4. Rencana Samuel

1231 Kata
Dua orang di dalam mobil yang tengah melaju itu sama-sama diam, meski si pengemudi sesekali mencuri pandang pada orang disampingnya. Namun, seseorang yang ditatap tak juga menoleh. Lebih tepatnya pura-pura tidak tahu. "Ay, kamu marah?" tanya si pengemudi tidak lain Samuel. Ia tak tahan melihat diamnya Ayana. Memang kadang kala hening, tapi hening kali ini tidak menyenangkan. "Jangan bicara padaku!" ucap Ayana ketus. Dia masih tidak mau menoleh. Memilih menatap pemandangan sekitar walau sejujurnya tidak ada yang menarik. "Ayolah, Ay. Apa kamu akan terus mendiamkan ku?" Sungguh, dicueki Ayana tidak enak, Samuel merasa ada yang kurang hari ini. "Salah siapa coba! Aku sudah bilang, aku bisa berangkat sendiri, Samuel. Kenapa kamu masih ngotot mengantarku? Bagaimana jika Nadin melihatnya? Bagaimana kalau orang lain yang lihat? Kamu mikir gak sih!'' cerca Ayana, melampiaskan keluh kesahnya. Tidak suka dengan sikap Samuel yang seenaknya sendiri. "Aku tidak peduli soal itu! Dan ingat, Ay. Bukankah sejak awal aku sudah membebaskan kamu untuk bilang ke Nadin." Samuel menghendikkan bahu acuh. Dia memang tidak peduli, biar saja Nadin tahu. Bukankah bagus hubungannya diketahui semua orang. "Kamu gila ya!"Ayana mendesis kesal. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran Samuel. Mau ditaruh mana muka Ayana jika Nadin sampai tahu. Apa sedikit saja Samuel tidak memikirkan bagaimana perasaan Nadin ketika ini semua terbongkar. "Aku memang tergila-gila sama kamu." Ayana menghela napas lelah, yang dikatakan Samuel tidak nyambung dengan pertanyaannya. "Sebenarnya, apa sih mau kamu?" Sejujurnya Ayana sudah berulang kali bertanya hal ini pada Samuel, tapi Samuel selalu saja mengalihkan pembicaraan. Kadang kala malah memberi jawaban tak masuk akal seperti tadi contohnya. "Mau aku? Kamu sungguh-sungguh ingin tahu?" Samuel melirik sekilas pada Ayana, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan. "Tidak jadi ... Ayolah, Sam. Kamu gak kasihan sama aku. Kamu tega ya, ngelihat aku dicap pelakor." Ayana tidak mau munafik, hampir beberapa minggu menghabiskan waktu dengan Samuel, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Samuel. Dirinya sudah kalah dengan pesona laki-laki ini. Ia sudah benar-benar terjerat, bahkan untuk menolak saja rasanya tidak sanggup. Walau Setiap selesai bercinta dengan Samuel, akan ada bayang-bayang Nadin menghantui pikirannya. Tapi apa yang harus Ayana lakukan jika tubuhnya saja menerima sepenuh hati. "Kamu bukan pelakor, Ay. Berapa kali harus kukatakan.'' Bahkan siapapun orangnya, jika tahu kelakuan Ayana sekarang pasti juga akan menyebutnya pelakor. "Lalu, menurutmu apa namanya seorang perempuan tidur dengan kekasih temannya sendiri? Siapapun pasti setuju pelakor adalah julukan yang pantas untukku!" "Hentikan sekarang juga, kalau kamu tidak mau diam, jangan salahkan aku jika terpaksa melakukan sesuatu di sini, Ay ... Berapa kali harus kutegaskan, kamu bukan pelakor. Kamu lebih dari itu, karena kamu milikku, camkan itu! '' Ayana tak menanggapi. Berbicara dengan Samuel tidak akan pernah bisa menang. Ia selalu kehabisan kata-kata. Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. "Turunkan aku di depan." "Tidak mau!" Ini masih beberapa meter dari gerbang universitas. Mana mungkin Samuel menurunkan gadisnya di sini. "Sungguh, Sam. Berhenti atau aku lompat." "Jangan gila, Ay." "Makanya berhenti!'' Ayana membuka pintu sampingnya, berusaha menakuti Samuel. "Oke, oke, aku berhenti. Tutup dulu pintunya." Ayana tersenyum puas, ia kembali duduk seperti semula. Oh, sepertinya laki-laki ini harus ia ancam dulu untuk menurut. Ayana harus mencari sesuatu yang membuat Samuel menurut, ancaman tentang Nadin tidak mempan untuknya. Samuel menepikan mobil, sejujurnya ia sungguh tidak keberatan jika Nadin atau siapapun itu melihatnya. Hanya saja ia tak suka mendengar Ayana yang akan melompat dari mobil, gadisnya ini benar-benar gila karena tidak berpikir risiko apa yang akan dia dapat jika lompat. Bayangkan saja, melompat dari mobil yang tengah melaju kencang, pasti akan terseret beberapa meter dengan tubuh penuh luka. Samuel tidak jadi membayangkannya, terlalu menakutkan. "Kalau begitu aku pergi dulu." Ayana melepas seatbelt di tubuhnya, menatap Samuel yang terdiam. "Ada apa?" tanyanya bingung tak biasanya Samuel diam. "Kamu marah karena aku minta turun di sini? Ayolah, Sam. Jangan seperti anak kecil. Kamu___'' Ucapan Ayana terbungkam dengan bibir Samuel yang sudah mendarat diatas bibirnya, hanya sebuah kecupan tidak lebih. "Kamu cerewet sekali, Ay." Samuel mengusap pipi Ayana yang memerah. "Aku lebih suka mendengar mulutmu mendesah di bawahku, daripada kamu marah-marah tidak jelas." Ayana memukul pundak Samuel, kenapa laki-laki ini pikirannya selalu m***m. "Bisakah, sekali saja kamu tidak m***m? Bagaimana jika ada yang mendengar." "Memangnya aku peduli ... Sudahlah sana masuk, jangan sampai kamu telat." "Aku sudah akan masuk, kamu saja yang menghalangiku." Samuel menaikkan satu alisnya, memangnya kapan ia menghalangi Ayana. gadis itu sendiri yang tidak keluar. "Aku akan menjemputmu nanti." "Tidak usah," tolak ayana cepat. "Lebih baik kamu urusi saja pacarmu. Aku bisa pulang sendiri." Tanpa mau mendengar bantahan Samuel, Ayana bergegas keluar, tak peduli jika Samuel marah nantinya. Jika ia meneruskan debatnya, yang ada tidak akan selesai. ¤¤¤¤¤ "Baiklah, kelas cukup sampai di sini. Apa ada pertanyaan?" Dosen mengakhiri pembelajaran, merasa tak ada yang bertanya, dosen itu mengangguk puas. "Kalau begitu, sampai ketemu minggu depan. Jangan lupa minggu depan Bapak akan adakan kuis," ucap dosen lalu pergi meninggalakan kelas, diikuti oleh mahasiswa dibelakangnya. Sedangkan Ayana masih duduk di tempatnya, ia tengah membalas pesan Samuel yang bersikukuh menjemput. Entah apa rencana laki-laki itu, ia malah berkata sudah dalam perjalanan ke sini. "Hei, Yana." Nadin menghampiri meja Ayana, beberapa hari ini mereka semakin jarang bertegur sapa. Ayana seakan menghindar darinya. "Eh, hai, Nadin." "Aku pikir, akhir-akhir ini kamu benar-benar sibuk ya, sampai aku susah sekali menyapamu." "Ya sibuk bercinta dengan kekasihmu." Ayana menyahut dalam hati. Tidak mungkin ia menjawabnya seperti itu. Nadin pasti shock berat saat tahu. "Ya begitulah," jawab Ayana seadanya. Pertemannya dengan Nadin memang tak bisa di kategorikan dalam tahap persahabatan, tapi beberapa kali mereka sering keluar bersama. Apalagi Nadin adalah satu-satunya teman dekat yang ia punya, Ayana aku ia memang sedikit susah dalam berteman. Kalau dulu bukan karena Nadin yang lebih dulu mendekatinya, mungkin sampai sekarang ia tidak akan punya teman. "Bagaimana kalau hari ini kita jalan? Sudah lama kita tidak pergi berdua, lagian setelah ini tidak ada kelas lagi." Ayana bimbang. Haruskah ia mengiyakan ajakan Nadin? Tapi, tadi Samuel sudah berkata akan menjemputnya. "Ayolah." Nadin mengeluarkan wajah melasnya, dia percaya Ayana tidak akan bisa menolak. "Baiklah." Melihat wajah melas Nadin memang membuat Ayana tidak tega menolaknya, sudahlah urusan Samuel bisa nanti. Toh bukan Ayana juga yang minta dijemput. "Yes, kalau begitu ayo. Samuel sudah menunggu di luar." Nandin menarik tangan Ayana semangat. Samuel? Samuel yang itu? Jadi maksudnya mereka akan pergi dengan samuel? Tunggu, Ayana rasa ada yang harus diluruskan di sini. "Tunggu, Din. Kita pergi bersama Samuel?" Ayana sedikit tersaruk mengikuti langkah Nadin yang begitu semangat. Tidak tahukah Nadin, bahwa ia kesusahan di sini. "Yap, tadi aku sudah mengajaknya, kebetulan dia kosong di kantor," jawab Nadin masih melihat ke depan, tak tahu bahwa Ayana dibelakangnya terkejut. "Kalau begitu lebih baik aku tidak ikut, aku tidak mau menjadi obat nyamuk di antara kalian." Kalau tahu Nadin mengajak Samuel, sudah pasti Ayana menolaknya. Sebenarnya apa rencana laki-laki itu. Kenapa Samuel malah mengajaknya, saat dia akan berkencan dengan Nadin, ingin menunjukkan kalau ia tidak lebih dari seorang pelakor, seseorang yang hanya dibutuhkan untuk menghangatkan ranjang. Hell, Ayana sadar diri. "Ah, sudah terlanjur. Tenang saja, aku pastikan kamu tidak akan jadi obat nyamuk di sana." "Tapi__" "Aku tidak menerima penolakan, oke?" potong Nadin cepat. Jujur Ayana masih bingung apa yang direncanakan Samuel. Jika laki-laki itu berniat membuka rahasia antara mereka, maka entah apa yang akan Ayana jelaskan. Ia tidak siap jika harus dibenci Nadin sekarang, ah ralat kapanpun ia tidak siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN