Mencari
Lampu panggung masih menyala terang.
Suara tepuk tangan memenuhi ballroom hotel bintang lima di Jakarta malam itu. Musik fashion show yang menghentak perlahan mengecil saat para model mulai masuk ke backstage.
“AUREL! LOOK HERE!”
“AUREL, SATU FOTO!”
“Aurel cantik banget malam ini!”
Flash kamera terus menyala.
Aku hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangan kecil sebelum akhirnya berjalan cepat ke belakang panggung dengan heels setinggi hampir sepuluh senti.
“Finally…”
Aku langsung menjatuhkan tubuh ke sofa ruang make-up.
“Heels setan,” gerutuku pelan sambil membuka sepatu.
“Woi!” suara seseorang langsung menyeruak.
Eva datang sambil membawa dua gelas minuman.
“Aurel Arasya Nabiqa yang katanya kuat jalan catwalk ternyata kalah sama heels?”
Aku melotot.
“Eva, demi Tuhan aku udah berdiri tiga jam!”
Lira ngakak sambil duduk di sebelahku.
“Makanya jangan sok seksi terus.”
Aku langsung menyipitkan mata.
“Hah? Salah aku cantik?”
Eva pura-pura muntah.
“Pleaseeee. Dia mulai lagi narsisnya.”
Aku menyisir rambut panjangku ke belakang lalu membuka pin rambut satu per satu.
“Emang fakta.”
Lira menatapku dari atas sampai bawah.
“Eh tapi serius, tadi kamu gila sih.”
Aku mengangkat alis.
“Apa?”
“Pas pakai dress merah terakhir itu…”
Eva langsung memotong.
“ANJIRRRR.”
“Kamu lihat ekspresi fotografer? Mereka kayak lupa kedip!”
Aku tertawa kecil.
“Ya masa model nggak boleh bagus?”
“Bagus?” Eva melotot.
“Sayangku… kamu tuh kelewat bagus.”
Aku terkekeh.
Jujur, aku memang terbiasa dengan semua ini.
Usia dua puluh satu tahun.
Baru lulus kuliah.
Tapi namaku sudah cukup besar di dunia modeling.
Brand ambassador skincare, parfum, fashion, sampai beberapa iklan TV.
Followers jutaan.
Undangan fashion show hampir tiap minggu.
Dan tentu saja…
Komentar netizen yang kadang bikin sakit kepala.
“Aurel!”
Seorang staff masuk buru-buru.
“Sebentar lagi ada after party kecil sama brand sponsor.”
Aku langsung menggeleng cepat.
“Skip.”
“Hah?”
“Aku capek.”
Eva mengangkat tangan.
“Kita juga mau makan ramen.”
Lira langsung semangat.
“YANG PEDAS!”
Aku tertawa.
“Udah sana bilang Aurel pulang.”
Staff itu terlihat bingung.
“Tapi sponsor nyari Kak Aurel.”
Aku berdiri sambil mengambil tas.
“Besok aja. Aku udah cantik seharian. Sekarang waktunya jadi manusia biasa.”
Eva ketawa sampai hampir keselek.
“CANTIK SEHARIAN katanya!”
Aku menjitak lengannya pelan.
“Emang iya.”
Kami bertiga keluar backstage sambil bercanda.
Baru saja sampai lobby hotel—
BRAK!
Seseorang menabrakku.
“Eh maaf!”
Aku hampir jatuh kalau Eva tidak cepat memegang tanganku.
Cowok itu langsung panik.
“Ya ampun Kak Aurel?!”
Aku tersenyum kecil.
“Iya gapapa kok.”
Cowok itu seperti menahan malu.
“Maaf banget, Kak… saya gugup…”
Eva langsung bisik ke telingaku.
“Fanboy.”
Aku nyengir.
Cowok itu tiba-tiba mengeluarkan ponsel.
“Boleh foto nggak?”
Lira nyeletuk.
“Boleh tapi jangan lama, artisnya lapar.”
Aku melotot ke Lira.
“Buset.”
Setelah foto singkat, kami akhirnya keluar hotel.
Mobil mewah hitamku sudah menunggu.
Eva langsung bersandar ke pundakku.
“Kadang aku iri.”
“Iri apa?”
“Kamu cantik.”
Lira mengangguk.
“Terkenal.”
Eva menambahkan lagi.
“Kaya.”
Aku tertawa kecil.
“Kalian pikir hidup model gampang?”
Eva langsung manyun.
“Ya nggak gampang sih…”
Aku masuk mobil lalu menghela napas.
“Capek tau jadi orang yang selalu dilihat orang.”
Lira menatapku.
“Kamu kenapa?”
Aku diam sebentar.
Entah kenapa malam ini rasanya lelah.
Kadang aku capek harus selalu sempurna.
Cantik.
Ramah.
Elegan.
Tidak boleh salah bicara.
Tidak boleh kelihatan sedih.
“Nothing.”
Aku tersenyum kecil.
“Cuma capek.”
Eva langsung memeluk pundakku.
“Besok libur ya?”
Aku mengangguk cepat.
“Please.”
Lira langsung semangat.
“Spa!”
“Makan!”
“Shopping!”
Aku tertawa.
“Dasar benalu.”
---
Sementara itu—
Di sebuah rumah mewah bak istana.
“ADITYA!”
Seorang pria tampan dengan jas hitam baru saja masuk ke ruang keluarga.
Rahangnya tegas.
Tatapannya dingin.
Aura mahal.
Tinggi.
Rapi.
Dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Aditya Mahendra.
CEO muda usia dua puluh delapan tahun.
Pemilik perusahaan besar yang baru saja masuk berita bisnis nasional.
Tadi pagi saham perusahaan naik drastis.
Namanya dipuji media.
Investor asing datang.
Dan sekarang Dia malah dipanggil seperti anak SMA kena omel.
“Mama…”
Aditya melepas jasnya pelan.
“Kenapa malam-malam?”
Di sofa duduk seorang wanita elegan dengan rambut tersanggul rapi.
Wilhelmina Mahendra.
Tatapannya tajam.
Berkelas.
Dan sangat dominan.
“Ayo duduk.”
Aditya menghela napas panjang.
Instingnya sudah tidak enak.
“Ada apa?”
Wilhelmina meletakkan tablet di meja.
“Mama baca berita bisnis kamu.”
Aditya mengangguk kecil.
“Good news.”
“Mhm.”
“Tapi ada satu hal yang lebih penting.”
Aditya mulai curiga.
“Apa?”
Wilhelmina menyilangkan kaki.
“Kapan kamu menikah?”
Sunyi.
Aditya memijat pelipis.
“Mama…”
“Jangan Mama-Mama.”
“Aku sibuk.”
“Sibuk apa?” suara Wilhelmina naik sedikit.
“Perusahaan kamu udah stabil.”
“Kamu kaya.”
“Rumah banyak.”
“Mobil banyak.”
“Uang banyak.”
“Tapi istri nggak ada.”
Aditya menghela napas.
“Aku nggak butuh istri.”
Wilhelmina tertawa kecil.
“Ya iya. Karena kamu dingin.”
“Mama.”
“Kamu pikir hidup cuma kerja?”
Aditya berdiri.
“Kalau cuma ngomong ini, aku naik dulu.”
“Duduk.”
Nada suara mamanya berubah dingin.
Aditya berhenti.
“Aku serius.”
Wilhelmina menatap putranya lurus.
“Kamu umur dua puluh delapan.”
“Teman-teman kamu udah nikah.”
“Sebagian udah punya anak.”
“Dan Mama?”
Wanita itu menarik napas.
“Mama mau cucu.”
Aditya terkekeh pelan.
“Mama lucu.”
“Aku serius.”
“Aku nggak mau menikah.”
Wilhelmina diam sebentar.
Lalu—
“Kalau kamu tidak menikah tahun ini…”
Aditya mengangkat alis.
“Mama cabut hak kamu atas perusahaan.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Aditya menatap mamanya tak percaya. “What?”
“Kamu dengar.” ucap sang mama
“Mama nggak bercanda.”
Aditya tertawa sinis. “Mama ancam aku?”
“Aku cuma ingin cucu.”
“Mama gila.”
Wilhelmina tetap tenang. “Pilihannya gampang.”
“Menikah.”
“Atau keluar dari posisi CEO.”
Rahang Aditya mengeras. “Mama are you serious?”
“Sangat serius.”
Aditya mengacak rambutnya kasar. “Kenapa harus sejauh ini?”
“Karena Mama tahu kamu keras kepala.”
“Mama…”
“Dua bulan.”
Aditya langsung menatap tajam. “Apa?”
“Mama kasih waktu dua bulan.” ucap nya.
“Cari istri.”
“Kalau tidak…”
Wilhelmina tersenyum tipis. “Goodbye posisi CEO.”
Aditya menggeleng tidak percaya.
“This is insane.”
“Mama tidak peduli.”
Wanita itu bangkit.
“Satu lagi.”
“Mama mau cucu.”
Aditya mendengus kesal.
“Unbelievable.”
Wilhelmina berhenti di depan tangga.
“Kalau perlu nikah kontrak juga Mama nggak peduli.”
Asal ada cucu.”
Aditya memejam mata sebentar.
Kesabarannya mulai habis.
“Aku tidak butuh istri.”
“Mama tidak peduli.”
Wilhelmina membalas dingin.
“Mama cuma mau cucu.”
Sunyi.
Aditya tertawa kecil.
Tapi kali ini bukan tawa lucu tapi Tawa kesal.
Matanya berubah dingin. Lalu dia merapikan jam tangannya. “Fine.”
Wilhelmina mengangkat alis. “Kalau cuma butuh istri…”
Aditya tersenyum miring. "Aku bisa cari sekarang.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu Wilhelmina tersenyum puas.
Sementara di luar rumah mewah itu…
Takdir seseorang perlahan mulai berubah.
Karena tanpa mereka sadari Nama seorang model terkenal sedang menjadi topik pembicaraan di internet.
Aurel Arasya Nabiqa.
Dan seseorang akan segera menjadikannya pilihan.