Kaya dan Sombong

1091 Kata
“Pelaku terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun dan denda sebanyak 750 juta rupiah. Meskipun pihak tersangka meminta untuk berdamai, pihak keluarga tetap pada pendiriannya untuk tidak melakukan damai. “Hukum tetaplah hukum. Dia yang berbuat, dia juga yang harus bertanggung jawab dan menanggung resikonya.” Sekian laporan dari kami. Selamat siang.” “Mentang-mentang punya banyak uang merasa paling berkuasa. Orang kaya memang gak ada yang beda. Semuanya egois dan sangat sombong.” Desis Jenara setelah melihat cuplikan berita tentang perselisihan seorang perempuan yang mulanya korban tertabrak dan kini menjadi tersangka pencemaran nama baik. “Tidak semua begitu Mama.” Jenara terperanjat. “Loh Gio tidak tidur siang?” Anak laki-laki itu menggeleng. “Mama pulang cepat, mana mungkin Gio malah tidur siang? Jarang-jarangkan Mama pulang cepat begini.” “Gio mau berduaan sama Mama.” Gio merebahkan kepalanya di atas paha Jenara. Jenara tersenyum tipis, ia mengusak kepala putranya dengan lembut, dan mengecup keningnya sesaat. “Orang kaya gak semuanya jahat Mama. Teman-teman Gio tidak ada yang jahat meskipun mereka kaya-kaya. Mereka justru sangat baik pada Gio.” “Gio—.” Kamu harus tahu! Orang kaya itu juga menyakiti Mama. Menyakiti kita berdua! Bibir Jenara mendadak kelu, semua kalimat yang ingin ia ucapkan tertahan ditenggorokan. Ingin sekali ia berteriak mengatakan hal itu, tapi ia tak ingin merusak mental anaknya, atau bahkan sampai mendoktrin anak itu. “Kai juga tidak pandang bulu Ma. Kai justru sering menolong Gio. Tadi juga Kai yang mengajak Gio pulang bersama.” “Kamu menumpang lagi sama Kai?” Jenara memandang datar anaknya. Seketika Gio menunduk. Sebenarnya bukan hal baru, tapi tetap saja sejak tahu siapa Kai ia jadi merasa terganggu. Ia jadi sangat sensitif jika berkaitan dengan anak itu. “Gio, sekolah Gio kan ada kendaraan antar jemput. Kenapa Gio memilih menumpang? Mama kan sudah bilang Gio jangan terlalu sering menumpang pada Kai. Bisa-bisa kamu dibilang memanfaatkan Kai. Apalagi Kai sangat kaya.” Jenara mengatupkan rahang. Ingin sekali ia mengatakan “Jauhi Kai! Jauhi orang-orang dari keluarga Kai.” Tapi bibirnya tak bisa mengatakan apapun. Sebab Gio sangat pintar, anak itu berpikiran sangat kritis. Jika ia melarang anak itu akan semakin banyak bertanya. Akan terus mengulik. Sementara ia tak ingin Gio mengetahui apapun. Jika bukan karena Gio sangat ingin sekolah di sekolah itu setelah tahu mendapatkan beasiswa, ingin sekali Jenara menarik anaknya itu pergi, menjauh dari kota ini. Tapi karena anaknya yang memohon, ia jadi tak tega. Toh ia sadar diri, ia tak mungkin bisa menyekolahkan Gio di tempat mewah yang memiliki fasilitas lengkap seperti di sekolah itu. Apabila diruntut lebih jauh, sebenarnya ia menentang pertemanan Gio dengan Kai. Terlebih saat tahu nama anak itu menyandang nama belakang lelaki yang paling ia benci di muka bumi ini. Palevi. “Janji sama Mama kamu tidak akan menumpang sama mereka lagi?” Gio mengangguk. “Janji Ma, kalau semisal Gio ketinggalan bus sekolah seperti tadi bagaimana? Kelas Gio tadi telat keluarnya jadi Gio terlambat.” “Kalau Gio terlambat minta Pak Satpam untuk menelpon Mama. Mama pasti akan segera datang menjemput Kai.” Gio menghembuskan napas panjang. “Yasudah.” “Padahal Kai baik, orangtua Kai juga baik meskipun kaya.” Gio berbicara dengan sangat pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Hembusan napas pelan keluar dari hidung Jenara. Membiarkan anak itu berceloteh, melanjutkan ceritanya. “Kakeknya Kai juga baik. Tangannya juga hangat Ma. Mama bilang kalau tangannya hangat dan terasa nyaman orang itu orang baik kan? Tapi kenapa Mama selalu menganggap mereka jahat?” Sebelah alis Jenara naik. “Kakek?” “Eh?” Gio mendongak, menatapnya. “Kakek siapa Gio?” “Hm… Kakek Kai.” Melihat anaknya yang menjawab ragu, terbersit rasa bersalah dalam hatinya. Apa ia terlalu keras pada Gio? “Bagaimana Kakek Kai?” Tanya Jenara lembut. “Baik Ma, tangannya hangat, nyaman sekali. Kakeknya Kai juga bilang kalau tangan Gio hangat, katanya nyaman sekali menggenggam tangan Gio.” Mendadak hati Jenara terusik. Untuk apa orang asing mengatakan nyaman menggenggam tangan anaknya? “Tadi Kakeknya Kai juga numpang pipis sebentar. Kalau sombong, mana mungkin kakeknya Kai mau pipis di rumah kita?” “Tunggu.” Mata Jenara mengerjap, mencerna ucapan anaknya. “Maksud kamu kakeknya Kai masuk ke rumah kita?” “I—iya Ma. Maaf. Tapi tadi Gio kasihan saja. Nahan pipiskan gak baik.” “Gio, Mama bilang apa sama kamu?” “Jangan memasukkan orang asing ke dalam rumah.” “Itu tahu. Kenapa Gio melakukannya?” “Ma, kakeknya Kai orang kaya. Tidak mungkin mau mencuri. Lagian tidak ada yang bisa dicuri di rumah kita.” “Bagaimana jika Gio yang dicuri? Gio harta paling berharganya Mama.” Mata anaknya mengerjap, kepalanya miring. “Kakeknya Kai juga bilang gitu tadi.” “Hm? Benarkah?” Lagi. Untuk apa orang asing mengatakan hal begitu pada anaknya? Gio mengangguk antusias. “Kakeknya Kai baikkan Ma? Sangat peduli pada Gio padahal baru pertama kali bertemu.” “Siapa yang paling baik? Mama atau Kakeknya Kai?” “Coba pilih.” Gio terdiam, berpikir cukup lama. “Pilih dua-duanya tidak boleh?” Jenara membeku, ia tersenyum kaku. “Kok—gitu?” Gio hanya menggeleng kemudian memiringkan badan menatap ke arah televisi. Ada apa ini? Pikir Jenara. Padahal biasanya ia yang selalu jadi nomor satu, Gio selalu menjawab tanpa berpikir panjang. Tapi kenapa? Satu orang itu mengubah pandangan Gio? Sampai Gio tak bisa memilih. Untuk pertama kali dalam lima tahun ini, sejak terlahirnya Gio, Jenara merasakan degup jantungnya berdegup tak nyaman. *** “Serius? Kamu cemburu hanya karena orang asing yang anakmu anggap baik?” “Ya gimana aku gak cemburu? Pertama kalinya Gio bilang “Pilih dua-duanya tidak boleh?” Padahal biasanya Gio tidak pernah ragu bilang aku yang paling baik buat Gio. Aku selalu jadi nomor satu buat Gio.” Rutuk Jenara pada teman satu kantor yang juga sahabatnya, Hilda. “Apa Gio ingin sosok Papa ya?” Tanya Hilda. “Tidak mungkin!” Sergah Jenara. “Tidak ada yang tidak mungkin Ra. Selama ini Gio hanya hidup denganmu. Mungkin saja dia ingin sosok Papa. Makanya saat ada yang buat dia nyaman jadi merasa bingung.” Jenara terdiam. Sebenarnya, berulang kali keluarga jauhnya juga bilang begitu. Meskipun ia selalu berusaha memenuhi semua keinginan Kai. Tapi bukan hanya materi yang Kai butuhkan, Kai butuh sosok Papa di masa pertumbuhannya. “Kenapa kamu tidak menikah saja dengan Gamaliel? Dia dekat dengan anakmu kan? Dia bahkan memanggilnya Papi.” Mendongak, Jenara menatap sahabatnya. “Dia mencintaimu, mencintai anakmu juga. Lalu apa lagi yang kamu pertimbangkan?” Haruskah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN