Kualat?

1281 Kata
Apakah Jeremy kualat karena membantah ibunya? Mobil mewah itu melaju tanpa suara bising yang mengganggu, di belakang ada mobil lain yang mengikutinya—berisi beberapa pengawal yang selalu setia mendampinginya. Lalu di depan ada supir dan Gabriel—asistennya. Mobil itu begitu sunyi, membuat celotehan dua anak yang berada di kedua sisinya terdengar nyaring, begitu antusias saat melihat kendaraan-kendaraan lain yang melintas. Jeremy menoleh ke kiri, tempat dimana Gio, —Giovanni nama lengkap anak itu— duduk. Bocah manis itu sebenarnya cukup pendiam, berulang kali dia hanya diam, menikmati perjalanan dan akan mulai berceloteh ketika Kaisar mengajaknya berbicara. Hatinya menghangat, entah mengapa celotehan anak itu tidak mengganggunya sama sekali, bahkan menggenggam tangan mungil itu kini terasa menyenangkan. Itulah kenapa dalam kepala Jeremy pikiran aneh itu muncul. Sepertinya ia kena kualat dari ibunya? Tiba-tiba saja Jeremy ingin punya anak. Sudah gila. Jeremy yakin sekarang ia benar-benar kena tulah akibat melawan ibunya sendiri. “Gio.” Anak laki-laki itu menoleh. “Iya Om?” “Gio tinggal di rumah dengan siapa?” Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Sungguh, ia hanya penasaran saja. Apa alasan orangtua Gio melepas Gio pulang sendirian begini? Apa mereka tidak khawatir pada keselamatan anak itu? “Mama.” “Mama saja?” Gio mengangguk dalam. “Mama saja. Berdua. Sejak kecil begitu, Om.” “Papamu?” Gio mendadak murung. “Mamanya Gio bilang Papanya Gio sudah meninggal sejak sebelum Gio lahir.” Jelas Kaisar. “Oh. Maafkan Om Gio. Om sudah lancang. Maaf ya.” Dari sudutnya duduk ia bisa melihat Gabriel hampir saja tertawa. Seorang Jeremy yang begitu arogan meminta maaf pada anak kecil? Wow sebuah keajaiban dunia. “Tidak apa-apa Om. Namanya juga sudah takdir kan? Gio tidak bisa protes. Kata Mama ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan, lagipula dengan adanya Mama saja tidak membuat Gio kekurangan apapun kok. Mama selalu berusaha yang terbaik buat Gio dan selalu ada buat Gio. Itu udah cukup buat Gio.” Jelas anak itu diakhiri dengan senyuman yang begitu manis. Jeremy terdiam, ia takjub dengan pemikiran anak itu. Pemikiran aneh yang seharusnya tidak ada pada anak-anak. Ia pikir selama ini Kaisar sudah cukup cerdas untuk usia anak-anak, tapi ternyata masih ada yang lebih menakjubkan. Gio, anak itu terlalu cerdas untuk anak seusianya. Betapa hebat perempuan yang mendidik Gio ini. Sungguh, ia sangat mengaguminya. “Sampai!” Seru Kaisar. Kendaraan mereka memang telah sampai di depan rumah mewah anak itu. Kaisar segera turun setelah penjaga rumah membukakan pintu, di susul oleh Jeremy dan Gio di belakang. “Kakek makasih banyak ya sudah antar Kai. Besok Kakek jemput lagi ya. Hm kalau misalnya Kakek senggang, kakek temenin Kai juga. Soalnya kata Papa Mama masih belum stabil.” Jeremy tersenyum tipis. “Tentu. Setelah selesai bekerja Kakek akan datang.” “Hm. Om… terima kasih banyak sudah beri Gio tumpangan.” “Eh, memangnya rumah Gio dimana?” “Di belakang komplek ini, ada perumahan lagi. Nah Gio di sana. Cuma hm sekitar dua ratus meter?” “Ayo Om antar.” “Tidak perlu Om. Gio pakainya jalan gang jadi mobilnya tidak bisa masuk.” “Tidak apa-apa. Kita jalan kaki saja.” “Tidak apa-apa Om?” “Tentu, kan Om yang mau.” “Maksudnya… itu.” Jeremy menoleh ke belakang, ke arah beberapa pengawalnya. “Kalian tunggu saja di sini.” “Biar saya saja yang ikut.” Gabriel—asistennya paling setia. Tentu saja akan membantah dan akan selalu ada di sampingnya. “Terserah.” Jeremy beralih pada Gio lagi. “Ayo.” Kali ini Jeremy mengulurkan tangan kanannya, yang disambut suka cita oleh Gio. Melihat senyuman cerah Gio, membuat ujung bibir Jeremy berkedut, membentuk senyuman lebar yang jarang sekali terlihat. “Gio senang sekali Om.” “Senang kenapa?” “Senang kalau ada yang menggenggam tangan Gio begini. Apalagi tangan Om hangat. Sangat nyaman.” Jeremy terdiam, jadi bukan hanya ia saja yang merasakan hal itu? Gio juga merasa nyaman terhadapnya? “Kamu benar Gio, tangan kamu juga hangat. Om juga sangat nyaman menggenggam tangan Gio.” “Tuh benarkan? Selain tangan Mama, tangan Om ini sangat hangat. Ah ada satu lagi, tangan Papi. Tangan Papi juga hangat. Tapi tangan Om rasanya lebih nyaman daripada Papi.” Seketika kening Jeremy mengerut. “Papi? Katanya Papa Gio sudah tidak ada?” “Ini Papi. Bukan Papa. Hm bagaimana ya? Papi itu… Papi. Papi Dokter.” “Papi Dokter?” “Pacarnya Mama?” “Pacar?” Gio menoleh ke arahnya. “Apa itu pacar?” Oh sialan. Ia salah bicara. “Ah maksudnya teman.” Gio mengangguk. “Iya teman Mama.” “Sampai. Itu di depan rumah Gio Om.” Sebuah perumahan sederhana ada di depan mereka. Ya sederhana, mungkin hanya sekitar 3x7 meter. Lebih kecil seratus kali lipat dari rumah utamanya dan sepuluh kali lipat dari apartemen pribadinya. Tunggu, bagaimana Gio hidup di rumah sesempit itu? Apakah nyaman? “Gio, boleh Om ikut pipis?” Anak laki-laki itu tak langsung menjawab. “Boleh Om. Sebentar Gio buka dulu pintunya.” Katakan Gio memang sudah gila, tapi ia sungguh penasaran dengan rumah itu. Rasa tak tega tiba-tiba hinggap di dadanya. “Kalau Mama belum pulang Gio dengan siapa di rumah?” “Sendiri.” “Sendiri?” Gio mengangguk. “Sebelum makan malam Mama pulang kok Om.” “Tidak takut Gio di rumah sendiri?” “Takut. Kata Mama yang terpenting Gio jangan membukakan pintu untuk orang asing. Gio harus selalu ada di dalam rumah sampai Mama pulang. Kecuali kalau ada Papi atau ada Bibi pemilik warung depan. Baru Gio boleh buka pintu.” “Ahh begitu.” “Tapi karena om mau pipis. Jadi Gio persilahkan numpang sebentar. Lagipula di rumah ini tidak ada yang berharga, tidak ada yang bisa dirampok. Selain itu Om kan orang kaya. Pasti punya segalanya.” “Sesuatu yang berharga itu tidak hanya barang Gio. Bagaimana kalau Om menculik Gio?” “Hah?” “Tidak, bukan Om mau menculik Gio. Tapi ini hanya pemisalan saja.” “Maka Mama akan sangat sedih.” Jeremy terdiam. “Mama cuma punya Gio.” Mendengar hal itu entah mengapa dadanya mencelos, kosong. Merasakan kesedihan yang anak itu rasakan. *** “Gabriel minta Hariz menjaga Gio setiap saat.” Ungkap Jeremy setelah berjalan meninggalkan rumah sederhana itu. “Untuk?” “Apa sekarang kau tuli? Aku bilang untuk menjaga Gio.” “Don’t cross the line Mr. Jeremy. Kalian hanya orang asing yang baru pertama kali bertemu dan kalian tidak ada hubungan apapun.” “Apakah peduli harus ada suatu hubungan?” Gabriel menoleh pada Jeremy. “Apakah ini benar Mr. Jeremy? Kenapa hari ini anda terlihat sangat asing? Kenapa anda mendadak peduli pada anak-anak?” “Mind your own business Gabriel. Ikuti saja perintahku.” “Tidak. Kalau sampai boss besar tahu atau bahkan musuh anda tahu. Anak itu justru akan ada dalam bahaya yang besar.” Jeremy kali ini terdiam. “Sebelum anda datang, anak itu baik-baik saja. Seharusnya setelah ini akan tetap sama. Jangan terlalu khawatir.” Sementara itu dari arah lain seorang perempuan menatap punggung dua orang pria berjas itu. Keningnya mengerut, aneh. Tidak biasanya ada orang berstelan jas rapih begitu di perumahan ini. Apalagi dengan sepatu mengkilap yang terlihat sangat mewah. Siapa mereka? Ada urusan apa? Tanpa mau berpikir lebih dalam lagi perempuan itu berbelok memasuki rumah kecilnya. “Gio. Mama pulang.” “Mama! Mama pulang cepat?” Perempuan itu ibu Gio, Jenara—Jenara Ratna Ayu seorang ibu tunggal yang membesarkan Gio seorang diri. Kening Jenara mengerut saat mencium aroma asing di dalam rumahnya itu. Aroma aneh yang tercium asing tapi terasa tidak asing secara bersamaan. Tidak, tidak mungkin. Ini pasti hanya perasaanku saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN