5. Cemburu

1199 Kata
Suasana terasa canggung Ayana rasakan sekarang, atau mungkin hanya ia sendiri yang merasa. Sebab sepenglihatan Ayana, Nadin masih bisa bersikap mesra pada Samuel, meski ada orang lain di antara mereka. Jika boleh memilih, Ayana ingin lompat saja. Rasanya satu mobil dengan pasangan yang sedang memadu kasih sangat tidak mengenakan, apalagi laki-laki yang tengah bermesraan itu kemarin malam baru saja menghabiskan malam dengannya. Salahkah jika Ayana tidak suka melihatnya. Kenapa sekarang rasanya ia tak rela melihat Nadin yang bersikap mesra pada Samuel? Bukankah itu wajar, toh mereka sepasang kekasih. Ada hak apa ia marah? Statusnya tak jelas. Friend with benefit? Bukan, karena mereka jelas-jelas tidak berteman. Selingkuhan? Ayolah, sejak awal Samuel yang menggodanya. Lalu, apa posisinya di sini? Jika memang tempat Samuel melepaskan penat, kenapa laki-laki itu tidak melampiaskannya dengan Nadin. Jelas-jelas Nadin yang kekasihnya. "Yan?" "Eh, apa?" tanyanya linglung. Tak mendengar apa yang dikatakan Nadin. "Kita sudah sampai, kamu tidak mau turun." Oh, sudah sampai. Berapa lama Ayana melamun hingga tidak sadar mereka sudah tiba. Ayana bergegas turun, meninggalkan pasangan itu dalam mobil, ia rasa emosinya naik turun tidak jelas sekarang. Butuh sesuatu untuk melampiaskan, mungkin es krim coklat mampu meredakan kepalanya yang tengah panas. "Nanti aku tidak bisa jemput," ucap Samuel yang samar-samar masih bisa Ayana dengar. Ia melirik keduanya. "Tidak apa, hati-hati ya." Nadin mendekat pada Samuel, mengecup pipi kekasihnya itu. Ayana mengalihkan pandangan, ada sesuatu bergejolak dalam hatinya melihat itu. "Ayo Yan, kita masuk. Aku sudah tak sabar melihat baju model terbaru." Sekedar informasi, Nadin adalah shopaholic sejati. Dia tidak pernah menyesal merogoh kocek dalam hanya demi sebuah tas, yang menurut Ayana hanya membuang uang. Biasanya hanya Nadin yang berbelanja dan Ayana yang mengikuti, ia hanya akan benar-benar membeli jika merasa suka dan butuh. Mamanya sedikit tak suka jika tahu ia berbelanja barang tak berguna. "Din, bagaimana dengan Samuel? Katamu dia ikut?" "Tidak jadi, katanya dia ada urusan mendadak. Maklumlah bos, jadinya yah, begitulah." Drrtt drrtt Ayana membuka ponselnya yang berdering, ia mengernyit heran mendapat satu pesan dari Samuel. Bukankah tadi Nadin bilang Samuel tidak jadi ikut karena ada urusan penting. Ia menatap Nadin sebentar, saat perhatian gadis itu tak lagi padanya Ayana segera membuka pesan Samuel. From : Samuel Temui aku diparkiran sekarang. Ayana menggigit bibir cemas, apa sebaiknya ia abaikan saja pesan Samuel. Belum sempat ia memutuskan, sebuah pesan kembali masuk. From : Samuel Jika dalam 5 menit kamu tidak datang, maka jangan salahkan aku jika aku membongkar semuanya, Ay. Sial! Samuel mengancamnya. Beraninya dia. "Emm... Din, aku ke toilet sebentar ya." "Oh, oke." Nadin menjawab acuh. Dia masih asik menatap beberapa baju yang dipajang. Syukurlah, setidaknya Nadin tidak akan sadar jika nanti Ayana balik terlalu lama, Nadin selalu lupa waktu jika sudah berbelanja. Ayana mempercepat larinya menuju parkiran yang entah kenapa terasa sangat jauh jaraknya. Matanya mengedar mencari-cari di mana mobil Samuel. Dan ia menemukannya, laki-laki itu memarkir mobilnya di bagian pojok, Ayana merasakan firasat buruk sekarang. Ia membuka pintu samping kemudi, duduk menghadap Samuel yang bersidekap d**a. "Ada apa?" tanya Ayana tak sabaran. "Sam, cepat ada apa? Aku tidak bisa lama-lama, bagaimana kalau Nadin mencariku," lanjutnya. Samuel bergerak menuju Ayana, mengangkat gadis itu mendudukkan di pangkuannya. Ia menelusupkan kepalanya dalam leher Ayana. Menghirup rakus aroma tubuh gadis itu. Oh God, baru beberapa jam mereka tidak bertemu, tapi ia sudah merindukan gadisnya. "Sam." Ayana menggeliat. Ia tak nyaman di posisi ini dalam mobil yang sempit. "Hmm." Samuel bergumam di leher Ayana, menciptakan rasa geli hingga Ayana mengkerut tak nyaman. "Sam, apa yang kamu lakukan, ini di mobil." Tidak sadarkah Samuel, kalau mereka ada di mobil dan sedang di parkiran mall. Kapan saja bisa ada orang yang melihat mereka. "Aku merindukanmu, Ay. Rasanya aku ingin kembali memasukimu." "Jangan gila, Sam. Ini di parkiran mall. Bagaimana kalau ada yang melihat kita. Kamu juga bilang ada urusan tadi. Kenapa kamu masih di sini." "Itu urusan belakang, yang terpenting sekarang adalah kamu. Aku tahu kamu cemburu pada Nadin." Samuel menyematkan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah Ayana. Ia gemas sekali dengan gadisnya. Tak bosan rasanya memandang. "Jangan mimpi." Kalau kamu tahu cemburu kenapa kamu melakukannya." Ayana melanjutkan dalam hati. "Kamu tidak bisa membohongiku, Ay. Aku tahu semua tentangmu." "Cukup, Sam. Aku harus kembali. Kita bisa melanjutkan nanti." Ayana menahan wajah Samuel yang berniat menciumnya kembali, jika ini diteruskan, Ayana tak yakin ia bisa bertahan. "Tidak mau! Aku ingin sekarang." "Oh gosh, aku janji nanti kita akan melakukannya. Aku tidak akan menolak." Samuel diam, ia terlihat memikirkan ucapan Ayana. "Oke. Tapi kamu harus siap tidak bisa berjalan, karena aku tidak akan melepasmu. Aku akan membuat kamu mendesahkan namaku hingga pagi." Ayana bergidik ngeri membayangkannya. Ia harus mencari cara supaya Samuel lupa dengan janjinya. "Ya, ya, terserah! Kalau begitu aku harus pergi." Samuel tersenyum miring melihat kepergian Ayana, libat saja dia akan membuat gadis itu benar-benar tidak bisa berjalan. Drrtt drrtt Ia memandang ponselnya yang berbunyi, wajahnya kembali datar melihat satu pesan yang masuk di sana. Ah mereka benar-benar menantangnya. Sepertinya semakin seru saja. ¤¤¤¤¤ Ayana mengigit bibirnya cemas, berapa lama ia bersama Samuel tadi. Bagaimana jika Nadin mencarinya. Matanya memicing heran melihat Nadin tengah tertawa bersama seorang laki-laki, ia mendekat pada mereka. Membuat dua orang itu mengalihkan pandangan ke arahnya. "Hei, Yana. Kenalkan, ini Kevin. Temanku waktu SMA." "Kevin." Kevin mengulurkan tangannya di hadapan Ayana, lubang kecil menghiasi dua pipi laki-laki itu saat tertawa. "Ayana." Ayana membalas jabatan tangan Kevin, ia memindai wajah Kevin, jika dibandingkan dengan Samuel, maka laki-laki ini pasti kalah. Bukan mau membanggakan Samuel. Nyatanya memang begitu. Samuel memiliki wajah tampan yang menarik perhatian orang-orang, dengan wajah bule terpahat sempurna. Jujur, sering kali waja ah itu yang akhirnya mengaburkan segala kewarasan Ayana, apalagi dengan mulut manis penuh rayuannya. Sedangkan Kevin, laki-laki ini punya pesonanya sendiri yaitu lesung pipi yang nampak ketika tersenyum. Perbedaan mereka mungkin di auranya, Kevin lebih hidup dan ceria. Kalau Samuel lebih misterius dan sedikit menakutkan bagi orang yang tidak kenal dia. "Oh, iya. Kevin ini jomblo loh, Yan, kamu gak berminat gitu," goda Nadin, membuat dua orang itu sama-sama memerah malu. "Apa sih Din, jangan gitu ah." Kalau dilihat sekilas sih, urusan perempuan sepertinya Kevin lebih baik dari Samue. Dan sepertinya dia tidak seperti Samuel yang selingkuh dengan perempuan lain. "Diamlah, kamu membuat Ayana malu, Din." "Tuh kan, baru kenal aja udah perhatian banget. Duh jadi obat nyamuk nih aku." Nadin membuat gerakan menepuk nyamuk, dia tertawa renyah melihat Ayana yang salah tingkah. "Udah ah, bahas apaan coba. Jadi belanja gak ini," ujar Ayana mengalihkan pembicaraan. "Ututu malu nih. Ya udah deh, kita lanjut belanja yuk. Katanya Kevin juga mau bayarin tadi." "Eh, siapa yang bilang." "Barusan aku bilang." Ayana tertawa melihat pertengkaran Nadin dan Kevin, mereka berdua sepertinya sangat akrab dulu. Ah bagaimana jika Samuel melihatnya, apakah laki-laki itu akan cemburu. Atau haruskah ia mengabadikannya dan menunjukkannya pada Samuel. Biar dia cemburu lalu kembali sadar. Terkekeh pelan, Ayana mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Mengarahkan kamera pada dua orang yang masih bertengkar itu. Beberapa foto berhasil ia abadikan, bibirnya tersenyum bahagia melihat hasilnya. Baguslah, gak kalah sama tukang foto profesional. ''Yan, kenapa kamu? Senyum-senyum gak jelas.'' ''Gak ada. Udah ah, ayo lanjut belanja. '' Ayana tidak sabar menunggu mereka pulang. Mau pamerin foto yang ia ambil pada Samuel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN