Musuh Besar

1227 Kata
Memang benar kata orang. Sekuat apapun kamu ingin, jika memang bukan takdirmu maka akan pergi dan sekuat apapun kamu menjauh jika memang itu takdirmu maka akan mendekat juga. Tapi Jenara benci kalau mengatakan pertemuan ini adalah takdir. Tidak. Ini bukan takdir. Bukan. Ini hanya kebetulan, ini hanya ketidak sengajaan. Ya… ini hanya ketidak sengajaan. Tidak, tidak mungkin Tuhan menakdirkan agar ia sengaja bertemu dengan lelaki yang paling ia benci di muka bumi ini kan? Tidak mungkin Tuhan sejahat itu padanya. Tuhan sangat tahu seberapa dalamnya luka yang ia dapatkan, seberapa perihnya sakit yang rasakan. Bahkan luka itu masih menganga lebar, masih terasa menyakitkan. Tidak mungkin Tuhan setega itu pada dirinya. Secepat yang Jenara bisa ia segera memalingkan wajah. Menatap sang putra seraya memungut tas yang tergeletak di tanah. “Gio. Ayo pulang sayang.” “Tunggu.” Jeremy meraih lengan Jenara. Jenara memejamkan mata, mengatupkan rahang, menahan diri untuk tidak memaki lelaki itu. “Gio anak kamu?” Bibir Jenara mendadak kering, napasnya tercekat. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan ini? “Anda tidak dengar tadi Gio memanggil saya apa?” “Aku hanya memastikan, siapa tahu kamu mencuri sesuatu yang bukan hak mu lagi.” “Sudah kukatakan aku bukan pencuri!” Jenara menatap berang Jeremy. Kali ini tangannya terangkat, telunjuknya terarah ke wajah angkuh lelaki itu. “Dengar ini baik-baik Tuan Jeremy yang terhormat. Semiskin-miskinnya aku, aku masih memiliki akal sehat. Aku tidak sehina itu sampai harus mencuri sesuatu darimu!” “Tapi ada buktinya.” Rahang Jenara mengatup rapat. Ia menatap Jeremy, lalu menatap Gabriel setelah itu menatap Jeremy lagi. “Tanyakan sendiri pada asistenmu itu. Dia dan sekretarismu yang paling tahu segalanya.” “Tunggu.” “Apa lagi?!” Jenara berusaha menepis tangan Jeremy yang mencengkram lengannya. “Kau baru saja memukulku. Bukankah seharusnya kau meminta maaf?” Rahang Jenara kembali mengatup, ia Jeremy penuh permusuhan. Tak lama wajahnya berpaling, muak melihat wajah angkuh yang semakin mendekat padanya itu. “Jangan lupa, Gio melihatmu. Kamu mau mengajarkan yang tidak-tidak pada anakmu itu?” “Orang bersalah harus meminta maaf, itu ajaran yang sangat penting.” Lanjut Jeremy diiringi dengan seringaian kecil. Jenara mendengus kecil. “Maaf.” “Yang benar.” “Maafkan saya.” “Aku bilang lakukan yang benar Jena.” Sekali lagi Jenara memejamkan matanya ketat sesaat sebelum menatap tajam ke arah Jeremy lagi. “Maafkan saya Mr. Jeremy. Saya tidak sengaja. Mohon maafkan saya.” “Baik, maaf diterima.” “Kalau begitu kami permisi.” “Tunggu. Satu lagi.” “Apa?” “Aku tidak menyangka dengan tempramen burukmu ini kamu bisa mendidik Gio dengan baik.” Tatapan tajam itu saling bertemu, bagaikan tegangan listrik berkekuatan tinggi. Beberapa saat kemudian Jenara menghembuskan napas lalu tersenyum. “Terima kasih, saya anggap itu pujian. Sudahkan? Atau masih ada sisa cacian yang ingin anda sampaikan?” “Wow. Wow. Tenang. Apa aku sejahat itu?” “Pertanyaan tak berguna.” Desis Jenara. “Saya tidak memiliki kepentingan apapun lagi dengan anda, jadi lepaskan tangan saya!” “Memohonlah.” Sialan! Sebenarnya apa maumu?! Bukannya mengikuti keinginan Jeremy, Jenara justru menyeringai. “Ternyata hampir enam tahun ini anda tidak berubah ya. Masih haus validasi dan gila hormat.” “Saya tidak kaget, dengan sifat burukmu itu kamu masih sendiri dan tidak ada satu pun perempuan yang mau jadi pendamping anda. Ah… atau sebenarnya anda masih gagal move on dari saya? Dan sebenarnya masih menyukai saya?” “Apa kamu bilang?” Jenara meringis saat cengkraman tangan itu menguat. “Dengar, dengan semua yang kumiliki ini, tidak ada perempuan yang akan menolakku.” “Aku? Belum move on? In your dream Jena. Lanjutkan seluruh imajinasimu.” Jenara kembali meringis karena cengkraman itu. Tapi kemudian sebuah suara nyaring menyelamatkannya. “Om lepas! Mama sakit. Om jangan jahat begitu!” Seru Gio setelah beberapa saat hanya diam, menyaksikan perselisihan yang ada di depannya itu. Cengkraman itu lepas. Lelaki itu berjongkok menyamakan posisinya dengan Gio. “Maaf Gio, Om tidak sengaja. Om cuma ingin mengajak Mama Gio bicara tapi Mama Gio malah mau pergi, jadi Om pegang tangannya.” “Begitu?” “Iya jagoan.” Ujar Jeremy yang kemudian mencubit hidung Gio. Jenara memutar bola mata, jengah melihat pemandangan itu. Tak menunggu Jeremy selesai bicara ia gunakan kesempatan itu untuk menggendong Gio dan beranjak. Enggan menanggapi ocehan pria gila itu. Ia bahkan tidak menanggapi Gio yang melayangkan protes. Akan tetapi baru saja lima langkah Jenara pergi, ia menghentikan langkahnya, dan berbalik. Menatap dingin ke arah Jeremy. “Saya harap kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Bersamaan dengan itu protesnya Gio berhenti, anak laki-laki itu diam, dengan hanya memeluk leher Jenara dan iris mata sayu yang menatap Jeremy sedih. “Jena benar-benar ibu kandung Gio?” Tanya Jeremy begitu melihat Jenara dan Gio menghilang dibalik pintu taksi. “Sepertinya memang benar. Jika melihat dari profil lengkapnya, nama ibu kandung Gio adalah Jenara Ratna Ayu, berusia 28 tahun dan status belum menikah, memiliki satu anak namun di catatan sipil mana pun ayah dari Gio tidak tercatat sama sekali.” Gabriel mengulang kembali laporannya. “Jenara… Jena—ra, Jena.” Jeremy bergumam. “Sepertinya dulu dia menggunakan nama panggilan lain untuk mengelabui anda.” “Cari profil dia enam tahun lalu. Dan…” Jeremy memandang Gabriel. “Apa maksud Jena kamu dan Viona mengetahui segalanya?” *** “Gio, Mama harus kembali ke kantor. Jadi Gio sendiri lagi ya di rumah. Gio tidur siang, mandi lalu kerjakan PR ya sayang? Ingat. Jangan membuka pintu untuk orang yang tidak dikenal, pokoknya abaikan saja. Gio juga diam saja di dalam kamar ya. Mama akan segera pulang setelah pekerjaan Mama selesai.” Jenara tersenyum diakhir kalimatnya. Akan tetapi Gio justru merengut, anak itu terlihat begitu sedih. “Gio kenapa? Tidak biasanya Gio begini. Apa Gio mau ikut Mama ke kantor?” “Mama bilang Mama berharap tidak bertemu lagi dengan Om Je. Apa maksud Mama Gio juga tidak boleh bertemu Om Je lagi?” Jenara terperangah, tidak menduga justru hal itu yang membuat anaknya bersedih. “Gio… Om—Je hanya orang asing. Tidak akan masalah kalau Gio tidak menemuinya lagi. Gio tidak akan dirugikan jugakan? Jadi Gio juga jangan mendekati Om Je lagi ya? Pokoknya kalau ada orang itu kamu harus pergi dan bersembunyi.” “Kenapa Ma?” Jenara diam. Tak tahu harus memberikan alasan jenis apa lagi. Ia membasahi bibirnya sesaat. “Pokoknya kamu harus ikuti kemauan Mama. Jangan temui Om Je lagi. Jangan pernah dekat dengan dia lagi. Kamu pahamkan sayang?” “T—tapi bagaimana kalau Gio rindu Om Je?” “Kenapa kamu jadi membantah Mama begini Gio?” Seru Jenara, setengah kesal. “Jika Mama bilang kamu tidak boleh menemuinya lagi berarti tidak boleh Gio, dengan alasan apapun kamu tidak boleh menemuinya lagi. Paham?” Gio menunduk dalam, hatinya sakit, sangat sedih mendengarnya. “Mama ulang sekali lagi. Kamu paham Giovanni?!” Gio mengangguk kecil. “Apa yang kamu pahami?” “Gio tidak boleh menemui Om Je lagi dan harus bersembunyi kalau ada Om Je.” Jenara menghela napas. “Good boy.” Ia mengusak kepala Gio lalu mengecupnya. “Sekarang Mama kerja dulu ya? Kalau kamu mau sesuatu telepon Mama saja ya? Sampai nanti sayang.” Pamit Jenara, kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Gio dalam sepi dengan keadaan hati yang terluka. “Mama kenapa? Om Je… Gio takut.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN