“Gio ayo pulang.” Mendengar ajakan itu, Jenara menoleh—menatap Gio. Tidak ada binar kebahagiaan seperti biasanya, tak ada semangat. Anak itu justru tampak sedih—matanya berkaca-kaca, bibir bawahnya mulai maju. Akan tetapi kedua tangannya meremat erat pakaian Gama, seolah tak ingin lepas. “Saya yang membawa Gio keluar, saya juga yang akan mengantarkannya.” Balas Gama. Jeremy maju satu langkah, lelaki itu mengulurkan tangannya pada Gio. Meminta Gio berpindah. Namun Gio justru memalingkan wajah, kali ini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gama, memeluk leher Gama dengan sangat erat. “Gio.” “Jangan memaksa.” Cegah Gama saat lelaki itu hendak mengambil paksa Gio. “Gio tidak mau, jangan memaksakan kehendak.” Lanjutnya. “Kau tak berhak melarang. Gio anakku, aku lebih berhak mengambil Gi

