jenara: Memang, tapi aku sungguh-sungguh saat mengatakan semuanya terserah Gio. Kalau Gio mengijinkan, aku akan menerima siapapun yang mau Gio terima jadi Papanya. Kak Gama: Apa aku ada kesempatan? Jenara: 5 tahun ini bukankah kesempatan sangat terbuka untukmu? Kak Gama: Kamu benar. Jenara: Kalau aku tidak memberimu kesempatan aku tidak akan memberimu ijin bertemu Gio. Kak Gama: Maaf, jangan marah. Sepertinya aku sedang sangat stress karena pekerjaanku. Jenara: Aku mengerti. Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan mulai bertanya pada Gio. Tapi aku tidak janji memberikan jawaban yang bagus. Kak Gama: Gapapa Ra, yang terpenting kamu sudah berusaha. Makasih ya. Aku sekarang jaga dulu di UGD. Sampai besok. Jenara: Sampai besok Kak. Jenara menyimpan ponselnya seraya menghela napas panjang. Jujur, ditanya begitu berulang kali membuatnya lelah. Ia jengah menghadapinya. Akan tetapi dalam waktu bersamaan ia pun tak bisa menghindari Gama. Bagaimanapun lelaki itu yang selama ini selalu menolongnya, selalu ada untuknya dan Gio, Gama bahkan orang pertama yang memberinya pertolongan dulu saat ia terpuruk dan terbuang. Iris mata Jenara bergulir menatap Gio yang sedang belajar di atas karpet menghadap tablet PC-nya. Sejak Gama bertanya tentang pernikahan waktu itu pada Gio, anaknya menjadi sedikit lebih pendiam. Hal itu juga yang membuatnya enggan membiarkan Gama berbicara dengan Gio. “Haahh… selesai juga.” Jenara tersenyum lebar. “Sini.” Gio bangkit, kemudian duduk di atas pangkuannya. “Gio lelah.” “Istirahat sayang. Tidur ya.“ Jenara mengelus punggung sang putra dengan lembut. “Terima kasih ya Gio sudah mau bekerja keras hari ini. Gio juga selalu jadi anak yang sabar, yang nurut sama Mama. Makasih banyak ya sayang.” Jenara menyandarkan punggungnya pada kursi, menyamankan posisi tidur Gio di atas pangkuannya. “Gio, Gio harus tahu. Mama sayang Gio, Mama akan mengutamakan Gio dibanding apapun. Gio harus tahu, meskipun Mama belum bisa memenuhi semua kemauan Gio, tapi Gio tetap harta paling berharganya Mama. Mama akan bekerja keras, akan berusaha agar bisa memenuhi semua kemauan Gio.” “Makasih banyak Mama. Gio juga, Gio sayang Mama. Gio akan cepat besar agar bisa jaga Mama dan agar bisa memenuhi kemauan Mama.” Jenara melirik Gio yang diam cukup lama. Ia pikir Gio tidur, ternyata anak itu masih membuka matanya. “Gio, boleh kita ngobrol sebentar?” Gio mengangguk. “Bagaimana sekolah Gio?” Hembusan napas berat keluar dari hidung Gio. “Biasa saja.” “Kenapa lemas begitu? Apakah ada yang mengganggu Gio?” Gio menggeleng kecil. “Tidak mau cerita sama Mama?” Gio diam. Benar. Ada yang aneh dengan Gio. Tidak biasanya dia hanya diam seperti ini. “Sebentar lagi father’s day. Tapi Gio tidak punya ayah untuk diberikan hadiah. Padahal Gio dan teman-teman Gio sudah menyiapkan hadiah.” “Kan ada Papi? Biasanya juga sama Papi kan?” Gio menggeleng kecil. “Papi bukan Papa.” Kali ini Jenara yang terdiam. “Papa teman-teman Gio selalu ada di rumah. Selalu membacakan dongeng, terus memeluk waktu tidur sampai pagi.” “Maaf Mama… Gio mengerti kok kalau Papanya Gio sudah tidak ada. Papanya Gio sudah ada di surgakan? Gio hanya sedih. Gio rindu Papa. Gio ingin bertemu Papa.” “Mama jangan marah ya, Gio hanya sedih kok. Gio bukannya tidak bersyukur punya Mama.” Jenara menahan napas, mengatupkan rahang, menahan rasa sedih, sesak dan sakit dalam hatinya. Ia merasa bersalah, merasa berdosa telah berbohong pada anaknya. Ya… berbohong. Karena sebenarnya ayah anak itu masih ada, masih hidup, masih berkeliaran dengan bebas di muka bumi ini. Bahkan wajahnya masih sering mengisi cover majalah bisnis dan sering berseliweran di sosial media. Akan tetapi untuk jujur… tidak, ia tidak bisa. Ia tidak mau. Ia tak mau kalau sampai Gio menemui ayahnya. Tidak. Ia tidak mau. “Tidak Gio, Mama tidak marah kok. Mama mengerti perasaan Gio.” “Terima kasih Ma.” “Hm… Gio.” “Iya Mama.” Jenara meneguk ludah kasar, gugup. “Apa ini artinya Gio ingin Papa? Gio ingin Mama menikah?” Gio terdiam. “Apa maksud Mama dengan Papi?” “Iya.” Gio menggeleng seraya mengeratkan pelukannya di leher. Jenara menghembuskan napas, sedikit lega. “Jadi Gio tidak ingin punya Papa?” “B—bukan begitu.” Jenara kembali diam, bingung. “Apa maksudnya Gio?” “Gio ingin Papa, tapi bukan Papi.” “H—hah?” “Gio ingin Papa yang membuat Mama bahagia, Papa yang bisa membuat Mama tersenyum. Gio tidak mau Mama terpaksa menerima Papi jadi Papanya Gio cuma karena Gio.” Gio mengangkat kepalanya, menatap Jenara. “Gio bahagia, Mama juga harus bahagia.” Jenara tersenyum haru, ia menangkup wajah mungil putranya. “Tapi kamu harus tahu Gio, kebahagiaan Gio adalah kebahagiaan Mama. Mama akan menerima siapapun yang menurut Gio pantas dan bisa membahagiakan Gio.” “No no! Seperti yang Gio bilang Gio bahagia, Mama juga harus bahagia.” Jenara terkekeh, ia menghujani wajah Gio dengan kecupan kecil hingga anak itu terkikik geli karena ulahnya. “Gio.” Jenara kembali bertatapan dengan Gio. “Tapi Mama serius, Mama akan menerima siapapun yang menurut Gio pantas dan bisa membahagiakan Gio. Tunggu… dengarkan Mama.” Jenara tersenyum tipis. “Kita soulmate-kan? Orang yang Gio sukai pasti akan mudah Mama sukai juga.” “Mama serius?” Senyuman Gio mengembang lebar, senyuman yang beberapa hari ini hilang dari wajahnya. “Tentu saja.” Bibit Jenara pun tertarik membentuk senyuman yang sama. Senyum penuh kebahagiaan. Jenara lega. Setidaknya. Anaknya sekarang tersenyum lagi. *** “Ara. Jangan menghindar.” Itu Hilda, sahabatnya. Perempuan itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Jenara menghembuskan napas. “Aku gak menghindar Hilda, aku harus pergi menjemput Gio.” “Bohong. Sejak pagi kamu terus menghindariku.” Kepala Jenara tertunduk, beberapa saat ia menghindari kontak mata dengan Hilda. “Aku gak enak sama kamu.” “Emang kenapa?” “Aku nolak Kak Gama lagi.” Ya… Jenara memang menolak Gama lagi, tepatnya kemarin sore ia menjelaskan semua yang ia rasakan dan yang Gio inginkan. “Gapapa, itu pilihan kamu. Aku gak akan maksa. Sekarang gimana?” “Gimana apa?” “Hubungan kalian?” “Seperti biasa, canggung. Tapi Kak Gama bilang dia gak akan nyerah. Meskipun keliatannya kecewa.” Bahkan mungkin sangat kecewa, karena Gama bahkan hari ini mendadak mengabari kalau dia tidak bisa menjemput Gio, sehingga ia harus menjemput Gio—karena ia yakin Gio mungkin menunggu Gama yang tidak akan datang. “Wajar aja. Yasudah gak masalah. Lagipula langkah kamu benar Ra. Kamu harus memilih yang anakmu pilih, yang menginginkan anakmu.” “Tapi Ra selain itu jangan lupa, kamu juga harus memilih orang yang menginginkanmu.” Jenara tersenyum kecil. Sejujurnya ia tak pernah memikirkan itu, baginya yang penting Gio bahagia, sebab sejak Gio lahir ia sudah bertekad kalau Gio adalah prioritasnya. Dalam perjalanan menuju sekolah Gio ia mendadak terganggu dengan ucapan Hilda. Padahal selama ini ia merasa kalau pikirannya sudah sangat tepat, tapi ucapan Hilda kini menggoyahkan keyakinannya. Tapi tunggu… bukankah kalau ada seseorang yang menerima anaknya pasti menerima ibunya juga? Rasanya ia tidak pernah mendengar kasus dimana seseorang hanya menerima anaknya tapi ibunya tidak, yang ada justru kebalikannya kan? “Bu sudah sampai.” “Ah iya. Terima kasih Pak. Tunggu sebentar ya Pak.” Jenara berjalan ke arah gerbang sekolah, tempat dimana satpam yang selalu ia titipi Gio untuk menunggunya. “Selamat siang Pak.” “Eh ibu.” “Iya Pak saya. Maaf saya terlambat. Gio dimana ya Pak?” “Loh Gio tadi sudah pulang sama temannya.” “T—temannya?” “Benar, saya pikir ibu tidak jadi menjemput. Makanya saya ijinkan saja Gio pulang bersama temannya. Daripada kasihan ditinggal sendiri di sekolah.” “Oh sepertinya itu, masih ada di parkiran. Itu Gio kan Bu?” Jenara membulatkan mata, benar itu Gio. Ia kenal betul bentuk tubuh anaknya, ditambah gantungan harimau yang menggantung di tas punggungnya. Dengan langkah lebar Jenara mendekati Gio yang sedang digandeng erat oleh seorang lelaki berstelan jas yang diikuti oleh lelaki lain di belakang. Apa ini temannya Gio? Tidak. Ini tidak mungkin temannya Gio. Temannya Gio semuanya anak-anak. Ini pasti penculik! Buk! “Lepaskan Gio dasar penculik!” Buk! Buk! Bruk! Seluruh isi tas yang ia gunakan memukul leher lelaki itu berjatuhan, bersamaan dengan Jenara yang terjatuh dan tangan yang dipiting ke belakang. “Argh!” “Mama!” “Om lepasin! Itu Mamanya Gio!” “M—maaf Gio, Om tidak tahu. Mama Gio tadi memukuli Bosnya Om.” “Mama. Mana yang sakit?” Jenara menggeleng seraya meringis kecil. “Tidak apa-apa Gio, Mama tidak apa-apa. Mama yang salah kok. Mama yang—.” “Jena.” Deg! Panggilan itu, hanya satu orang yang memanggilnya begitu. Seketika Jenara mendongak. Matanya membulat, napasnya tertahan, jantungnya serasa terjatuh sampai ke dasar perut. Dari sekian banyak manusia di bumi ini, kenapa ia harus berurusan lagi dengan orang ini? Dengan orang yang paling ia hindari dan orang yang ia benci dalam hidupnya. Orang yang tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya. Lelaki itu… Jeremy. Ayah kandung Gio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN