6. Hukuman

1203 Kata
Malam sudah datang sejak beberapa jam yang lalu, namun Ayana baru saja tiba di apartemen. Ia sedikit kesusahan ketika mencari kunci di tasnya dengan satu tangan. Tangannya yang lain membawa belanjaan yang tadi dibelikan Kevin. Jangan berpikir Ayana matre, ia sudah menolaknya akan membayarnya sendiri, tapi karena Kevin dan Nadin memaksa akhirnya mau tak mau Ayana menerimanya. Matanya menatap seisi apartemennya heran, setahunya saat ia berangkat kuliah tadi, ia mematikan semua lampu lalu siapa yang menyalakannya. Atau jangan-jangan Samuel. "Baru pulang?" Ayana menatap Samuel yang baru keluar dari kamarnya, laki-laki itu tidak mengenakan baju hanya menggunakan celana saja. Bisa Ayana lihat dengan jelas perut Samuel yang berbentuk, harus ia akui meski hampir setiap hari melihat langsung tubuh samuel, tapi selalu saja ia masih sering malu. "Sepertinya seru sekali, sampai tidak ingat bahwa ini sudah malam," ucap Samuel dingin. Dia menyandarkan tubuh pada dinding di belakangnya, bersidekap d**a dan mengangkat kepala angkuh. Seperti menunjukkan kekuasaannya. Mendengar nada bicara Samuel yang tidak seperti biasanya lebih tepatnya sedikit dingin, Ayana tahu laki-laki itu marah padanya. Pasti karena ia baru pulang ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, sebenarnya ia sudah mengajak Nadin pulang sejak sore tadi, tapi Nadin menolak, dia malah mengajak Ayana dan Kevin ke bioskop, lalu menyempatkan diri makan malam terlebih dahulu. Setelahnya baru mereka pulang. Ia merasa seperti baru saja selingkuh dan ketahuan sekarang, Samuel benar-benar mengintimindasinya. "Sam, maaf. Tadi Nadin mengajakku menonton dulu." Jika dipikir-pikir Ayana tidak ada kewajiban untuk meminta maaf. Toh mau kemanapun dirinya Samuel tidak berhak melarang. "Nadin atau laki-laki itu?" Samuel berjalan perlahan menuju Ayana, matanya mengintai seperti seekor singa yang akan menerkam mangsanya. "Kamu kenal sama Kevin? Tunggu, bagaimana kamu bisa tahu, kamu tidak ada di sana, Sam." tanya Ayana tak percaya, bagaimana Samuel bisa tahu. Padahal Samuel tidak ikut. Dia bahkan sudah pergi lebih dulu tadi. "Bukankah sudah ku bilang, aku tahu semua tentangmu, Ay." Samuel menarik Ayana dalam pelukannya, tangannya dengan kasar menghempaskan belanjaan di tangan Ayana. Semua barang itu berhamburan mengenaskan di lantai. "Sam!'' pekik Ayana tak terima. "Kenapa?'' tanya Samuel menantang. ''Apa aku belum mengingatkanmu, kalau aku tidak suka melihatmu menerima barang dari laki-laki lain. Kamu milikku, Ay. Selamanya akan menjadi milikku." Bibir Samuel segera mendarat di atas bibir Ayana, ia lampiaskan segala kemarahannya dalam ciuman itu. Bahkan tak peduli jika ia akan menyakiti gadisnya. Ia sudah menahan amarahnya sejak tak menemukan Ayana di rumah ketika pulang, alasan dibalik telatnya Ayana yang mendasari kemarahannya. Ciuman itu menuntut, kasar dan terburu-buru. Ayana memukul-mukul d**a Samuel saat ia kehabisan napas, ciuman itu terlepas. Ayana terengah-engah. Ia menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Dadanya naik turun tak beraturan. "Kam___'' Samuel kembali mencium Ayana, tidak membiarkan Ayana menyelesaikan kalimatnya. Tangannya memegang tengkuk Ayana erat, tak memperbolehkan Ayana lepas. Sedangkan Ayana hanya pasrah, yang bisa ia lakukan adalah melingkarkan tangannya pada leher Samuel. Mengimbangi ciuman menggebu Samuel. Jangan lupa, Samuel adalah seorang good kisser sejati. Dirinya yang hanya amatiran bisa apa selain mengikuti. Pasti pengalaman Samuel dengan perempuan sudah banyak, entah berapa bibir yang telah ia coba. Sial! Membayangkannya membuat Ayana merasa tak rela. Berapa banyak perempuan yang rela pasrah membuka diri di bawahnya. Ayana tak sadar sejak kapan mereka berjalan menuju kamar, yang ia tahu kini ia sudah terbaring lemah di bawah kungkungan Samuel. Oh, bahkan kini ia juga sudah larut dalam rayuan Samuel, murahan sekali dirinnya. Samuel menurunkan ciumannya, ia memberi kecupan di sepanjang dagu lalu turun ke leher, ia berlama-lama di leher Ayana, memberikan banyak tanda di sana. Samuel selalu suka menikmati wangi menenangkan Ayana yang selalu berhasil mengikis habis kewarasannya. Selama ini Samuel tidak pernah memberi tanda di leher Ayana, bukan kemauannya sebenarnya, Ayana yang selalu menolak, alasannya demi keamanan gadis itu agar tidak ada yang curiga, ia selalu menurutinya. Tapi kali ini tidak lagi, Samuel akan buat banyak tanda, agar laki-laki itu tahu, bahkan seluruh orang, bahwa Ayana sudah ada yang punya, Ayana hanya miliknya. Dan akan selalu menjadi miliknya seorang. Bibirnya menyeringai lebar. "Tunjukkan tanda ini pada laki-laki itu, agar dia tahu bahwa kamu milikku, Ay." ¤¤¤¤¤ Ayana meringis ketika melangkahkan kaki menyusuri jalan menuju kelasnya. Sial! Samuel benar-benar tidak berbohong dengan perkataanya. Dia sungguhan membuat Ayana tidak bisa berjalan, apalagi laki-laki itu bermain sedikit kasar semalam. Bahkan setelahnya Samuel juga membuang semua barang pemberian Kevin ke tempat sampah, padahal semuanya masih baru. Ayana tidak enak sekarang, apalagi barang itu harganya tidak bisa dikategorikan murah. Ia bahkan masih ingat jelas, apa yang dikatakan Samuel ketika ia berusaha menghalangi niat laki-laki itu. "Bahkan aku bisa membelikanmu tokonya sekarang juga." Cih! Dasar sombong, mentang-mentang dia kaya, seenaknya saja membuang barang orang. Samuel sih enak tidak memikirkan akibatnya, sedangkan Ayana. Bagaimana jika sampai Kevin tahu. Bisa-bisa ia di anggap sombong karena tidak menghargai pemberian Kevin. Ayana menggerutu, kalau saja tidak ingat hari ini ada kuis, Ayana pasti akan memilih bergelung dalam selimut. Pusat tubuhnya sakit, ya meski tidak sesakit saat pertama kali dulu. Tapi tetap saja, bagaimana jika lecet. Pasti akan berbekas. Lalu siapa yang akan mau dengannya nanti, ia tidak perawan saja sudah menjadi aib untuknya. Bukankah dunia tidak adil, ia korban di sini tapi kenapa dirinya yang banyak dirugikan, sedangkan Samuel tidak dirugikan sedikitpun. Sekarang saja Ayana harus memakai turtleneck untuk menutupi kissmark dari Samuel. "Ayana." Heh! Siapa juga yang memanggilnya, tidak tahukah orang itu bahwa Ayana ingin cepat sampai agar ia bisa duduk. Dengan ogah-ogahan Ayana berbalik badan, tampak Kevin berjalan ralat berlari kecil ke arahnya. "Kevin. Sedang apa kamu di sini?" Seingatnya kemarin Nadin bilang bahwa Kevin kuliah di tempat lain, lalu untuk apa dia di sini. "Aku ingin menemuimu, apa kamu mau jalan denganku selesai kuliah nanti?" Kevin bertanya terus terang. Beberapa mahasiswa yang melewati mereka menoleh, mungkin mereka sedikit penasaran dengan Kevin. Yah bukankah memang selalu begitu, orang tampan memang sering menjadi pusat perhatian. Bayang-bayang ketika semalam Samuel mewanti-wantinya agar menjauhi Kevin hinggap dipikirannya, bagaimana sekarang? Ayana tidak enak jika menolak. Lagian Samuel juga bukan siapa-siapanya kan. Jadi tidak masalah ia pergi bersama siapapun. "Mmm... bagaimana jika besok? Hari ini aku ada urusan setelah kuliah, kalau besok aku libur." Lebih tepatnya Ayana malas jalan hari ini. Pengen istirahat tubuhnya sangat lelah. "Baiklah, kalau begitu besok saja. Oh iya, beri aku alamat rumahmu, agar besok aku bisa menjemputmu." "Tidak usah, aku akan berangkat sendiri, lebih baik kita ketemuan di tempat janjian saja, supaya menghemat waktu." "Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai bertemu besok." Kevin tersenyum sekilas lalu berbalik pergi meninggalkan Ayana yang masih bergeming di tempatnya. Apakah Kevin tengah mendekatinya? Apa tadi itu ajakan kencan? Sekelebat pemikiran melintas, jika ia punya kekasih, maka Samuel akan berhenti mengganggunya, dan yang pasti laki-laki itu tidak akan bisa menyelinap masuk ke rumahnya lagi. Sekarang ia tahu bagaimana cara mengusir Samuel dari hidupnya, dan mencegah gelar pelakor tersemat untuknya. Oh, Ayana melupakan sesuatu. Foto itu. Ia belum sempat menunjukkannya pada Samuel. Mana sempat kalau mereka bahkan baru berhenti ketika jam menunjukkan pukul dua pagi. Nanti ia akan mengompori Samuel, dan ia akan pura-pura membantu Samuel dengan mendekati Kevin. Terdengar sangat mudah. Kalau berhasil, ia terlepas dari jerat Samuel plus mendapat kekasih. Wow, terdengar menyenangkan. Ayana tidak sabar menunggunya. Sebentar lagi mari ucapkan selamat tinggal pada laki-laki b******k seperti Samuel. Semoga saja, nantinya apapun masa lalu Ayana dengan Samuel, Kevin mau menerima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN