7. Batal Kencan

1119 Kata
Ayana mengamati sekali lagi penampilannya di depan kaca, ia rasa sudah cukup baik. Tidak ada yang kurang. Entah kenapa sekarang ia menjadi sedikit gugup, padahal ini hanya jalan-jalan biasa, meski sikap Kevin menunjukkan bahwa laki-laki itu menyukainya, tapi Ayana masih ragu. Ini terlalu cepat untuknya. Bukan ia tidak mau memberi peluang Kevin, ia hanya merasa sedikit terkejut. Merasa perlu menyesuaikan diri. Atau mungkin ini salah satu cara pendekatan yang dilakukan Kevin, sudah lama Ayana tak melakukan hal semacam ini. Bisa dibilang ini kali pertama lagi ia dekat dengan seseorang. Selama ini Ayana lebih memfokuskan kuliahnya daripada urusan cinta , biar bagaimanpun ia ingin cepat lulus dan bekerja. Urusan percintaan ia memang sedikit tertinggal. Apalagi sekarang ada Samuel. Hah, Ayana rasa ia harus segera merealisasikan rencananya itu. Ponsel berbunyi. Ayana dengan cepat meraih ponselnya yang ada di atas nakas, sebuah pesan dari Kevin yang mengatakan dia sedang dalam perjalanan. Oh, Ayana harus cepat kalau tidak mau terlambat. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, sembari berjalan keluar dari kamar. Ayana mencabut kunci yang tergantung, lalu membuka pintu apartemen. Matanya melotot kaget melihat siapa yang berdiri di depannya. Oh tidak! Ayana sedang tidak ingin berurusan dengan Samuel. Tidak sekarang saat ia sudah punya janji dengan Kevin. Ayana dan Samuel saling pandang sesaat, Ayana merasakan firasat buruk saat melihat seringai mengerikan Samuel. "Tidak sekarang, Sam," kata Ayana sebelum Samuel berbicara. Ia tahu betul arti seringaian itu. Samuel mendatarkan wajahnya. Senyum miring itu hilang seketika. Ini yang perlu di waspadai. "Aku sudah ada janji," lanjut Ayana berusaha menyingkirkan Samuel dari hadapannya, namun laki-laki itu tidak bergerak sedikitpun. "Dengan siapa?" "Bukan urusanmu!" Ayana kembali mencoba menyingkirkan Samuel, tapi belum sempat ia mendorong Samuel, laki-laki itu lebih dulu mendorongnya masuk ke dalam. Astaga kenapa kuat sekali laki-laki ini. "Sepertinya kamu lupa, Ay. Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku." Dengan sekali dorongan Samuel menutup pintu belakangnya. Sekarang Ayana panik. Ayolah kenapa Samuel selalu datang di waktu yang tidak tepat. "Kumohon, Sam. Hanya sebentar, satu jam saja. Setelah itu kamu bebas melakukan apapun." Ayana memohon, ia memandang Samuel, mengeluarkan raut wajah memelasnya berharap Samuel luluh. Biar bagaimanapun ini salah satu langkah awal untuknya lepas dari Samuel. "Kalau begitu biar kuantar." "Kamu gila! Dia teman Nadin." Oh ayolah, Kevin teman dekat Nadin. Bagaimana reaksi Kevin kalau tahu Ayana di antar Samuel yang jelas-jelas kekasih Nadin. "Memang kenapa? Aku tidak peduli." "Kamu memang tidak pernah peduli, meski nantinya aku di cap sebagai pelakor... Sam, please, kamu bisa melakukannya dengan Nadin. Dia kekasihmu, bukan aku." Baru kali ini Ayana mengenal laki-laki seegois Samuel. Yang bahkan tega menjerat gadis lugu seperti dirinya masuk dalam perangkap Samuel. "Berapa kali harus kukatakan, kamu bukan pelakor, Ay. Lagian Nadin tak senikmat dirimu. Kalian berbeda. Kamu bagaikan morfin yang membuatku candu." Samuel mengecup bibir merah kesayangannya. Tak membiarkan Ayana membantah satu katapan. Ia sematkan kecupan-kecupan kecil. Tak tahan, akhirnya ia mengulum bibir itu, bergantian atas bawah. Membawa Ayana dalam kenikmatan tiada tara. Biar gadis itu melupakannya, Ayana hanya perlu fokus padanya. Mendesahkan namanya dengan sensual. Ayana kalah, untuk kesekian kalinya ia kalah dengan Samuel. Sekarang sudah bisa ia pastikan harapan akan terlepas dari Samuel gagal, Kevin pasti akan kecewa padanya. Bahkan mencegah Samuel mendorongnya masuk ke dalam kamar saja ia tak mampu. Ayana gila, karena sekarang yang ada dipikirannya adalah segera mendapat kenikmatan. ¤¤¤¤¤ Percintaan mereka baru saja selesai saat dering ponsel terdengar mengganggu. Samuel bangkit dari berbaringnya, memungut tas Ayana yang ia buang tadi. Samuel tersenyum sengit menatap Ayana yang juga menatapnya dengan sayu. Wajahnya menunjukkan sekali kalau ia lelah bercinta. "Kevin, huh?" Sudah Ayana tebak, Samuel pasti mengenal Kevin. Biar bagamanapun pasti Nadin sudah sering menceritakan Kevin pada Samuel. Pun sebaliknya. "Wah, dia bahkan sudah menelepon 15 kali." Samuel kembali berbicara. Ayana tak menyahuti. Ia marah pada Samuel, tapi lebih marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa menolak Samuel. Bahkan yang lebih parahnya, kini ia mulai menikmatinya. Dering ponsel kembali terdengar, Samuel tanpa ragu mengangkatnya. "Pulanglah, percuma kau menunggu. Dia tidak akan datang," ujar Samuel datar, memutuskan panggilan sepihak. Ia melangkah ke arah Ayana. Lalu ikut berbaring memeluk erat tubuh gadisnya. Memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Ayana. Ayana menepis bibir Samuel, namun percuma. Samuel tidak akan berhenti. Maka kini Ayana pastikan rencananya gagal total, dan ia harus membuat rencana baru. "Dia bukan laki-laki baik, Ay." Memangnya Samuel pikir, dia laki-laki baik. Ayana ingin menyerukan kalimat itu. Namun, tenaganya sudah terkuras habis. Ia cuma ingin tidur. "Kevin bukan hanya teman SMA Nadin. Mereka lebih dari itu, bahkan sering tidur bersama." Ayana melirik Samuel, menatap mata laki-laki itu adakah kebohongan di dalamnya, namun nihil, ia tidak menemukannya. Ayana terkejut tentu saja, tapi ia masih memproses semuanya. Menyangsikan ucapan Samuel. "Sejak awal kamu sudah tahu, kan? Bahwa aku akan bertemu Kevin." Ayana berujar ketus. Samuel berdehem, ia masih asik dengan kegiatannya. Memberi kecupan di seluruh tubuh Ayana tanpa terlewat. Rasanya tidak pernah bosan. Ia ingin terus dan terus. "Lalu maksudmu apa? Kamu menjadikanku alat balas dendam pada Nadin!" Seperti ada sebuah benda tajam yang menusuk hati Ayana saat mengatakannya. Kenyataan itu seperti menamparnya. Samuel malah tertawa, ia malah semakin merapatkan tubuhnya pada Ayana. "Jangan meragukanku, aku tidak pernah punya niatan seperti itu. Aku serius denganmu, Ay... berhenti bicara omong kosong, jauhkan pikiran negatif tentang aku dari kepalamu." Samuel mengelus kepala Ayana penuh kasih. Wajar kalau Ayana berpikir seperti it sebenarnya. "Dasar penipu!" Jika serius tidak mungkin Samuel menyadikan Ayana seperti seorang simpanan. Lalu jika seandainya antara Nadin dan Samuel sudah tak ada rasa kenapa tidak putus saja, kenapa malah Samuel nembiarkan Nadin dengan laki-laki lain. Entahlah Ayana pusing memikirkannya. Tubuhnya sangat lelah, sekarang harus memikirkan hal yang ia sendiri tidak paham. "Terserah apa katamu. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Sekarang tidurlah, kamu pasti lelah." "Hmm," jawab Ayana lirih. Matanya terpejam. Ia bisa rasakan tangan Samuel mengelus kepalanya kembali. Nyaman. Ayana merasa nyaman dalam dekapan Samuel. Salahkan ia jika merasakan yang tidak seharusnya. Ayana semakin merapatkan tubuhnya dalam dekapan Samuel, menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Samuel. Entah telinganya yang bermasalah atau apa. Sayup-sayup Ayana mendengar Samuel berkata. "I love you, Ay." Dan Ayana benar-benar masuk ke alam mimpi. ¤¤¤¤¤ Samuel memandang gadis di depannya, mau tidur atau bangun Ayana tetap saja masih menggemaskan. Ia ciumi wajah itu, memberi kecupan di seluruh wajah Ayana. Wajah Ayana mengerut, terlihat terganggu ulah Samuel. Namun, tak ada niatan untuk bangun. Samuel terkekeh melihatnya. Senyumnya menghilang saat mengingat seseorang, Kevin. Semoga saja laki-laki itu mengerti dengan kode yang disampaikannya tadi. kalaupun tidak. Samuel masih punya banyak cara. Hanya saja beberapa hal harus terhenti karena ia kurang banyak bukti. Tinggal sebentar lagi, maka ia pastikan Ayana jadi miliknya. "Jangan marah saat kamu tahu yang sebenarnya, Ay." Satu kecupan di bibir dan dahi, setelahnya Samuel ikut memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN