10. Kencan

1297 Kata
Ayana dan Samuel tengah ada di salah satu pusat perbelanjaan, sebenarnya bukan Ayana yang mengajak pergi, tapi Samuel sendiri. Malam sebelumnya laki-laki itu seenaknya menginap di rumah, lalu memaksa Ayana untuk menghabiskan malam bersama yang kalian pasti tahu melakukan apa. Sekarang Samuel memaksanya ikut pergi, Ayana sudah menolak, tentu saja.  Tapi bukan Samuel namanya kalau tidak menang. Dan di sinilah mereka sekarang, di salah satu restoran cepat saji dengan Ayana yang makan dan Samuel tengah asik memandang ponsel. "Sebenarnya kita mau apa, Sam? Daritadi kita cuma muter-muter," ujar Ayana, merasa lelah mengikuti Samuel yang berjalan tanpa tujuan. Samuel lama-lama ngeselin juga. Tapi semenjak dekat dengan Samuel, Ayana jadi lebih sering jalan-jalan dan belanja. Gratis lagi, siapa yang tidak mau. "Apa kamu tidak menginginkan sesuatu?" tanya Samuel balik, tapi matanya masih menatap ponsel. Entah ada apa dengan ponselnya itu. "Kok malah tanya aku? Aku 'kan tanya kamu! Lagian kemarin baru belanja jadi aku gak butuh apa-apa." Ayana mengerucutkan bibir kesal. Jika memang tidak berniat membeli sesuatu, kenapa Samuel mengajaknya ke sini, membuang-buang waktunya saja. "Aku juga tidak ada," jawab Samuel singkat yang masih memperhatikan ponselnya. Ayana mengepalkan tangan. Diam-diam menghitung dalam hati agar tidak mengumpati Samuel. "Tidak ada?"ucap Ayana mengulangi. "Kamu kalau tidak niat membeli sesuatu jangan mengajakku, membuang waktu berhargaku saja." Ayana berdecak sebal, ia dengan cepat merampas ponsel Samuel. Kesal karena diabaikan. "Kembalikan ponselku." Tangan Samuel berusaha menarik ponselnya kembali, namun Ayana dengan gesit menghindar. "Tidak!" Ayana menyembunyikan ponsel itu di belakang tubuhnya. "Sebelum kamu memulangkan aku, aku tidak akan mengembalikannya." "Tidak bisa! Kita bahkan belum membeli satupun barang." "Kamu sendiri yang gak niat, dari tadi cuma muter-muter mulu." "Aku kesini karena ingin membelikan kamu barang, tapi kamu diam saja, mana aku tahu kamu mau apa!" Samuel menegak kopinya sebentar. "Dengan laki-laki itu kamu berbelanja banyak barang, tapi denganku bahkan kamu berhenti satu toko saja tidak berminat, kemarin kita belanja juga aku semua yang memilih," lanjutnya. Jika niat Samuel seperti itu kenapa tidak bilang sejak awal, Ayana menggelengkan kepala tak paham. Apa susahnya bilang kalau sebenarnya Samuel mau membelikannya barang. Astaga, Ayana baru tahu ada laki-laki seribet Samuel, ia yang perempuan saja tidak seperti itu. Dan juga, untuk apa iri dengan Kevin. Kemarin dia kan baru saja membayar segala barang kebutuhan dapurnya. "Oke-oke, ayo kita belanja. Tapi jangan marah jika aku menghabiskan uangmu." Lihat saja, Ayana akan buat Samuel menyesal mengajaknya kesini. Ia akan menguras habis isi dompet Samuel. Dalam hati Ayana tertawa bahagia, sebentar lagi ia akan lihat penderitaan Samuel. Sekali-kali jadi matre buat Samuel gak apa ya. "Mana ponselku?" "Akan aku kembalikan saat kita pulang, hari ini waktumu hanya untukku. Dan tidak ada penolakan," ucap Ayana mutlak, saat Samuel akan membantah. Samuel menghela napas pasrah, tak apa. Jarang-jarang Ayana mau menghabiskan waktu bersamanya. Mungkin saja Ayana mulai menyukainya kan. "Kalau begitu, aku akan bayar dulu." "Aku tunggu di luar." Ayana pergi meninggalkan tempat itu, dalam kepalanya memikirkan apa saja yang akan dibelinya, dan harus bisa membuat Samuel jatuh miskin. Hmm, mungkin beberapa baju keluaran brand ternama boleh juga, atau mungkin tas branded. Hoho! sekarang sepertinya jiwa matre-nya harus ia keluarkan, dan pasti setelah ini Samuel akan kapok, lalu pergi meninggalkannya. Dan ia bebas dari ancaman cap pelakor. Huh! Ayana tidak sabar. "Kenapa senyum-senyum begitu? Kamu sehatkan?" Tangan Samuel mendarat di dahi Ayana, mengecek suhu tubuhnya. "Apasih, aku baik-baik saja." Ayana menepis tangan Samuel. "Ayo cepat, jangan membuang waktu," lanjutnya menarik tangan Samuel dengan semangat. Samuel menatap genggaman tangan Ayana, sebuah senyum terbit di bibirnya, apakah ini sebuah kemajuan. Apa Ayana mulai menerimanya sekarang. Samuel yakin sebentar lagi Ayana akan mencintainya. ¤¤¤¤¤ Sudah beberapa toko mereka masuki, bahkan di tangan Samuel kini sudah ada lebih dari tiga kantong belanja. Yang jika ditotal sekitar lebih dari sepuluh juta. Itu belum seberapa, Ayana masih kurang puas. Salah siapa memberi lampu hijau. "Kita mau kemana lagi? Bukankah ini sudah terlalu banyak?"tanya Samuel yang merasa kakinya lelah, sedari tadi mereka masuk dari satu toko ke toko yang lain. "Belum, masih ada beberapa toko lagi yang harus kita masuki. Kenapa? Kamu nyesel?" "Tidak, tapi aku sudah lelah." Samuel menghela napas panjang. "Kalau begitu satu toko lagi, setelah itu aku janji kita pulang," ucap Ayana tidak tega melihat wajah lelah Samuel, apa ia sedikit keterlaluan. "Hmm." Samuel mengelus kepala Ayana sayang. Merangkul pundak gadis itu dan merapatkan tubuh Ayana padanya. Ayana tersenyum menatap deretan baju di depannya, ini yang ia cari daritadi. Baru akan melepas rangkulan Samuel, sebuah suara mengalihkan atensinya. "Ayana." Ayana berbalik yang diikuti juga oleh Samuel, Ayana menatap seseorang yang berjalan sedikit tergesa ke arahnya. "Kamu di sini, sama Samuel?" Tika memicingkan matanya curiga, setaunya laki-laki di depannya ini kekasih Nadin dan Nadin adalah teman Ayana. Kenapa mereka bisa jalan berdua. Bahkan terlihat mesra sekali. Dia pikir salah orang tadi. "Ah, iya." Ayana buru-buru melepas rangkulan Samuel, bahaya. Bagaimana jika Tika berpikir yang tidak-tidak. "Lalu, kenapa kalian bisa jalan berdua? Apa Nadin tahu?" tanya Tika ketus. Matanya melotot tajam, bayangkan saat nenek sihir marah. Hampir seperti itu tapi ini versi cantiknya. "Maaf, sepertinya itu bukan urusanmu. Kami permisi dulu." Samuel menyela, Ia menarik tangan Ayana pergi keluar. Tak peduli Ayana yang berusaha berontak. "Sam, lepaskan!" Ayana menghempaskan tangan Samuel. Ia menatap tajam Samuel yang bahkan tidak menunjukkan sedikitpun kekhawatiran. "Kamu gak lihat tadi Tika curiga sama kita, seenaknya aja tarik-tarik aku. Kalau dia ngomong sama Nadin gimana?" Jujur Ayana panik dan gelisah, biar bagaimanapun ia belum siap dihujat. "Hei." Samuel memegang wajah Ayana, menghadapkan wajah gadis itu mengarah padanya. Ia tatap mata yang kini penuh sinar kecemasan itu. "Jangan takut, ada aku. Tenang saja, aku pastikan Nadin tidak akan tahu." "Tapi––" "Sstt. It's okey. Percaya padaku, hmm?" Samuel mengusap pipi halus Ayana. Ayana mengangguk, meski tak bisa ia pungkiri hatinya masih tak tenang. "Sekarang tunggu aku di sana, aku harus ke toilet sebentar," ucap Samuel menunjuk stand ice cream di depan. Ia masih mengawasi Ayana hingga gadis itu sampai di tempat yang ia maksud. Samuel berbalik, melangkah lagi ke dalam toko yang tadi dimasukinya dan Ayana. Matanya menatap awas seisi toko, lalu saat ia menemukan yang ia cari, ia segera menghampirinya. Tangannya menepuk pundak gadis itu. "Tika, Atika Prameswara. Anak Rudi Prameswara, pemilik Prameswara Group." Samuel berucap tanpa basa-basi. Bisa ia lihat tubuh gadis di depannya ini menegang. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis, mengetahui silsilah keluarga rekan bisnisnya adalah hal yang mudah untuk Samuel. Apalagi pernah menawarkan kerja sama pada perusahaannya. "Aku tidak akan basa-basi. Lupakan yang kamu lihat tadi, dan jangan beritahu siapapun, terutama Nadin. Maka ku pastikan perusahaan ayahmu aman." "Kamu mengancamku?" "Menurutmu apa? Harusnya kamu lebih dari sekadar mengerti maksduku." "Tidak! Aku akan tetep beritahu Nadin. Aku tidak takut ancamanmu, perusahaan ayahku bukan perusahaan kecil yang bisa kamu hancurkan seenaknya! Aku tidak percaya ada manusia tidak tahu diri seperti kalian!" Tika buru-buru membuka ponselnya. Mencari nama Nadin dan segera melakukan panggilan. Ia tidak percaya ternyata Ayana sejahat itu, tega menusuk temannya dari belakang. "Kalau begitu...." Samuel mengambil ponselnya di saku, mengutak-atiknya sebentar. "Katakan selamat tinggal pada hidup mewahmu, bersiaplah tinggal di kolong jembatan," lanjut Samuel menunjukkan ponselnya. Tika terpaku, matanya menatap tak percaya apa yang ada di ponsel Samuel. Bahkan suara di seberang ponsel tak ia hiraukan, buru-buru ia mematikan panggilan itu. "Kamu kejam, Samuel! "Air mata mengalir di pipi Tika. Tubuhnya luruh ke lantai. Masih shock dengan kabar yang baru saja ia lihat. Berharap hanya mimpi "Belum terlambat, tutup mulutmu. Maka semua aman. Jika sesuatu terjadi pada Ayana, atau ada sedikit saja berita jelek tentangnya, aku akan membuat kamu lebih memilih mati daripada hidup. Waktumu hanya sampai besok sebelum berita itu tersebar, aku tunggu kabar darimu, Atika Prameswara." Samuel berlalu pergi tak peduli pada pelayan dan orang-orang yang melihatnya. Baginya mengusik Ayana sama saja mengusiknya. Maka ketika mereka berani melakukanya, harus berani menanggung resikonya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN