8. Mata-mata

1300 Kata
"Hah." Ini sudah kesekian kalinya Ayana menghela napas sejak kelasnya dimulai, ia bahkan tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh dosen di depan. Pikirannya masih memikirkan kata-kata Samuel. Mencari alasan kenapa Samuel berkata seperti itu dan bukannya membongkar hubungan gelap mereka. Ayana jelas ragu, apa benar yang dikatakan Samuel, bagaimana jika itu hanya tipuannya saja. Samuel itu licik, bisa saja dia berbohong hanya untuk kepentingannya sendiri. Meski baru kenal, harus Ayana akui Samuel itu keras kepala, angkuh dan semaunya sendiri. Menunjukkan sekali bahwa dia itu pemimpin, dan tidak boleh kalah. "Duh, pusing!" Tanpa sadar Ayana mengeraskan suaranya, semua yang di kelas terdiam. Bu Ela yang tengah menjelaskan juga menoleh. "Ayana Larasati. " Ayana menegakkan badan seketika, ia meringis saat sadar pandangan semua orang mengarah padanya, jangan lupakan juga Bu Ela. Oh, astaga. Apa suaranya terlalu keras tadi? Sial, bagaimana sekarang. Ia bahkan tidak mencerna satupun materi hari ini. Tamat sudah riwayatnya. "Berdiri." Sedikit gemetar Ayana berdiri, selama masa kuliah baru kali ini ia mempermalukan diri sendiri dengan cara setidak elit ini. Semua gara-gara Samuel. "Coba kamu jelaskan secara singkat tentang materi yang baru saja saya ajarkan," ucap Bu Ela dingin. Matanya seakan memperingatkan 'tidak menjawab siap untuk dikuliti.' "Saya...." Apa yang harus Ayana jelaskan, ia benar-benar tidak memperhatikan satupun penjelasan Bu Ela. Ia meneguk ludah kesusahan. Kepalanya menunduk, "Saya gak tahu, Bu." Jika bisa Ayana ingin pergi sekarang juga, menghindari tatapan semua orang. Andai saja ia punya kantong ajaib doraemon. Kalau perlu menghapus ingatan mereka seperti dalam film Man in Black. Oke abaikan yang belakang, Ayana sedang ngelantur. "Lalu, kenapa kamu tidak memperhatikan? Dari awal masuk kelas saya perhatikan kamu tidak fokus, jika kamu cuma mau melamun lebih baik keluar, saya tidak butuh mahasiwa yang tidak menghargai dosennya!" Lantang, tegas dan penuh sindiran itu berhasil menghantarkan perasaan takut pada hati Ayana, sakit hati pasti. Siapa yang tidak sakit jika dihina dihadapan banyak orang. Salahnya sendiri memang. "Maaf, Bu." Ayana kembali menunduk, menunjukkan bahwa dirinya bersalah. "Beruntung kamu salah satu murid aktif di kelas, maka kali ini saya maafkan kesalahan kamu. Jika kamu ulangi lagi, saya pastikan kamu tidak bisa mengikuti kelas saya selamanya." "Iya, Bu," jawab Ayana pasrah. Bu Ela kembali menghadap papan tulis, menerangkan materis yang sempat tertunda. "Kita teruskan penjelasannya, dan Ayana perhatikan baik-baik kalau tidak mau saya usir keluar." Ayana kembali duduk. Mereka yang sedari tadi melihat ke arahnya kini kembali menghadap Bu Ela. Ia membuka lembaran bukunya, berusaha fokus dengan penjelasan di depan. Jangan sampai mengulang lagi kesalahan yang tidak seharusnya. Sebentar lagi ia akan menyusun skripsi, jangan karena ada nilai yang jelek membuatnya mengulang tahun depan. ¤¤¤¤ Kelas sudah usai beberapa menit yang lalu, namun Ayana masih diam di kursinya tidak berniat ke luar. Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya ditegur dosen, sungguh selama kuliah baru kali ini ia dimarahi. Dan ini semua gara-gara ucapan Samuel yang entah fakta atau hanya tipuan saja. Ingin sekali Ayana memaki Samuel, melampiaskan kekesalannya karena laki-laki itu penyebab dirinya di hukum. Ia melirik satu pesan masuk di ponsel yang sedari tadi hanya ia pegang. Nama Kevin terpampang di layar notifikasi. Ayana segera membukanya. From : Kevin Ayana, apa kelasmu sudah selesai? Ayana memandang hampa pesan itu, pasti Kevin akan bertanya soal kemarin, kenapa ia tidak jadi datang dan pasti bertanya siapa yang mengangkat panggilannnya. Ayana bingung harus menjawab apa. Kalau yang mengangkatnya perempuan ia tidak masalah, ia bisa bilang kalau itu temannya yang tiba-tiba datang. Tapi ini___ Satu pesan kembali masuk, masih dari orang yang sama. From : Kevin Jika sudah selesai hubungi aku, kurasa kita perlu mengatur lagi pertemuan kita. Yah, mau tidak mau Ayana memang harus menjelaskannya, dan mungkin sebaiknya ia abaikan saja kata-kata Samuel semalam. Bisa saja dia berbohong. Toh, dia tidak menjelaskan secara jelas. To : Kevin Bagaimana jika sekarang saja? Kelasku sudah selesai. Kita bertemu di caffe depan kampusku. Tak butuh waktu lama Kevin sudah membalasnya. From : Kevin Baiklah aku setuju. Ayana membereskan barang-barangnya, ia beranjak berdiri untuk segera pergi. Di pintu masuk kelas ia bertemu dengan Nadin. Ayana tersenyum saat Nadin berjalan ke arahnya. Kelas mereka berbeda hari ini. "Hai, mau kemana?" tanya Nadin semangat. Ayana kadang masih tidak habis pikir, kenapa Samuel sejahat itu mengkhianati Nadin. Padahal Nadin adalah gadis yang baik, dan sangat ramah. Kalaupun Nadin sungguhan memiliki hubungan dengan Kevin itu semua pasti karena Samuel sendiri. Karena keegoisan laki-laki itu. "Aku ingin bertemu dengan Kevin. Mau ikut? " "Oh, apa aku melewatkan sesuatu? Apa kalian sudah jadian? Kenapa Kevin tidak memberitahuku, awas saja dia," tanya Nadin beruntun, dia bahkan tidak membiarkan Ayana menjawabnya satu persatu. "Hei, tanya satu-satu dong." Nadin menyengir lucu. Ia memang sedikit bersemangat. "Maaf. Aku sangat penasaran " Melihat respon Nadin yang sangat bahagia membuat Ayana ragu. Nadin bahkan sangat mendukung agar ia bersama Kevin. Dibagian mananya menunjukkan mereka ada hubungan lebih, jelas-jelas mereka murni berteman. "Sebenarnya belum sejauh itu, kami hanya berteman saja, lagian ini cuma ketemuan biasa," jawab Ayana. "Benarkah?" Nadin menaik turunkan alisnya menggoda. " Sepertinya tidak seperti itu yang kulihat," lanjutnya, matanya menatap Ayana penuh selidik. Semburat merah yang menghiasi pipi Ayana membuatnya terkikik kecil, Ayana malu rupanya. "Sungguh, kamu bisa ikut kalau tidak percaya." "Ah tidak, tidak. Aku tidak mau mengganggu kalian yang lagi masa pendekatan. Lebih baik aku pergi, aku masih ada kelas. Bye." Nadin berlalu berlalu pergi tak menghiraukan panggan Ayana. Ayana menggelengkan kepala, dasar gadis itu. Mana mungkin ia akan langsung menerima Kevin sebagai kekasih, mereka bahkan baru kenal beberapa hari. Setidaknya Ayana perlu waktu lebih lama untuk tahu bagaimana Kevin sebenarnya, juga mencari tahu kebenaran perkataan Samuel. Ayana menepuk keningnya saat ingat ada janjinya. Gara-gara mengobrol dengan Nadin hampir saja ia lupa. Jangan sampai ia membuat Kevin menunggu. ¤¤¤¤ "Hei, apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Kevin sembari duduk di depan Ayana. Jalanan sedikit mancet, menghambatnya untuk cepat sampai. Ayana menggeleng. "Tidak, aku juga baru datang. Mau pesan makanan dulu? Maaf aku tidak tahu kesukaanmu." "Tidak apa, masih ada banyak waktu untuk saling tahu kesukaan masing-masing." Ayana tersenyum, ia memanggil pelayan, lalu meminta Kevin segera memesan. Sepeninggalan pelayan itu Ayana kembali menatap Kevin, yang tidak ia sangka bahwa laki-laki itu juga tengah menatapnya. "Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh." "Tidak, aku hanya merasa kamu semakin cantik saja." Semburat merah menghiasi pipi Ayana, Kevin tertawa pelan melihatnya. Ayana memukul pelan tangan Kevin, ia sedang malu dan laki-laki di depannya ini malah menertawakannya. "Aduh, maaf. Aku tidak tahan melihat ekspresimu. Kamu mengemaskan sekali." "Kamu menyebalkan, lebih baik aku pulang." "Oh, ayolah. Aku hanya bercanda, jangan marah." Kevin memegang tangan Ayana, menghalangi niat Ayana untuk pergi. "Lepaskan tanganmu, jangan cari kesempatan." Ayana melirik ke arah lain, pura-pura marah padahal hatinya tengah berbunga-bunga saat ini. Ia bahkan mengabaikan getaran dari ponsel yang tengah ia genggam. Siapapun yang menghubunginya semoga mau menunggu. "Maafkan aku, jangan marah ya," ujar Kevin lembut, ia menyesal membuat Ayana marah sekarang. "Hmm." Sejujurnya Ayana ingin tertawa sekarang, ekperesi melas Kevin sangat lucu di matanya. "Beneran?" "Iya, Kevin." "Syukurlah." Ayana tak bisa untuk tidak tersenyum. Sekarang ia yakin, apa yang dikatakan Samuel hanyalah kebohongan. Ia tidak akan percaya jika sekarang ia melihat sendiri betapa baiknya laki-laki ini. Kepercayaan yang sedikit goyah tadi sekarang kembali tegak. Baik Nadin maupun Kevin, keduanya baik. Samuel yang bersalah, dia yang terlalu egois. Seseorang yang sedari tadi ada di samping meja mereka, dan tengah menguping pembicaraan mereka kini berdiri. Setelah meninggalkan selembar uang seratus ribu ia melangkah keluar, meninggalkan Ayana dan Kevin yang tidak sadar bahwa seseorang memgawasi. Sesampainya di luar dengan cepat ia merogog sakunya. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Bos, mereka bertemu lagi. Sepertinya laki-laki itu tidak jera dengan ancaman kita, Bos," lapornya pada orang di seberang ponsel yang ia panggil bos. "...." "Baik, Bos." Ia mengakhiri percakapan, memotret Ayana dan Kevin, lalu pergi memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dan meninggalkan caffe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN