Pulang kuliah, bersih-bersih lalu memasak adalah salah satu dari sekian banyak aktivitas yang biasa Ayana lakukan. Hidup sendiri, jauh dari orang tua membuat Ayana mau tak mau harus bisa mandiri. Mengerjakan semuanya sendiri. Berusaha tak bersikap manja.
Tapi sekarang, saat ia melihat sosok Samuel tengah di dapurnya dan dengan cekatan menggunakan alat dapur. Sebuah perasaan kagum hinggap di hati. Merasa bahagia ada orang lain yang mau repot-repot memperhatikan keadaannya selain orang tuanya.
"Hei, sayang. Kamu sudah pulang, tunggu sebentar. Beberapa menit lagi matang. Atau kamu bisa mandi dulu."
Tidak menjawab, Ayana lebih memilih menarik salah satu kursi, dan duduk dengan satu tangan menyangga kepala menghadap Samuel. Waktu pertama kali ia ada di rumah Samuel dulu, ia tidak begitu memperhatikan seperti apa seorang Samuel ketika memasak.
Kini dihadapannya, Ayana melihatnya lagi secara langsung. Biasanya makanan itu sudah tersaji dan ia tidak pernah melihat proses memasaknya. Dari pakaian yang dikenakan Samuel, Ayana tebak dia baru pulang dari kantor. Entah kemana jasnya sekarang, tapi penampilan Samuel persis seperti dalam novel-novel yang pernah Ayana baca. Lengan kemeja digulung sampai siku, dasi sudah terlepas serta beberapa kancing dibuka. Rambut acak-cakan namun tetap tampan.
Satu kata yang menggambarkan Samuel, perfect. Bukankah Samuel mendapatkan terlalu banyak kelebihan, terlahir kaya, wajah tampan dan memiliki pesona yang menjerat kaum wanita. Samuel pasti ada di barisan paling depan waktu pembagian nikmat dari Tuhan.
Meski Ayana berkata Samuel sempurna, tapi ia tetap percaya bahwa semua manusia ada kekurangannya. Hanya saja, untuk Samuel kekurangan itu tengah ditutupi saat ini.
Bolehkah Ayana sedikit menyesal, kenapa harus Nadin yang lebih dulu mengenal Samuel. Dan kenapa posisinya harus menjadi teman tidur kekasih orang. Sebaik apapun Samuel memperlakukannya, bahkan mencurahkan segala cinta untuknya, tapi di mata semua orang Ayana tidak lebih dari seorang pelakor. Cepat atau lambat, pasti hal ini akan terbongkar juga. Ia sering ketakutan sendiri, resah membayangkan respon Nadin ketika tahu.
Elusan di kepala membuat Ayana berjengit kaget, ia menolehkan kepala. Ia tidak sadar sejak kapan Samuel duduk di sampingnya. Aroma harum menguar dari masakan Samuel. Ayana tersenyum. Dari aromanya saja masakan Samuel sepertinya enak. Bukan masakan yang wah memang, hanya masakan rumahan biasa, tapi Ayana patut memghargai usaha Samuel.
"Makanlah. Maaf aku cuma bisa buat itu. Hanya itu bahan yang aku temukan di kulkas," ucap Samuel, menyelipkan rambut Ayana ke belakang telinga.
"Not bad. Aku memang belum belanja bulanan, beberapa hari ini ada orang yang membuat aku sibuk terus sampai begadang," ujar Ayana menyindir Samuel.
"Ckk. Baiklah, maafkan aku. Setelah ini mari pergi belanja. Tenang saja aku yang bayar semua."
Muncul lagi sifat sombongnya, memangnya Samuel pikir Ayana tidak mampu beli. Toh selama ini memang Ayana sendiri yang belanja semuanya. Walaupun uang itu dari orang tuanya sih.
"Oh iya," Ayana menjeda ucapannya, meminum air yang sudah disiapkan Samuel. "Untuk masakannya terima kasih." Ayana baru ingat, ia belum mengatakan kalimat itu sejak tadi. Padahal makanan dalam piringnya sudah hampir habis.
"Anything for you, Ay." Samuel menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Ayana. Menyematkan satu kecupan di dahi gadis itu. Wajah Ayana memerah seketika. Samuel jadi gemas sendiri. Tangannya memegang tengkuk Ayana, memiringkan wajah dan segera mencium bibir Ayana. Perlahan tapi pasti, tidak kasar seperti biasanya.
Ciuman itu lembut, intens dan terasa manis. Akibatnya Ayana ikut terbuai, tangannya yang sedari tadi memegang sendok sudah berpindah tempat. Kini melingkar di leher Samuel. Sedangkan Samuel semakin menarik tubuh Ayana, bahkan mendudukannya dalam pangkuan. Satu tangannya menahan tengkuk Ayana, tangan yang lainnya mengelus pinggang ramping gadis itu.
Beberapa menit kemudian ciuman itu terlepas, Ayana mengakhiri lebih dulu. Napasnya terengah-engah. Ia bisa merasakan bibirnya yang kebas. Tak berapa lama Samuel kembali mencumbu Ayana, membungkam segala kalimat yang akan dilontarkan gadis itu.
"Kalau tidak ingat kita perlu pergi belanja, ingin sekali aku membawa kamu ke ranjang, Ay." Mata tajam Samuel menggelap, kilatan hasrat terbayang. Bukannya apa, tapi sekali ia menyentuh Ayana maka bisa dipastikan mereka tidak keluar kamar sebelum esok hari. Ayana adalah keindahan yang tidak bisa ia tampik keberadaannya.
Ayana menarik sejumput rambut belakang Samuel, hingga Samuel meringis kesakitan.
"Sakit, Ay." Samuel mengelus kepalanya pelan. Tidak menyangka Ayana akan melakukan hal itu.
"Rasakan! Itu supaya otak kamu tidak berpikiram m***m terus ... lepaskan tangan kamu, aku mau mandi."
"Tidak," tolak Samuel. Merapatkan tubuh Ayana padanya. Menghalangi niat gadis itu untuk pergi.
"Kamu sudah berjanji, Sam. Lepaskan sekarang."
"Give me a kiss."
"No."
"Kalau begitu biar aku yang memberi kamu ciuman."
Tidak sempat mengelak, Ayana hanya bisa pasrah. Toh percuma, ia tidak akan menang.
¤¤¤¤¤
Ayana berdecak sebal pada laki-laki dihadapannya, setelah seenaknya sendiri mengundur waktu belanja menjadi tiga jam kemudian. Sekarang Samuel malah dengan sesuka hati memasukkan segala barang, tanpa bertanya.
Ayana tahu Samuel berniat membelikan semuanya, tapi tidak dengan membeli sesuatu yang Ayana sendiri tak butuhkan. Mentang-mentang kaya, beli apa aja gak lihat dulu
"Jangan banyak-banyak, nanti malah busuk," gerutu Ayana mengembalikan beberapa sayuran yang diambil Samuel. Ia bukanlah maniak sayur. Hanya memakan Secukupnya saja, lebih suka makanan instan lebih praktis. Yang pernah hidup jauh dari orang tua pasti tau, seberapa tinggal sendiri capeknya. Alhasil memilih yang serba cepat.
"Tidak, Ay. Kamu harus banyak makan sayuran. Hentikan kebiasan makan junkfood, itu tidak sehat."
Ayana memutar bola mata malas, heran. Padahal Samuel itu CEO, bukan dokter.
"Terserah kamu lah."
Menghentakkan kaki kesal, Ayana berjalan meninggalkan Samuel. Ia melangkah menuju deretan minuman dingin. Baru tangan Ayana akan mengambil salah satu minuman favoritnya, namun tiba-tiba tangan lain lebih dulu mendahului.
Ayana menoleh, ''Maaf, Mas. Itu saya duluan yang mau ambil. ''
''Oh.'' Laki-laki itu mengerjap bingung. Matanya melirik minuman di tangan dan Ayana bergantian. Terlihat sekali ada keraguan di matanya.
''Tapi saya ambil lebih dulu. Lagian minuman yang lain masih banyak. ''
Definisi kalah gak mau salah ya ini. Minuman yang lain memang masih banyak, tapi yang lagi dipegang cowok itu tinggal satu. Ayana juga lebih dulu tahu. Tidak mungkin ia memngalah begitu saja.
''Kalau begitu Mas aja ambil yang lain. Yang ini buat saya.'' Ayana menunjuk minuman itu.
''Gak bisa gitu, saya yang pegang berarti punya saya. ''
Beberapa orang ikut memperhatikan, saling lirik tak tahu harus apa. Samuel yang baru tiba mengernyit bingung saat melihat beberapa orang berkumpul.
Sembari mendorong troli ia menyelinap, membelah kerumunan itu. Ada yang menggerutu karena ulah Samuel, tapi apa pedulinya. Ini tempat umum. Alisnya mengerut bingung saat melihat Ayana seperti tengah berdebat dengan seseorang. Ia baru sadar kalau sejak tadi gadisnya yang menjadi objek.
Meninggalkan troli di sana, Samuel melangkah menghampiri. Memegang pundak gadisnya. Ayana menoleh, wajahnya terlihat kesal. Samuel tak suka melihat ekspresi Ayana. Hanya dia yang boleh membuat Ayana kesal.
''Ada apa? '' tanya Samuel.
''Ini. Cowok ini ambil minuman aku,'' adu Ayana.
''Enak aja, saya lebih dulu ambil. Jadi ini minuman saya''
Hanya gara-gara sebotol minuman mereka berdebat, hingga tak sadar disaksikan banyak orang. Astaga, bahkan Samuel bisa membeli pabriknya kalau mau.
''Minuman yang lain banyak, Ay. Ambil yang lain aja ya,'' bujuk Samuel. Perdebatan tidak berguna seperti ini adalah hal yang tidak menguntungkan bagi Samuel. Kalau bisa mencari jalan cepat kenapa harus menghabiskan waktu untuk berdebat.
''Tuh, dengerin kata pacarnya, Mbak. ''
''Diem kamu! Udah salah, malah ngotot!'' Ayana memandang Samuel, bibirnya mencebik kesal yang malah terlihat lucu. ''Gak bisa gitu, Sam. Ini minuman favorit aku, tinggal satu aja.''
Oh, God. Samuel paling gak tahan kalau melihat wajah menggemaskan Ayana. Ia selalu ingin menerkam Ayana saat itu juga. Sial! Mereka bahkan baru selesai bercinta beberapa jam yang lalu.
''Iya Sayang, aku tahu. Kita beli ditempat lain aja ya. Nanti kita borong semuanya, kalau perlu sama pabriknya sekalian. ''
''Terserah! '' Ayana membuang muka. Ia mengambil alih troli dan mendorongnya menuju kasir. Mood untuk belanja sudah hilang. Ayana hanya ingin segera pulang dan melampiaskan kekesalannya. Bodo amat sama mereka yang menatapnya, berani senggol. Jangan salahkan Ayana kalau macem-macem.
Samuel mengikuti dalam diam, ia melirik tajam beberapa perempuan yang berbisik-bisik membicarakn Ayana. Seketika mereka diam semua.
Mengalah memang bukan dirinya sekali. Menjadi salah satu yang tidak ia sukai. Terlahir sebagai anak tunggal terbiasa membuatnya mendapatkan apapun yang ia mau. Tapi membiarkan Ayana mempermalukan diri karena berdebat hal tak penting, itu lebih tidak ia sukai.
Maka meski akhirnya Ayana marah dengannya, tidak apa. Samuel punya banyak cara meluluhkannya.